"Aku rela untuk menjadi yang ke - 3...yang pertama Tuhanmu, yang kedua Ibumu, yang ketiga Istrimu...Aku...asal jangan ada yang keempat diantara kita..."
Sebuah janji suci yang tidak seorangpun bisa menggoyahkannya.
Kisah perjuangan hidup seorang Lyvia dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga.
° Novel Adrian Maulana
Satu-satunya pria yang meluluhkan hatinya.
Namun apa jadinya jika kepercayaan cinta dikhianati.
Apakah Lyvia masih bisa menerima kembali ketulusan cinta Adrian ?
Akankah Adrian bisa meluluhkan hati Lyvia ?
Yuk ikuti kisah selengkapnya...😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzahra Nian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7 Malam Minggu
Lyvia beranjak dari tempat duduknya di teras depan rumahnya, begitu melihat seseorang masuk ke halaman rumahnya dengan motor sportnya.
Tanpa sepatah katapun, Lyvia berjalan melewati ibu dan adiknya yang sedang asyik di ruang tengah menikmati sinetron kesayangan mereka.
"Siapa Via... kelihatannya ada tamu ?" tanya Ibunya, yang dijawab Lyvia sambil berlalu menuju kamarnya.
"Tau tuh.... biasanya juga pacar Kania yang ngapel malam minggu." jawab Lyvia acuh.
"Gak mungkin kak....Dani sedang ada acara keluarga di luar kota." jelas Kania sambil berlari keluar untuk memastikan siapa yang datang.
Seseorang dengan tubuh yang tegap, penampilan nya begitu casual dan wajah tampannya membuat Kania sedikit melongo.
"Maaf...bisa bertemu dengan Lyvia ?" tanyanya meminta izin.
"I...iya... sebentar saya panggilkan, silahkan duduk dulu." jawab Kania mempersilahkan tamunya untuk menunggu.
Kania berlari menuju kamar kakaknya. Dia sempat menghampiri Ibunya dan berbisik.
"Ada cowok ganteng di depan nyari kak Via Bu....jangan-jangan itu pacar kak Via."
jelasnya sambil menutup mulut, agar yang dibicarakan tidak mendengar.
Tok ....tok...tok...
"Kak Via...ada tamu."
"Siapa ?" Lyvia membuka pintu kamarnya dan bertanya balik kepada adiknya.
Yang ditanya hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau siapa yang datang bertamu di malam minggu.
Lyviapun tidak bisa menebak siapa yang datang.
Apa mungkin itu Adrian ?
Mana mungkin itu Adrian, sudah beberapa hari ini dia tidak ada kabar sama.
Kalau toh itu memang dia, mau apa dia kemari...?
Pertanyaan itu berputar putar di kepalanya.
Masih pada posisi semula, berdiri di ambang pintu kamar.
"Hei...kok malah bengong, mau ditemui gak tamunya ? ganteng lo." kata Kania meledek dan setengah berbisik.
***
"Hai.... silahkan duduk." sapanya setelah tau siapa yang datang.
"Kenapa kamu lari ketika melihatku datang ?" tanyanya setengah protes kepadaku.
"Aku....aku tidak tau kalau itu kamu, aku fikir kekasih adikku yang setiap malam minggu apel kerumah."
"Memangnya kamu tidak ada yang ngapelin." senyum diujung bibirnya, entah apa artinya.
"Kamu gak kangen sama aku ?" Lyvia tak mengerti dengan pertanyaan itu dan masih dengan sikap jaimnya.
"Ada perlu apa malam - malam kesini ?"
"Hei...bukannya aku sudah pernah minta izin untuk mampir kerumah mu sewaktu-waktu ?"
mereka sama-sama terdiam.
"Lo...kok tidak diajak masuk tamunya ?" sapa ibu sambil menyuguhkan segelas teh hangat dan kubantu meletakkannya di meja.
Adrian berdiri dan menyapa ibuku, dia mengucapkan salam sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Terimakasih ibu....disini saja sudah cukup nyaman, saya Adrian rekan kerja Lyvia."
"Oya....silahkan dilanjutkan nak Adrian, ibu tinggal ke belakang dulu ya."
Dengan sopan adrian menyapa dan mempersilahkan ibu kembali. Aku sedikit mendengar ibu dan Kania berbisik. Tapi tak begitu jelas, entah apa yang mereka bicarakan.
"Oya...aku kesini mengantarkan surat izin promosi mu dan ini STNK motor kamu."
"Hhhhmmmmm....kenapa diantar ? Aku kan bisa mengambil nya nanti."
"Tidak apa-apa...aku yang mau kok." jawabnya tanpa aku pedulikan.
Aku buka surat izin promosi yang aku ajukan beberapa waktu yang lalu. Topik pembicaraan kami mengenai acara yang akan aku buat Minggu depan.
Karena asyik mengobrol, tanpa disadari hujan turun yang tadinya cuma gerimis sekarang menambah volumenya.
Aku mengajak Adrian untuk masuk ke ruang tamu. Karena malam semakin larut tidak enak dilihat tetangga berduaan di depan rumah.
Kulihat ibu dan adikku sudah tidak ada di ruang tengah. Mereka sudah masuk ke kamar masing-masing.
Canggung rasanya hanya berdua. Apalagi sudah tidak ada lagi topik yang mereka bahas.
"Lyvia."
"Adrian."
Panggil mereka hampir bersamaan
"Silahkan duluan." jawab Adrian.
"Tidak, duluan saja."
Lyvia terdiam sebelum akhirnya membuka pembicaraan.
"Aku mau tanya sesuatu."
"He hemm...apa ?" jawab Adrian yang antusias mendengarkan.
"Tentang pesan yang kamu kirim beberapa hari yang lalu... tentang 'jingga'."
Tanya Lyvia sedikit terbata - bata.
"Apa kamu tidak ingat sama sekali ? kenapa aku menyebut 'jingga' ?"
Lyvia hanya menggeleng kan kepala.
"Via...tidakkah masih jelas di memory mu, masa - masa SMP paling menyenangkan. Dimana masa itu tiada hari aku tanpa menggodamu."
"Astagfirullah....jadi benar kamu Novel Adrian ?" komentar ku setengah berbisik.
"Ya...dan aku kembali untuk mencari mu 'Mawar Jinggaku'." Adrian beranjak dari tempat duduknya dan menempati ruang kosong di sebelah Lyvia.
Lyvia menggeser posisi tubuhnya. Dihatinya dia berontak....'mana mungkin dia melupakannya masa - masa itu. Masa-masa indah namun menyakitkan bagi Lyvia.
Masa-masa dimana dia selalu mendapat kan perlakuan kurang adil oleh laki-laki di sebelahnya ini.
Lyvia yang cerdas tapi pendiam hanya jadi bulan-bulanan ejekan teman-temannya...dan lebih sakitnya lagi, ketika sedang sendirian Adrian selalu memberinya support dan menyenangkan hatinya dengan sekuntum Mawar Jingga, namun ketika banyak temannya disana dia lebih memilih temannya untuk ikut mengejek nya.
Dan entah kemana perginya laki-laki ini, karena setalah acara perpisahan sekolah Via sudah tidak lagi mendengar kabarnya. Gini dia datang mencari ku ?
Tak terasa ada yang mengalir di pipinya. Adrian yang mengetahui hal itu berusaha menenangkannya. Dia hapus air mata di pipi Lyvia.
Lyvia menepis tangan Adrian.
"Maafkan aku....waktu itu aku masih belum mengerti arti persahabatan." Namun kata - kata Adrian membuat air matanya semakin deras.
"Via....lihat aku, aku minta maaf...itu masa kanak-kanak kita, aku janji aku akan menebus kesalahan itu."
Diraihnya dagu Lyvia untuk meyakinkan bahwa dia benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya.
Lyvia hanya terdiam, ditepis nya tangan Adrian. Namun kembali diraih pundak Lyvia dan sekarang mereka saling berhadapan.
Tidak seorang pun perempuan yang tidak luluh dengan tatapan hangat seorang Adrian.
"Kamu mau kan memaafkan ku ?"
Hanya kujawab dengan anggukan.
"Sudah lama aku merindukan saat-saat seperti ini ? sekarang aku sudah menemukanmu, tidak akan kubiarkan lagi kamu lepas."
Bibir Lyvia rasanya keluh tk mampu berkata apa-apa. Keheningan malam membuat mereka larut dalam suasana.
Entah siapa yang memulai lebih dulu. Tangan kiri Adrian sudah melingkar di bahu Lyvia. Sedangkan tangan kanannya menekan leher Lyvia.
Lyvia merasakan sentuhan hangat di bibirnya. Kecupan yang tadinya di kening sekarang sudah beralih ke bibir. Matanya yang semula terbelalak pelan-pelan terpejam. Jantung Lyvia berdegup tak beraturan.
Lama sekali Adrian mengecup bibir Lyvia, hingga mereka terengah-engah.
Adrian melepaskan ciumannya, tapi tangannya masih di posisi yang sama. Kening dan hidung mereka saling menempel. Perasaan intim pun dirasakan keduanya.
"Lyvia." terdengar Adrian berbisik.
"Maukah kamu mengisi hari-hari ku ?"
Lyvia hanya mengangguk, tidak tau harus berkata apa.
Diraihnya kembali tubuh gadis yang dirindukan itu. Dipeluk dan diciumnya kembali kening, pipi dan bibir Lyvia. Kali ini pagutan bibir Adrian dibalas lembut oleh Lyvia.
Menyadari gairah yang membakar keduanya. Adrian segera melepaskan pelukannya. Diluar hujan sudah sedikit reda. Adrian segera undur diri. Dia tidak mau orang yang dia cinta menanggung malu karena perbuatannya yang kebablasan.
~ ----------------------------
~ ----------------------------
~ ----------------------------
Semua serb natural...😍😍😘
Lanjut ah...😗😗