Di balik suami yang posesif, menyimpan sebuah rahasia besar!
Alan akan selalu melempar benda-benda yang terdekat dengannya ketika ia kecewa dengan Nesa, ia memang tidak pernah memukul istrinya—pria itu akan menumpahkan kekesalannya pada barang-barang di rumahnya.
Nesa sebenarnya tidak tahan lagi, tapi hanya demi Ribi—putri semata wayangnya dirinya bersabar menghadapi perangai buruk suaminya yang tempra mental. Tapi bencana itu datang, saat Nesa mengetahui jika sang suami tidur dengan wanita lain hanya satu kalimat yang terucap.
"Mari kita cerai!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7
Salah Nikah 7
Saat senja sudah menghilang, matahari telah dipeluk erat oleh peraduannya. Ribi mulai menguap dan merengek ingin tidur, ia cukup lelah seharian ini—bahkan gadis kecil itu tidak tidur siang hari tadi. Benar saja tidak butuh waktu lama, Ribi sudah jatuh dalam buaian mimpi indahnya, di dalam pelukan ibunya.
Nesa memandang ke arah Jendela, menatap pemandangan luar, yang menyuguhkan hamparan sawah dan pohon, kereta itu melaju cepat. Ia masih teringat betul bagaimana sakitnya ketika ia membaca isi pesan dari wanita penghibur suaminya. Kini ia tidak sanggup lagi membendung kesedihannya, tanpa sengaja air mata keluar begitu saja—padahal sebenarnya ia ingin berusaha tegar, namun memang perasaan tidak bisa dibohongi, wanita itu menangis dalam diam, seorang diri.
Seorang lelaki tidak dikenal tiba-tiba memberikan sebuah tissu untuk Nesa, dan membuatnya terkesiap, secara impulsif ia menyeka air matanya dengan kedua tangannya sendiri.
"Mau kemana, mbak?" tanya Pria itu, sopan.
"Saya?" Nesa menujuk dirinya sendiri, seolah memastikan, apakah pria itu sedang bertanya pada dirinya.
"Ya, siapa lagi? Saya sedang bicara kepada Anda," jawabnya sedikit terkekeh. Lelaki itu duduk tepat di depan Nesa dan Ribi. "Maaf, kursi ini kosong? Boleh, kan, saya duduk di sini?" tanyanya lagi.
"Tentu saja boleh, silakan," Nesa menjawab canggung sembari mengangguk pelan.
Pria muda yang terlihat sopan, ia membuka tas yang ia bawa lalu mengambil dua buah buku.
"Apakah Anda suka membaca?" tanyanya lagi.
"Lumayan," jawab Nesa, lelaki itu terus melakukan interasi pada Nesa. Seolah ia tahu jika wanita itu sedang dirundung kesedihan. Iya menyodorkan satu buku milik salah satu penulis terkenal.
"Kamu pasti akan menyukainya. Buku bisa membunuh kebosanan, dan lagi bisa menambah pengetahuan kita—meskipun hanya sebuah novel, " ucapnya. Nesa meraih buku tersebut, dan membaca sekilas prolog di dalam novel tersebut—dan cukup menarik ternyata, untuk sejenak keduanya terhayut dalam buaian bacaan mereka masing-masing, sebelum Ribi bangun dan merengek minta buang air kecil.
"Ibu ... Ribi mau pipis," rengeknya, setengah meringis memegang bagian bawahnya.
"Iya ... ayo ke toilet!" Nesa menggandeng tangan mungil gadis kecil itu, menuju sebuah toilet yang terletak di ujung gerbong mereka.
Tak berapa lama mereka kembali ke tempat duduk mereka di sambut dengan senyuman lembut pria yang belum sempat menyebutkan namanya itu.
"Adek, siapa namanya?" tanyanya, berjongkok agar sejajar dengan putri Nesa itu.
"Ribi, om." Suara imut keluar dari bibir mungilnya.
"Wah ... nama yang lucu." Kemudian pria itu menyodorkan mie dalam bentuk cup yang sudah diseduh dan siap makan, kepada Ribi. "Ribi mau?" Dijawab anggukan lembut dari gadis kecil itu. "Nih ... om kasih," tawarnya.
"Om baik banget, nama om siapa?"
"Panggil saja Om Nendra," jawabnya tersenyum lembut.
"Wah ... kalau nama aku Arimbi, tapi dipanggil Ribi," celotehnya sembari menyendok mie yang diberikan Nendra tadi.
Nesa tampak tersenyum canggung, karena melihat kebaikan dari Nendra. Namun enggan berkomentar, membiarkan Rini akrab dengan lelaki tersebut.
"Kamu mau makan juga?" tanyanya Nendar, matanya menatap wajah ayu Nesa, yang sejak tadi diam saja.
Nesa menggelengkan kepala, dengan tersenyum. Tangannya tak lepas dari kepala putrinya dan mengelus lembut rambut gadis kecilnya itu.
"Silakan, Anda saja. Dan terim akasih mienya untuk anak saya."
"Ah, murah kok. Nggak sampai nguras kantongku," jawabnya, bercanda.
Sepanjang perjalanan malam itu, mereka hanyut dalam buaian mimpi masing-masing—hingga pagi menjelang, mereka telah sampai di kota tujuan, Kota Semarang yang juga sering mendapat julukan—kota Atlas. Nesa mengambil tasnya, seketika ia memandang ke arah Nendra yang juga beranjak turun.
"Anda juga turun di kota ini?"
"Ya... saya memiliki usaha di sini. Kemarin saya ke Jakarta untuk mendapat lisensi perias nasional," pungkasnya.
"Perias?" Nesa nampak ragu mendengar profesi dari Nendra.
"Mengapa kamu melihatku dengan tatapan aneh? Apakah salah seorang pria memiliki profesi sebagai Make Up Artist?"
"Oh ... tentu tidak. Semoga Anda sukses."
"Terima kasih."
Keduanya berpisah di Stasiun poncol. Tanpa berkenalan lebih lanjut atau bahkan saling bertukar nomor ponsel.
suka bgt
mudah2 Han author nya GX lama2 up ny