Kisah seorang wanita yang di sia-siakan oleh lelaki yang paling di cintai nya.
"Tega sekali kamu Andra, aku sudah berkorban banyak sekali untuk mu, aku meninggalkan Ayah dan Ibu ku demi kamu, bahkan Ibu ku hampir bunuh diri demi kamu bisa di terima oleh Ayah ku, tapi apa balasan kamu, kamu menyakiti aku"
Indah Paramita.
"Aku tidak pernah meminta mu untuk berkorban untuk ku, Aku tidak pernah memaksa mu untuk meninggalkan orang tua mu demi aku dan aku tidak pernah memaksamu untuk menikah dengan ku. Jadi jangan kau anggap kau hebat atas pengorbananmu, ingat! aku tidak pernah memintanya.
Andra wirawan
Lalu bagai manakah kisah selanjutnya?
Akankah Indah akan tetap mempertahankan cinta yang lama yang kini mulai menyakitinya.
Ataukah Indah lebih memilih pergi dengan mencari cinta yang baru dan meninggalkan kenangan lama yang awalnya bahagia tapi akhirnya hampa.
Ataukah Indah akan pergi namun tidak lagi percaya dengan laki-laki karena Indah sudah sangat benci dengan laki-laki karena Ia menganggap lelaki semua penghianat!
Inilah kisahnya
TALAK TIGA (Perjalanan Cinta Indah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Indah duduk di tangga, ia sedang memikirkan Ibu dan Ayahnya, dirinya menyandarkan tubuhnya di kayu pedangan tangga dan memeluk lututnya, sudah beberapa hari ia tinggal di Apartement Andra,.
Indah kembali meneteskan air matanya karena merasa bersalah sudah berkata kasar pada orang tuanya, itu adalah kali pertamanya ia berbuat hal yang tidak sopan pada Ayah juga Ibunya.
Andra melihat Indah yang sedang duduk di tangga, ia yang sedang menuruni tangga mulai ikut duduk sejajar dengan Indah sambil membelai lembut kepala Indah.
"Sayang kamu kenapa " tanya Andra.
"Aku sedih Ndra. Aku sedih dengan keadaan ini " kata Indah, Andra mendengar itu dengan menatap Iba pada kekasihnya, ia menarik Indah membawanya pada pelukan yang begitu hanggat.
"Terus gimana? kalau memang kamu engga bisa jauh dari orang tua kamu, kamu bisa balik kamu kan tau hidup aku pas-pasan. Aku engga yakin kamu bisa hidup susah sama aku" kata Andra.
Andra berpikir Indah sekarang tidak memiliki apa-apa lagi. Lalu untuk apa ia mempertahankan Indah lebih baik ia cari yang lain saja, tapi ia tidak menunjukan apa yang saat ini ia rasakan, ia berkata seperti itu karena ia berpikir kalau-kalau Indah pulang pada orang tuanya, munggkin ia bisa memoroti Indah tanpa sepengetahuan orang tua Indah, dan tanpa Indah curiga tentunya dan Andra pun ingin menghancurkan keluarga Abdullah.
Indah melepas pelukannya menjauhkan dirinya, ia bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah sofa tidak jauh dari tangga itu, Andra juga ikut berjalan mengikuti Indah dan mendudukan dirinya di samping Indah di sofa yang di duduki Indah.
"Indah, apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Andra, tanpa melihat Indah pandangannya lurus pada Televisi yang dinyalakan Indah barusan.
"Iya, aku tidak memikirkan soal uang itu nomer yang kesekian untuk ku" jawab Indah sambil memandang Andra, Andra juga memandang Indah, mereka saling melihat.
"Aku tidak yakin kamu bisa hidup susah dengan ku, kamu kan tau aku juga tidak punya pekerjaan sejak selesai kuliah aku hanya bekerja tidak jelas" kata Andra pada Indah di pikirannya malas sekali kalau harus menghidupi Indah pula.
"Kamu tidak perlu takut" Indah memegang tangan Andra, dan melihat manik mata orang yang di cintainya itu.
"Maksudnya " Andra bingun dan tidak mengerti apa yang di maksud oleh Indah.
"Semua pasilitas yang di berikan Ayah memang sudah aku kembalikan" ucap Indah menjeda ucapanya.
"Lalu " Andra tidak sabar mendengar kelanjutan dari ucapan Indah.
"Tapi aku masih punya tabungan dan uang tabungan ku itu murni kerja keras ku sendiri, karena selama ini aku berkerja dan tidak pernah menggunakannya untuk hal apa pun" kata Indah.
Andra yang mendengar ucapan dari Indah merasa bahagia, walau pun tidak sebanyak yang ia impilan selama ini tapi paling tidak ia bisa membayar hutangnya pada Rentenir itu, dan membayar cicilan Apartement tersebut, Andra merasa bahagia.
"Kamu tau Ndra?. Aku juga punya Restaurant tidak jauh dari sini, sebenarnya aku ingin memberi kejutan pada orang tua ku, tapi belum sempat aku beritahu mereka semua ini sudah terjadi." Ucap Indah lagi.
"Oh ya" kata Andra, ternyata Indah punya usaha sendiri baik lah aku akan pertahankan dia aku yakin dengan sedikit membuatnya bahagia orang tuanya yang melihat itu akan merasa bahagia dan menerimaku, Andra tersenyum di dalam hatinya sangat bahagia.
Andra yakin cepat atau lambat ia akan di terima oleh orang tua Indah dan setelah itu hidupnya akan bahagia.
"Andra" Indah bersuara karna melihat Andra sedikit aneh dengan senyum kecil di bibirnya.
"Aa Emm, ya sudah kalau gitu aku akan bantu kamu mengelola itu" kata Andra semangat.
"Iya Terimakasih" kata Indah lalu memeluk Andra.
"Indah kita sudah beberapa hari ini tinggal berdua saja di Apartemen ini. Bukan kah kamu engga takut ada setan di antara kita?" tanya Andra
"Terus gimana?, ya udah nanti aku cari Kos aja kalau gitu, engga baik juga aku tinggal di sini" Jawab Indah.
"Indah kamu engga usah keluar dari rumah ini ya kita menikah saja" kata andra.
***
"Sahhhh"
Ucapan Saksi yang menghadiri acara itu mereka menikah di dalam Apartement itu. Dengan penghulu dan beberapa orang saksi tanpa di hadiri orang tua Indah atau pun Andra.
Satu hari setelah Andra mengatakan menikah dengan Indah, mereka langsung menikah dengan menikah Siri. Alasan Andra karena mengurus berkas dan menunggu beberapa hari sedangkan mereka sudah tinggal berdua saja di dalam Apartement itu, Indah memaklumi itu mamang benar yang di katakan Andra.
"Sayang" panggil Andra dengan mesra saat ini mereka sudah berada di atas ranjang yang sama.
Karena sebelumnya indah menolak bila di ajak Andra tidur bersama karena alasan mereka memang belum menikah.
"Eeemm" jawab Indah lalu menatap wajah Andra.
Karena memang hari sudah malam waktunya tidur tidak mungkin Indah keluar dan menghindari Andra.
Andra tersenyum lembut pada Indah, Andra menatap Istrinya itu dengan memakai piama tidur lengan panjang, Indah memang sudah lama berpacaran dengan Andra tapi ia masih merasa canggung dengan situasi semacam ini yang hanya berdua saja di ruangan yang sama dan Andra selalu memandanginya.
Jantung Indah semakin berdetak kencang ketika Andra semakin memajukan wajahnya pada Indah, Andra terus mendekat pada Indah sampai ia menindih tubuh Indah kini ia sudah berada di atas Indah. Indah yang berada di bawah Andra merasa semakin gugup jantungnya semakin tidak terkendalikan.
Andra juga bingung dengan dirinya ini bukan kali pertamanya bagi Andra tapi ia merasa aneh, jantungnya juga berdetak sangat kencang, dan rasa ingin menyentuh Indah begitu besar, ia merasa berbeda ketika dengan wanita lain, ia kemudian berpikir mungkin karna ia sudah menikah dan ini bukan dengan orang yang bukan istrinya, jadi rasanya juga berbeda.
"Kamu cantik sekali " kata Andra sambil membelai wajah Indah, Indah yang mendengar ucapan Andra wajahnya lansung memah seperti udah rebus.
"Sayang " panggil Andra dengan mesra dan suara paraunya.
"Iya" jawab Indah dengan lembut sambil menahan malu, karena posisi mereka sangat intim dan tidak ada lagi jarak.
Andra tersenyum pada Indah secara pelan Andra mulai memajukan wajahnya, mencium kening Indah, lalu turun ke pipi kadan dan kiri, dan berheti pada bibir Indah.
Dengan pelan tapi pasti semakin ke sini ciuman itu berubah menjadi lum*tan dan semakin lama semakin panas, tanpa sadar Indah mendesah, tentu saja Andra yang mendengar desahan Istrinya itu semakin bersemangat.
Akhirnya setelah beberapa jam melakukan ritual suami istri di malam pertama mereka selesai, keduanya tertidur tanpa sehelai benang pun dengan Indah yang memeluk Andra.
Entah berapa jam yang mereka habiskan menikmati malam bahagia yang telah lama mereka impikan, walau pun semua tercapai dengan cara yang sangat menyedihkan, tapi tidak membuat keduanya kehilangan senyum bahagia yang baru saja mereka ciptakan itu.