Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Api menyambar tirai sutra di ruang tahta. Raja Elian tergeletak di lantai dengan pedang menancap di dadanya. Paman Kael berdiri di samping jenazah itu sambil memegang pedang yang bersimbah darah.
"Aslan, menyerahlah. Kerajaan ini sekarang milikku," kata Kael dengan nada dingin.
Aslan berlutut di samping ayahnya. Tiba-tiba, penglihatannya berubah menjadi biru neon. Sebuah kotak dialog muncul di tengah matanya.
[Sistem Analisis Taktis Diaktifkan.] [Target: Paman Kael. Ancaman: Level Tinggi.] [Pola Serangan Terdeteksi: Tebasan vertikal dari kanan atas.]
Kael mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Aslan bergeser sedikit ke kiri tepat sebelum mata pedang itu lewat.
"Bagaimana kau bisa menghindar?" tanya Kael dengan wajah terkejut.
"Aku bisa melihat setiap langkahmu, Paman," jawab Aslan sambil berdiri.
[Analisis Lingkungan Selesai.] [Rute Kabur Tercepat: Jendela sisi barat, 15 meter dari posisi sekarang.] [Hambatan: 4 penjaga bersenjata tombak.]
Aslan mengambil pedang pendek milik ayahnya. Ia tidak berniat bertarung lama di sini karena jumlah musuh terlalu banyak.
"Tangkap dia! Jangan biarkan pangeran itu keluar hidup-hidup!" teriak Kael kepada para penjaga.
Empat penjaga maju secara bersamaan. Mata Aslan menangkap garis-garis merah yang menunjukkan lintasan tombak mereka.
"Ke kiri, tundukkan kepala, lalu lompat," gumam Aslan pada dirinya sendiri.
Aslan bergerak cepat di antara hujanan tombak. Ia menendang salah satu lutut penjaga hingga terjatuh, lalu menggunakan bahu penjaga itu sebagai pijakan untuk melompat lebih tinggi.
"Kau berubah, Aslan. Sejak kapan kau jadi secepat ini?" Kael mengejarnya.
"Sejak kau membunuh ayahku," sahut Aslan singkat.
[Peringatan: Pemanah di balkon atas siap menembak.] [Waktu sisa sebelum tembakan: 3 detik.]
Aslan berguling di lantai. Tiga anak panah menancap tepat di posisi ia berdiri satu detik yang lalu. Ia segera berlari menuju jendela besar di ujung ruangan.
"Berhenti!" bentak Kael.
Aslan menoleh sebentar. "Simpan tahta itu untuk sementara. Aku akan kembali untuk mengambilnya dan kepalamu."
Ia menerjang kaca jendela hingga pecah. Tubuhnya meluncur jatuh menuju sungai yang mengalir deras di bawah kastil.
[Rute Kabur Berhasil: Peluang bertahan hidup 85%.]
Kael berlari ke arah jendela yang pecah dan melihat ke bawah. Air sungai yang gelap telah menelan keponakannya.
"Cari mayatnya sampai ketemu! Aku tidak mau ada ancaman di masa depan!" perintah Kael kepada panglimanya.
Dinginnya air sungai Aridelle meresap hingga ke tulang. Aslan merayap ke tepian dengan sisa tenaga yang ada. Kerajaan Valerion kini berada di tangan pengkhianat.
[Peringatan: Suhu tubuh menurun drastis. Risiko hipotermia 60%.] [Saran: Cari sumber panas dalam radius 200 meter.]
Aslan terbatuk dan memuntahkan air sungai. Ia menatap ke arah kastil yang menjulang di kejauhan. Pamannya, Kael, merencanakan ini karena ambisi gelap untuk menguasai Batu Inti Valerion. Batu itu dipercaya bisa memberikan keabadian bagi mereka yang memiliki darah bangsawan murni. Ayah Aslan menolak menggunakan kekuatannya, namun Kael berbeda.
"Aku masih hidup, Paman. Kau melakukan kesalahan besar," bisik Aslan.
Ia berjalan memasuki batas Hutan Grendel. Hutan ini dikenal sebagai tempat monster kelas tinggi bersarang. Manusia normal tidak akan berani mendekat, tetapi bagi Aslan, ini adalah tempat latihan terbaik.
[Analisis Area: Hutan Grendel, Sektor Luar.] [Monster Terdeteksi: Serigala Bertanduk Tunggal. Level 5.] [Rute Tempuh: Hindari semak berduri di sisi kanan.]
Seekor serigala besar muncul dari balik pepohonan. Matanya merah menyala dan tanduknya mengeluarkan percikan listrik kecil.
"Tunjukkan padaku bagaimana cara membunuh makhluk ini," perintah Aslan pada sistem di kepalanya.
[Target Teridentifikasi: Serigala Bertanduk.] [Titik Lemah: Pangkal leher bagian bawah.] [Pola Serangan: Terjangan lurus diikuti sapuan ekor.]
Serigala itu melompat dengan kecepatan tinggi. Di mata Aslan, gerakan itu melambat karena garis lintasan biru yang muncul secara otomatis.
"Sekarang!" seru Aslan.
Ia merunduk saat serigala itu melayang di atas kepalanya. Dengan satu gerakan cepat, ia menghujamkan belati peninggalan ayahnya tepat di pangkal leher sang monster.
[Serangan Berhasil. Monster Tereliminasi.] [Analisis Pertempuran: Efisiensi serangan 92%.] [Pengalaman Didapat: Peningkatan koordinasi saraf sebesar 0.5%.]
Aslan menyeka darah di wajahnya. Ia merasa tubuhnya sedikit lebih ringan. Sistem ini bukan sekadar alat pembantu, melainkan kunci untuk melampaui batas manusia biasa di dunia Valerion yang kejam ini.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Aslan pada sistem itu.
[Tugas Utama: Memastikan kelangsungan hidup pewaris sah Valerion.] [Status: Memulai fase pelatihan tingkat menengah.]
Aslan menatap ke kedalaman hutan yang gelap. Ia tahu bahwa untuk merebut kembali kerajaannya, ia harus menjadi monster yang lebih menakutkan daripada penghuni hutan ini.
Tiga hari telah berlalu sejak ia memasuki jantung Hutan Grendel. Tubuhnya kini jauh lebih ramping dan berotot. Pakaian bangsawannya sudah hancur, digantikan oleh kulit binatang yang ia rakit sendiri.
"Status," ucap Aslan singkat.
[Sinkronisasi Saraf: 12%.] [Kekuatan Fisik: Meningkat 40% dari rata-rata manusia.] [Deteksi Musuh: Beruang Lapis Baja terdeteksi di arah jam dua.]
Aslan segera merunduk di balik pohon raksasa. Ia melihat seekor beruang dengan kulit setebal logam sedang menghancurkan batang kayu dengan cakarnya.
"Analisa pertahanannya," perintah Aslan.
[Target: Beruang Lapis Baja. Level 12.] [Analisa: Kulit bagian punggung tidak tertembus senjata tajam.] [Kelemahan: Sendi kaki belakang dan selaput mata.]
Beruang itu mengendus udara. Ia merasakan keberadaan Aslan. Dengan raungan yang menggetarkan tanah, makhluk itu menerjang. Aslan tidak lari. Ia justru berlari menyongsong serangan itu.
[Pola Serangan: Sapuan cakar kanan. Peluang menghindar: 98%.]
Garis biru tipis muncul di pandangan Aslan. Ia meluncur di antara kaki beruang itu tepat saat cakar raksasa lewat di atas kepalanya. Begitu berada di belakang, Aslan menusukkan belatinya ke sendi kaki belakang monster tersebut.
"Satu!" teriak Aslan.
Beruang itu meraung kesakitan. Gerakannya menjadi goyah. Aslan melompat ke punggung beruang itu, menggunakan momentum dari gerakan sistem yang mengunci posisi kakinya agar tidak jatuh.
"Berapa lama sampai ia kelelahan?" tanya Aslan.
[Estimasi: 45 detik jika serangan pada titik saraf terus dilakukan.]
Aslan menghujamkan belatinya berkali-kali ke titik saraf di tengkuk beruang tersebut. Setiap tusukan dipandu oleh titik merah yang berkedip di matanya. Beruang itu berputar-putar liar mencoba melempar Aslan, namun Aslan tetap menempel.
"Kau terlalu lambat," bisik Aslan saat ia melompat turun.
Monster itu tumbang dengan dentuman keras. Aslan terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang, namun pikirannya tetap tenang berkat pengaruh sistem.
[Selamat. Level Sinkronisasi meningkat.] [Fitur Baru Terbuka: Simulasi Pertempuran Masa Depan.]
"Apa itu?"
[Sistem dapat memprediksi lima detik ke depan dalam pertempuran nyata.]
Aslan tersenyum tipis. Dengan kekuatan ini, ia tidak hanya akan membunuh pamannya. Ia akan menghancurkan seluruh pasukan pengkhianat itu tanpa tersentuh sedikit pun.
Langkah kaki Aslan tidak lagi mengeluarkan suara saat menginjak ranting kering. Kabut di jantung hutan ini berwarna hitam pekat dan beraroma logam. Matanya terus bergerak mengikuti instruksi sistem yang menyala terang dalam kegelapan.
"Kenapa jarak pandangku tidak berkurang?" tanya Aslan sambil menggenggam belatinya.
[Mode Penglihatan Malam Aktif.] [Efek Kabut Hitam dinetralkan oleh filter sistem.] [Peringatan: Energi kehidupan terdeteksi di depan. Jumlah: 12 titik.]
Aslan berhenti seketika. Dua belas serigala bayangan muncul dari balik kabut. Tubuh mereka tidak padat melainkan seperti asap yang bergerak-gerak.
"Dua belas sekaligus?" gumam Aslan dengan napas tertur.
[Simulasi Pertempuran Masa Depan Diaktifkan.] [Menampilkan proyeksi lima detik ke depan.]
Tiba-tiba, Aslan melihat bayangan transparan dirinya sendiri bergerak maju. Bayangan itu menunjukkan bahwa serigala di sisi kiri akan melompat terlebih dahulu.
"Aku mengerti sekarang," kata Aslan.
Aslan berlari ke arah serigala pertama sebelum makhluk itu sempat bereaksi. Ia menebas leher serigala itu tepat di titik yang ditunjukkan oleh proyeksi sistem. Makhluk itu melenyap menjadi asap sebelum sempat melolong.
"Satu mati. Sebelas lagi," ucap Aslan dingin.
Serigala-serigala lainnya menyerang secara bersamaan dari berbagai arah. Proyeksi lima detik di mata Aslan menjadi sangat sibuk. Ia menari di antara cakaran dan gigitan yang terlihat lambat karena ia sudah tahu ke mana arah serangan itu sebelum terjadi.
"Kanan bawah, lalu putar ke belakang," perintah Aslan pada ototnya sendiri.
Ia melakukan salto ke belakang untuk menghindari terkaman dua serigala. Saat di udara, ia melempar belati kecil ke arah mata serigala ketiga.
"Bagaimana progres sinkronisasi sarafnya?" tanya Aslan sambil mendarat dengan mulus.
[Sinkronisasi Saraf: 15%.] [Saran: Gunakan teknik serangan berantai untuk efisiensi energi.]
Aslan memungut kembali belatinya dengan gerakan cepat. Ia tidak merasa lelah sama sekali meskipun bergerak dengan kecepatan tinggi. Pikirannya terasa sangat jernih seolah-olah ia sedang bermain catur dengan nyawa sebagai taruhannya.
"Paman Kael mengirim pasukan elit untuk mencariku, bukan?" tanya Aslan tiba-tiba.
[Analisis: Berdasarkan pola pergerakan di perbatasan hutan, pasukan pencari Valerion diperkirakan tiba dalam dua hari.]
Aslan tersenyum sinis sambil menatap sisa serigala yang gemetar ketakutan.
"Bagus. Aku butuh target manusia untuk menguji seberapa tajam analisis sistem ini pada taktik perang mereka," kata Aslan.
Ia menerjang maju dan menghabisi sisa serigala bayangan dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Hutan itu kembali sunyi, menyisakan Aslan yang kini berdiri dengan aura yang jauh lebih mengintimidasi daripada monster mana pun.
Aslan duduk bersandar pada akar pohon besar yang sudah mati. Ia mengasah belatinya dengan sebuah batu kali yang halus. Setiap gesekan logam terdengar nyaring di tengah kesunyian hutan yang mencekam.
"Tunjukkan rute pasukan pencari itu sekali lagi," perintah Aslan pelan.
[Peta Taktis Diaktifkan.] [Target: Unit Elit Penunggang Harimau Putih. Jumlah: 20 personel.] [Lokasi Saat Ini: Lembah Kabut, 5 kilometer dari posisi subjek.]
Aslan memperhatikan titik-titik merah di layar virtual matanya. Mereka bergerak dalam formasi pencarian melingkar. Pamannya benar-benar sangat ingin memastikan kematiannya.
"Siapa pemimpin pasukan ini?" tanya Aslan.
[Identifikasi Selesai: Kapten Voren. Mantan pelatih pedang kerajaan.] [Catatan: Voren memiliki tingkat disiplin tinggi dan menggunakan teknik pedang berat.]
Aslan terdiam sejenak. Ia mengingat Voren. Pria itu adalah orang yang mengajarinya dasar-dasar memegang pedang ketika ia masih kecil. Kini guru dan murid harus bertarung di sisi yang berbeda.
"Sistem, buatkan rencana penyergapan menggunakan medan hutan ini," kata Aslan sambil berdiri.
[Menganalisis Kontur Tanah...] [Rencana Disusun: Gunakan Area Rawa Beracun di sisi utara sebagai jebakan.] [Keuntungan: Mengurangi mobilitas harimau putih sebesar 70%.]
Aslan mulai berjalan menuju utara. Ia tidak terburu-buru. Ia memetik beberapa tanaman liar yang memiliki duri beracun dan mengumpulkannya di dalam kantong kulit.
"Aku butuh lebih dari sekadar belati ini jika ingin menghadapi dua puluh orang," gumam Aslan.
[Saran: Buat jebakan kabel menggunakan serat pohon liana.] [Data: Serat liana memiliki ketahanan tarik yang cukup untuk menjatuhkan kavaleri ringan.]
Aslan memanjat salah satu pohon besar. Ia mulai memotong serat-serat kuat yang menggantung di dahan. Gerakannya sangat efisien dan terukur. Ia tidak membuang tenaga untuk gerakan yang tidak perlu.
"Berapa waktu yang aku punya sebelum mereka mencapai rawa?" tanya Aslan.
[Estimasi Waktu: 4 jam 15 menit.]
Aslan turun dari pohon dengan sekali lompatan ringan. Ia mulai menaruh jebakan di antara pepohonan yang rimbun. Matanya terus bersinar biru, memandu setiap letak kabel dan duri yang ia pasang.
"Voren adalah orang yang teliti. Dia akan memeriksa jejak kaki," ucap Aslan.
[Instruksi: Gunakan teknik berjalan menyamping di atas akar pohon untuk menyamarkan jejak.]
Aslan mengangguk. Ia mulai mempersiapkan arena pertempurannya dengan sangat tenang. Ia tahu bahwa kemarahan yang meluap-luap hanya akan mengaburkan analisis sistemnya. Untuk membunuh seorang pengkhianat, ia harus menjadi sedingin es.
Setelah semua jebakan terpasang, Aslan naik ke dahan pohon yang paling tinggi untuk memantau pergerakan dari kejauhan. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menghemat energi.
"Sistem, bangunkan aku jika mereka berada dalam radius satu kilometer," pesan Aslan.
[Mode Siaga Diaktifkan. Pemindaian Area Berlanjut.]
Aslan tertidur dalam posisi duduk yang sempurna. Di tengah hutan monster yang paling berbahaya sekalipun, ia merasa sangat aman karena sistem di kepalanya tidak pernah tidur.