Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimanfaatkan
Tama meletakkan tasnya di kursi santai depan ruang guru karena belum tau dimana letak kelas 12 AKL 1, terlebih sebagian besar siswa siswi sudah berhambur dan mulai berbaris di lapangan. Alih-alih mencari barisan kelasnya seesuai instruksi guru BK Tama malah fokus pada siswi yang berbaris di bagian belakang, Lengkara. Meski suara teriakan seorang siswa menyuruh mereka untuk diam dan baris yang rapi, Kara dan dua temannya sibuk sendiri di belakang. Entah apa yang mereka bahas tapi terlihat seru.
Sst! Tama meletakan jari telunjuk di bibirnya sendiri sambil menatap Kara, "udah mau mulai jangan berisik terus hei!"
"Wih, lo sekelas sama kita,Tam?" yang diajak ngobrol Kara tapi yang nyambung malah Dila.
"Betah nih gue kalo di kelas ada yang bening kayak gini." sambung Selvia.
Barisan kelas sebelah juga ikut heboh menyadari kehadiran wajah baru di sana, terutama kaum hawa. Bisa dipastikan mulai hari ini nama Pratama mungkin akan menempati posisi siswa yang direbutkan pada siswi, selain ketua OSIS yang sedang berteriak di depan sana tentunya.
Tama berbaris paling belakang jajaran laki-laki, tepat di samping Kara. Sesekali ia tersenyum ramah menanggapi siswi kelas lain yang cari perhatian, bahkan ada yang terang-terangan meminta QR code WA padahal upacara sudah mau di mulai.
"Ntar aja yah, HP gue di tas." jawab Tama.
"Tama, ntar tambah kontak gue juga yah." Dila tak mau ketinggalan.
"Gue juga." timpal Selvia.
Tama mengacungkan jempolnya, "aman. Ntar gue save semua." balasnya dengan senyum cool kebanggannya yang selalu bisa membuat para siswa terpikat.
"Ntar sekalian gue save kontak lo yah, Kara." lanjutnya pada Lengkara yang tampak cuek, gadis itu malah fokus ke depan.
"Jangan ngarepin kontak Kara deh, Tam. Dia udah punya calon suami, jadi lo nggak usah nyoba masuk ke Kara, mending masuk ke gue aja, masih kosong." ucap Dila.
"Calon suami?"
"Hm" jawab Dila sambil menyunggingkan senyuman ke arah depan, "tuh yang lagi teriak-teriak. Most wanted SMK Persada."
"Ketua OSIS yang namanya jadi doa bersama para siswi dan mimpi buruk kolektif para cowok. Dirgantara." sambung Selvia.
Tama menahan tawa mendengarnya, "buset dah namanya jadi do'a bersama para cewek. Kayak apa sih orangnya? sampe pada segitunya." batinnya seraya mengalihkan padangannya ke depan. Menurutnya biasa saja, emang spek cowok baik-baik pada umumnya.
"Cakep kan?" tanya Dila, "tapi tenang aja meskipun Dirga cakep, gue tetep antri sama lo aja deh, Tama." ledek Dila.
"Gue juga. Inget yah kan kita-kita yang pertama ketemu lo." sambung Selvia yang tak mau kalah.
"Terus cowok lo yang mahasiswa itu mau dikemanain? gue aduin nih."
Keduanya masih saja ribut meskipun upacara sudah di mulai hingga seorang guru menghampiri dan menarik keduanya dari barisan. Membawanya berbaris terpisah. Setelah Selvia dan Dila pergi, telinga Tama terasa sedikit tenang meskipun dari barisan sebelah masih ada yang menganggu setidaknya tak seramai Selvia dan Dila. Kini fokusnya kembali pada Lengkara, kening gadis itu basah karena keringat padahal cuaca tak terlalu panas.
Melihat Kara yang berulang kali menyeka keningnya dengan telapak tangan, Tama menarik seragam gadis itu hingga Kara menoleh, "lo sakit?"
Brug! Belum sempat menjawab Kara sudah limbung. Beruntung Tama begitu sigap menangkapnya. Teman di depan Kara mengacungkan tangan memanggil PMR tapi Tama tak menunggu lama, sebelum blangkar datang, ia sudah lebih dulu menggendong Kara.
"Kasih tau dimana UKS nya?"
Tama membawa Kara ke UKS dan membaringkannya di ranjang. Seorang guru yang merangkap pembina PMR itu langsung menghampirinya.
"Lengkara, pelanggan tetap." ucap Bu Dini Riyani, guru bahasa Indonesia. Wanita yang terlihat seusia dengan mamanya itu mencubit pipi Kara.
"Bangun, Lengkara. Ini udah di UKS, kebiasaan kamu tuh tiap senin kayak gini."
"Bu, dia pingsan." ucap Tama yang aneh melihat sikap gurunya.
"Murid baru yah?" tanya Bu Dini, "ibu kayaknya baru lihat."
"Iya, Bu. Baru masuk hari ini." jawab Tama.
"Pantesan. Kamu pasti belum tau yah? Kara ini udah langganan kalo senin kayak gini. Dia sengaja nih biar digendong Dirga ke UKS. Biar nggak upacara." jelas Bu Dini.
"Tumben yang bawa kesini bukan Dirga, biasanya dia." lanjutnya sambil memakaikan selimut pada Lengkara.
Tama yang tak tau apa-apa hanya menjadi pendengar yang baik.
"Ibu tinggal dulu, Kara nggak apa-apa. Kamu kalo mau nemenin disini silahkan atau mau kembali ke kelas juga nggak apa-apa. Sepertinya upacara sebentar lagi selesai. Ibu mau cek yang lain." pamitnya kemudian memeriksa siswa lain yang juga tumbang saat upacara.
"Iya, Bu." jawab Tama.
Satu persatu siswa yang sakit sudah mulai meninggalkan UKS. Bisa Tama tebak kemungkinan mereka juga hanya berpura-pura supaya tak ikut upacara. Tapi anehnya yang terbaring di hadapannya ini tak juga bangun.
"Kara, upacaranya udah selesai. Guru juga udah nggak ada, yang lain udah pada cabut dari sini, lo bisa bangun sekarang." bisik Tama.
"Kara," Tama menyentuh kening Kara, memastikan kondisi gadis itu. Tak demam sama sekali.
"Ra..." ulangnya.
Kara membuka matanya, menatapnya kilas namun kemudian malah membuang muka. "Kirain Dirga." batinnya.
"Kalo ada yang lo butuhin bilang aja, gue disini, Ra. Nungguin lo." ucap Tama.
"Lo yang bawa gue kesini?"
"Iya."
"Makasih, Tama. Lo balik ke kelas aja, gue nggak apa-apa, cuma butuh tidur bentar aja." ucap Kara.
"Nggak, gue disini aja. Nemenin lo. Kalo ada yang lo butuhin bilang aja ntar gue usahain." jawab Tama, "atau kalo misal lo butuh orang buat kerja sama biar bisa pulang cepet juga gue ready." lanjutnya yang malah memanfaatkan situasi untuk pulang lebih awal. Maklum lah, Tama langganan BK di sekolah lamanya, urusan kabur dari sekolah dan membuat masalah sudah keahliannya.
"Ra! lo sakit beneran apa gimana? yang lain udah pada balik ke kelas lo nggak dateng-dateng." seru Dila yang datang dengan Selvia. Tak lama disusul oleh siswa yang katanya idaman setiap gadis di sekolah ini.
"Tam, lo ikut kita. Ada yang mau kita omongin." Dila dan Selvia langsung mundur, bahkan Tama saja ditarik paksa dari sana.
Ck! Tama berdecak lirih namun mengikuti dua gadis berisik itu. Keduanya terus ngoceh-ngoceh di depan UKS, Tama tak peduli, ia sesekali menimpali dengan iya iya dan iya saja. Bagi Tama lebih seru melihat ke dalam, gadis yang harus dijaganya itu sepertinya sedang merajuk. Sedang si ketua OSIS terlihat ngomel panjang lebar. Namun tak lama senyum Tama menggembang saat Kara bersikap acuh dan berjalan keluar. Tama segera menghampirinya meskipun Dila dan Selvia berusaha menahannya.
"Tama, lo beneran mau bantuin gue apa pun?" tanya Kara yang berdiri di depan pintu.
"Iya. Lo butuh bantuan apa?" jawab Tama.
"Lo bawa mobil?"
"Ada."
"Anterin gue pulang." pinta Kara.
"Oke. Lo tunggu sini aja, gue ke ambil mobil bentar." jawab Tama.
Tak peduli tasnya masih di depan ruang guru, prioritas utamanya Lengkara. Tak sampai 5 menit Tama sudah kembali dengan mobilnya. Dila dan Selvia sudah ready dengan tas Kara.
Dengan sigap Tama membukakan pintu untuk Lengkara tapi Dirga menahan lengannya. "Makasih buat niat baik lo, tapi Kara pulang dianter Selvia aja."
"Sel, anterin Kara yah. Gue harus ngurus MPLS anak baru." lanjutnya pada Selvia.
"Gue mau balik sama Tama!" tak peduli ucapan Dirga, Kara menerobos masuk begitu saja.
Tama segera menutup pintu mobilnya, Dila dan Selvia juga ikut masuk di kursi belakang. Tama tersenyum meledek, "tenang aja, gue pastiin Kara pulang dengan selamat."
Tama tersenyum puas, ia kira akan sulit mendekati Lengkara tapi ternyata gadis itu sama saja dengan yang lainnya, mendekat ke arahnya dengan sendirinya. effortless.
"Gue haus, Tam. Boleh minta tolong melipir dulu di depan nggak?" ucap Kara.
"Siap. Mau pada minum apa? biar gue aja yang turun." tanya Tama.
"Air mineral aja." jawab Kara.
"Oke. Dila sama Selvia mau apa? biar sekalian."
"Mereka berdua sih beliin cemilan yang banyak. Sama minumnya yang rasa lemon." timpal Kara, sengaja supaya Tama berlama-lama di minimarket.
"Ok." jawabnya singkat kemudian berlalu turun dan masuk ke mini market. Mengambil banyak makanan ringan, baginya ini kesempatan untuk mengambil hati Kara. Prinsipnya dalam mendekati perempuan, penuhi keinginannya maka semua akan berjalan lancar. Pertama penuhi perutnya lanjut penuhi hatinya.
Tama kembali dengan dua kantong keresek besar namun saat membuat mobil, kosong. Tak ada Kara dan kedua temannya. Hanya sobekan kertas yang tergeletak di tempat duduk. "Makasih tumpangannya. Gue balik sendiri."
Tama me re mas kertas itu dan membuangnya asal, "si a lan gue ditinggalin." umpatnya.
"Baru kali ini gue diginiin cewek." lanjutnya seraya menggelengkan kepala.
.
.
.
Like komen sama vote nya buat Tamarin guys🤗
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣