Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. I'm Going Home, Paris
Ini terlalu besar, Mahesa! Kau pikir aku lansia yang butuh popok?" Bianca tertawa lebar saat melihat pembalut berukuran 30 cm di tangannya.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Terima kasih, ya. Aku menghargainya, meski rasanya pasti akan sangat aneh saat memakainya nanti," lanjut Bianca sambil menggelengkan kepala, geli melihat Mahesa yang hanya bisa berdiri kaku dengan wajah bingung sekaligus lega karena tugasnya selesai.
Mahesa berusaha menutupi rasa malunya. "Hanya itu yang terlihat paling meyakinkan di rak. Lagipula, yang penting tidak bocor, kan? Pakai saja. Sekarang, istirahatlah. Besok akan menjadi hari yang panjang untukmu."
Pagi menyapa Uluwatu dengan semburat jingga yang tenang. Bianca sudah bersiap di lobi resor, mengenakan setelan linen putih yang elegan dan kacamata hitam besar. Di samping kopernya, bersandar sebuah lukisan besar yang dibelikan Mahesa, sebuah karya yang indah.
Mahesa datang mendekat, wajahnya tampak lelah namun matanya tetap tajam. Ia menyerahkan sebuah kotak kecil berbahan beludru.
"Ini bukan perhiasan mewah seperti yang biasa kau pakai di Paris," ucap Mahesa pelan. Di dalamnya terdapat sebuah gelang perak khas Bali dengan ukiran rumit dan sebuah cincin batu alam berwarna hitam pekat. "Itu batu Black Coral. Orang sini menyebutnya akar bahar. Simpanlah sebagai perlindungan, atau setidaknya sebagai pengingat bahwa kau pernah dijinakkan oleh pulau ini."
Bianca menerima kotak itu, merasakan dinginnya perak di kulitnya. "Terima kasih. Aku tidak pernah dijinakkan, Mahesa. Aku hanya singgah."
"Terserah apa katamu," sambil membantu menaikkan lukisan itu ke bagasi mobil. "Kabari aku jika kau sudah sampai di Paris. Dan ingat, jika Simon atau pria-pria aristokrat di sana membosankan, kau tahu di mana bisa menemukanku."
Bianca tersenyum tipis, lalu masuk ke mobil menuju Bandara Ngurah Rai, meninggalkan jejak kekacauan yang akan segera ditemukan Simon beberapa jam lagi.
Bianca dan Mahesa berciuman begitu lekat untuk sesaat. Sayangnya, mereka hanyalah pasangan ranjang, sesama budak Lora yang dipertemukan oleh sebuah misi.
"Kau juga boleh datang ke Paris menemuiku jika rindu," ucap Bianca sambil menyentuh lembut bibir Mahesa yang ternoda lipstiknya. "Sampai jumpa, Mahesa."
Mahesa hanya tersenyum miring, lalu mengusap sisa lipstik itu dengan punggung tangannya. "Jangan terlalu berharap, Bianca. Tapi jika aku bosan dengan ombak Bali, mungkin aku akan datang untuk melihatmu menghancurkan Paris."
...****************...
Di kabin first class menuju Paris, Bianca mengenakan headset dan menuliskan pesan di buku jurnalnya agar bisa dibaca oleh Lora. Lora memiliki kelemahan: ia tidak mampu membaca isi hati Bianca, sehingga tulisan menjadi satu-satunya cara mereka berkomunikasi secara privat.
"Lora," tulisnya. "Jika aku memutuskan Simon karena perselingkuhannya dan dia menuntut sahamnya kembali, bagaimana jika aku mengancamnya dengan kartu as miliknya? Aku akan membongkar keterlibatannya dalam tragedi kebakaran dan pembunuhan di Palermo, Italia Selatan."
Tulisan di kertas itu tiba-tiba memudar, digantikan oleh gurat tinta hitam yang muncul seolah ditulis oleh tangan tak terlihat.
"Lakukan, Bianca. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan pada Simon. Simon harus kau tendang sebelum menghadapi Aline. Ancam dia sampai dia berlutut, tapi jangan bunuh dia dulu, biarkan dia hidup dalam teror bahwa rahasia gelapnya ada di tanganmu. Gunakan saham itu sebagai modal untuk menjerat Brandon di Paris."
"Apakah aku perlu menyewa pengacara untuk mengamankan bukti yang kudapatkan dari Simon, Lora? Aku butuh kepastian hukum. Jika aku menghilang, pengacaraku akan mengurus semuanya. Kau tahu, kan, dia juga terlibat perdagangan senjata api? Relasinya dengan mafia dunia bawah pasti sangat luas."
Gurat tinta kembali muncul di permukaan kertas,
"Cerdas. Carilah pengacara yang paling korup dan hamba uang, seseorang yang lebih takut kehilangan reputasinya daripada nyawanya. Simpan bukti itu di tangan pihak ketiga. Jangan sampai seujung rambutmu pun disentuh oleh kaki tangannya, seluruh berkas Palermo dan daftar transaksi senjatanya akan mendarat di meja interpol dalam hitungan detik. Jadikan dirimu tak tersentuh, Bianca."
...****************...
Simon tiba dengan wajah letih akibat jet lag di kabin first class. Ia sengaja memilih penerbangan komersial demi suasana baru. Di balik kelelahannya, tersimpan kegembiraan untuk segera menemui kekasihnya. Namun sayang, Bianca telah lebih dulu terbang menuju Paris.
"Bianca baru mengabariku tadi pagi," gumam Simon dalam hati, mengingat pesan singkat wanita itu: "Datanglah, Simon. Aku punya kejutan seru untukmu."
Setibanya di resor, Simon mendapati suasana sepi dan kamar yang telah kosong melompong. Mahesa tiba-tiba muncul dan menyodorkan sebuah amplop.
"Dia sudah kembali ke negaranya. Di dalam amplop itu ada alamatnya di Paris," ujar Mahesa datar.
"Apa maksudmu?" tanya Simon dengan dahi berkerut.
"Dia ingin kau menemuinya di Paris. Kau sudah membuatnya kecewa."
"Brengsek! Aku jauh-jauh dari Milan, dia malah kembali ke Paris. Kenapa tidak menungguku?" umpat Simon geram.
"Mana kutahu. Makanya, jangan berselingkuh dengan tim auditmu. Bianca mendengar suara desahan wanita itu, dia menceritakan semua padaku," ujar Mahesa.
Ia kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi dengan senyum miring, merasa menang karena tahu Bianca pun telah berselingkuh dengannya di belakang Simon.
Simon yang kelelahan akhirnya menginap di resor milik Mahesa di mana ia juga menanan modal dan. beristirahat sejenak sembari berburu tiket menuju Paris. Ia merasa perlu memberikan penjelasan, atau setidaknya merayu Bianca agar mau memaafkannya. Simon tidak ingin melepaskan wanita itu begitu saja, karena Bianca memegang lima persen saham di perusahaan logistiknya yang sedang maju pesat.
"Brengsek, dia memblokir telponku! Akan kukejar kau ke Paris, Bianca." Sambil menatap layar laptop untuk mencari tiket ke Paris.
Telepon dari Mahesa masuk ke ponsel Simon, mengajaknya bersenang-senang nanti malam ke beach club miliknya. Mahesa menjanjikan banyak gadis cantik, tidak hanya ekspatriat, tetapi juga wanita lokal khas Indonesia, ibarat satu wadah dengan berbagai sajian.
"Lupakan sejenak Bianca. Datanglah ke tempatku malam ini. Aku punya koleksi 'sajian' terbaik dari berbagai belahan dunia, termasuk pesona lokal yang tidak akan kau temukan di Milan," goda Mahesa dari balik telepon.
Simon terdiam sejenak, menatap layar laptopnya yang masih menampilkan jadwal penerbangan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Simpan satu tempat terbaik untukku, Mahesa. Aku butuh pengalihan sebelum harus menghadapi kerumitan di Paris besok."
"Baiklah, bagaimana seleramu? mau wanita loka?"
"Hmmm.. Boleh juga,"
"Ok, kau ingin dia berkulit sawo matang yang manis, atau yang putih bersih seperti wanita Eropa?" tanya Mahesa, terdengar seolah sedang menawarkan barang dagangan.
Simon tergelak di seberang sana, rasa frustrasinya sedikit teralihkan. "Berikan aku yang paling eksotis, Mahesa. Sesuatu yang bisa membuatku lupa sejenak bahwa tunanganku baru saja melarikan diri ke belahan dunia lain."
"Sampai jumpa di klub pukul sepuluh malam."