NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
​Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bara Keserakahan di Tanah Utara

Tiga tahun telah berlalu sejak guncangan politik yang meruntuhkan kekuasaan Kasim Wei Zhong, namun gema dari peristiwa itu tidak kunjung padam. Sebaliknya, misteri yang menyelimutinya justru mengkristal menjadi obsesi kolektif yang mencekam seantero negeri.

​Kini, pembicaraan mengenai Pedang Naga Bumi tidak lagi terbatas pada bisik-bisik di kedai arak remang-remang atau di antara debu latihan perguruan kungfu. Legenda dari tanah Jawa itu telah memanjat tembok-tembok tinggi Kota Terlarang, menyusup ke dalam aula-aula emas tempat para pejabat tinggi kekaisaran berkumpul.

Di koridor kekuasaan, Pedang Naga Bumi bukan lagi dianggap sebagai senjata bela diri semata, melainkan simbol supremasi yang mampu menggeser peta kekuatan politik.

​Bagi Para Pendekar: Mereka masih memuja tekniknya. Cerita tentang bilah hitam berluk yang mampu meruntuhkan pertahanan lawan seolah-olah memiliki bobot ribuan gunung tetap menjadi topik utama. Mereka percaya bahwa siapa pun yang memegangnya akan menjadi Tiānxià dì yī (Nomor Satu di Bawah Langit).

​Bagi Pejabat Kekaisaran: Di mata para menteri dan gubernur, pedang itu adalah instrumen kekuasaan. Muncul desas-desus di kalangan birokrat bahwa pedang tersebut mengandung "Nadi Naga" yang dapat mengukuhkan legitimasi seorang penguasa atau, sebaliknya, menggulingkan dinasti.

Suasana di ibu kota kini dipenuhi ketegangan yang dingin. Para pejabat senior mulai mengirim agen-agen rahasia dan menyewa jasa tentara bayaran elit untuk melacak keberadaan pedang tersebut. Bukan untuk mengamankannya bagi kaisar, melainkan untuk memperkuat posisi faksi mereka sendiri dalam persaingan berdarah pasca-jatuhnya Wei Zhong.

​"Pedang itu bukan sekadar besi dingin," bisik seorang penasihat senior di Dewan Agung. "Ia adalah kunci yang bisa membuka gerbang surga, atau meruntuhkan fondasi istana ini jika jatuh ke tangan yang salah—atau tangan yang terlalu benar."

Setiap kapal yang datang dari arah Selatan, dari kepulauan Nusantara, kini diperiksa dengan ketat. Setiap Pendekar yang membawa bungkusan panjang di punggungnya akan langsung berada di bawah pengawasan mata-mata istana. Pedang Naga Bumi telah bertransformasi dari sebuah mitos pendekar menjadi target perburuan politik terbesar dalam sejarah Dinasti Ming.

Sementara itu ​Di puncak Gunung Hua, para tetua sekte pedang berkumpul dengan kening berkerut. "Ilmu pedang dari Selatan itu... konon ia bukan mengandalkan kecepatan, tapi menyatu dengan detak jantung bumi," bisik salah satu ketua sekte.

Sementara itu ​di lembah-lembah tersembunyi, para tokoh aliran hitam yang ambisius mulai mengasah senjata mereka. Nama Lin Feng kini bukan lagi dianggap sebagai buronan, melainkan sebagai "pembawa harta karun". Bagi mereka, siapa pun yang memiliki Pedang Naga Bumi, dialah yang akan menjadi penguasa tunggal dunia persilatan.

​"Cari Lin Feng!" perintah seorang tetua dari Sekte Iblis Langit. "Pedang itu adalah kunci kekuatan yang tak tertandingi. Aku ingin naga itu bertekuk lutut di bawah kakiku!"

​Lin Feng, yang awalnya berniat hidup tenang setelah membersihkan namanya, menyadari bahwa peringatan Ki Ageng Bang Wetan kini menjadi kenyataan. Ke mana pun ia melangkah, ia merasakan sepasang mata yang mengintai dari balik kegelapan.

​Suatu sore di sebuah penginapan di perbatasan utara, Lin Feng sedang duduk menikmati tehnya. Tiba-tiba, delapan pendekar bersenjata lengkap masuk dan mengepung mejanya. Mereka adalah Delapan Harimau dari Shanxi, kelompok tentara bayaran yang terkenal haus darah.

​"Serahkan pedang besar di punggungmu itu, Lin Feng," gertak pemimpin mereka, seorang pria raksasa dengan kapak ganda. "Pusaka suci dari Selatan tidak pantas berada di tangan seorang pelarian seperti kau."

​Lin Feng tidak bergeming. Ia hanya meletakkan cawan tehnya dengan tenang. Getaran dari Pedang Naga Bumi di punggungnya mulai terasa—pedang itu seolah bisa merasakan niat jahat yang mengelilingi tuannya.

​"Pedang ini bukan milikku, dan bukan milik kalian," ucap Lin Feng dengan suara rendah namun berwibawa. "Ia milik bumi. Dan bumi tidak menyukai keserakahan."

​Tanpa bangkit dari kursinya, Lin Feng melepaskan sedikit hawa murni yang ia pelajari dari Ki Ageng Bang Wetan. Ia memadukan Qì internalnya dengan energi gravitasi dari Naga Bumi.

​BUM!

​Seketika, meja kayu di depan Lin Feng hancur menjadi serbuk, dan tekanan udara di dalam ruangan itu meningkat drastis. Delapan pendekar itu mendadak merasa tubuh mereka seberat timah. Kapak ganda sang pemimpin jatuh ke lantai, bahkan ia sendiri berlutut karena tak sanggup menahan beban tak kasat mata yang menekan pundaknya.

​"Kekuatan apa ini...?" bisik mereka dengan wajah pucat dan napas yang sesak.

​Lin Feng berdiri, jubah luriknya berkibar meski tak ada angin. "Peringatkan teman-teman kalian di Jianghu. Siapa pun yang mencari pedang ini karena nafsu kekuasaan, mereka tidak akan berhadapan denganku, melainkan akan berhadapan dengan murka alam Jawa yang bersemayam di dalamnya."

​Menyadari bahwa daratan Tiongkok tidak akan pernah tenang selama ia berada di sana membawa pusaka tersebut, Lin Feng mengambil keputusan besar. Ia tahu, pedang ini adalah titipan dari tanah suci Gunung Penanggungan, dan sudah saatnya sang naga kembali ke rumahnya yang sebenarnya.

​"Aku harus kembali," gumam Lin Feng sambil menatap ke arah selatan, ke arah samudera luas. "Di sana, ada seorang guru yang bijak dan seorang kawan yang sedang menungguku dengan ubi hangatnya. Di sana, Pedang Naga Bumi akan tetap menjadi penjaga, bukan menjadi pemicu pertumpahan darah."

1
anggita
like iklan👍👆 moga novelnya lancar jaya.
anggita
ilmu Tiongkok vs Nusantara Jawa🔥
anggita
ada cerita sejarahnya juga... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!