NovelToon NovelToon
Lelaki Manipulatif

Lelaki Manipulatif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Duda / Berbaikan
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.

Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.

Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

siapa kamu?

Perlahan langkah Guno maju menuju Reni kemudian dia duduk berhadapan dengan mereka.

" Maaf Reni ini anakmu? "

Reni dengan bangganya dia mengatakan " Iya! " Sembari mengusap kepala anak lelakinya itu dan sesekali melihatnya dengan senyuman hangat. Tambah tercengang saja ketika Guno mendapatkan jawaban yang tepat.

" Umurnya berapa? "

" 7 tahun baru kelas 1 SD "

" Kamu.. dan suamimu cerai hidup atau cerai mati? "

" Cerai hidup, biasalah lelaki tidak mau bertanggung jawab hobinya judi terus! Pusing kepala saya, lebih baik saya memilih sendiri dan mencari lelaki yang tepat "

" O-oh... Saya pikir kamu cerai mati "

" Kalau mantan saya mati saya bahagia pak! "

Senyum kaku terpancar dari mulut Guno, pandangannya kini beralih kepada anak lelaki itu.

" Namanya siapa dek? "

" Rendi om! "

" Rendi? Bagus juga namanya "

" Ya dong, kan yang kasih nama mamah bukan papa. Kalau papa yang kasih nama nanti Rendi jadi kayak papa dong, main judiiiiiii terus! "

Seketika Guno dan Reni saling tatap lalu mereka tertawa bersamaan.

" Hahaha "

" Lucu banget sih kamu " ucap Guno sembari mengelus kepada Rendi.

" Lucu kayak Mama! " Jawab Rendi.

Pun gelak tawa itu nyaring kembali, suasana yang tadinya diperkirakan akan canggung dan garing ternyata semakin lama semakin mencair karena Rendi. Kedekatan Guno dengan Rendi makin lama makin akrab, dari mulai bermain petak umpet, tembak - tembakkan, bahkan sampai Rendi tertidur pulas Guno berhasil mengeloni anak lelaki berumur tujuh tahun itu.

Reni yang melihat sosok ayah dari Guno tidak ingin diam saja, dia menyempatkan mencari makanan berat dari luar seperti martabak dan jus alpukat.

Reni menyimpan bawaannya itu di atas meja, pun Guno yang melihatnya langsung memberikan kode pada Reni untuk pelan - pelan.

" Syut!!! " Jari Guno disematkan di bibirnya sendiri.

Reni mengangguk kemudian dia melambaikan tangannya pada Guno untuk makan bersama. Perlahan Guno bangun lalu menghampirinya " kamu bawa apa itu? " Tanya Guno sembari memperhatikan kantong tersebut.

" Ini martabak dan jus alpukat, maaf tidak tanya dulu tapi semoga kamu suka "

Guno menghela nafas kemudian dia dengan semangat membuka kantong itu. Diambilnya martabak dan jus alpukat lalu suapan pertama Guno berikan kepada Reni.

" Kamu makan lebih dulu "

Reni terdiam, air matanya jatuh membasahi pipi dan Guno yang melihat itu langsung berempati padanya.

" Loh, kamu kenapa? "

Reni mengusap air matanya

" Saya gakpapa, hanya ingat saja terakhir saya diperlakukan seperti ini kapan ya? Kayaknya baru kali ini saya di suapi lelaki "

" S-suami? "

" Boro - boro pak! Dia sibuk main Zeus "

" Semenjak menikah seperti itu? "

" Ya... "

Guno dengan gentel nya dia memeluk Reni dari depan, mengusap kepala lalu turun ke punggung.

" Semoga setelah kejadian sedih yang menimpa mu itu, segera diganti oleh tuhan dengan momen indah yang tak akan kamu lupakan sampai kapanpun "

" Salah satunya ini "

Guno mengerenyitkan keningnya

" Maksudnya? "

" Saya tidak akan pernah lupa kalau saya bertemu kamu yang super baik dan penuh kasih sayang "

Reni memeluk Guno, dipeluk erat sampai Guno tak bisa bernafas.

" Mm!!!! "

" Jangan tinggalkan saya ya pak, saya sekarang mulai nyaman berada didekat bapak " ucap Reni dengan pelukan yang semakin bertambah eratnya.

Guno ingin berkata tak bisa karena dadanya sesak, sampai-sampai dia beberapa kali menepuk punggung Reni, memberi kode padanya kalau Guno ingin melepas peluknya.

Dan lucunya Reni tahu maksud Guno, dia dengan sigap melepas pak Guno lalu mengelap wajahnya yang sudah basah oleh air mata menggunakan tisu yang tersedia di meja.

" Maaf pak Guno "

Dengan kelegaan nafas yang sedari tadi menyesakkan dadanya, Guno menjawab.

" Iya gakpapa "

Reni dengan kesadaran penuh mengambil martabak yang dipegang oleh Guno. Tadinya Guno ingin menyuapinya namun perempuan itu sudah terlanjur lapar dan tak mau membuang waktu.

Hap!

Masuk martabak itu kemulutnya sepotong penuh, pipi Reni kiri kanannya membulat, perlahan bergerak dari besar ke kecil dan Glek! Ditelannnya sampai habis.

Hati Guno berbicara " Agak senonoh, tidak sopan, dan terlalu sensitif. Beda banget sama Hana, kalau makan dia akan tunggu gue, kalau ada sesuatu yang mengharu biru pasti ditahannya sampai gue gak tahu kalau dia sedang senang bercampur sedih. Fix dia gak lolos di daftar pencarian istri, kehadirannya saja tidak sesuai ekspektasi malas kali ditipu foto! "

Reni mengambil sepotong martabak tapi kali ini bukan untuk nya tapi untuk Guno.

" Tolong dibuka mulutnya... A.... "

Pun Guno mengikuti instruksinya.

" A.... Am!! "

Guno memakan suapan martabak dari Reni.

**********************

Sore berganti malam sekitar jam setengah sembilan mereka cek out dari hotel, Guno mengantar Reni pulang. Ada sedikit kekecewaan yang terbersit dari lubuk hati Guno, tadinya hari ini dia ingin full bersenang - senang bersama Reni namun ternyata kenyataan menamparnya. Dia harus mengasuh, menghabiskan waktu dengan memakan martabak lalu berbincang soal masa lalu Reni.

Pengaman yang sudah dibawa oleh Reni hanyalah bingkisan nganggur yang tak terpakai untuknya.

Tepat didepan rumah Reni mobil Guno terparkir, sempat mereka terdiam sejenak. Pun mereka saling tatap.

" Terimakasih untuk hari ini ya, maaf jika pertemuan pertama kita kurang memuaskan " ucap Guno dengan tangan yang masih menempel pada setir mobil.

" Tidak perlu minta maaf, seharusnya saya yang meminta maaf karena sudah merepotkan " Reni menunduk malu.

Lagi - lagi Guno membuat perasaan Reni terbang, dia membenarkan rambut yang menghalangi pelipis Reni, alhasil pipi Reni memerah dan senyumnya merekah.

" Menjaga anak adalah bagian dari tugas ku, kamu tidak perlu merasa sungkan atau merasa tidak enak, kita sama - sama orangtua yang harus memberikan kasih sayang kepadanya "

Jari jemari Reni dimainkannya sedari tadi, bibir yang ingin tersenyum lebar ditahannya, perasaan Reni diam - diam sebentar lagi akan meledak dan melayang. Wajah Reni kini berani menatap Guno, perlahan maju... Terus maju... Sampai akhirnya, Guno mendekap punggung leher Reni yang tadinya dia akan mencium Guno kini berakhir bersandar dibahu Guno.

" Jangan merasa sendiri ya, kalau kamu mau curhat atau apapun kamu boleh kok hubungi saya " ucap Guno sembari mengelus kepala Reni.

Pun didalam hatinya bilang " hadeuh!!!! Untung masih bisa kepegang ini leher, kalau enggak sudah habis nafas gue kepencet sama muka dia! "

Dekapan itu dilepas Guno, kini saatnya Guno beraksi kembali dengan keluar dari dalam mobil lalu membuka pintu belakang, dipangkunya Rendi oleh Guno.

" Ayo! Saya antarkan Rendi sampai ke kasurnya "

Melihat itu Reni dengan sigap keluar mobil lalu membuka pintu rumahnya dan Guno dari belakang mengikuti Reni, sampai akhirnya dia berhasil masuk kedalam rumah tiba - tiba Rendi terbangun.

" Om? "

" Kamu sudah bangun? "

Rendi mengangguk sembari mengucek kedua matanya.

" Gakpapa turun saja om, Rendi bisa jalan sendiri "

Guno mengikuti keinginannya setelah Rendi lepas dari pangkuan Guno tiba - tiba dari belakang ada seseorang yang mendorong tubuh Guno sampai tersungkur ke kursi.

Brugh!!!!

Dengan tubuh yang menelungkup Guno kesusahaan untuk melihat siapa yang tadi mendorongnya dari belakang, akhirnya dia berusaha membalikkan tubuhnya namun dia kalah telak setelah orang itu berhasil menginjak punggung Guno dengan tekanan yang cukup kuat.

" Siapa kamu?! "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!