"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangat Membasmi Parasit
Bercinta?
Memang masih sudikah Candira Anandini menyatu dengan Agung Fahmi?
Jawabannya, tentu saja tidak sudi!
"Mas tunggu ya." Ucap Dira masuk ke kamar mandi untuk menggagalkan rencana bercinta dengan Agung.
Candira mengambil roti sobek lalu ditetesi obat merah yang sudah dia ambil dari kotak P3K. Lalu memakainya setelah menggunakan lingerie.
Dira keluar kamar mandi dengan tubuh yang wangi dan sexy. Membuat Agung susah payah menelan ludah. Dasar pria modal burung perkutut, sudah punya Istri spek Bidadari masih menggatal dengan pelayan. Definisi otak cangkang adalah Agung.
"Mas, maaf ya... Aku malah dapat, kita tidur saja ya. Aku kangen dikeloni." Ucap Dira.
Kemudian melangkah menuju pintu kamar, lalu menguncinya dan menyembunyikan kuncinya.
"Kok dikunci?" Tanya Agung heran.
"Biar suamiku ini tidak kabur. Takutnya karena aku sedang merah, Mas Agung malah cari pelampiasan. Keponakan Ibu meskipun wajahnya jelek dan tidak se sexy aku, tapi dia punya lubang gratisan. Takutnya SUAMIKU nyasar ke sana."
"Tapi aku percaya, burung perkutut suamiku setia pada satu lubang." Ucap Dira sambil meremas milik Agung sampai si empunya mengaduh.
"Aduhh... Jangan diremas, nanti patah." Ucap Agung merasa sedikit ngilu.
"Ya sudah... Ayo tidur, tadi aku sudah bawa susu juga. Minum mas!" Ucap Dira menyodorkan segelas susu yang sudah diberi...
Obat tidur.
Dira sudah menyiapkan banyak sekali obat-obatan penting. Antara lain, obat tidur, obat perang sang, obat pencahar, obat halusinasi, dan obat hilang ingatan. Semuanya akan Dira jadikan senjata, sebelum mengakhir pernikahan dengan Agung. Dira harus mengambil kembali miliknya, dan mengembalikan semua luka hatinya. Inilah hukum bisnis yang berlaku.
Ada untung ada rugi dan semua harus berjalan seimbang supaya hati yang terlanjur tersakiti bisa sedikit merasa lega atas pembalasannya.
Pergerakan Dira memang sangat halus, sehingga Agung tidak menyadari jika susu itu sudah bercampur obat.
Agung tentu saja tidak curiga, justru merasa di atas awan. Berfikir masih bisa mengelabui Dira.
Setelah Agung terlelap, Dira mendorong tubuh suaminya hingga jatuh tersungkur.
Bruukkk
"Benjol-benjol tuh jidat."
Setelah itu, Dira mengambil laptop dan mengutak-utik melihat CCTV.
Tidak ada yang tahu, jika rumah ini penuh kamera CCTV. Tapi selama ini, Dira terlalu percaya dengan suami dan keluarganya. Makanya gak pernah cek rekaman.
Tapi, sekarang Dira akan mengecek ulang semua kamera sejak 2 tahun yang lalu setelah menikah. Dira ingin tahu sejak kapan Agung dan keluarganya bertingkah curang.
Setelah beberapa jam men scroll mouse, ternyata tidak ada yang mencurigakan kecuali kejadian di dapur. Sebelumnya hanya terlihat Ibu Arumi yang mencurangi uang belanja darinya.
Arimbi dan Ambar juga tidak ada yang terlihat mencurigakan kecuali selalu membawa pulang barang branded. Itu artinya biang keladi dari semuanya memang setelah kehadiran Dara. Bahkan Agung dan Dara tidak sungkan berciuman panas dekat kulkas padahal ada Ibu Arumi di sana sedang memasak makan malam. Artinya mereka sudah saling sekongkol.
"Baiklah, Dara kamu telah merusak rumah tanggaku, maka aku akan merusakmu sepuluh kali lebih kejam. Sehingga kamu akan lebih meminta mati daripada hidup di neraka. Lihat saja, iblis dalam diriku muncul dan itu karena kalian telah lancang membangunkannya." Gumam Dira.
Setelah mengambil rekaman di dapur, Dira mematikan laptopnya lalu tidur.
Sementara di kamar pembantu belakang, Dara sedang gelisah di kasurnya. Berharap Agung datang untuk merayunya, dan tentu saja lanjut bercinta. Tapi hingga tengah malam, dia tetap sendirian menahan gairah yang telah memuncak akibat permainan tangannya.
Andara Kirana, perempuan berusia 25 tahun itu memang seorang pelayan. Tapi punya masa lalu kelam.
Sebelum bekerja sebagai pelayan restoran, Dara dulunya adalah wanita malam. Tidak lulus sekolah karena di DO ketahuan hamil waktu SMA. Dara menjajakan tubuhnya karena kebutuhan.
Dara adalah perantau dari desa, keluarganya mengusirnya karena malu dengan tingkah Dara yang sudah keterlaluan. Ayah dan Ibunya hanya petani yang punya prinsip berbanding terbalik.
Merasa gagal mendidik, mereka mengusir Dara dan mencoret dari KK. Awal mula Dara sampai Jakarta, karena ikut salah seorang teman. Lalu masuk club untuk bekerja, sudah banyak pelanggan tetap Dara. Sampai akhirnya dia merasa capek dan baru satu tahun berhenti dari profesi kupu-kupu malam. Lalu bekerja sebagai seorang pelayan.
Merubah total penampilan, karena ingin membuat image baru dan supaya para pelanggannya tidak ada yang mengenali saat sedang di restoran. Tapi sesekali, Dara masih menerima job jika kepepet menginginkan sesuatu. Hingga pertemuan pertamanya dengan Agung, Dara merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan suami Dira. Begitupun yang dirasakan oleh Agung.
Laki-laki jelmaan buaya buntung itu kagum dan takjub dengan sikap lemah lembut Dara bagaikan perempuan yang harus dia lindungi. Dan yah, akhirnya mereka pun saling menginginkan satu sama lain. Terciptalah perselingkuhan yang begitu indah, apalagi saat Dara dinyatakan hamil. Agung dan seluruh keluarga langsung menyambut kehamilannya dengan suka cita.
Pagi hari jam 05:00 WIB Dira sudah di dapur. Ibu Arumi terlihat begitu bahagia, karena berfikir menantunya sudah kembali ke setelan awal yaitu BODOH.
"Nah begitu baru menantu yang baik." Ucap Ibu Arumi tersenyum.
"Iya, karena semalam Mas Agung sudah memuaskanku di ranjang jadinya sekarang aku akan memasak untuknya."
Ucapan Dira didengar oleh Dara yang mengepalkan tangan dengan wajah kusut karena semalam tidak tidur.
"Dara... kamu sudah bangun juga? Sini bantu aku masak ya. Mata kamu menghitam, tidak tidur semalam? Kenapa apa karena gatal?" Tanya Dira dengan bahasa ambigu.
"Gatal kenapa? Kasur itu bersih meskipun sempit." Sahut Ibu Arumi.
"Gatal karena gak ada yang menggaruk, bentar aku penasaran perutmu itu buncit karena apa?" Tiba-tiba gerakan impulsif Dira membuat Ibu Arumi dan Dara menahan nafas karena Dira membuka kaos longgar yang menutupi perut buncitnya.
"Lah beneran buncit dan keras, isinya cacing atau bayi? Kamu harus segera diperiksa." Ucap Dira.
"Tidak... Aku memang begini, karena keseringan makan mie di desa. Jadinya perutku tidak bisa rata. Tenang saja, aku tidak hamil." Ucap Dara masih belum mengaku.
"Hamil atau tidak, tetap kamu harus diperiksa oleh Dokter ahli. Jangan sampai membawa penyakit menular. Ya sudah... Aku lanjut masak sebelum ke kantor." Ucap Dira.
Tanpa seorang pun tahu, seluruh masakannya sudah Dira beri obat. Tapi khusus untuk Dara, obat khusus yang tidak ada penawarnya. Obat perang sang, yang nanti bereaksi saat Agung pergi bekerja. Dira ingin Ibu Mertuanya melihat sendiri tingkah menjijikkan Dara dengan...
Mungkin tukang kebon,
Atau...
Security
Yang jelas ini adalah kejutan.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂