Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10: Labirin Penolakan Tanpa Suara
Pagi itu, Sarendra berangkat ke sekolah dengan perasaan yang jauh lebih cerah dari biasanya. Bayangan tentang bagaimana Vema duduk di boncengan motor Supra tuanya semalam masih membekas jelas. Ia bahkan sempat tersenyum sendiri saat memarkir motornya di area parkir siswa. Dalam pikirannya, pertemuan dengan Ibu Vema semalam—meski sedikit canggung—adalah sebuah kemajuan besar. Ia merasa sudah mulai diterima di "dunia" Vema.
Sesuai janji di Taman Mini kemarin, Rendra menunggu di kantin pukul tujuh tepat. Ia sudah memesan dua gelas teh hangat. Ia ingin menanyakan bagaimana keadaan Vema setelah sampai di rumah, atau sekadar berbincang ringan sebelum pelajaran dimulai.
Namun, sepuluh menit berlalu, Vema tidak muncul.
Dua puluh menit berlalu, bel masuk berbunyi nyaring. Rendra menatap satu gelas teh yang kini sudah benar-benar dingin di depannya. Ia menghela napas, mencoba berpikir positif. Mungkin dia telat, pikirnya. Namun, ada satu perasaan tidak enak yang mulai merayap di dadanya, sebuah intuisi yang jarang salah.
Sepanjang jam pelajaran pertama, Rendra tidak bisa berkonsentrasi. Ia terus-menerus membetulkan letak kacamatanya, matanya tertuju pada pintu kelas setiap kali ada yang lewat. Netta, yang duduk di sampingnya, menyadari kegelisahan itu.
"Ren, kamu kenapa sih? Dari tadi kamu cuma coret-coret jurnal kosong," bisik Netta. "Vema nggak masuk?"
"Aku nggak tahu, Net. Tadi di kantin dia nggak muncul," jawab Rendra pelan.
Saat istirahat pertama, Rendra memutuskan untuk mendatangi Gedung TKJ. Ia tidak peduli jika harus berjalan jauh melewati lorong-lorong yang biasanya ia hindari. Namun, tepat di persimpangan koridor antara kedua gedung, ia berpapasan dengan Vema.
Vema tidak berjalan sendirian; ia berjalan cepat dengan kepala menunduk, mendekap tas hitamnya sangat erat. Saat mata mereka bertemu, Rendra bersiap untuk melambaikan tangan, namun tangannya tertahan di udara.
Vema menatapnya dengan pandangan yang sangat asing. Tidak ada lagi binar kecil yang ia lihat di Taman Mini semalam. Mata gadis itu datar, dingin, dan seolah-olah Rendra adalah orang asing yang baru pertama kali ia lihat. Vema melewati Rendra begitu saja tanpa menyapa, seolah-olah Sarendra hanyalah bagian dari tembok sekolah yang tidak perlu dipedulikan.
Rendra mematung. Dingin yang ia rasakan kali ini bukan berasal dari residu gaib, melainkan dari sikap Vema yang berubah 180 derajat.
"Dia beneran nggak nyapa kamu?" tanya Nadin saat mereka berempat—Rendra, Netta, Bagas, dan Nadin—berkumpul di belakang tangga darurat saat jam istirahat kedua.
"Bahkan nggak nengok, Din," jawab Rendra lesu. "Dia lewat gitu aja. Padahal semalam... semuanya baik-baik saja."
Nadin menghela napas panjang, ia melipat tangannya di dada. "Di kelas juga gitu. Vema nggak bicara sama siapa-siapa. Dia bahkan pindah duduk ke paling belakang, dekat lemari alat-alat. Pas aku ajak bicara soal tugas, dia cuma jawab 'ya' atau 'nggak'. Temboknya naik lagi, Dra. Bahkan kali ini lebih tinggi dari sebelumnya."
"Ini pasti gara-gara kejadian semalam," tebak Bagas sambil menggaruk kepalanya. "Mungkin ada sesuatu yang terjadi setelah kamu pulang, Ren. Tapi kita nggak tahu apa."
Rendra terdiam. Ia memutar kembali ingatannya saat di depan rumah Vema. Ibunya menyambutnya dengan sopan, mereka mengobrol cukup lama sampai adzan Isya. Semuanya tampak normal. Atau setidaknya itu yang kupikirkan, batin Rendra. Ia mulai bertanya-tanya, apakah dia melakukan kesalahan fatal? Apakah ada kata-katanya yang menyinggung Ibu Vema? Atau apakah kehadirannya justru membawa masalah bagi Vema?
Kebingungan itu membuat Rendra merasa sesak. Ia yang terbiasa dengan kepastian angka-angka akuntansi, kini harus berhadapan dengan variabel yang tidak masuk akal: perasaan manusia dan rahasia yang terkunci rapat.
Sore harinya, saat sekolah mulai sepi karena hujan rintik-rintik, Rendra menunggu di depan gerbang belakang, tempat Vema biasanya pulang. Ia harus tahu apa yang terjadi. Ia tidak bisa membiarkan "selisih" ini menggantung begitu saja dalam hubungannya dengan Vema.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, sosok Vema muncul. Ia tampak kaget melihat Rendra masih di sana, berdiri di bawah rintik hujan dengan seragam yang mulai lembap.
"Vem, tunggu," panggil Rendra.
Vema berhenti, namun ia tidak mendekat. Ia menjaga jarak sekitar dua meter dari Rendra. "Ada apa, Dra? Aku harus segera pulang."
"Kenapa, Vem? Apa aku salah bicara semalam? Atau ada sesuatu yang terjadi?" tanya Rendra, suaranya terdengar parau karena menahan dingin dan kecemasan.
Vema memalingkan wajahnya. "Nggak ada yang salah, Dra. Semuanya baik-baik saja. Aku cuma sadar satu hal."
"Sadar soal apa?"
"Soal kita," jawab Vema pelan. "Dunia kita beda, Dra. Kamu anak Akuntansi, hidupmu tenang, masa depanmu jelas. Aku... aku punya urusan sendiri yang nggak bisa melibatkan orang lain. Kemarin aku cuma terlalu terbawa suasana."
Rendra melangkah maju, namun Vema segera mundur. "Jangan mendekat, Dra. Tolong."
"Vem, aku nggak peduli soal beda gedung atau beda urusan. Kita udah hadapi bayangan itu sama-sama di perpustakaan!" seru Rendra.
"Itu kesalahan!" potong Vema tajam, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Seharusnya aku nggak biarin kalian ikut campur. Sekarang, tolong... anggap saja kita nggak pernah bicara di taman itu. Anggap saja kamu cuma antar teman pulang karena kasihan. Jangan cari aku lagi di Gedung TKJ. Jangan bicara sama aku lagi di kantin."
Vema berbalik dan lari menembus hujan, meninggalkan Rendra yang berdiri mematung. Rendra tidak mengejarnya. Ia merasakan sesuatu yang hancur di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa diperbaiki dengan sekadar "menyeimbangkan neraca".
Malamnya, di rumahnya yang sepi, Rendra duduk di meja belajarnya. Ia tidak membuka buku akuntansinya. Ia hanya menatap ponselnya, menimbang-nimbang apakah harus mengirim pesan atau tidak. Namun ia tahu, Vema tidak akan membalasnya.
Tiba-tiba, suhu di kamarnya turun. Lampu belajarnya berkedip-kedip tidak stabil. Rendra waspada. Ia menoleh ke arah cermin di sudut kamar. Di sana, di dalam pantulan cermin, ia tidak melihat dirinya sendiri yang sedang duduk. Ia melihat bayangan seorang wanita yang sangat mirip dengan Ibu Vema, berdiri tepat di belakang kursinya, sedang memegang sebuah jarum jahit yang sangat besar.
Rendra tersentak dan menoleh ke belakang, namun tidak ada siapa-siapa. Kamarnya kosong. Hanya ada suara rintik hujan di luar jendela.
Saat ia kembali menatap cermin, bayangan itu sudah hilang. Namun, di atas meja belajarnya, terdapat sehelai benang merah pekat yang tergeletak tepat di atas buku jurnalnya. Benang itu tampak seperti sisa jahitan dari tas hitam Vema.
Rendra mengambil benang itu dengan tangan gemetar. Ia menyadari satu hal yang mengerikan. Meskipun Vema mencoba menjauhkannya, "dunia" Vema sudah terlanjur menyentuhnya. Ia bukan lagi sekadar orang luar yang menonton dari kejauhan. Benang ini adalah tanda bahwa dia sudah masuk ke dalam lingkaran yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja, suka atau tidak suka.
"Vem... apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" bisik Rendra pada kesunyian malam.
Ia mengepalkan tangannya, menggenggam benang merah itu erat-erat. Rasa takutnya kini berganti menjadi tekad. Jika Vema tidak mau bicara, maka ia akan mencari tahu sendiri. Ia tidak akan membiarkan Vema menanggung beban itu sendirian, meski gadis itu sendiri yang memintanya untuk pergi.
Karena bagi Sarendra, sebuah ketidakseimbangan harus diselesaikan, bukan dihindari.
ada apa dgn vema
lanjuuut...