Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.Kemunculan Tuan Raka
HAPPY READING!!!
.
.
.
Tanpa berkata apa-apa, ia merenggut gelas wine dari tangan teman Arumi, lalu menyiramkan isinya tepat ke wajah Arumi. Cairan merah itu membasahi wajah dan gaunnya dalam sekejap.
“Aaaaakh!” teriak Arumi histeris, menjerit memecah suasana.
Sontak seluruh orang di ruangan menoleh. Sorot mata para tamu bergerak ke arah sumber keributan ke arah Raline yang berdiri tegak, dingin, dan tak bergeming.
Kenzo dan Celine yang baru datang ikut mendekat untuk melihat keributan itu.
Melihat semua orang mulai menatap keributan itu, Arumi seketika memasang wajah sendu. Air matanya menggenang ,air mata yang tidak lebih dari sandiwara yang telah ia persiapkan.
“Kakak… apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu datang lalu menyiramku? Apa salahku, Kak?” ucap Arumi dengan nada histeris yang dipaksakan, namun terdengar mengiba, jelas untuk menarik simpati para rekan bisnis keluarga Pranoto yang kini memperhatikan mereka.
Bisik-bisik langsung menyebar di seluruh ruangan.
“Oh, jadi itu istri Tuan Raka? Sikapnya tidak sopan sekali.”
“Wajahnya memang sangat cantik… tapi lihat apa yang ia lakukan pada adiknya sendiri.”
“Meski sudah menikah dengan orang kaya, gaya kampungnya tidak hilang ya. Menyiram adiknya sendiri dengan wine di depan tamu.”
“Benar. Dia berlagak sombong hanya karena sudah menjadi istri Tuan Raka.”
Bisikan-bisikan itu semakin menjadi-jadi, menusuk telinga dan membakar suasana.
Tak lama, Hendra dan Maya mendekat, memegangi Arumi yang masih menutup wajahnya penuh air mata buaya. Mama Ratna dan Papa Gunawan juga sudah berdiri tak jauh dari sana, bersama Kania dan Farel yang menonton dengan wajah tercampur kaget dan tidak suka.
Raline berdiri tegak. Tatapannya tajam, dingin, dan tidak gentar sedikit pun.
“Cih… kamu memanggilku kakak sekarang?” ejek Raline, suaranya datar namun jelas menghina. Kata “kakak” dari mulut Arumi begitu terdengar palsu, karena selama ini perempuan itu tidak pernah memanggilnya seperti itu.
“Apa aku harus mengatakan… apa yang baru saja kamu ucapkan tentang suamiku?” lanjut Raline pelan namun tegas.
“Memangnya aku mengatakan apa, Kak?” Arumi memejamkan mata, kembali mengeluarkan air mata palsunya seolah menjadi korban paling tersakiti di dunia.
Raline langsung menatapnya tajam.
“Kamu baru saja membicarakan tentang suamiku dengan teman-temanmu, apa kamu lupa? Kamu bilang suamiku lumpuh, tidak berguna, hanya pajangan. Jika kamu menghina suamiku, sama saja kamu menghina aku. Karena aku dan Raka sudah menikah. Kami satu,” ucap Raline lantang, suaranya menggema jelas ke seluruh ruangan.
“Meski aku gadis kampung, setidaknya aku tahu kalau membicarakan kekurangan seseorang dan menyebar gosip yang tidak-tidak adalah perbuatan yang tidak sopan. Harusnya kalau kamu merasa lebih berpendidikan dariku, kamu paham itu. Apalagi kamu mengaku berasal dari kalangan perempuan terhormat… katanya,” lanjutnya, menunjuk Arumi tanpa ragu.
Maya langsung berseru lantang, memeluk anaknya semakin erat.
“Arumi tidak mungkin mengatakan hal seperti itu pada teman-temannya! Kamu pasti melakukan ini hanya untuk mempermalukannya, kan?” teriak Maya, berusaha membalikkan keadaan.
“Benar! Arumi tidak mengatakan apa-apa! Dia hanya tiba-tiba datang, lalu merebut minumanku dan menyiramkannya ke Arumi!” teman Arumi ikut bersuara, membela dan semakin memojokkan Raline.
Bisikan para tamu semakin tajam.
“Perempuan kampung itu ternyata jahat sekali pada adiknya.”
“Kemunculannya malah menghancurkan acara penting ini.”
“Kenapa keluarga Pranoto mau menerima dia sebagai menantu?”
“Pantas saja dulu keluarga Kusumawardani membuangnya ke kampung. Ternyata sikapnya sombong dan tidak sopan.”
Suasana semakin memanas. Tatapan-tatapan sinis menghujani Raline dari berbagai arah.
Maya kembali menatap Raline tajam.
“Sekarang coba tunjukkan bukti kalau Arumi benar-benar menghina Tuan Raka, suamimu. Apa kamu punya?”
Raline mengangkat dagu sedikit. Wajahnya tegas dan tak goyah.
“Aku memang tidak punya bukti,” ucapnya mantap. “Tapi aku mendengarnya sendiri, dengan telingaku sendiri, saat dia menghina suamiku.”
“Kamu pikir orang-orang di sini akan percaya omonganmu begitu saja?” balas Maya cepat. “Kamu hanya ingin menjatuhkan Arumi agar dia dicap jelek oleh semua orang, kan?”
"Raline cukup. Cepat minta maaf kepada adikmu, sikapmu sangat keterlaluan. Padahal kamu baru beberapa hari bergabung dengan keluarga Pranoto, tapi sudah membuat Papa dan keluarga Pranoto malu seperti ini,” tegas Hendra, suaranya berat menahan amarah dan kekecewaan.
“Benar. Apa nenekmu tidak mengajarkanmu sopan santun? Atau jangan-jangan memang seperti ini sikap aslimu selama ini?” ucap Maya, semakin menekan. Kata-katanya membuat bisikan buruk tentang Raline kembali berembus di antara para tamu.
“Lihat, Ma. Apa aku bilang? Perempuan kampung itu memang tidak sebanding dengan keluarga kita,” gumam Farel pelan di dekat Mama Ratna, namun cukup jelas untuk terdengar.
“Caranya menindas adiknya sungguh memalukan. Dia pikir bisa semena-mena setelah bergabung dengan keluarga kita,” sambung Kania lirih, tapi penuh nada merendahkan.
“Kania, Farel, diamlah. Mama yakin Raline tidak seperti itu,” ucap Ratna. Ia hendak maju membela menantunya, berusaha meredam kekacauan yang semakin membesar. Namun belum sempat Ratna melangkah mendekati Raline, pintu ruangan itu kembali terbuka.
Suasana langsung mengeras.
Raka keluar dengan kursi rodanya. Wajahnya dingin, auranya kuat dan menekan. Orang-orang yang tadi berbisik langsung terdiam.
“Tuan Raka… benar itu Tuan Raka.”
“CEO keluarga Pranoto… aku sudah lama tidak melihatnya.”
“Akhirnya dia menampakkan diri setelah kecelakaan itu.”
Bisik-bisik kembali memenuhi ruangan, namun kini disertai rasa segan dan ketakutan. Mama Ratna, Papa Gunawan, Kania, dan Farel terpaku melihat Raka muncul di tengah keramaian acara ulang tahun perusahaan.
Raka melajukan kursi rodanya mendekati Raline. Ia menggenggam tangan istrinya erat, seolah memberi kekuatan di tengah tuduhan yang menghujani wanita itu.
“Apa yang dikatakan istriku semuanya benar. Aku bahkan mendengar sendiri semua perkataan perempuan itu dari dalam ruangan,” ucap Raka tegas.
Arumi terbelalak. Ia tidak percaya Raka ternyata berada di ruangan itu dan mendengar ucapannya bersama teman-temannya.
“Jika kalian semua perlu bukti, maka mari kita lihat bersama. Suruh dia bersumpah di depan semua orang di sini bahwa dia dan teman-temannya tidak menghina aku,” lanjut Raka, tatapannya tajam menusuk Arumi dan teman-temannya yang mulai gelagapan.
“Kenapa aku harus mengakui sesuatu yang tidak aku katakan?” ucap Arumi, suaranya bergetar, wajahnya pucat.
"Aku tidak memintamu mengakuinya aku hanya ingin kamu bersumpah akan kecelakaan, atau tertabrak truk saat kamu keluar dari sini dan mengalami kelumpuhan bahkan kerusakan alat vital jika kamu benar-benar tidak mengatakan penghinaan terhadapku dan istriku kepada teman- temanmu"
Ucapan itu membuat udara seketika membeku. Arumi mati kutu. Tenggorokannya tercekat. Ia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Teman-temannya menunduk, tubuh mereka gemetar.
Belum sempat Arumi menjawab, salah satu temannya tiba-tiba berlutut di hadapan Raka.
“Maafkan aku, Tuan. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya mendengarkan apa yang Arumi katakan tentang Tuan,” ucapnya terbata-bata.
Teman Arumi yang lain menyusul bersujud. “Benar… Arumi yang mengatakan semua penghinaan tentang Tuan dan istri Tuan. Kami hanya mendengarkannya saja,” ucapnya, suaranya gemetar.
“YA! Apa yang kalian lakukan!” teriak Arumi histeris, melepaskan pelukan Maya. Air matanya mengalir deras. “Tidak! Itu semua tidak benar, Tuan! Aku tidak mengatakannya!”
PRAAARRR!
Belum sempat Arumi menyelesaikan kalimatnya, Mama Ratna maju dan menamparnya keras. Suara tamparannya menggema di ruangan.
“Aaa… Arumi!” teriak Maya, cepat menangkap tubuh anaknya yang terhuyung.
“Harusnya kamu menamparnya, Raline, bukan menyiramnya,” ucap Mama Ratna tajam. Raline terdiam, menatap sang mertua dengan kaget dan mata yang memerah.
Hendra memandang Arumi tajam, kecewa yang sangat terlihat jelas. “Kamu hanya membuat malu saja, Arumi,” ucapnya dingin, lalu berjalan keluar dari kerumunan.
Maya memeluk Arumi erat, sementara Arumi hanya bisa menangis tanpa suara. Mereka berdua masih menatap Raline dengan penuh kebencian sebelum akhirnya ikut pergi dari sana.
Melihat keributan itu Kenzo tersenyum miring menatap ke arah Raline,"Gadis itu cukup menarik, bahkan dia dengan mudah membuat Raka keluar dari persembunyiannya selama ini. "gumam Kenzo yang membuat Celine menatap tidak suka.
"Kamu tidak menyukainya kan Kenzo?. " ucap Celine cemberut.
"Mana mungkin sayang, aku hanya mencintaimu. Aku hanya sedikit kagum dengan keberaniannya. "jelas Kenzo lagi masih menatap Raline.
.
.
.
💐💐💐Bersambung. 💐💐💐
Wahhh puas banget si arumi dapat tamparan dari mama ratna harusnya di buat double ngak sih mam😅
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuanya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat aku nantikan 🥰❤