Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Penerbangan menuju Bali siang itu terasa berbeda. Di dalam kabin pesawat, tidak ada lagi keheningan yang mencekat atau jarak tak kasatmata yang biasa membentang di antara mereka. Rian menggenggam jemari Nadia sepanjang perjalanan, seolah tak ingin melepaskan wanita yang hampir saja hilang dari hidupnya.
Setibanya di sebuah resor privat di kawasan Ubud, Nadia dibuat terpukau. Resor yang dipilih Rian terletak di pinggir tebing dengan pemandangan lembah hijau yang asri dan alunan suara gemericik air sungai di bawahnya. Suasana begitu tenang, jauh dari riuk pikuk perkotaan dan gesekan ketegangan rumah tangga mereka di Jakarta.
Dokter pernah menyampaikan bahwa secara medis Nadia sama sekali tidak mandul. Pasca-keguguran beberapa tahun lalu, kondisi fisik dan rahimnya memang membutuhkan perhatian ekstra, namun faktor terbesar yang menyulitkannya untuk hamil kembali adalah stres berkepanjangan dan kondisi emosional yang tertekan. Rian kini memahami hal itu dengan sangat baik. Ia sadar, jika ingin impian mereka memiliki momongan terwujud, hal pertama yang harus ia sembuhkan adalah jiwa dan perasaan istrinya.
Suara deburan ombak terdengar lembut, mengiringi malam liburan mereka di Bali. Di area pantai privat yang dihiasi lilin-lilin kecil dan kelopak mawar, Nadia dan Rian duduk berhadapan. Suasana dingin malam itu terasa hangat oleh tatapan Rian yang tak pernah lepas dari wajah istrinya.
Rian meletakkan sendok dessert-nya, lalu meraih kedua tangan Nadia di atas meja. "Nad, makasih ya sudah mau aku ajak ke sini."
Nadia tersenyum tipis, meremas pelan jemari Rian. "Aku yang harusnya terima kasih, Mas. Liburan ini... benar-benar bikin pikiranku tenang. Aku udah lama banget nggak ngerasa se-rileks ini."
"Aku sadar betul, selama ini aku yang bikin kamu tertekan," ujar Rian dengan nada penuh penyesalan. "Dokter dulu pernah bilang, kondisi fisikmu pasca keguguran itu butuh ketenangan emosional. Tapi aku malah nambah beban pikiranmu."
"Mas, jangan dibahas lagi," sela Nadia lembut. "Yang penting sekarang kita berusaha lagi dari awal."
Rian tersenyum, lalu bergeser berlutut di samping kursi Nadia. Pria itu mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari saku jasnya dan membukanya, menampilkan sebuah gelang emas yang sangat indah.
"Mas... ini apa?" tanya Nadia kaget.
"Ini simbol cintaku, Nad," Rian melingkarkan gelang itu di pergelangan tangan Nadia. "Gelang ini pengingat buat aku, kalau tugas utamaku adalah melindungi kamu dan bikin kamu bahagia. Aku nggak akan lagi menyakiti hatimu, termasuk ibuku atau pekerjaanku."
Mata Nadia berkaca-kaca menatap gelang indah di tangannya. "Mas Rian..."
"Aku ingin kita buka lembaran baru, Nadia. Aku ingin berusaha keras agar kita siap menyambut hadirnya buah hati kita nanti, tanpa ada bayang-bayang masa lalu yang pahit," bisik Rian tulus, lalu mengecup lembut punggung tangan istrinya.
"Iya, Mas," balas Nadia lirih. Ia merengkuh leher suaminya dan memeluknya erat. " Kita berjuang sama-sama ya."
"Iya, kita berjuang sama-sama. "
Malam itu mereka habiskan dengan romantisme bersama, bahkan keromantisan Rian tidak hanya berakhir di makan malam saja, tapi juga di atas ranjang. Ia memperlakukan Nadia sama seperti saat mereka melakukan malam pertama setelah pernikahan.
Rian menyentuh Nadia dengan lembut, membuat Nadia rileks dan bisa menikmati permainan mereka malam itu. Berharap dengan kelembutan yang ia berikan, junior kecil segera bersarang di perut istrinya.
Dengan hati yang kini tenang, pikiran yang damai, dan rasa cinta yang kembali bersemi hangat, kedua jiwa yang sempat hancur itu menyatu kembali dalam kehangatan yang utuh. Rian tersenyum mengusap rambut Nadia yang tertidur lelap di pelukannya malam itu, menyimpan harapan besar bahwa dari kedamaian dan cinta yang baru ini, sebuah kehidupan baru yang mereka rindukan kelak akan hadir melengkapi kebahagiaan mereka.
Keesokan paginya di vila Ubud, cahaya matahari terbit menerobos celah jendela kamar. Nadia terbangun dan mendapati Rian tidak ada di sampingnya. Namun, aroma bunga kamboja yang segar menguar memenuhi ruangan.
Nadia berjalan menuju teras belakang yang menghadap langsung ke lembah hijau. Di sana, Rian sudah berdiri menyambutnya dengan senyuman hangat. Di atas meja teras, telah tertata floating breakfast lengkap dengan jus segar dan piring buah.
"Selamat pagi, Istriku," sapa Rian manis, menyodorkan segelas jus jeruk hangat.
"Pagi, Mas. Kamu bangun jam berapa? Kok nggak bangunin aku?" tanya Nadia seraya menerima gelas itu.
"Aku sengaja biarkan kamu tidur nyenyak," Rian merangkul pinggang Nadia dari belakang dan menunjuk ke sudut teras. "Coba lihat di sana."
Di sudut teras, berdiri sebuah sketsel kayu portabel lengkap dengan kanvas kosong, cat air kualitas terbaik, dan jajaran kuas profesional. Nadia menutupi mulutnya, matanya berbinar tak percaya.
"Mas... ini kan..."
"Alat lukis profesional," potong Rian lembut di telinganya. "Aku tahu kamu kangen melukis, Nad. Kamu udah terlalu banyak mengorbankan impianmu demi aku. Sekarang, aku mau kamu melukis lagi."
"Tapi Mas, aku udah lama banget nggak pegang kuas..." ujar Nadia ragu, walau raut bahagianya tidak bisa disembunyikan.
"Nggak apa-apa, mulai aja dulu dari awal. " Rian menuntun Nadia duduk di depan kanvas. "Lukis apa aja yang kamu suka. Lembah ini, langit pagi ini, atau senyummu sendiri. Aku mau lihat Nadia yang dulu—seorang seniman yang bersemangat dan penuh warna."
Nadia menatap peralatan lukis di hadapannya, lalu beralih menatap Rian. Kehangatan melingkupi dadanya. "Makasih banyak ya, Mas. Kamu bener-bener berubah."
"Aku cuma mau menebus waktu yang sempat hilang," balas Rian seraya mengecup pelipis Nadia. "Sekarang, sarapan dulu yuk, habis itu aku temani kamu melukis sampai sore."
Nadia mengangguk mantap. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, beban berat di dadanya benar-benar terangkat. Di bawah langit Bali yang cerah, cinta mereka yang sempat retak kini tertata kembali dengan utuh dan penuh harapan.
Hari-hari berikutnya diisi dengan momen-momen kebersamaan yang penuh kasih. Rian benar-benar menepati janjinya. Ponsel kerjanya dimatikan total, ia hanya menyalakan ponsel khusus untuk keadaan darurat yang nomornya hanya diketahui oleh sekretarisnya. Sepanjang hari, fokus Rian seratus persen tercurah untuk Nadia.
Mereka berjalan santai menyusuri pematang sawah di Tegallalang, menikmati pijat aromaterapi khas Bali untuk melepas seluruh ketegangan otot dan pikiran, hingga menjelajahi galeri-galeri seni lokal. Rian dengan sabar menemani Nadia mendengarkan istrinya bercerita tentang konsep lukisan dengan mata yang kembali berbinar. Tidak ada lagi sosok Rian yang dingin, terburu-buru, atau sibuk menatap layar ponsel. Yang ada hanyalah sosok suami yang penuh perhatian, yang sigap memayungi Nadia saat matahari terik, merangkul pinggangnya saat menyusuri jalanan licin, dan memujinya setiap kali Nadia selesai melukis satu kanvas kecil.
Nadia mencoba kembali percaya pada suaminya. Tapi hati yang pernah terluka tidak akan bisa sembuh secepat itu. Dia masih mengamati dan menilai, apakah suaminya benar-benar sudah berubah?