"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Ampun, Mayor!
Aroma menyengat parfum melati mahal beradu tajam dengan hawa siang yang gerah di ruang tamu rumah dinas Batalyon. Bau wewangian impor yang manis, pekat, dan pekat itu menguasai udara, menutupi bau debu tipis yang diputar kencang oleh kipas angin berdiri di sudut ruangan. Baling-baling kipas angin tua itu berderit ritmis, sriiing... sriiing..., menghembuskan hawa hangat yang membuat tirai kain kaku bergoyang-goyang.
Di atas sofa beludru mahal yang biasanya sepi, Tanti duduk bersilang kaki dengan posisi tubuh yang sangat angkuh. Ia mengenakan gaun terusan sutra berwarna merah hati yang membingkai lekuk tubuhnya secara mencolok, lengkap dengan kacamata hitam berkilau yang disematkan di atas tatanan rambut bergelombangnya. Tas tangan kulit bermerek mahal diletakkannya dengan sengaja di tengah meja kaca, seolah menandai kekuasaannya.
Tanti sengaja datang di jam dua siang—jam di mana ia tahu betul Mayor Yudhana masih tertahan rapat evaluasi di markas komando. Niatnya hanya satu: memanfaatkan kabar kecelakaan dan kepulangan Vina dari rumah sakit untuk memberikan intimidasi mematikan, mengikis sisa-sisa mental wanita panti itu agar secepatnya angkat kaki dari rumah dinas ini.
"Mana air minumnya?" tegur Tanti, suaranya bernada tinggi dan sarat akan perintah yang tak ingin dibantah. Jemari lentiknya yang berhias kuteks merah menyala mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca.
Dari arah koridor dapur, Vina melangkah santai tanpa terburu-buru. Pakaian daster kusam bermotif garis-garis biru meliuk longgar di badannya yang kurus. Di tangan kanannya, Vina membawa sebuah gelas plastik bekas tempat selai yang sudah pudar warnanya. Cairan bening di dalam gelas itu tampak penuh, bergoyang-goyang mengikuti langkah kaki Vina yang beralaskan sandal jepit karet hijau menyala.
"Nih," cetus Vina enteng.
Klek!
Vina meletakkan gelas plastik bekas itu di atas meja kaca tepat di samping tas mahal Tanti dengan entakan kasar. Air bening di dalamnya teruji sedikit, mencipratkan titik-titik air dingin ke atas permukaan kulit tas merah hati milik Tanti.
Tanti melotot kaget. Ia menurunkan kacamata hitamnya ke pangkal hidung, menatap gelas plastik di depannya dengan raut jijik yang telanjang.
"Kamu gila ya?!" pekik Tanti, suaranya melengking kaku. "Kamu nyuguhin saya air di dalam gelas plastik bekas selai begini?! Kamu tahu tidak saya ini siapa?!"
Vina menghentikan langkahnya yang hendak menuju sofa. Ia memiringkan kepalanya sedikit, merapikan jepitan badak yang menahan rambut hitamnya yang terurai kaku. Manik mata cokelat bening Vina menatap Tanti dari ujung kepala sampai ujung kaki—menilai gaun merah hatinya yang mencolok, riasan wajah tebal yang berbedak padat, serta lipstik merah menyala yang melingkari bibirnya.
Tidak ada rasa takut di mata Vina. Tidak ada pula ingatan penderitaan saat ia menyaksikan ciuman di balik pintu jati tiga minggu lalu. Bagi jiwa barbar Vira saat ini, wanita berkuteks merah di depannya hanyalah sesosok tante-tante asing bersuara melengking yang mendadak menerobos masuk ke rumahnya.
"Dih, Si Tante datang-datang udah marah-marah," letus Vina santai seraya mendaratkan bokongnya di sofa seberang. Ia merebahkan tubuhnya bersandar kaku, menaikkan satu kakinya ke atas paha. "Lagian lu nanya lu siapa? Ya mana gue tahu! Lu kagak sebut nama, kagak bawa surat pengantar. Lu kira gue cenayang bisa nebak-nebak nama Tante-tante dandan menor kayak lu?"
Tanti tersentak kaku di atas sofa. Wajah cantiknya berangsur-angsur memerah padat dari leher hingga ke balik bedak tebalnya. Seumur hidupnya berhubungan dengan keluarga besar Batalyon, tidak pernah ada satu orang pun yang berani menyebutnya 'Tante-tante dandan menor'.
"Jaga mulut kamu, Vina!" bentak Tanti, dadanya naik turun memburu napas gusar. Ia menegakkan punggungnya, melipat tangan di dada dengan raut keangkuhan meluap. "Saya ini Tanti! Kerabat terdekat Mas Yudhana! Wanita yang sebentar lagi bakal resmi menggantikan posisi kamu di rumah ini!"
"Oh ... Tante Tanti," sahut Vina manggut-manggut dengan nada mengejek yang disengaja. "Nama sih keren, tapi gaya dandannya kaku amat, Tan. Lu mau bertamu atau mau melayat ke pemakaman sih? Baju merah menyala, bedak tebal kayak bolu kukus, bau parfumnya melati menyengat banget sampai bikin hidung gue mampet!"
Plak!
Tanti menepuk meja kaca dengan telapak tangannya kencang, membuat cangkir plastik bekas selai itu bergoyang hebat.
"Kurang ajar kamu ya!" teriakan Tanti memotong desis kipas angin. "Kamu jangan pura-pura amnesia di depan saya! Saya tahu kamu sengaja menabrakkan diri ke mobil box kan kemarin? Kamu cuma pura-pura amnesia supaya Mas Yudhana kasihan dan batalin rencana perceraian kamu! Tapi asal kamu tahu ya, Mas Yudhana itu tidak pernah cinta sama kamu! Dia cuma terpaksa nampung kamu gara-gara wasiat ayah kamu sama Opa Gema!"
Tanti memajukan tubuhnya, menatap Vina dengan sorot mata jahat yang menusuk. "Keluarga besar sudah setuju! Segera setelah kamu keluar dari rumah ini, Mas Yudhana bakal menikahi saya secara resmi. Kamu itu cuma benalu panti asuhan yang kagak tahu diri!"
Keheningan yang panas seketika menyapu ruang tamu. Kipas angin tua di sudut ruangan terus berputar, menebarkan hawa hangat ke seluruh penjuru.
Di atas sofa seberang, Vina meraih toples plastik berisi keripik singkong pedas di atas meja nakas. Ia membuka tutupnya dengan bunyi klek yang renyah, mengambil selembar keripik, lalu mengunyahnya dengan suara krispi yang nyaring.
Kruuuk... kruuuk...
"Udah ngocehnya, Tante?" tanya Vina tenang usai menelan keripiknya.
Tanti membeku, matanya membelalak tak percaya menyaksikan kepolosan barbar istrinya Yudhana yang sama sekali tak terpengaruh oleh gertakan mematikannya.
"Lu dari tadi ngomong panjang lebar kayak penjual obat di pasar," lanjut Vina santai seraya mengibaskan jarinya yang berlepotan bumbu cabai. "Kalau lu ke sini cuma mau pamer kalau Si Om Kaku itu demen sama lu ... ya ambillah! Ambil sana! Siapa juga yang mau nahan-nahan Om-om berkumis yang sukanya marah-marah?"
***
Assalamu'alaikum, hari ini sudah bab 20. Retensi akan keluar besok. Berdasarkan pengalaman kemarin, saya tidak tahu apakah naskah ini retensinya bagus dan lulus kontrak. Tapi, yang jelas Terima kasih untuk support dari Kakak semuanya ya. Semoga kali ini tidak dikecewakan lagi sama NT.
Alhamdulillah 🤲