NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 menyambut suami

Pagi itu, Veronica kembali berhadapan dengan musuh bebuyutannya di ruang kerja, yaitu tumpukan tagihan rumah yang menggunung di atas meja karena ia pergi ke wilayah Skypia selama beberapa hari. Kertas-kertas itu tersusun begitu tinggi hingga menutupi separuh wajahnya, dan setiap kali ia membaca satu lembar, selalu ada lembar lain dengan angka yang lebih panjang menunggu di bawahnya. Tagihan dari pedagang gandum, tukang kayu, hingga penjual lilin bercampur aduk tanpa urutan yang jelas, dan ia merasa lebih mudah menghadapi monster kadal di dalam tambang daripada deretan angka yang tidak mau menurut itu. Pena di tangannya sudah dua kali hampir patah karena genggamannya yang terlalu kuat, dan ia mengembuskan napas panjang dengan sudut mata berkedut. "Kalau saja aku boleh menyemburkan api, semua kertas ini sudah menjadi abu sejak tadi," gumamnya lirih sambil menatap dokumen itu dengan sorot mata yang mengancam.

Beberapa saat kemudian, ketika Veronica baru saja menyerah dan menjatuhkan kepala ke atas meja, pintu ruang kerja terbuka pelan dan Emma melangkah masuk membawa nampan berisi seteko teh hangat dan sepiring camilan, uapnya mengepul harum bersama aroma mentega dari kue-kue kecil di sebelahnya. "Nyonya, silakan beristirahat sebentar. Saya bawakan teh dan camilan agar Nyonya tidak terlalu penat. Dokumen-dokumen itu tidak akan lari ke mana-mana."

"Justru itu masalahnya, Emma," keluh Veronica sambil memelototi tumpukan kertas. "Mereka tidak akan lari, malah tambah banyak setiap kali aku menoleh."

Wajah Veronica langsung berseri seperti bunga yang disiram, dan ia menyingkirkan pena dengan gerakan secepat kilat. "Emma, kau memang penyelamatku! Aku benar-benar berterima kasih, dan aku berjanji akan menaikkan upahmu karena kau selalu baik padaku."

Emma tersenyum kecil sambil menuangkan teh ke cangkir porselen dengan tangan yang terampil, lalu menggeser piring kue lebih dekat ke sisi meja yang bersih dari kertas. "Tidak perlu, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas saya sebagai pelayan pribadi Anda, dan melihat Nyonya makan dengan senang sudah cukup bagi saya."

Veronica menyantap kue yang disajikan dengan lahap, matanya terpejam menikmati setiap gigitan hingga pipinya menggembung seperti tupai, remah-remahnya berjatuhan di atas dokumen tanpa ia pedulikan, lalu menatap Emma dengan rasa ingin tahu yang tulus. "Emma, apakah kau senang menjadi pelayan pribadiku? Jujur saja, aku tidak akan marah."

Emma terdiam sejenak sambil meremas ujung celemeknya, menimbang kata-kata yang tepat, lalu tersenyum tipis. "Awalnya saya takut menerima tugas ini, Nyonya. Tapi saya dianggap paling layak melayani Duchess baru Vanguard, jadi saya tidak bisa menolak. Bahkan, jujur saja, dulu tangan saya sering gemetar setiap kali menatap mata Nyonya yang begitu mengancam." Ia berhenti sebentar, lalu pandangannya melembut. "Tapi sekarang saya sudah terbiasa. Mata yang menyeramkan itu ternyata tidak sejahat yang saya bayangkan dulu. Malah kadang terlihat seperti mata anak kucing yang kelaparan."

"Benarkah?" Veronica mengerjap polos lalu menyentuh kelopak matanya sendiri dengan jari berminyak. "Padahal aku merasa mataku biasa saja." Emma menahan senyum dan tidak menjawab. Veronica tertawa kecil dengan mulut penuh kue, hatinya menghangat, dan ia menepuk-nepuk bahu Emma dengan canggung sebagai ucapan terima kasih yang tak sempat ia susun dengan kata-kata. Belum sempat percakapan itu berlanjut, pintu kembali terbuka dan Erin masuk dengan sepucuk surat di tangannya. "Veronica, ada surat dari Altres. Putraku akan tiba besok siang dari wilayah perbatasan."

"Oh, begitu," sahut Veronica sambil mengambil kue lagi tanpa mengangkat kepala dari piringnya, sementara Emma di sampingnya melirik Erin dengan gugup. "Besok siang, ya. Berarti masih ada waktu untuk menghabiskan semua kue ini."

"Veronica, kau tidak ingin tahu bagaimana kabar suamimu?" tanya Erin heran.

"Itu kan rumahnya, jadi wajar kalau dia pulang," jawab Veronica sambil mengangkat bahu. "Kenapa Ibu memberitahuku dengan wajah serius begitu?"

Erin menatap menantunya dengan alis berkerut heran dan helaan napas pendek, mencoba memahami hubungan aneh antara dua orang itu yang terasa seperti dua kutub berlawanan yang dipaksa duduk di satu meja. Padahal sempat beredar rumor di antara para pelayan tentang kemesraan mereka, saat Altres menggendong Veronica dengan hati-hati setelah keduanya menghilang berdua selama lima hari. Meski kini ia tahu mereka hanya pergi mengambil harta milik Veronica, ia tetap menyimpan harapan bahwa ada cinta yang tumbuh di antara keduanya. Ia duduk di kursi seberang meja, menyingkirkan sedikit tumpukan kertas, dan menyatukan jemarinya dengan lembut. "Kau harus menyambut kepulangan suamimu, Veronica."

"Tidak masalah, Ibu," jawab Veronica ringan sambil mengibaskan tangannya dan menyesap tehnya. "Aku akan berdiri di depan pintu dan tersenyum sopan. Aku bahkan bisa membungkuk kalau Ibu mau. Itu mudah sekali, bukan sesuatu yang sulit."

"Maksudku bukan hanya itu, sayang," ujar Erin sambil tersenyum penuh arti dan menggeleng pelan. "Menyambut suami berarti menemaninya makan malam, berdandan secantik mungkin untuknya, lalu menghabiskan malam bersamanya."

Kue di tangan Veronica berhenti setengah jalan menuju mulutnya, remahnya jatuh ke pangkuan, dan ekspresinya langsung berubah masam seperti baru menelan buah mentah. "Satu kamar dengan Altres? Tidak mau, Ibu. Dia pasti hanya akan bicara dengan nada menyebalkan, mengomentari cara makanku, lalu menceramahiku soal tata krama sampai pagi." Ia menggeleng keras sekali lagi sambil menarik tumpukan dokumen mendekat seolah kertas-kertas itu bisa menjadi perisai. "Aku bahkan lebih memilih membaca buku sejarah kekaisaran yang tebal itu daripada menemani pria sedingin dia."

Erin menutup mulut dengan punggung tangan menahan tawa, bahunya bergetar pelan, karena kedua orang itu tampaknya sama-sama saling menolak. Namun ia segera menegakkan punggung dan menatap Veronica lurus. "Dengarkan aku baik-baik, Veronica. Kau seorang Duchess, dan kau selalu bilang kau sangat bertanggung jawab. Maka kau tidak boleh lari dari tanggung jawab sebagai istri seorang Duke."

Emma yang berdiri di belakang Veronica buru-buru menunduk dan pura-pura merapikan nampan agar tawanya tidak pecah. Veronica membuka mulut hendak membantah, tetapi tak ada satu pun alasan yang terlintas di kepalanya. Ia mencoba sekali lagi, lalu menutup mulutnya, lalu mencoba lagi, persis seperti ikan yang kehabisan air. Bahunya merosot dan ia menatap meja dengan wajah kalah, ekornya yang tak terlihat seakan ikut terkulai lemas di balik kursi. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu, lalu menggigit bibirnya dan bergumam pelan, "Tapi aku tidak yakin dengan soal malam itu, Ibu. Di malam pengantin dulu, Altres bilang dia tidak akan menyentuhku."

"Apa maksudmu?" tanya Erin pelan sambil mencondongkan tubuh, kerutan tipis muncul di keningnya.

"Dia menganggap hubungan kami hanya diplomasi sesaat, semacam perjanjian yang akan berakhir kalau tugasnya selesai." Veronica menunduk sambil memainkan sendok di piringnya. "Setelah kami mengalahkan naga iblis Karahan, kami akan berpisah dan aku akan pergi dari rumah ini."

Ruangan itu mendadak hening sehingga bunyi denting sendok yang jatuh ke piring terdengar jelas. Erin terpaku sesaat, senyum di wajahnya perlahan memudar, lalu mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Veronica erat-erat dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Jadi kau berniat meninggalkanku, Veronica? Setelah semua yang kita lewati bersama di rumah ini?"

Veronica mengangkat wajah, bibirnya bergetar, dan hatinya mencelos melihat raut sedih wanita yang sangat ia hormati dan sayangi itu, genggaman hangat di tangannya terasa semakin berat. Rasa bersalah menyesakkan dadanya, tetapi ia juga tak bisa memaksa tetap menjadi istri Altres jika pria itu sendiri tidak menginginkannya. "Aku tidak ingin pergi dari Ibu. Aku sangat menyayangi Ibu, sungguh. Tapi aku tidak bisa memaksa Altres kalau dia tidak mau."

Erin menarik napas dalam-dalam sambil mengusap sudut matanya, lalu tersenyum lembut sambil menepuk punggung tangan menantunya dua kali, matanya masih sedikit basah namun sorotnya teguh. "Kalau begitu, jika kau ingin tetap bersamaku, kau harus berusaha mendapatkan hati Altres. Aku yakin, sedingin apa pun sikapnya, Altres adalah pria yang lembut, sama seperti ayahnya dulu. Kau hanya perlu bersabar dan terus mencoba."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!