Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Pradipta
"Tetap di sini," bisik Satrio, "Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari balik batu ini."
Lintang mengangguk, tapi matanya masih tertuju ke perkemahan, ke sabuk merah yang menjauh ke arah rawa. Tangannya menggenggam gagang pisau kecil di pinggangnya.
"Lintang. Lihat aku."
Anak itu menoleh.
"Kau sudah janji."
"Iya, Kang."
Di dekat api, salah satu penjaga yang membakar ikan bangkit sambil menggerutu. Ia mencabut goloknya dari tanah dan melangkah masuk ke kabut di sisi kiri perkemahan.
"Kayunya habis," katanya, "Jangan sentuh ikanku."
"Itu celahmu, bocah," bisik Eyang, "Yang satu itu sendirian di dalam kabut."
Satrio mulai bergerak. Ia merayap menyusuri pinggir gundukan tanah itu ke arah kiri, dari satu batang pohon mati ke batang berikutnya, di tempat kabut masih menggantung tebal. Di kabut setebal itu, ia mengikuti telinganya, ke arah bunyi dahan kering yang dipatahkan.
Krak!
Penjaga itu berdiri di bawah sebatang pohon mati, membelakanginya, menarik-narik dahan yang setengah patah. Goloknya tertancap di tanah di sebelah kakinya.
Satrio merapatkan telunjuk dan jari tengah kanannya. Ia menarik panas dari perutnya, sedikit saja, dan mengumpulkannya di ujung kedua jari itu sampai sebutir bara sebesar biji asam menyala di sana.
Kalau lelaki itu sempat berteriak, seisi perkemahan akan bangun. Jadi tenggorokannya yang harus dibungkam lebih dulu.
Satrio melompat. Tangan kirinya membekap mulut penjaga itu dari belakang, dan dua jari kanannya menghunjam ke leher lelaki itu, tepat di bawah jakun.
Bara itu menembus kulit dan padam di dalam tenggorokannya. Penjaga itu meronta. Jeritannya tertahan di telapak tangan Satrio dan berubah jadi bunyi mendeguk. Kakinya menendang-nendang lumpur, lalu lemas.
Satrio menurunkan tubuh itu pelan-pelan ke tanah. Wajah penjaga itu masih muda, mungkin sebaya Kang Damar. Bau daging hangus naik dari leher lelaki itu, dan ludah pahit naik ke kerongkongan Satrio sendiri. Ia menunduk dan menutup mulutnya dengan punggung tangan sampai mualnya surut. Lalu ia mencabut golok itu dari tanah dan merebahkannya di samping si penjaga, supaya tidak jatuh berdentang.
"Jangan berhenti di sini," bisik Eyang, "Setiap tarikan napas yang kau buang, temannya makin heran kenapa dia belum kembali."
Satrio merayap memutari bagian belakang perkemahan, di balik tenda-tenda hitam itu. Dari celah di antara dua tenda, ia bisa melihat punggung tiang tempat Gandung terikat, dua puluh langkah di depannya. Ia bangkit setengah berjongkok dan melangkah keluar dari balik tenda, tepat ke hadapan Pradipta.
Jarak mereka cuma dua langkah. Ember kosong tergantung di tangan Pradipta, dan air menetes dari dasarnya ke tanah di antara kaki mereka.
Keduanya membeku.
Dari dekat, memar di pelipis Pradipta berwarna ungu kehitaman, dan ada luka baru di sudut bibirnya. Matanya turun ke jari-jari kanan Satrio yang masih berbau hangus, lalu naik lagi ke wajahnya. Tangannya mencengkeram gagang ember itu sampai kayunya berbunyi.
Panas mulai berkumpul di telapak tangan kanan Satrio.
'Kalau dia berteriak...' batinnya.
Rahang Pradipta bergerak. Matanya bergeser melewati bahu Satrio, ke arah tiang di dekat api, ke Gandung yang sedang meringis karena tendangan penjaga tadi.
Lalu Pradipta berbalik dan berjalan ke dalam kabut dengan ember kosongnya, pelan, seperti orang yang memang sedang menuju rawa untuk menimba air. Punggungnya lenyap di balik kabut. Beberapa tarikan napas kemudian, dari arah rawa, terdengar bunyi ember yang dicelupkan ke air.
"Dia melihatmu," desis Eyang.
'Dia juga melihat Gandung, Eyang.'
Satrio berjongkok dan merayap ke arah tiang. Api unggun ada di sisi lain tiang itu, dan tubuh Gandung yang lebar menutupinya dari pandangan para penjaga. Penjaga yang tidur masih mendengkur dengan mulut terbuka. Penjaga yang mengasah golok sedang mencomot ikan milik temannya yang belum kembali.
Satrio menempelkan punggung ke tiang, di belakang Gandung, lalu menyentuh tangan sahabatnya yang terikat.
Gandung tersentak.
"Ini aku," bisik Satrio.
Jari-jari Gandung yang terikat itu langsung mencengkeram jari Satrio, kuat sekali, sampai sendi-sendinya berbunyi.
"Bodoh..." bisik Gandung tanpa menoleh. Suaranya pecah, "Kenapa kau datang?"
"Kau sendiri yang mau menjemputku di pertigaan." Satrio mencabut pisau Bargowo dari sabuknya, "Diam dulu."
Ia menggesekkan bilah pisau itu ke tali di pergelangan Gandung. Tali itu tebal, dipilin dari serat ijuk dan terasa lengket seperti direndam getah. Bilahnya baru masuk separuh.
"Kang Pradipta tadi memberiku air bening," bisik Gandung, "Satrio, hati-hati, tenda besar itu..."
Dari atas, terdengar bunyi tali yang meluncur cepat.
Satrio mendongak. Bungkusan di dahan pohon mati itu terbuka di udara. Kain gelapnya terlepas, dan sesuatu yang lebar dan berduri menebar ke bawah seperti sayap kelelawar.
Jala itu menghantamnya sebelum ia sempat melompat. Duri-duri kecil di setiap simpulnya menancap ke punggung, ke lengan, dan ke tengkuknya. Bobotnya menyeret Satrio jatuh berlutut di samping tiang, dan pisau Bargowo terlepas dari tangannya.
"ARGHH!"
Tawa meledak dari tenda besar di belakang perkemahan.
Kain pintu tenda itu tersibak, dan Bargowo melangkah keluar. Tangan kirinya masih menggenggam ujung tali yang membentang dari dalam tendanya sampai ke dahan di atas tiang.
"Kukira kau datang tengah malam," katanya, "Ternyata kau lebih tidak sabar daripada temanmu yang gendut itu."
Para penjaga melompat bangun. Penjaga yang tadi tidur terjengkang dari batang kayu tempatnya bersandar. Golok-golok tercabut, dan mereka mengepung tiang itu dari tiga arah.
"Ki, si Kancil belum kembali dari mencari kayu," seru penjaga yang mengasah golok.
"Nanti saja kalian cari," jawab Bargowo tanpa menoleh.
Bargowo melangkah mendekat dan memungut pisau yang terjatuh itu. Ia menimbangnya di tangan kiri, lalu terkekeh.
"Pisauku sendiri." Ia melemparkan pisau itu ke tanah di depan lutut Satrio, "Kau anak yang tahu cara mengembalikan barang orang."
Lengan baju kanannya tergantung kosong dan diikat simpul di bawah bahu. Bargowo mengangkat bahu kanannya, dan lengan baju itu ikut terangkat, memperlihatkan pangkal lengan yang dibalut kain hitam, putus sejengkal di bawah bahu.
"Tabib Kala Ireng memotongnya sampai sini," katanya, "Dagingnya membusuk dari dalam. Bekas api merahmu itu."
Ia membungkuk sampai wajahnya sejajar dengan wajah Satrio di balik jala.
"Kau ambil lenganku," bisiknya, "Sebelum purnama naik malam ini, kuambil semuanya."
Satrio meronta. Duri-duri jala itu menancap makin dalam ke kulitnya.
"Jangan meronta!" seru Eyang, "Setiap kau bergerak, durinya makin dalam!"
"Lepaskan dia!" Gandung menyentak-nyentak talinya sampai tiang itu bergoyang, "Lepaskan dia, Lengan Buntung!"
Bargowo menampar Gandung dengan punggung tangan kirinya.
Plak!
"Ugh!"
Kepala Gandung terbentur tiang. Darah segar mengalir dari hidungnya.
Di balik batu berlumut di tepi perkemahan, sebuah tangan kecil mencengkeram lumut sampai lumut itu tercabut.
Dari arah rawa, Pradipta muncul dengan ember penuh air. Ia berhenti di pinggir cahaya api, dan air di embernya tumpah sedikit ke kakinya.
"Kau ke mana saja?" bentak Bargowo.
"Menimba, Kang," jawab Pradipta pelan.
Bargowo kembali menatap Satrio dan menepuk jala itu dengan ujung kakinya.
"Bakar saja," katanya, "Kawatnya sudah kurendam getah pohon rawa semalaman. Makin banyak apimu habis untuk jala itu, makin sedikit sisanya untukku."
"Dia benar, bocah," desis Eyang, "Tapi kalau tidak kau bakar, kau tidak bisa bangun sama sekali. Bakar di satu titik saja. Jangan seluruhnya."
Satrio mencengkeram dua utas kawat di depan dadanya dengan kedua tangan. Ia mengalirkan panas ke telapak tangannya tanpa berhenti, ke satu titik di antara jari-jarinya.
Getah di kawat itu mendesis dan menguarkan asap hitam yang berbau busuk. Kawat itu memerah, lalu memutih. Panasnya merambat balik ke telapak tangan Satrio sendiri. Kulit di jari-jarinya menggelembung, pecah, dan menggelembung lagi.
"Ngh... ARGHH!"
Tas!
Kawat itu putus. Satrio merobek celah di jala itu dengan tangan yang berasap, memutus kawat demi kawat, sampai lubangnya cukup untuk bahunya. Ia menyeret tubuhnya keluar, dan duri-duri yang masih menancap di punggungnya ikut tercabut bersama serpihan kain lurik.
Ia berdiri di depan tiang dengan napas tersengal. Jala itu teronggok di belakangnya, hangus dan berasap. Kedua telapak tangannya melepuh dari ujung jari sampai ke pergelangan, dan cahaya merah kristal merembes dari balik kulit telapak kanannya yang pecah-pecah.
"Satrio," suara Gandung serak dari tiang, "Tanganmu..."
"Nanti Sekar yang mengomel," jawab Satrio. Matanya tetap tertuju pada Bargowo.
Ketiga penjaga yang mengepung tiang itu mundur selangkah dari cahaya merah di tangannya.
Bargowo memutar-mutar bahu kirinya. Bayangan di kaki pohon-pohon mati di sekeliling perkemahan itu mulai merayap pelan ke arahnya.