NovelToon NovelToon
Memeluk Bayangan

Memeluk Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Penyesalan Suami
Popularitas:897
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.

Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.

Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.

Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.

Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.

Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.

simak kisahnya di Memeluk Bayangan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jalan yang tidak mulus

Hari ini Kemala mengambil jatah liburnya yang sangat amat jarang digunakannya.

Ia sibuk menyapu lantai semen yang sederhana, lalu mengelap meja kayu tua hingga berkilau.

Udara di dalam kontrakan kecil itu terasa segar, ketika ia baru saja membuka jendela lebar-lebar agar cahaya matahari pagi bisa masuk menyinari sudut-sudut ruangan.

Saat hendak menyusun bantal di kursi bambu, pandangannya tak sengaja jatuh pada kalender dinding yang tergantung miring di dinding.

Tangannya terhenti.

Jari-jarinya perlahan menyentuh tanggal yang dilingkari samar dengan tinta biru pudar.

Napasnya tertahan.

Hari ini.

Tepat satu tahun yang lalu, di ruang pengadilan yang hening, terdengar bunyi ketukan palu hakim yang berat dan tegas.

Bunyi yang mengakhiri segalanya.

Satu tahun lalu, namanya resmi kembali seperti semula, dan ikatan yang ia jaga sebisanya, terurai begitu saja.

Kemala menarik napas panjang, lalu menghempaskannya perlahan.

Tak ada tangisan kali ini seperti malam-malam sebelumnya.

Tak ada jeritan tertahan ketika mengingat perlakuan Abimana terhadapnya atau ketika dirinya menyalahkan diri sendiri karena tak mampu melawan godaan syaitan dan ia hanyut dalam sebuah ilusi perasaan terhadan Sean.

Yang ada hanya sebuah senyum tipis yang terukir di bibirnya.

"Satu tahun," bisiknya pelan. "Terima kasih diriku, karena sudah bertahan sejauh ini."

Ia kembali mengambil kain lapnya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.

Luka itu belum hilang sepenuhnya, tapi ia tahu, ia sudah jauh lebih kuat dibanding dirinya yang setahun lalu, yang pernah hancur berkeping-keping.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kemala kini berjalan dengan langkah yang lebih ringan.

Di antara susunan bunga-bunga cantik yang menguarkan aroma manis, ia menemukan ketenangan yang dulu sempat hilang.

Senyumnya tulus, tak lagi dipaksa.

Luka masa lalu belum hilang sepenuhnya, tapi ia sudah belajar untuk tidak lagi membiarkannya menuntun langkah.

Hidupnya sederhana, namun damai.

Sementara itu, di rumah yang megah namun terasa sepi, Abimana justru sebaliknya.

Malam-malamnya kerap dihantui momen-momen yang telah berlalu.

Terkadang ia bermimpi melihat senyum lembut Kemala saat menyambutnya pulang, atau suara lembut wanita itu yang memanggil namanya.

Namun saat ia terjaga, yang ada hanyalah keheningan dan penyesalan yang mengiris pelan di dadanya.

Semakin ia mencoba melupakan, semakin bayang-bayang itu kembali, terutama ketika Kirana tidak ada di sisinya, atau saat keheningan malam mulai menegaskan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Ia baru sadar, Kemala mungkin sudah melangkah pergi, tapi dirinya sendirilah yang masih tertahan di tempat yang sama, terjebak dalam kenangan yang tak bisa ia ulang.

"Mas... Kamu mimpi lagi?" suara Kirana diambang pintu kamar mengalihkan perhatian Abimana.

Laki-laki itu menarik sudut bibirnya, "Tidak... Saya hanya sedang banyak pikiran..." ucapnya berbohong.

Kirana berjalan mendekati tepi ranjang, "Mas... " dia mengelap keringat dikening suaminya, "Apa kamu masih teringat akan Kemala?" tanyanya hati-hati.

Air muka Abimana berubah seketika.

Wajah yang biasa hangat itu kini terasa lebih kaku dan dingin, terlebih sejak putra mereka lahir.

"Kenapa kamu berfikir jika saya masih mengenangnya?" tanya Abimana.

Kirana sedikit menunduk, menatap jemarinya yang dingin dan sedang bertaut dengan jemari Abimana.

"Saya tidak bermaksud mengingatkan mu padanya... Hanya saja, sejak dia pergi, sikap kamu terasa lebih dingin.. Saya hanya takut kamu membenci dan mengabaikan saya, mas..." ujarnya terisak.

Abimana menahan nafas.

Kirana benar. Seharusnya dia tidak bersikap demikian dan mengabaikan keberadaan perempuan yang kini menjadi satu-satunya istri baginya.

Abimana membawa Kirana dalam pelukannya, "Maafkan akan sikap saya yang tanpa sengaja mengabaikan mu... Jujur, saya tidak bermaksud demikian..."

Kirana menangis dalam dekapan hangat suaminya.

Malam-malam berikutnya, Abimana masih bermimpi akan Kemala namun dirinya tetap berusaha menepis rasa bersalah itu dengan menghabiskan waktu bersama putra dan juga istrinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kesehatan Ummi perlahan namun terus menurun sejak hari Kemala melangkah keluar dari rumah itu.

Raut wajahnya yang dulu selalu hangat, kini perlahan meredup. Beliau sering terlihat termenung di kursi teras, memandang ke arah gerbang seolah berharap sosok menantunya yang dulu akan muncul kembali.

"Ummi rindu... ingin sekali melihat wajahmu sekali lagi, nak," bisiknya pelan, seringkali hanya kepada keheningan.

Keinginan terbesar Ummi saat itu hanyalah satu, bertemu Kemala, memeluknya, dan meminta maaf atas segala luka yang pernah terjadi di bawah atap rumah mereka.

Namun takdir berkata lain.

Napas terakhir Ummi terhembus dengan tenang, namun ada yang belum tuntas di matanya yang perlahan terpejam.

Beliau pergi sebelum sempat bertemu dengan Kemala untuk terakhir kalinya.

Dengan memeluk mantel rajut hangat buatan tangan Kemala sebagai hadiah ulangtahun, Ummi menutup mata untuk selamanya dalam duka yang mendalam.

Kepergian Ummi sontak membuat Abimana serta Abah cukup terpukul.

Abah kehilangan separuh hidupnya sementara Abimana kehilangan sosok yang selalu tenang dan lembut namun tegas ketika dirinya melakukan kesalahan.

Sepanjang upacara pemakaman berlangsung, Abimana berdiri tegak di sisi liang lahat.

Wajahnya terlihat datar, tak setetes pun air mata jatuh. Bagi siapa pun yang melihatnya, ia tampak begitu tabah dan tenang, seolah sedang mengerjakan urusan biasa saja.

Namun, ketenangannya itu justru terasa menusuk dan dingin, jauh lebih menyayat hati daripada tangisan yang pecah.

Tatapannya kosong, matanya memandang ke arah nisan yang baru ditumpuk tanah, tapi seakan jiwanya sudah ikut tertimbun di sana.

Tidak ada kata-kata yang terucap, tidak ada isak yang terdengar, hanya keheningan yang membalut dirinya, menyisakan jarak yang terasa jauh antara dirinya dan siapa pun yang hadir di sana.

Saat semua orang perlahan meninggalkan pemakaman, Abimana tetap berdiri di sana. Angin sore berhembus pelan, menerpa baju koko hitam yang ia kenakan, namun ia tak bergeming sedikit pun.

Di dalam hatinya, badai yang luar biasa besar sedang mengamuk.

Ia hanya tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya.

Selama ini, ia terbiasa terlihat kuat, terbiasa menjadi sandaran bagi semua orang, hingga saat ia sendiri hancur, ia lupa caranya untuk menangis.

"Mas...." suara Kirana memanggil pelan, namun Abimana seakan tidak mendengar.

Tangannya terulur, menyentuh gundukan tanah itu dengan gemetar. Dalam hati, ia berbisik lirup, "Ummi.... Maafkan saya... saya belum sempat memenuhi keinginan terakhir mu"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hari ini, tepat seratus hari kepergian Ummi.

Semua santri dan para pemuka agama dan para guru pondok pesantren kini sedang berkumpul di masjid.

Sesuai kebiasaan, mereka bersama-sama melantunkan ayat-ayat suci alquran dan juga mengirim doa kepada yang telah mendahului mereka.

Abah yang semula terlihat sangat terpukul kini sudah mulai bisa menerima kepergian istrinya.

Wajah yang selalu nampak berwibawa kini terlihat begitu lelah.

Beliau kini telah menyerahkan kepemimpinan pondok kepada Abimana dan juga menantunya Kirana.

Hanya sesekali saja beliau berkunjung dan memantau kegiatan para santri.

Dia bagai pria yang kehilangan permata hatinya. Penenang dikala gundahnya. Dan penyejuk dikala penatnya rutinitas.

Ummi Dewanti pergi membawa luka, rasa bersalah dan kerinduan terhadap sosok yang begitu ia sayangi meski tak terlahir dari rahimnya sendiri.

bersambung....

1
Mundri Astuti
ni ga kebongkar juga yak...kasihan di fitnah terus si kemala...he abi..koreksi diri dong...kamu pernah hidup bareng Kemala sebagai kakak angkatnya..masa ga tau sifat Kemala gimana
falea sezi
moga abis ne kebongkar borok istri sok alim elu🤣🤣 nunggu elu nangis darah trs kemala dpet jodoh cogan bujang kaya raya👍
Mundri Astuti
belum kebongkar juga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!