NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isi Kotak Kayu Berukir

Kalimat yang di ucapkan oleh Rukmini itu seolah menggantung di udara ruang perawatan yang dingin. Di ruang perawatan yang dingin itu, Aina terus menatap perempuan berkebaya ungu tanpa berkedip sedikit pun. Bahkan Aina terus mencoba membaca isi hati wanita itu dengan melihat raut wajahnya. Aina yang merasa sudah terlalu sering ditipu dalam beberapa hari ini, Ia tak tahu lagi mana air mata yang tulus dan mana yang sandiwara.

"Apa Sebenarnya yang ingin Anda katakan!"

Aina yang merasa terlalu sering mertuanya itu menyakitinya belakangan ini sehingga Aina sebenarnya malas untuk berhadapan lama dengan wanita itu.

"Ada sesuatu yang penting tentang masa lalu Raka yang harus saya sampaikan? " Ujar wanita itu pelan

"Masa lalu Raka? " Aina tampak terkejut mendengar kata masa lalu Raka

Kalau saja wanita itu tidak mengatakan tentang masa lalu Raka, Aina mungkin saja sudah membangunkan sang ibu yang tengah terlelap tidur. Aina sebenarnya masih sedikit takut dengan wanita itu setelah apa yang wanita itu perbuat pada Aina. Akan tetapi karena wanita itu mengatakan akan menceritakan masa lalu Raka, Sehingga Aina memberi kesempatan wanita itu untuk berbicara berdua dengannya.

"Duduklah Bu," ucap Aina akhirnya, menunjuk kursi kosong di sisi lain ranjang."

Lale Rukmini pun melangkah mendekat ke arah Aina meski dengan sedikit keraguan. Untuk pertama kalinya, perempuan yang selama ini selalu berjalan dengan dagu terangkat itu tampak kecil. Ia duduk di tepi kursi tanpa bersandar dan meletakkan kotak kayu berukir itu di pangkuannya. Lalu Jemarinya terlihat mengusap ukiran bunga di permukaannya, ukiran yang sudah aus dan pudar.

"Tadi siang, waktu kau jatuh di halaman kantor camat, aku melihat Raka berlari menggendongmu," katanya pelan. "Wajahnya persis seperti wajah seorang perempuan yang pernah kulihat tiga puluh tahun lalu. Perempuan yang berlari mengejar mobil yang membawa bayinya pergi."

Aina mengernyit. "Bayinya?"

Kemudian Lale Rukmini mengangkat wajah. Ia menatap Aina, lalu menatap perut Aina di balik selimut rumah sakit. Ketika ia bicara lagi, suaranya nyaris berbisik.

"Raka bukan anak yang lahir dari rahimku."

Keheningan di ruangan itu terasa begitu pekat hingga Aina bisa mendengar tetesan infus jatuh satu per satu.

"Apa… Raka bukan anak kandung ibu? Lalu siapa orang tua Raka sebenarnya?" Aina tampak terkejut mendengar hal itu.

"Terus apa Raka tahu akan hal ini? " Lanjut Aina

Setelah mengatakan hal itu, Lale Rukmini membuka tutup kotak kayu itu perlahan. Engselnya berderit. Di dalamnya, beralaskan kain songket yang sudah menguning, tersimpan beberapa benda. Selembar foto hitam putih. Sebuah gelang bayi dari perak kusam dan sepucuk surat yang terlipat rapi, kertasnya rapuh dimakan usia.

"Tiga puluh tahun lebih yang lalu, aku menikah dengan Ayah Raka, Lalu Wiradana," Lale Rukmini mulai menceritakan kisahnya. Suaranya terdengar datar, seperti seseorang yang sudah ribuan kali mengulang cerita ini dalam kepalanya tanpa pernah mengucapkannya. "Kami dijodohkan, sama seperti Raka dan Sekar. Sesama keturunan menak. Pernikahan yang membuat dua keluarga bangga."

Ia mengusap gelang perak itu dengan ujung jarinya.

"Lima tahun menikah, aku tidak juga hamil. Enam tahun. Tujuh tahun. Mertuaku mulai menatapku dengan cara yang sama seperti…" Ia berhenti, lalu tersenyum pahit. "Seperti caraku menatapmu selama sepuluh tahun ini, Dengan iba". Aina tampak mendengarkan cerita itu.

" Beberapa tahun pernikahan masih aman, Sampai suatu ketika suamiku jatuh cinta kepada seorang perempuan desa. Anak petani tembakau dari Desa Kawo, Namanya Sumiati." Lale Rukmini mengambil foto hitam putih itu dan menyodorkannya kepada Aina. "Ini dia." Lale Rukmini menunjukkan sebuah foto pada Aina.

Dalam foto itu, seorang gadis muda berkebaya sederhana berdiri di depan rumah panggung. Rambutnya digelung, wajahnya polos, dan senyumnya malu-malu. Usianya mungkin tidak lebih dari dua puluh tahun.

"Mamik Raka menikahinya diam-diam. Nikah siri, tanpa sepengetahuanku. Sama seperti Raka kepadamu." Suara Lale Rukmini bergetar. "Aku baru tahu setahun kemudian, ketika Sumiati sudah hamil."

Aina menatap foto itu, lalu menatap perempuan tua di depannya. Pelan-pelan, potongan-potongan itu mulai tersusun di kepalanya, dan apa yang terbentuk membuat dadanya sesak.

"Lalu Ibu … mengambil anaknya."

Lale Rukmini tidak menyangkal. Air mata mengalir di pipinya yang keriput, meluruhkan bedak tipis di wajahnya.

"Mertuaku yang memutuskan. Darah menak tidak boleh lahir dari rahim perempuan petani lalu dibesarkan di gubuk. Begitu katanya." Ia menyeka matanya dengan ujung selendang. "Sumiati diberi uang dan disuruh pergi jauh. Bayinya diserahkan kepadaku tiga hari setelah lahir. Kami pindah ke Kuta, ke rumah keluarga yang baru. Semua orang diberi tahu bahwa aku melahirkan di Mataram." Ungkap Lale Rukmini sembari mengambil gelang perak kecil itu dan menggenggamnya erat.

"Gelang ini Sumiati yang memakaikannya di pergelangan tangan Raka waktu bayi. Ia memohon agar aku tidak melepasnya. Aku menyimpannya. Aku tidak pernah sanggup membuangnya."

"Lalu bagaiamana kabar ibu kandung Raka sekarang? Apakah Ibu tahu dimana ibu Sumiati berada sekarang? " Tanya Aina

Lale Rukmini hanya menggelengkan kepala.

" Hanya surat ini yang Ia tulis dan dikirimkan kepada Ibu waktu Raka baru berumur satu tahun." Lale Rukmini menyerahkan lipatan kertas rapuh itu pada Aina. "Setelah itu, aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi,.Aku tidak pernah mencarinya karena Aku terlalu takut."

Aina pun tampak membuka surat itu dengan sangat hati-hati. Tulisan tangannya miring dan tidak rata, seperti tulisan seseorang yang tidak lama bersekolah. Tintanya sudah memudar menjadi cokelat.

Lale yang terhormat,

"Saya tidak meminta anak saya kembali. Saya tahu saya tidak punya apa-apa untuk membesarkannya. Saya hanya minta satu hal, Kalau suatu hari dia bertanya siapa ibunya, jangan bilang saya sudah meninggal tetapi bilang saja saya masih menunggu di Kawo. Saya akan menunggu sampai batas usia saya".

Seusai membaca surat itu Aina meletakkannya di atas selimut. Lalu tangannya terlihat gemetar.

"Apa mungkin Ibu Sumiati masih hidup? " Ucap Aina seusai membaca surat itu

Aina tampak mematung cukup lama seusai membaca surat itu, Banyak hal yang Aina pikirkan setelah membaca surat itu.

Lale Rukmini yang melihat Aina tampak mematung berulang kali memanggil Aina, Namun Aina masih terdiam.

"Aina, Kamu enggak apa-apa? " Tanya Lale Rukmini yang terlihat khawatir

"Aku enggak apa-apa Ibu, Hanya saja ada sesuatu hal yang membebani isi kepalaku! "

"Kalau boleh Ibu tahu apa itu nak? "

"Aku hanya kepikiran dengan Ibu Sumiati, Bagaimana kondisinya sekarang? Lalu dia tinggal dengan siapa? Pasti dia sangat merindukan putranya terlebih dimasa tuanya! "

Ucapan Aina itu membuat Rukmini tiba-tiba mematung. Wanita berkebaya ungu itu merasa sangat berdosa karena keegoisannya untuk memiliki Raka ia sampai lupa kalau ada seorang Ibu yang sudah pasti akan selalu merindukan anaknya.

Lale Rukmini juga teringat ketika memberikan sogokan berupa uang pada Aina. Entah apa yang ada dipikirannya kenapa Ia sangat egois.

"Aina maafkan Ibu! Ibu hampir mengulang kesalahan yang sama padamu!" ucap Lale Rukmini dengan suara yang nyaris hilang. " Ibu salah Aina tidak seharusnya ibu menyogokmu! Mungkin kamu sulit untuk memaafkan ibu nak, Tapi ibu Terima Karena semua ini terjadi akibat ke egoiskan ibu!" Wanita itu terlihat menangis di depan Aina sembari menunduk dan bahunya tampak terguncang.

"Tadi siang ketika Raka berdiri tepat di depanku dan berkata ia tidak mau anaknya tumbuh di atas kebohongan seperti dirinya, aku sadar Ia tidak tahu apa-apa, tapi hatinya tahu. Seumur hidup ia merasakan ada yang salah, tanpa pernah tahu apa sebabnya dn Raka tidak pernah bisa memilih. Ia tidak pernah tahu dirinya yang sebenarnya."

Aina menatap perempuan tua itu. Kebencian yang selama beberapa hari ini ia simpan untuk Lale Rukmini perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan maaf, Tetapi pemahaman. Perempuan ini juga pernah menjadi korban, lalu tumbuh menjadi pelaku dari luka yang sama.

"Kenapa Ibu menceritakan ini padaku? Bukan pada Raka?"

"Karena aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya pada Raka." Lale Rukmini mengangkat wajahnya, matanya merah. "Kaulah satu-satunya orang yang sekarang berdiri di tempat Sumiati dulu berdiri. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan mengulanginya. Anak itu milikmu,Tidak akan ada lagi yang mengambilnya darimu! Aku bersumpah."

"Aku juga sudah menghubungi bank, Sisa cicilan pinjaman atas namamu akan Ibu lunasi minggu ini. Itu utang keluargaku, bukan utangmu."

Aina yang mendengar itu tidak tahu harus berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan.

Didalam ruangan yang sama Di sebuah kursi plastik di sebelah ranjang, Terlihat Ibu Aina bergerak. Ternyata perempuan itu sudah terbangun entah sejak kapan. Matanya basa lalu Ia menatap Lale Rukmini lama, lalu berkata pelan dengan suara serak.

"Kita sama-sama seorang ibu, Akan tetapi saya tidak tahu apa saya bisa memaafkan. Tapi saya juga seorang wanita saya mengerti perasaan anda. "

Lale Rukmini yang mendengar hal itu seketika menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tanpa suara.

Beberapa saat setelahnya diruangan itu masih tampak hening. Ditengah keheningan itu Aina kembali menatap surat di pangkuannya kemudian membaca nama itu sekali lagi " Sumiati" dengan tempat tinggalnya di desa Kawo.

Aina tampak merenung, Namun tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di sudut ingatannya.

Pada suatu pagi ketika ia menemukan dua garis merah di kamar mandi. Aina merasa sangat bergembira pada hari itu, Sehingga saat sedang melayani antrean warga di kantor camat ia melayani antrean warga dengan hati yang ringan. Pada suatu ketika tiba-tiba datang seorang nenek dari Desa Kawo berjalan mendekat ke arah loketnya, Nenek itu tampak kebingungan karena namanya salah tulis di KTP. Aina sendiri yang membetulkan data itu. Ia masih ingat nenek itu tersenyum lega, menggenggam tangannya, dan berkata sesuatu yang waktu itu terdengar aneh baginya.

"Terima kasih Nak, Semoga dengan saya memperbaiki KTP yang salah ini saya bisa menemukan anak saya!"

Aina sangat mengingat nama yang ia ketik di layar komputer pagi itu, huruf demi huruf, karena nenek itu mengejanya pelan-pelan dengan suara gemetar.

S-U-M-I-A-T-I.

Tangannya berhenti gemetar. Ia mengangkat wajah dan menatap Lale Rukmini.

"Ibu," ucapnya pelan. "Sumiati tidak menunggu sampai umurnya habis, Dia masih hidup dan aku tahu di mana dia tinggal."

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!