Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Kereta api berhenti dengan suara derit rem yang memekakkan telinga.
Cesss.
Asap putih mengepul dari bawah gerbong saat pintu perlahan terbuka.
Astiana Larasati melangkah turun ke peron Stasiun Gambir yang sangat padat.
Udara panas dan pengap ibu kota langsung menampar wajahnya yang masih kelelahan.
Gadis berumur sembilan belas tahun itu mencengkeram erat tali tas ranselnya yang sudah sangat lusuh.
Matanya menatap kosong ke arah kerumunan manusia yang berlalu-lalang tanpa kepedulian.
Hanya ada satu memori menyakitkan yang terus berputar di dalam kepalanya saat ini.
Gundukan tanah merah yang baru saja ia tinggalkan di desa terpencil dua hari yang lalu.
Kakek buyut angkatnya telah pergi meninggalkannya sendirian di dunia ini.
Pria tua yang mengasuhnya dengan penuh kasih sayang sejak ia berumur tujuh tahun itu telah tiada.
Astiana harus merawat sang kakek yang sakit keras selama berbulan-bulan tanpa henti.
Sayangnya, ilmu pengobatan tradisional tingkat tinggi yang ia warisi tetap tidak bisa melawan takdir kematian.
"Astiana, ingat pesan terakhir kakek ini baik-baik."
Suara serak dan lemah sang kakek masih terngiang dengan sangat jelas di telinganya.
"Pergilah ke ibu kota dan cari orang tua kandungmu, tapi kau harus selalu rendah hati."
Astiana menunduk menatap dada di balik kemeja flanel kusam yang ia kenakan.
Ada sebuah liontin batu kristal dingin yang menggantung pasrah di lehernya.
"Kalau liontin itu menyala hijau, itu tandanya kau sudah sangat dekat dengan mereka."
Liontin peninggalan saat ia dibuang sewaktu kecil itu adalah satu-satunya petunjuk yang ia miliki.
Astiana mengusap air mata yang hampir menetes di sudut matanya.
Dia tidak boleh menangis lagi karena perjalanan hidupnya yang sebenarnya baru saja dimulai.
Tap tap tap.
Ribuan langkah kaki bergema bersahutan di stasiun besar ini menciptakan keributan yang memusingkan.
Namun bagi Astiana, ada suara lain yang jauh lebih bising dan mengganggu.
"Tas ibu itu sepertinya berisi banyak uang tunai."
"Gadis desa berpakaian dekil ini pasti sangat mudah ditipu."
"Aku akan menabraknya lalu mengambil ponselnya saat dia lengah."
Suara-suara hati yang kotor dan penuh niat jahat itu menyusup masuk tanpa izin ke telinganya.
Astiana memejamkan mata sambil memijat pelipisnya perlahan karena kepalanya mulai berdenyut sakit.
Dia sudah bertahun-tahun tidak berada di tempat yang seramai dan sepadat ini.
Kemampuan mendengar suara hati manusia ini terkadang menjadi kutukan yang sangat melelahkan baginya.
Astiana menarik nafas panjang untuk mengatur aliran energi di dalam tubuhnya.
Dia memusatkan tenaga dalam ke area telinga untuk menutup frekuensi suara-suara tidak penting itu.
Hening seketika merengkuh benaknya seolah seseorang baru saja menekan tombol bisu.
Hanya suara fisik dari pengumuman stasiun yang kini terdengar normal di telinganya.
Dia kembali berjalan menyusuri peron menuju pintu keluar dengan langkah yang gontai.
Di sudut dekat pilar beton besar, dua orang pria berjaket kulit sedang mengawasi gerak-geriknya.
"Lihat gadis yang berjalan menunduk itu, wajahnya lugu dan bodoh sekali."
"Tas ranselnya tampak penuh, pasti dia membawa semua tabungan hasil bertani dari kampungnya."
Astiana menghentikan langkahnya sejenak saat tubuhnya merespons sinyal bahaya.
Suara hati kedua pria itu bocor menembus pertahanan fokusnya karena niat jahat mereka terlalu pekat.
Astiana melirik lewat sudut matanya tanpa perlu menolehkan kepalanya sama sekali.
Dua pria berwajah preman itu mulai berjalan mendekat dari arah kiri dan kanannya.
Mereka mencoba menjepit posisinya di tengah kerumunan penumpang yang sedang berdesakan.
"Permisi, Nyonya, sepertinya uang Anda baru saja jatuh di sana."
Pria pertama sengaja menabrak bahu Astiana dengan sangat keras.
Brak.
Astiana sama sekali tidak goyah apalagi bergeser dari posisinya berdiri.
Pria itu justru terkejut karena bahunya terasa sakit seperti baru saja menabrak sebuah tiang besi baja.
"Ah, maafkan aku, Nona cantik."
Pria itu memaksakan senyum ramah sambil menunjuk ke arah lantai stasiun.
"Itu ada uang pecahan seratus ribu di dekat sepatumu."
Astiana menatap selembar uang yang tergeletak di lantai itu dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.
"Bukan uangku."
Suara Astiana terdengar datar dan dingin tanpa sedikit pun rasa tertarik.
"Ambil saja, Nona, mungkin ini memang rezeki nomplokmu hari ini."
Pria pertama terus mendesak agar Astiana mau menunduk mengambil uang tersebut.
Sementara itu, di belakang Astiana, pria kedua sudah bersiap melancarkan aksinya.
"Saat dia menunduk mengambil uang, aku akan langsung menyayat bawah tasnya dengan silet cukur ini."
Suara hati pria kedua bergema dengan sangat jelas di telinga Astiana.
"Bagus, potong tasnya pelan-pelan mumpung dia sedang lengah dan fokus pada uang itu."
Suara hati pria pertama ikut menimpali rencana jahat temannya dengan penuh kegirangan.
Astiana menghela nafas pendek yang terdengar sangat lelah.
Dia teringat kembali amanat mendiang kakeknya untuk tidak pernah mencolok atau memamerkan kekuatannya.
"Terima kasih atas kebaikanmu, tapi aku sungguh tidak butuh uang itu."
Astiana membalas dengan nada sopan lalu melangkah maju mengabaikan uang jebakan tersebut.
Pria kedua di belakangnya menjadi panik karena mangsanya bergerak menjauh dari jangkauan siletnya.
"Tunggu dulu, dasar Nona desa sombong."
Pria kedua merangsek maju dan berniat mencengkeram bahu Astiana dengan kasar.
Srek.
Tangan pria kotor itu hampir menyentuh pundak kemejanya.
Namun refleks tubuh Astiana jauh lebih cepat dari kedipan mata.
Dia memutar tubuhnya setengah derajat ke arah kanan dengan gerakan yang sangat mulus bagaikan aliran air.
Tangan pria itu hanya berhasil menangkap angin kosong ruang hampa.
Sebelum pria itu menyadari apa yang terjadi, Astiana menggeser kaki kirinya ke belakang.
Tumit sepatu lusuhnya dengan presisi tingkat tinggi menginjak titik saraf tersembunyi di punggung kaki pria tersebut.
Krak.
"Argh."
Pria kedua menjerit tertahan saat rasa sakit yang luar biasa menusuk menjalar ke seluruh urat kakinya.
Kakinya tiba-tiba lumpuh total dan mati rasa seolah kehilangan seluruh tulang penyangganya.
Brukk.
Pria itu jatuh berlutut di tengah keramaian stasiun sambil memegangi kakinya yang gemetar hebat.
Orang-orang di sekitar mulai menoleh bingung melihat kejadian mendadak itu.
"Hei, apa yang baru saja kau lakukan pada temanku, hah."
Pria pertama membentak marah sambil menuding tepat ke wajah Astiana.
Astiana memasang wajah terkejut dan bingung yang dibuat-buat dengan sangat sempurna.
"Aku sungguh tidak melakukan apa-apa, Tuan."
"Temanmu sepertinya tersandung kakinya sendiri lalu tiba-tiba jatuh berlutut."
Astiana berbicara dengan nada polos dan suara bergetar layaknya gadis kampung yang sedang ketakutan.
Orang-orang yang melihat dari kejauhan mulai berbisik dan mengangguk setuju dengan ucapan Astiana.
Mereka memang hanya melihat pria jaket kulit itu tiba-tiba tersungkur jatuh sendiri tanpa disentuh.
Gerakan serangan balik kaki Astiana terlalu cepat untuk bisa ditangkap oleh mata orang awam.
"Kurang ajar, gadis sialan ini ternyata sangat licik dan berbahaya."
Suara hati pria pertama mengumpat kesal menyadari mereka baru saja dikalahkan tanpa perlawanan yang terlihat.
Dia tahu betul mereka tidak bisa membuat keributan yang lebih panjang di tempat terbuka seperti ini.
Petugas keamanan stasiun yang berseragam sudah mulai berjalan mendekat ke arah kerumunan mereka.
"Ayo bangun, dasar bodoh, kita harus pergi dari sini sekarang juga."
Pria pertama segera menarik kerah baju temannya secara kasar dan menyeretnya menjauh dari Astiana.
Astiana menatap kepergian dua preman amatir itu dengan tatapan mata yang benar-benar kosong.
"Maafkan aku, Kek, hari pertama tiba di sini saja aku sudah terpaksa mematahkan saraf orang."
Astiana membatin meminta maaf pada mendiang kakeknya karena hampir kehilangan kesabarannya.
Dia kembali membetulkan letak tali tas ranselnya dan melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.
Pintu keluar utama stasiun kini tinggal berjarak beberapa meter lagi di depannya.
Cahaya matahari sore Jakarta langsung menyilaukan pandangan Astiana saat dia melangkah keluar dari lobi stasiun.
Udara yang penuh polusi asap knalpot dan deru bising mesin kendaraan langsung menyambut kehadirannya.
Astiana berdiri mematung di tepi jalan raya yang sedang padat merayap oleh kemacetan.
Dia mengeluarkan secarik kertas buram berisi sebuah alamat dari saku celana jinsnya.
"Jalan Sudirman, ini sepertinya masih sangat jauh dari tempatku berdiri sekarang."
Astiana bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil membaca tulisan tangan kakeknya yang sudah mulai pudar.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah melaju dengan sangat kencang melewati genangan air di dekat trotoar tempatnya berdiri.
Wush.
Angin kencang dari laju mobil itu menerpa rambut hitam panjang Astiana hingga berantakan.
Kaca jendela penumpang di kursi belakang mobil mewah itu sedang terbuka setengah.
Untuk hitungan sepersekian detik, pandangan mata Astiana beradu dengan sepasang mata tajam dari dalam mobil tersebut.
Mata seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan yang menatap lurus ke arahnya dengan ekspresi terkejut.
Deg.
Jantung Astiana tiba-tiba berdetak sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sesak.
Rasa hangat yang sangat aneh tiba-tiba menjalar dari dadanya menyebar ke seluruh tubuhnya.
Astiana refleks menunduk dan membuka sedikit kerah kemejanya dengan tangan gemetar.
Di balik kain kusam itu, liontin kristal miliknya menyala dengan pendar hijau yang sangat terang dan menyilaukan.
Cahaya hijau kebiruan itu berkedip dengan cepat seiring semakin menjauhnya laju mobil sedan hitam tersebut.
Astiana terpaku kaku di tempatnya berdiri dengan nafas yang seolah tertahan di tenggorokan.
"Orang tuaku."
Dua kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang kini bergetar menahan luapan emosi.
Mobil sedan mewah itu berbelok tajam di ujung persimpangan jalan dan menghilang sepenuhnya dari pandangannya.
Pencarian panjang Astiana di kerasnya kota metropolis ini ternyata baru saja akan dimulai.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣