NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 — Ketika Tubuh Mulai Menyerah

Pukul enam pagi, Adrian Mahendra sudah terbangun meskipun semalam dia tidur lebih awal daripada biasanya.

Untuk beberapa saat, pria itu duduk di tepi tempat tidur sambil memijat pelipisnya. Kepalanya masih terasa berat, dan tubuhnya seolah belum mendapatkan istirahat yang cukup.

Dia menatap jam di meja samping tempat tidur.

Masih ada waktu sebelum berangkat ke kantor.

Adrian berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu bersiap seperti biasa. Dia mengenakan kemeja putih dan celana bahan berwarna gelap. Setelah merapikan rambutnya, dia menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajahnya terlihat sedikit pucat.

Namun, dia tidak terlalu memikirkannya.

Mungkin tubuhnya hanya membutuhkan kopi.

Dengan pikiran itu, Adrian keluar dari kamar dan turun ke ruang makan.

Alisha sedang duduk sambil memeriksa jadwal kunjungan rumah sakit untuk ibunya. Di sampingnya terdapat secangkir teh dan beberapa lembar catatan yang akan dibawanya ketika bekerja.

Begitu mendengar langkah kaki, Alisha mengangkat kepala.

“Kamu sudah bangun?”

Adrian mengangguk. “Seperti yang kamu lihat.”

Alisha mengerutkan kening sedikit.

“Kenapa wajahmu pucat?”

“Tidak apa-apa.”

“Kamu yakin?”

Adrian menarik kursi di seberangnya.

“Alisha, aku hanya kurang tidur beberapa hari terakhir. Tidak perlu mempermasalahkannya.”

Alisha mengangkat kedua tangan seolah menyerah.

“Baiklah. Aku cuma bertanya.”

Dia kembali memperhatikan catatannya.

Beberapa saat kemudian, seorang pekerja rumah tangga meletakkan sarapan di meja. Adrian mengambil secangkir kopi, tetapi baru menyesap sedikit ketika rasa mual ringan membuatnya berhenti.

Dia meletakkan cangkir itu kembali.

Alisha memperhatikan gerakannya.

“Kamu tidak makan?”

“Nanti.”

“Bukankah kamu harus berangkat ke kantor?”

“Aku masih punya waktu.”

Alisha menatapnya sebentar, kemudian menggeser piring berisi roti ke dekat Adrian.

“Kalau begitu, makan sedikit dulu. Minum kopi saja tidak cukup.”

Adrian memandang piring itu, lalu menatap Alisha.

“Kamu benar-benar suka mengatur orang.”

“Aku tidak mengatur. Aku hanya tidak ingin mendengar kamu mengeluh sakit setelah melewatkan sarapan.”

“Aku tidak pernah mengeluh.”

“Bagus. Semoga saja tetap begitu.”

Alisha kembali memeriksa ponselnya.

Adrian akhirnya mengambil sepotong roti. Dia memakannya perlahan, meskipun selera makannya tidak terlalu baik.

Setelah sarapan, mereka bersiap meninggalkan rumah. Adrian menuju mobilnya, sedangkan Alisha menunggu kendaraan yang biasa digunakannya untuk pergi ke Sweet Morning Bakery.

Sebelum masuk ke mobil, Adrian sempat menoleh.

“Hari ini kamu pulang jam berapa?”

Alisha tampak sedikit heran.

“Seperti biasa. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya.”

“Kalau ada perubahan jadwal, aku akan memberi tahu.”

Adrian mengangguk, lalu masuk ke mobil.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, dia mencoba mengabaikan rasa berat di kepalanya. Dia tetap membuka beberapa berkas di tablet, memeriksa laporan yang dikirim Daniel, dan menyiapkan hal-hal yang perlu dibahas dalam rapat.

Pekerjaan tidak akan menunggu sampai tubuhnya benar-benar siap.

Setidaknya, itulah yang selalu dia yakini.

---

Di Sweet Morning Bakery, Alisha langsung disambut oleh Mira yang sedang memeriksa daftar pesanan.

“Pagi, Alisha! Bisa bantu aku mengecek pesanan untuk acara kantor yang datang nanti?”

“Bisa. Ada berapa kotak?”

“Dua puluh lima. Mereka meminta beberapa jenis roti dan kue.”

Alisha meletakkan tasnya di ruang penyimpanan, kemudian mencuci tangan sebelum mulai bekerja.

Pagi itu toko cukup ramai. Beberapa pelanggan memesan untuk dibawa pulang, sementara pesanan daring terus masuk melalui aplikasi.

Alisha dan Rani bergantian menyiapkan pesanan. Mira menangani kasir sekaligus memastikan semua barang sesuai dengan daftar.

Di tengah kesibukan itu, Alisha sempat melihat ponselnya.

Tidak ada pesan baru dari Adrian.

Dia tidak merasa perlu menghubunginya. Mereka sama-sama sibuk, dan tidak ada urusan yang harus dibicarakan.

Karena itu, dia kembali bekerja.

Menjelang pukul sebelas, pesanan besar berhasil diselesaikan. Alisha membantu Mira menata kotak-kotak kue di meja pengambilan.

“Untung semuanya selesai tepat waktu,” kata Mira lega.

Rani mengangguk. “Aku tadi sempat takut ada pesanan yang tertukar.”

“Untung Alisha memeriksa ulang daftarnya,” ujar Mira. “Kalau tidak, bisa-bisa kita mengirim rasa yang salah kepada pelanggan.”

Alisha tersenyum kecil.

“Kita semua ikut mengerjakannya.”

Mira memandangnya dengan senyum jahil.

“Kalau begitu, nanti kalau kamu sudah kaya raya, jangan lupakan kami.”

Alisha langsung tertawa.

“Kaya raya dari mana? Gajiku saja sudah punya banyak tujuan sebelum sempat kusentuh.”

Mira dan Rani memahami maksudnya. Mereka tahu Alisha harus menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kebutuhan rumah dan pengobatan Ratih.

Rani menepuk bahu Alisha pelan.

“Semoga keadaan ibumu terus membaik, ya.”

“Amin. Terima kasih.”

Alisha tersenyum tulus sebelum kembali membereskan meja.

Meskipun terkadang merasa lelah, dia bersyukur masih memiliki pekerjaan dan teman-teman yang bersedia membantunya.

Untuk saat ini, itulah hal-hal yang ingin dia jaga.

---

Sementara itu, di kantor Mahendra Group, Adrian sedang menghadiri rapat bersama beberapa kepala divisi.

Daniel duduk di sebelahnya sambil mencatat poin-poin penting yang dibahas.

Awalnya, rapat berjalan seperti biasa. Adrian mendengarkan penjelasan mengenai perkembangan proyek, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu memberikan arahan.

Namun, ketika salah seorang kepala divisi menampilkan laporan keuangan, Adrian mendadak kehilangan fokus.

Angka-angka di layar terasa sulit dipahami. Dia mengedipkan mata beberapa kali dan mencoba memusatkan perhatian kembali.

“Pak Adrian?” panggil salah seorang peserta rapat.

Adrian mengangkat kepala.

“Ya?”

“Apakah ada bagian dari laporan ini yang perlu kami jelaskan kembali?”

Adrian melihat layar sekali lagi.

“Bagian pengeluaran operasional. Tolong tampilkan perbandingannya dengan laporan bulan lalu.”

Kepala divisi tersebut segera mengganti tampilan presentasi.

Adrian mencoba mengikuti penjelasan berikutnya. Akan tetapi, rasa pusing yang sejak pagi dirasakannya kini semakin mengganggu.

Dia meletakkan pena di atas meja, lalu menekan pelipisnya dengan dua jari.

Daniel memperhatikan gerakan itu.

“Pak, apakah Bapak ingin beristirahat sebentar?” bisiknya ketika peserta rapat sedang memeriksa data.

Adrian menggeleng tipis.

“Lanjutkan saja.”

“Tapi—”

“Daniel.”

Nada suara Adrian cukup untuk membuat asistennya menghentikan kalimat.

Daniel mengembuskan napas pelan dan kembali melihat catatannya.

Rapat dilanjutkan selama hampir satu jam. Adrian tetap berusaha mengikuti pembahasan, tetapi ketika akhirnya berdiri untuk meninggalkan ruangan, langkahnya sempat melambat.

Dia berpegangan pada sandaran kursi selama beberapa detik.

Daniel yang berjalan di belakangnya segera mendekat.

“Pak?”

Adrian menegakkan tubuh.

“Aku tidak apa-apa.”

“Bapak sudah mengatakan itu sejak pagi.”

“Karena memang begitu.”

Daniel tidak langsung membalas. Dia menatap atasannya dengan ekspresi serius.

“Kalau Bapak terus memaksakan diri, pekerjaan justru bisa terganggu.”

Adrian menatapnya tajam.

“Aku masih bisa bekerja.”

“Kalau begitu, setidaknya izinkan saya mengatur ulang jadwal sore ini.”

Adrian hendak menolak, tetapi rasa pusing kembali muncul. Kali ini, dia harus berhenti sejenak sebelum melanjutkan langkah.

Daniel segera mengambil keputusan.

“Saya akan membatalkan pertemuan internal pukul empat dan memindahkannya ke besok. Untuk dokumen yang perlu ditandatangani, saya akan memilih mana yang benar-benar mendesak.”

Adrian memejamkan mata sebentar.

Dia tahu berdebat lebih jauh hanya akan membuang waktu.

“Baik. Tapi aku tetap akan memeriksa laporan proyek.”

“Baik, Pak.”

Daniel tidak berani memaksakan lebih banyak, tetapi dalam hati dia bertekad memastikan Adrian tidak kembali bekerja sampai larut malam.

---

Menjelang siang, Adrian akhirnya kembali ke ruang kerjanya.

Dia mencoba menyelesaikan laporan yang paling mendesak. Namun, rasa pusing membuatnya beberapa kali berhenti membaca.

Ketika Daniel datang membawa dokumen tambahan, dia mendapati Adrian sedang bersandar di kursi dengan mata terpejam.

Daniel mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka.

“Pak?”

Adrian membuka mata.

“Letakkan di meja.”

Daniel menaruh dokumen tersebut, lalu memandang segelas air yang masih hampir penuh di samping laptop.

“Bapak belum makan siang?”

Adrian melirik jam.

“Belum.”

“Saya akan meminta staf membawakan makanan.”

“Tidak perlu. Aku akan makan nanti.”

Daniel menarik napas panjang.

“Pak, dengan segala hormat, Bapak tidak bisa terus menunda makan dan mengabaikan kondisi tubuh seperti ini.”

Adrian menatap asistennya.

“Sejak kapan kamu menjadi dokter?”

“Saya bukan dokter. Justru karena itu, saya menyarankan Bapak memeriksakan diri kalau kondisinya tidak membaik.”

Adrian terdiam.

Untuk pertama kalinya hari itu, dia tidak segera membantah.

Daniel memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melanjutkan, “Saya bisa menemani Bapak ke klinik setelah pekerjaan yang mendesak selesai.”

“Aku akan mempertimbangkannya.”

Bagi Daniel, jawaban itu sudah lebih baik daripada penolakan langsung.

Dia segera mengatur makan siang dan memastikan tidak ada pertemuan tambahan yang mengharuskan Adrian meninggalkan ruang kerja.

Ketika makanan tiba, Adrian hanya menghabiskan sebagian kecilnya.

Dia tidak berselera, tetapi setidaknya mencoba makan sebelum kembali memeriksa dokumen.

Meski demikian, kondisinya belum benar-benar membaik.

---

Sore hari, Alisha menerima pesan dari nomor yang dikenalnya.

Adrian: Aku mungkin pulang lebih lambat hari ini.

Alisha membaca pesan itu sambil duduk di ruang istirahat toko.

Dia membalas singkat.

Alisha: Baik. Jangan lupa makan malam.

Beberapa menit kemudian, Adrian menjawab.

Adrian: Aku sudah makan siang.

Alisha tersenyum tipis melihat balasan tersebut.

Alisha: Aku tidak bertanya apakah kamu sudah makan siang.

Tidak ada balasan setelah itu.

Alisha menggeleng kecil, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Kenapa tersenyum sendiri?” tanya Rani yang baru masuk membawa sebotol air mineral.

“Tidak ada.”

“Pasti ada sesuatu.”

“Adrian bilang dia pulang terlambat.”

Rani langsung mengangkat alis.

“Wah, sekarang kalian saling memberi kabar, ya?”

Alisha menatapnya datar.

“Kami tinggal serumah. Bukankah wajar kalau memberi tahu satu sama lain?”

“Wajar, sih.”

“Kalau begitu, kenapa ekspresimu seperti baru menemukan berita besar?”

Rani tertawa.

“Tidak apa-apa. Aku cuma senang melihatmu mulai punya teman bicara di rumah.”

Alisha menghela napas, tetapi tidak tersinggung.

“Dia tetap sibuk dengan pekerjaannya, dan aku juga sibuk dengan pekerjaanku. Tidak ada yang istimewa.”

Rani mengangguk seolah menerima jawaban itu, meskipun senyumnya belum menghilang.

Alisha tidak melanjutkan pembicaraan. Dia tahu Rani hanya bercanda.

Namun, dalam hati, dia memang tidak menganggap pesan-pesan singkat Adrian sebagai tanda perubahan perasaan.

Pernikahan mereka memiliki batas waktu yang jelas. Selama mereka bisa hidup berdampingan tanpa menimbulkan masalah, Alisha merasa itu sudah cukup.

---

Malam mulai turun ketika Adrian akhirnya menutup laptopnya.

Ruang kerja yang sejak pagi dipenuhi dokumen kini terasa semakin sunyi. Daniel sudah beberapa kali mengingatkannya untuk pulang, dan kali ini Adrian tidak lagi mencari alasan untuk menunda.

Dia memasukkan berkas yang perlu dibawa ke dalam tas, lalu berdiri.

Namun, begitu melangkah menuju pintu, kepalanya terasa berputar.

Adrian segera berpegangan pada tepi meja.

Dia menunggu sampai rasa itu mereda sebelum kembali berdiri tegak.

Daniel yang kebetulan hendak masuk langsung menghentikan langkah.

“Pak Adrian!”

Adrian menoleh.

“Ada apa?”

Daniel terlihat semakin khawatir.

“Bapak benar-benar perlu memeriksakan diri.”

Adrian mengusap keningnya.

“Pusingku belum hilang.”

“Kalau begitu, kita pergi ke dokter sekarang.”

Adrian ingin mengatakan bahwa dia bisa pulang dan beristirahat saja. Akan tetapi, melihat kekhawatiran Daniel, dia akhirnya mengangguk.

“Baik. Hubungi klinik yang biasa menangani perusahaan.”

Daniel segera mengurusnya.

Setelah pemeriksaan, dokter menyampaikan bahwa Adrian mengalami kelelahan dan perlu beristirahat. Dokter juga menyarankan agar Adrian memperhatikan pola makan dan tidurnya, serta kembali untuk pemeriksaan lanjutan jika keluhan tidak membaik atau muncul gejala lain.

Adrian mendengarkan penjelasan itu dengan ekspresi datar.

Daniel, sebaliknya, terlihat seperti seseorang yang baru saja mendapatkan pembenaran atas semua peringatannya sejak pagi.

Dalam perjalanan pulang, Daniel berkata, “Saya harap Bapak benar-benar beristirahat malam ini.”

Adrian menyandarkan kepala pada jok.

“Aku akan beristirahat.”

“Tanpa membuka laptop?”

Adrian meliriknya.

“Daniel.”

“Baik, Pak. Saya tidak akan bertanya lagi.”

Daniel menahan senyum tipis, lalu kembali fokus pada jalan.

---

Ketika Adrian tiba di rumah, Alisha sedang duduk di ruang tengah sambil memeriksa beberapa catatan.

Dia mengangkat kepala ketika mendengar pintu dibuka.

“Kamu baru pulang?”

Adrian mengangguk pelan.

“Iya.”

Alisha hendak kembali melihat catatannya, tetapi kemudian menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Adrian tampak jauh lebih lelah daripada ketika mereka sarapan.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Alisha menutup buku catatannya.

“Jangan bilang hanya kurang tidur lagi.”

Adrian tidak menjawab.

Alisha berdiri dan mendekatinya.

“Kamu sudah makan?”

“Sudah.”

“Lalu kenapa wajahmu seperti orang yang hampir tidak tidur selama tiga hari?”

Adrian menatapnya dengan ekspresi lelah.

“Dokter bilang aku kelelahan dan harus beristirahat.”

Alisha terdiam sejenak.

“Kamu sudah pergi ke dokter?”

“Daniel yang memaksaku.”

“Bagus kalau begitu. Setidaknya ada orang yang bisa membuatmu berhenti bekerja.”

Adrian menghela napas.

“Bahkan kamu juga akan mengatakan hal yang sama?”

“Karena memang seharusnya begitu.”

Alisha mengambil tas yang masih dipegang Adrian dan meletakkannya di meja dekat pintu.

“Kalau dokter menyuruhmu istirahat, istirahatlah. Pekerjaanmu tidak akan selesai kalau kamu justru jatuh sakit.”

Adrian menatap perempuan itu.

Ada sesuatu dalam cara Alisha berbicara yang terasa berbeda dari teguran Daniel. Dia tidak berbicara seperti seorang asisten yang khawatir pekerjaannya akan terganggu, melainkan seperti seseorang yang sungguh-sungguh menganggap kesehatan sebagai hal yang tidak boleh diabaikan.

Namun, Adrian tidak ingin menafsirkan perhatian itu secara berlebihan.

“Aku tahu,” jawabnya singkat.

Alisha mengangguk.

“Kalau begitu, naiklah ke kamar. Aku akan menyiapkan air hangat.”

“Tidak perlu repot.”

“Aku juga akan menggunakan air hangat. Jadi, aku tidak sedang melakukan sesuatu yang khusus untukmu.”

Adrian hampir tersenyum mendengar jawabannya.

“Baiklah.”

Dia berjalan menuju kamar, sementara Alisha pergi ke dapur.

Beberapa menit kemudian, perempuan itu meletakkan segelas air hangat di meja dekat kamar Adrian setelah mengetuk pintu dan mendapat izin masuk.

“Ini. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, bilang saja.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama. Jangan bekerja lagi malam ini.”

Adrian menatapnya.

“Kamu juga tidak perlu mengingatkanku setiap lima menit.”

Alisha menyipitkan mata.

“Kalau kamu tidak keras kepala, aku juga tidak perlu mengingatkanmu.”

Setelah mengatakan itu, Alisha keluar sebelum Adrian sempat membalas.

Untuk pertama kalinya hari itu, Adrian tertawa kecil seorang diri.

Suara tawanya tidak berlangsung lama, tetapi cukup membuat suasana kamar terasa sedikit berbeda.

Dia kemudian meletakkan ponselnya, mematikan lampu meja, dan berbaring.

Malam itu, Adrian benar-benar tidak membuka laptopnya lagi.

---

Di kamarnya sendiri, Alisha sedang mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya untuk mengunjungi Ratih dua hari lagi.

Dia memasukkan buku catatan, dompet, dan beberapa dokumen rumah sakit ke dalam tas.

Sebelum tidur, dia sempat memikirkan kondisi Adrian.

Pria itu memang sering bekerja terlalu keras. Kalau kebiasaan tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin dia akan jatuh sakit lagi.

Alisha menghela napas pelan.

“Semoga besok dia sudah lebih baik,” gumamnya.

Setelah itu, dia meletakkan tas di dekat lemari dan bersiap tidur.

Dia tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa dengan memperhatikan keadaan Adrian. Mereka tinggal di rumah yang sama, dan jika salah satu dari mereka sakit, tentu kehidupan sehari-hari bisa ikut terganggu.

Setidaknya, itulah alasan yang dia berikan kepada dirinya sendiri.

Di kamar sebelah, Adrian masih terjaga selama beberapa menit sebelum akhirnya memejamkan mata.

Rasa lelah yang menumpuk membuatnya tidak lagi ingin memikirkan pekerjaan.

Namun, sebelum benar-benar tertidur, pikirannya sempat tertuju pada Alisha yang tadi membawakannya air hangat.

Perempuan itu tidak banyak bertanya, tidak menunjukkan kepanikan berlebihan, dan tidak membuatnya merasa harus menjelaskan segala sesuatu.

Dia hanya menyuruhnya beristirahat.

Sederhana, tetapi entah mengapa terasa menenangkan.

Adrian memalingkan wajah ke sisi lain bantal.

Mungkin karena selama ini dia terlalu terbiasa mengurus segala sesuatu sendirian, sehingga perhatian sekecil itu terasa berbeda.

Dia tidak mencoba mencari jawaban lebih jauh.

Untuk saat ini, dia hanya perlu beristirahat.

Sementara itu, Alisha sudah tertidur di kamarnya sendiri, tidak mengetahui bahwa perhatian sederhana yang diberikannya mulai meninggalkan kesan dalam pikiran Adrian.

Mereka masih berada di dua kamar yang berbeda, menjalani kehidupan yang terikat oleh sebuah perjanjian yang belum diketahui siapa pun selain mereka dan Daniel.

Dan tanpa disadari keduanya, kebiasaan-kebiasaan kecil itu perlahan membentuk sesuatu yang belum memiliki nama.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!