NovelToon NovelToon
Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zikri Cahyandi

Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.

Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.

Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.

Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemberitahuan Resmi

Dering ponsel di genggaman Devan menyisakan keheningan yang menekan di ruang kerjanya. Di luar jendela tinggi berbingkai kayu, fajar merambat pelan menembus langit kelabu Jakarta dan menjatuhkan cahaya pucat di atas kotak jati yang masih terbuka di meja.

Nama itu masih berputar di kepalanya. Karen Alyssa Mahendra.

"Tuan Devan?" Hendri memanggil dari seberang. "Anda masih di sana?"

Devan menarik napas dan menetralkan suaranya. "Aku di sini. Kapan RUPS Luar Biasa itu dijadwalkan?"

"Dua minggu dari sekarang, Tuan. Porsi A-K Capital sudah di atas sepuluh persen setelah pembelian pagi tadi, jadi syarat penyelenggaraannya terpenuhi. Agenda tunggalnya penggantian Direktur Utama."

"Terima pendaftarannya. Jangan ajukan keberatan dan jangan minta penundaan ke Pengadilan Niaga."

Hendri diam beberapa detik. "Tuan, kalau kita tidak mengajukan penundaan, posisi Anda akan gugur otomatis saat pemungutan suara."

"Biarkan gugur. Lakukan saja."

"Bagaimana dengan komisaris senior? Beberapa dari pihak pendiri pasti menolak penyerahan ini."

"Aku sendiri yang menghadapi mereka. Kamu pastikan tidak ada sabotase dari dalam."

Devan memutus sambungan. Ia menaruh ponsel di meja, lalu menutup kotak jati itu dengan hati-hati. Amplop di dalamnya masih terbungkus rapi. Ia tidak menyentuhnya lagi sejak berdiri di depan brankas.

Ia berjalan ke jendela. Pekarangan di bawah mulai terang. Setiap pagi pukul enam, selama tiga tahun, Alyssa berdiri di sana menyiram bunga kertas kesukaan Kakek sebelum menyiapkan sarapan. Devan melewatinya begitu saja, tidak pernah menyapa, tidak pernah menoleh.

Ia baru mengerti arti kehadiran seseorang setelah orang itu berdiri di puncak, siap menghancurkan hidupnya.

***

Tepat pukul delapan, badai informasi menghantam publik.

Seluruh stasiun berita dan portal korporat merilis rekam medis Nadine dan klip empat K dari ruang rapat Narendra. Publik menyaksikan wanita yang lima tahun mengaku lumpuh itu berdiri, berjalan, dan memaki dengan wajah penuh kebencian. Tim hukum Devan merilis rekaman audio lima tahun lalu: suara Siska dan Nadine yang merencanakan kecelakaan itu.

Dalam dua jam, puluhan wartawan dan petugas Polda mendatangi rumah keluarga Vanya. Wira dan Nadine dijemput atas dugaan pemalsuan dokumen, pemerasan, dan konspirasi. Di layar televisi ruang kerja Devan, Nadine berteriak histeris ketika digiring ke mobil tahanan. Aset Vanya Logistics disita kurator, dan saluran kredit mereka ditutup.

Devan mematikan layar dengan remote. Tidak ada kemenangan di dadanya. Hanya ruang kosong yang makin lebar.

Pintu terketuk. Hendri masuk membawa amplop linen biru tua dengan segel lilin emas.

"Kurir dari firma hukum Aris Setiawan baru menyerahkan ini, Tuan. Pemanggilan resmi RUPSLB dan permohonan audit pra-akuisisi."

Segel itu bergambar dua lambang yang saling bertaut: A-K Capital dan Mahendra Corp. Devan mematahkannya dan menarik keluar tiga lembar kertas tebal. Di halaman pertama ada tanda tangan tinta hitam yang sangat ia kenal sejak surat gugatan di meja kerjanya.

Karen Alyssa Mahendra.

Di bawahnya ada satu baris tulisan tangan.

Kalau kamu masih punya keberanian menatap saya, datanglah ke Mahendra Tower sore ini. Bawa apa pun yang ingin kamu kembalikan.

Devan menatap baris itu lama. Ibu jarinya menyentuh goresan tintanya, pelan, seolah masih ada kehangatan di sana.

***

Pukul empat sore, Sudirman dikungkung mendung. Gerimis tipis mulai turun ketika sedan hitam Devan berhenti di pelataran Mahendra Tower, pencakar langit lima puluh lantai berdinding kaca biru gelap.

Devan turun dengan setelan hitam tanpa dasi. Map kulit berisi surat-surat Kakek ada di balik jasnya. Di tangan kirinya ia membawa kotak jati kecil. Di saku, saputangan terlipat dengan gelang perak di dalamnya.

Dua pengawal membukakan pintu kaca dan mengantarnya melewati lobi marmer hitam menuju lift eksekutif. Lift meluncur tanpa guncangan ke lantai lima puluh. Koridor berdinding kaca memperlihatkan seluruh Jakarta di bawah awan.

Di ujung koridor, di depan pintu kayu jati ganda berukir lambang Mahendra Corp, Aris menunggu sambil merapikan jasnya.

"Selamat sore, Tuan Devan."

"Selamat sore. Dia di dalam?"

"Nona menunggu Anda." Aris menggeser tubuhnya dan memutar gagang pintu. "Satu hal, Tuan. Pertemuan ini pribadi, tapi seluruh dokumen di dalam ruangan mengikat secara hukum. Mohon jaga sikap."

"Aku tidak datang untuk bertindak gegabah." Devan menatapnya lurus. "Aku datang untuk mengembalikan sesuatu."

Aris mendorong pintu hingga terbuka lebar.

***

Ruang kerja itu luas, putih bersih dengan aksen kayu mahoni tua. Dinding kaca setinggi empat meter di sisi barat menyajikan awan mendung dan gerimis yang menggaris di atas gedung-gedung.

Di balik meja jati besar yang menghadap kaca, seorang wanita berdiri membelakangi pintu dengan blazer biru gelap. Kedua tangannya terlipat di belakang punggung. Rambut hitam bergelombangnya terurai hingga pinggang.

Devan berhenti lima langkah di belakangnya. Tenggorokannya tercekat.

"Alyssa."

Wanita itu tidak langsung berbalik. Ia membiarkan hening mengendap, lalu memutar tubuhnya pelan.

Devan lupa bernapas.

Alyssa Kirana. Wanita yang selama tiga tahun ia pandang sebelah mata, yang dulu duduk di meja makan dengan gaun krem dan kepala tertunduk. Wanita yang berdiri di depannya sekarang tidak menunduk pada siapa pun. Mata cokelat terangnya jernih dan tajam. Wajahnya tenang, tanpa sisa kepasrahan.

Ia memperhatikan Devan dari kepala sampai kaki: kemeja kusut, mata merah, kantung hitam yang dalam.

"Selamat sore, Tuan Devan Narendra."

"Jangan panggil aku begitu. Aku mohon."

Sudut bibir Alyssa terangkat sedikit, tanpa kehangatan. "Lalu saya harus memanggil apa? Tuan CEO? Atau suami yang baru sadar bahwa istrinya bukan pemeras harta?"

Devan menunduk. Kata-kata itu mengiris tepat di tempat yang tidak ia sembunyikan lagi.

"Kamu berhak membenciku seumur hidup." Suaranya pecah. "Aku datang bukan untuk membela diri."

Ia meletakkan benda-benda yang ia bawa ke atas meja Alyssa satu per satu.

Map kulit berisi surat-surat Kakek Broto.

Buku catatan biru bersampul kulit pudar, dengan inisial A.K.S di sudutnya.

Saputangan yang terlipat. Ketika ia membukanya, gelang perak tipis berukir daun terlihat di dalam, dan Alyssa tak sengaja menahan napas.

Terakhir, kotak jati kecil. Tutupnya masih tertutup rapat.

"Amplop di dalamnya tidak kubuka," kata Devan. "Kamu bilang jangan. Aku ingin kamu tahu, satu kali ini aku mendengarkan."

Tatapan Alyssa turun ke kotak itu, lalu ke gelang di sampingnya. Wajahnya tidak berubah. Tapi ibu jari kanannya bergerak ke pergelangan kirinya yang kosong, lalu berhenti. Devan melihatnya.

Alyssa menyembunyikan tangannya di balik punggung.

"Dari mana kamu tahu gelang itu bisa membukanya?"

"Motif daun di tutupnya. Aku mencoba, dan terbuka."

Alyssa tidak menjawab. Matanya kembali pada Devan.

"Aku sudah tahu namamu yang sebenarnya, Alyssa. Karen Alyssa Mahendra. Aku tahu uang yang menyelamatkan Narendra lima tahun lalu berasal dari Mahendra Corp, dan aku tahu Kakek sengaja menikahkan kita untuk melindungimu."

"Kamu baru tahu hari ini." Suara Alyssa pelan dan datar. "Sementara saya membawa semuanya selama tiga tahun di rumah itu."

Devan menjatuhkan lututnya ke marmer di depan meja. Seorang CEO yang pernah membuat seluruh gedungnya gemetar kini bersimpuh tanpa sisa kesombongan.

"Maafkan aku." Tangisnya akhirnya pecah. "Maafkan aku karena buta. Maafkan aku karena tidak pernah bertanya, tidak pernah melindungimu, dan membiarkan mereka menginjakmu di rumahku sendiri."

Dada Alyssa naik turun sekali. Tangannya mengepal di balik punggung, menahan dorongan untuk meraihnya.

"Berdirilah, Devan." Suaranya kembali keras. "Berlutut tidak mengembalikan tiga tahun saya."

Devan mengangkat wajah. "Aku tidak akan melawan RUPS itu. Aku akan menyerahkan seluruh sahamku dan hak kendali Narendra Group kepadamu tanpa syarat."

"Kamu kira itu cukup?"

"Aku tidak tahu apa yang cukup." Ia berdiri perlahan. "Tapi aku tahu satu hal yang belum kamu dengar."

Alyssa menunggu.

"Malam saat Ibu kena serangan jantung, ponselnya berdering. Nama pemanggilnya hanya satu huruf: B. Aku mengangkatnya tanpa bersuara." Devan menatap matanya. "Seorang laki-laki bilang, 'Kamu sudah mengamankan rekaman milik Nadine itu? Jangan sampai jatuh ke tangan anakmu.' Nomornya terdaftar di anak perusahaan Mahendra Corp."

Mata Alyssa menyipit sangat tipis. Itu satu-satunya perubahan di wajahnya.

"Kamu tahu siapa dia," kata Devan pelan.

"Saya tahu," jawab Alyssa singkat. "Dan dia tahu lebih banyak dari yang kamu kira."

"Biarkan aku membantumu."

"Anda sudah tidak memegang posisi apa pun untuk membantu saya, Devan."

"Tidak harus sebagai CEO." Suaranya mantap, meski matanya merah. "Aku hanya ingin satu hal. Sebelum kamu mengambil Narendra, biarkan aku memastikan orang yang melukaimu tidak lolos."

Alyssa menatapnya lama. Di mata laki-laki itu ia tidak lagi menemukan suaminya yang angkuh. Hanya seseorang yang sudah kehilangan hampir semuanya, dan sedang memilih apa yang masih bisa ia pegang.

Ia hampir menjawab ketika pintu terketuk dua kali.

Aris masuk tanpa menunggu izin. Wajahnya, yang biasanya tidak pernah goyah, kini kaku.

"Nona. Maaf. Ada kabar dari Polda."

Alyssa menoleh. "Katakan."

"Nadine Vanya ditemukan tak sadarkan diri di sel tahanan satu jam lalu. Dugaan awal keracunan. Dia dilarikan ke rumah sakit dengan pengawalan."

Hening menelan ruangan.

Devan menatap Alyssa. Alyssa menatap Aris. Lalu keduanya, hampir bersamaan, memikirkan hal yang sama.

"Dia mulai membungkam orang yang tahu terlalu banyak," kata Alyssa pelan.

Wajah Devan memucat. "Dan yang berikutnya..."

Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ibunya terbaring sendirian di ICU, di rumah sakit yang sama dengan yang akan mereka lewati malam ini.

.....

.....

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!