Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zahmira Dan Istilah Bokek
Bab 6
"Bokek?" ulang Zahmira melafalkan kata asing itu dengan nada kebingungan yang kentara. "Apa itu bokek? Apakah itu bentuk kutukan ekonomi yang melanda bangsa kalian di dunia fana ini?"
Perempuan bergaun ungu itu menurunkan sebelah tangannya yang tadi sempat terulur. Ia menatap Raka, Bayu, dan Dimas dengan kening berkerut dalam, sementara alisnya yang terbentuk sempurna bertaut rapat. Jelas sekali bahwa kata asing yang baru saja didengarnya benar-benar berada di luar jangkauan kosakata bangsawan gaibnya.
"Apa itu bokek?" tanya Zahmira sekali lagi. Suaranya terdengar penasaran, meski tetap mempertahankan nada angkuh yang melekat pada dirinya sejak lahir.
"Apakah itu sejenis wabah penyakit menular di dunia kalian yang membuat penampilan kalian tampak begitu... kumuh, kusut, dan menyedihkan?"
Bayu perlahan membuka satu matanya, mengintip dari balik tangannya yang masih merapat di dada seolah sedang berlindung dari badai. Napasnya masih memburu, tapi rasa takutnya perlahan bercampur dengan rasa lapar yang sudah ia tahan sejak pagi.
"Bukan penyakit menular, Ratu Jin... Eh, Mbak Zahmira. Bokek itu kondisi darurat nasional di mana isi dompet kita lebih tipis daripada kulit lumpia basah yang baru diangkat dari wajan."
Zahmira semakin tidak paham. Ia melangkah maju satu langkah kecil dengan anggun, membuat tiga pemuda itu refleks mundur serempak. Ujung gaun ungunya yang panjang menyeret debu tipis di lantai papan yang sudah rapuh. Aroma wangi melati dan dupa yang dibawanya semakin menguar ke udara, berpadu dengan bau pengap rumah tua yang dipenuhi debu tebal sisa bertahun-tahun ditinggal pergi penghuninya. Cahaya sore yang masuk dari celah atap bocor membuat debu-debu beterbangan terlihat jelas di sekitar gaunnya.
"Dompet?" Zahmira melirik sekilas ke arah saku celana Raka yang tampak kempis tak berdaya. "Benda kulit apa itu? Mengapa benda sekecil itu bisa menentukan tingkat penderitaan hidup kalian di dunia manusia?"
Raka menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai diri di tengah situasi yang semakin membingungkan ini. Debu yang beterbangan membuat tenggorokannya sedikit gatal, tapi ia tahan.
Menghadapi jin galak ternyata tidak jauh berbeda dengan menghadapi Bu Ratna sama-sama suka menginterogasi tanpa kenal lelah, bedanya yang satu pakai daster batik warna hijau lumut kesayangannya yang sudah agak pudar, sedangkan yang satunya lagi memakai pakaian bangsawan khas alam jin yang berkilauan oleh sulaman benang emas di bagian ujung lengan.
"Begini, Mbak Zahmira," jawab Raka perlahan, berusaha menjelaskan realita kehidupan manusia dengan bahasa sesederhana mungkin agar mudah dicerna oleh makhluk dari alam lain yang tidak mengerti urusan duniawi. "Di dunia kami, manusia tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan aura mistis atau kekuatan gaib semata. Kami butuh lembaran kertas berharga yang disebut uang untuk bertahan hidup, membayar tempat tinggal yang biasa kami sebut kos, hingga membeli kebutuhan sehari-hari seperti beras dan air minum."
Zahmira menyipitkan matanya, menatap Raka dengan tatapan menyelidik. "Kos? Tempat tinggal? Bukankah kalian manusia memiliki rumah atau istana sendiri?
Mengapa kalian harus menyewa sebuah ruangan sempit dan menyerahkan lembaran kertas itu kepada orang lain?"
"Karena kami tidak punya rumah, Mbak," sahut Bayu cepat dengan nada memelas. Wajahnya dibuat sedih sebisa mungkin, berharap sedikit rasa iba dari sang putri gaib. "Kami ini pendatang di desa ini untuk menuntut ilmu. Tempat tinggal yang kami tempati itu milik seorang ibu pemilik rumah yang galaknya melebihi penjaga gerbang alam gaib. Namanya Bu Ratna. Kalau dia sudah teriak, ayam tetangga saja bisa langsung bertelur."
"Ibu pemilik rumah?" Zahmira semakin mengernyitkan dahi, tampak benar-benar asing dengan sistem sewa-menyewa di dunia manusia. Ia melipat tangannya di depan dada. "Jadi, kalian menempati ruangan milik manusia lain, lalu kalian harus memberikan lembaran kertas bergambar kepada pemiliknya secara berkala? Sungguh merepotkan."
"Betul sekali, Ratu Jin," timpal Dimas dengan nada datarnya. Ia masih bersandar di meja kayu tua agar tidak jatuh karena kakinya masih lemas. "Kalau kami gagal memberikan kertas itu tepat waktu, pemilik rumah akan mengusir kami dan merampas kasur tempat kami tidur. Makanya kami ke sini, mau cari besi tua buat dijual."
Zahmira mendengus sinis, memalingkan wajahnya sejenak untuk menatap sekeliling ruang tengah yang dipenuhi sarang laba-laba dan debu. Matanya menyapu dinding yang catnya sudah mengelupas dan langit-langit yang penuh jaring laba-laba. "Tempat ini dulunya tempat yang tenang untuk menyepi dari kebisingan. Tapi kedatangan kalian bertiga benar-benar merusak seluruh ketenangan suasana hanya karena urusan secarik kertas sewa ruangan itu."
"Kami juga tidak punya niat numpang ngadem di sini kalau dompet kami tidak kosong melompong dan terancam diusir pemilik rumah, Mbak," timpal Dimas tanpa rasa takut berlebih. "Sumpah, kalau tahu rumah mangkrak ini ada penunggunya yang secantik Mbak Zahmira, kami pasti datang membawa sesuatu, minimal makanan ringan yang disebut gorengan dari pasar depan."
Mendengar kata-kata asing itu, Zahmira menatap Dimas dengan tatapan jijik seolah-olah Dimas baru saja menawarkan racun paling berbahaya di dunia.
"Gorengan? Makanan apa itu? Apakah itu semacam sesajen yang biasa kalian berikan kepada makhluk gaib penunggu pohon besar di desa ini?"
"Bukan sesajen, itu mah sarapan wajib umat kelaparan," sahut Bayu cengengesan, mulai berani menurunkan tangannya sepenuhnya karena merasa perdebatan absurd ini mulai agak santai. "Ada tempe, tahu isi, bakwan. Anget-anget, enak dimakan pas hujan."
Raka memperhatikan interaksi di depannya dengan saksama. Ada satu hal yang mengganjal di benaknya sejak tadi. Putri jin bangsawan yang kelihatan begitu terhormat dan sombong ini mendadak terdampar di bangunan tua Desa Kertajaya tanpa persiapan yang jelas di dunia manusia. Gaunnya memang indah, tapi di ujung bawahnya ada noda debu, dan hiasan kepalanya sedikit miring seperti habis melakukan perjalanan jauh.
"Omong-omong, Mbak Zahmira..." pancing Raka hati-hati, mencoba menyusun strategi di tengah situasi yang genting ini. "Kalau Mbak ini bangsawan dari alam jin, kok bisa nyasar sampai ke rumah kosong di Kertajaya? Mbak tidak sedang... butuh tempat tenang sebentar, kan?"
Zahmira langsung menoleh tajam ke arah Raka, matanya membelalak sedikit karena merasa tersinggung oleh pertanyaan telak tersebut. Ia menegakkan punggungnya, dagunya sedikit terangkat.
"Jaga ucapanmu, manusia lancang! Aku tidak kabur dari siapapun! Aku sedang... melakukan perjalanan untuk menenangkan diri dari masalah pelik di duniaku. Itu bukan urusan kalian!"
"Menenangkan diri di rumah yang lampunya mati total dan banyak sarang laba-laba?" celetuk Bayu spontan, gagal menahan rasa penasarannya yang memang sudah mendarah daging sejak lahir.
Zahmira terdiam sejenak, bibirnya mengerucut. Ia tidak menjawab, hanya membuang muka dengan kesal. Jelas sekali ia menyembunyikan sesuatu, tapi ia tidak ingin tiga manusia di depannya tahu terlalu banyak.
Raka dan Dimas saling pandang, menyadari bahwa ada cerita yang belum ingin diceritakan oleh putri gaib itu.
Sebelum Zahmira sempat melayangkan tatapan maut atau ancaman sihirnya yang mengerikan, perut Bayu tiba-tiba berbunyi kencang. Krucuk...
Suara itu bergema cukup jelas di ruangan yang sunyi, memecah ketegangan dalam sekejap mata. Bayu langsung meringis malu sambil memegang perutnya sendiri yang terasa perih melilit, membuat suasana tegang di ruangan itu mendadak luntur oleh keroncongan lambung seorang pemuda bokek.