H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Aroma kain katun premium dan harum kopi hitam menyatu di udara ruangan seluas empat kali lima meter itu. Suara dengung mesin jahit dari lantai bawah terdengar samar, berpadu dengan ketukan jemari Kalea Mahika yang tak henti menari di atas layar tablet grafisnya. Di usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun, Mahika sudah dipercaya menduduki posisi sebagai Lead Designer di pabrik konveksi dan distro pakaian lokal bertajuk Aura Fashion.
Mahika menghentikan pergerakan jemarinya. Ia menghela napas panjang, merenggangkan jemari tangan kanan yang terasa sedikit kaku setelah tiga jam berturut-turut menyelesaikan draf koleksi teranyar. Mata indahnya yang berbinar lembut kemudian teralih pada sudut kanan meja kerjanya.
Di sana, bersandar sebuah bingkai foto kayu berukuran mini. Dua sosok manusia mengenakan seragam putih-abu berfoto di depan gerbang sekolah dengan senyum merekah, saling merangkul bahu. Di sebelahnya, ada foto baru yang diambil beberapa bulan lalu sosok wanita berhijab pasmina warna krem yang tersenyum anggun di samping pria berjas hitam yang merangkul pinggangnya dengan erat.
Mahika tersenyum tipis. Jemari lentiknya mengusap kaca bingkai foto tersebut dengan sangat hati-hati, seolah takut menggores kenangan manis yang tersimpan di dalamnya.
Delapan tahun. Bukan waktu yang singkat untuk mengukir kisah bersama satu orang yang sama.
Pintu ruangan kerja Mahika mendadak terdorong pelan tanpa ketukan. Seorang pria bertubuh jangkung dengan kemeja tergulung hingga siku melangkah masuk. Wajahnya yang tampan dihiasi senyum hangat yang teramat familiar. Di tangan kanannya, ia membawa kantong plastik berisi satu cup iced matcha latte kesukaan Mahika.
"Masih belum selesai, calon pengantin?" sapa pria itu dengan nada goda yang amat renyah.
Mahika mendongak, matanya berbinar seketika. "Reno? Bukannya kamu tadi bilang masih ada rapat sama vendor kain di lantai bawah?"
Reno Alamsyah pria yang telah membersamai Mahika sejak masa putih-abu melangkah mendekat. Ia meletakkan minuman dingin itu tepat di samping bingkai foto kayu mereka, lalu menarik kursi lipat di depan meja kerja Mahika dan mendudukinya.
"Rapatnya dimajukan sepuluh menit tadi, Mahika. Dan begitu selesai, pikiran aku cuma satu," ucap Reno seraya menyandarkan punggungnya, menatap Mahika dengan tatapan penuh kehangatan.
"Apa itu?" Mahika mengangkat sebelah alisnya, berpura-pura tidak tahu.
"Melihat tunangan aku yang paling cantik ini, sebelum dia resmi jadi istri aku dalam waktu satu bulan ke depan," jawab Reno terkekeh pelan. Ia meraih jemari Mahika di atas meja, mengusap punggung tangan wanita itu dengan lembut. "Satu bulan lagi, Mahika. Cuma tiga puluh hari lagi."
Dada Mahika berdesir hangat. Kalimat itu terdengar bagai musik paling indah di telinganya. "Rasanya masih kayak mimpi ya, Ren?"
"Mimpi gimana?" Reno mengusap jempolnya di punggung tangan Mahika, matanya menatap bingkai foto di sudut meja. "Foto itu?"
"Iya," Mahika tertawa kecil, suara tawanya halus dan menenangkan. "Aku lagi lihatin foto masa SMA kita tadi. Dulu kamu masih kurus banget, rambut agak berantakan, terus suka telat masuk sekolah cuma gara-gara nungguin aku selesai piket."
Reno ikut tertawa. "Tapi pria kurus dan berantakan itu yang sekarang berdiri di samping kamu, kan? Yang nemenin kamu dari zaman kita cuma mampu beli es krim satu berdua di pinggir jalan gara-gara uang saku pas-pasan."
"Bukan cuma es krim," seloroh Mahika dengan mata berbinar kenangan. "Ingat enggak pas semester empat kuliah? Saat itu motor kamu mogok di tengah hujan deras, terus kita harus dorong motor hampir dua kilo sambil ketawa-ketawa gara-gara sepatu kita kemasukan air?"
"Tentu aku ingat," jawab Reno melunak, tatapannya menyiratkan nostalgia yang dalam. "Masa-masa tersulit kita. Kamu yang selalu buat mi instan dua bungkus dibagi dua pas tanggal tua di kontrakan teman. Kamu yang selalu nemenin aku nugas sampai subuh, padahal paginya kamu sendiri harus ada kuliah praktikum."
"Tapi kita berhasil melaluinya, kan?" Mahika menatap Reno dalam-dalam. "Dari SMA tiga tahun, kuliah empat tahun, sampai sekarang kita udah kerja bareng di sini satu tahun. Delapan tahun kita ngerintis semuanya dari nol, Ren. Dari enggak punya apa-apa, sampai sekarang kita bisa beli rumah impian kita sendiri."
Reno tersenyum bangga. "Rumah itu bukti kerja keras kita, Mahika. Khususnya kamu. Tabungan kamu yang paling banyak masuk buat bayar uang mukanya. Aku bener-bener beruntung punya kamu."
Mahika menggeleng pelan. "Enggak, Reno. Kalau bukan karena kamu yang selalu dorong aku, yang selalu percaya sama ide-ide desain aku, aku enggak akan ada di posisi Lead Designer sekarang. Kamu yang selalu presentasikan karya aku ke bos sampai Aura Fashion berkembang pesat kayak gini."
"Kita tim yang hebat," ujar Reno mantap. Tangannya menggenggam tangan Mahika lebih erat, seolah tak ingin melepaskannya.
Sesaat, hening yang nyaman tercipta di antara mereka. Mahika menatap wajah Reno yang berada tepat di depannya. Pria ini adalah saksi hidup dari setiap proses perjalanannya, termasuk perjalanan spiritual terbesarnya dua tahun lalu.
Tangannya yang bebas menyentuh helai pasmina krem yang membingkai wajahnya dengan rapi.
"Ren," panggil Mahika pelan.
"Ya, Sayang?"
"Kamu ingat enggak... waktu pertama kali aku bilang mau coba pakai hijab?"
Reno tertegun sejenak, lalu senyum manis kembali terukir di bibirnya. "Mana mungkin aku lupa? Saat itu kamu datang ke kafe biasa tempat kita nongkrong pas kuliah. Kamu pakai gamis biru muda sama jilbab instan yang sedikit kebesaran. Kamu berdiri di depan aku sambil nunduk, takut banget aku enggak suka."
Mahika tertawa kecil, merona mengingat momen itu. "Soalnya dulu kamu kan sukanya lihat wanita yang rambutnya panjang diurai. Aku takut banget kamu bilang aku kelihatan aneh atau kelihatan lebih tua."
Reno menggeleng tegas. "Dan apa yang aku bilang waktu itu?"
"Kamu bilang..." Mahika menggantung kalimatnya, menatap Reno dengan pendar kebahagiaan yang meluap.
"Aku bilang, kamu kelihatan sejuta kali lebih cantik," potong Reno cepat dengan suara berat menenangkan. "Aku bilang, kalau keputusanku mencintai kamu itu gara-gara penampilan luar, aku udah pergi dari dulu. Tapi aku cinta sama Kalea Mahika, dengan segala proses yang dia jalani. Waktu kamu mantap berhijab, aku justru merasa menjadi pria paling beruntung karena kecantikan wanita yang aku cintai cuma bisa dinikmati sama aku."
Airmata haru hampir saja menetes di sudut mata Mahika. Ia menyedot minuman dinginnya perlahan untuk menetralkan rasa haru yang membuncah di dada.
"Makasih ya, Ren," bisik Mahika tulus. "Makasih karena udah jadi pria yang sabar nemenin proses aku. Enggak pernah nuntut, enggak pernah maksa, tapi selalu ada di samping aku."
"Sama-sama, Mahika. Justru aku yang harusnya terima kasih," Reno bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengikis jarak dan berdiri di samping kursi kerja Mahika. Ia mengusap puncak kepala Mahika yang terbalut hijab dengan penuh kasih sayang. "Kamu itu perlindungan aku, Mahika. Tempat aku pulang."
Mahika menyandarkan kepalanya pelan ke lengan Reno yang bersandar di meja. Rasa aman menyelimuti seluruh tubuhnya. Semua lelah akibat mengurus persiapan pernikahan selama tiga bulan terakhir serasa menguap begitu saja.
"Ngomong-ngomong," ucap Reno memecah keheningan, "bagaimana persiapan berkas dan gaun pernikahan kita? Semuanya aman, kan?"
Mahika mendongak, tersenyum lebar. "Aman banget! Tadi pagi pihak wedding organizer udah kirim draf final cetak undangan. Gaun akad kita yang warna putih gading juga udah selesai di-drat sama penjahitnya, tinggal aku ambil minggu depan buat fitting kedua."
"Alhamdulillah," sahut Reno lega. "Uang tabungan kita benar-benar terpakai dengan sempurna ya. Semua konsep pernikahan yang kamu impikan dari dulu akhirnya terwujud satu per satu."
"Iya, semua sesuai impian aku. Mewah, tapi tetap hangat," kata Mahika anggun. "Aku menyisihkan tiap rupiah dari bonus desain aku selama setahun ini cuma buat momen sebulan lagi ini, Ren. Aku mau pernikahan kita jadi momen paling indah."
Reno menatap mata Mahika dengan lekat, ada pendar kebanggaan sekaligus sedikit pendar asing yang samar di matanya. "Kamu memang wanita luar biasa, Mahika. Kamu yang berjuang paling keras buat acara kita."
"Kita berjuang bareng-bareng, Reno," koreksi Mahika lembut. "Oh iya, bagaimana dengan Ayah dan Ibu? Tadi pagi Ibu sempat telepon aku, nanyain soal seragam keluarga buat Ibu sama Kak Gisel."
Raut wajah Reno mendadak berubah tipis sangat tipis hingga Mahika tidak menyadarinya. Senyum di bibir pria itu sedikit tertahan sebelum kembali terkembang.
"Oh... seragam? Udah aku sampaikan kok ke Ibu sama Gisel kemarin lusa," jawab Reno pendek.
"Bagus deh. Aku sempat khawatir Kak Gisel enggak suka sama warna pilihan aku," ujar Mahika terkekeh pelan. "Kamu tahu sendiri kan, Kak Gisel itu orangnya agak pemilih kalau soal baju. Apalagi dia selalu mau kelihatan paling menonjol kalau ada acara keluarga."
Reno berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke luar jendela ruangan. "Gisel... ya, dia memang selalu gitu. Tapi kemarin dia bilang suka kok sama kainnya."
Mahika tersenyum legawa. Hubungannya dengan sang kakak, Gisella, memang tidak pernah bisa dibilang sangat dekat. Sebagai anak kedua, Mahika sering merasa orang tuanya Pak Bambang dan Bu Maya lebih memanjakan Gisel. Apa pun yang diinginkan Gisel, selalu berusaha dipenuhi. Sementara Mahika diajarkan untuk selalu mengalah dan mandiri sejak kecil. Namun, Mahika tidak pernah menyimpan dendam. Bagi Mahika, kedamaian keluarga adalah yang utama.
"Baguslah kalau Kak Gisel suka," gumam Mahika. "Aku cuma mau di hari pernikahan kita nanti, semua orang bahagia. Enggak ada yang merasa kekurangan atau terabaikan."
Reno menatap Mahika kembali, jemarinya membelai pipi Mahika yang tertutup kain hijab dengan lembut. "Kamu selalu mikirin orang lain ya, Mahika? Bahkan di saat acara ini adalah acara kamu sendiri."
"Karena bahagia itu lebih indah kalau dirasakan ramai-ramai, Ren."
Reno tersenyum tipis, lalu mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Sudah mau jam makan siang. Mau keluar makan bareng? Di sebelah ada resto ayam bakar favorit kamu."
Mahika melihat tumpukan berkas dan tablet grafisnya. "Aduh, Ren... aku mau banget. Tapi draf desain buat koleksi kasual bulan depan harus masuk ke meja direksi sebelum jam dua siang ini. Kayaknya aku makan siang di kantor aja deh."
Reno mendesah pelan, berpura-pura kecewa. "Coba lihat, calon istriku ini memang benar-benar workaholic. Padahal tinggal satu bulan lagi mau nikah, masih aja mikirin pekerjaan kantor."
"Sedikit lagi kok, Mas Calon Suami," puji Mahika menggoda, membuat wajah Reno merona tipis. "Nanti kalau drafnya udah beres, sorenya aku janji kita bisa pulang barengan. Kita cek rumah baru kita sekalian lihat perabotan yang baru datang kemarin, gimana?"
Mendengar kata rumah baru, binar mata Reno kembali menyala. "Setuju! Ya udah, kalau gitu aku belikan ayam bakarnya, terus aku bawa ke sini. Kita makan di meja kamu aja, gimana?"
"Nah, itu ide bagus banget!" seru Mahika girang. "Makasih ya, Reno. Kamu memang paling tahu cara buat aku senang."
"Apapun buat kamu, Mahika," balas Reno tulus. Pria itu mengusap kepala Mahika sekali lagi sebelum berbalik melangkah menuju pintu keluar. "Aku turun dulu ya, lima belas menit lagi aku balik ke sini bawa makan siang kita."
"Jangan lupa kerupuk udangnya dua ya, Ren!" seru Mahika setengah berteriak sebelum pintu ruangan tertutup rapat.
Dari balik pintu yang tertutup, suara tawa Reno terdengar samar mengiyakan.
Setelah Reno benar-benar pergi, ruangan kerja itu kembali hening. Mahika menghembuskan napas lega, perasaan bahagia membuncah memenuhi dadanya. Ia kembali menatap bingkai foto di sudut meja.
Delapan tahun perjalanan panjang yang penuh liku. Momen dari tidak punya apa-apa, masa-masa prihatin saat sekolah dan kuliah, hingga kini keduanya berdiri kokoh secara finansial dan siap melangkah ke jenjang suci pernikahan. Rasa bersyukur yang teramat sangat membumbung tinggi di dalam dada Mahika. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki pria sebersahaja, setulus, dan sesabar Reno Alamsyah.
Mahika merogoh ponsel pintar di dalam tasnya yang tergeletak di samping meja. Layar ponsel menyala, menampilkan wallpaper berupa foto rumah lantai dua berdesain minimalis modern yang baru saja selesai dipugar dua minggu lalu.
Rumah yang dibeli dari sisa-sisa keringat dan tabungan ketat Mahika bersama Reno selama bertahun-tahun. Rumah yang akan menjadi saksi bisu awal kehidupan baru mereka satu bulan lagi.
Sebuah notifikasi pesan masuk terlihat di layar. Nama pengirimnya adalah Bu Maya, sang ibu.
"Mahika, nanti malam kamu pulang ke rumah kan? Jangan lembur terus. Mumpung masih ada waktu sebulan lagi, Ibu sama Bapak mau bicarakan sesuatu soal daftar katering sama Kak Gisel juga."
Mahika tersenyum membaca pesan singkat dari ibunya. Ia dengan cepat mengetik balasan.
"Iya, Bu. Nanti sore Mahika langsung pulang sama Reno setelah cek rumah baru. Semua pembayaran katering awal sudah Mahika lunasi kok Bu, tinggal pelaksanaannya aja nanti. Sampai ketemu nanti malam ya, Bu."
Pesan terkirim dengan tanda centang dua. Mahika meletakkan kembali ponselnya di meja, lalu meraih cangkir iced matcha latte yang dibawa Reno tadi. Ia menyedot minuman dingin itu dengan senyum manis yang tak kunjung pudar dari bibirnya.
Hatinya sungguh merasa tenang. Semuanya terasa begitu sempurna, begitu teratur, dan begitu indah. Tidak ada sedikit pun keraguan di dalam benaknya bahwa masa depannya bersama Reno akan dipenuhi dengan kebahagiaan yang melimpah.
Mahika tidak pernah tahu bahwa manisnya kenangan delapan tahun dan indahnya senyuman di sore itu hanyalah tenang sebelum datangnya badai paling dahsyat yang siap meremukkan seluruh hidupnya dalam waktu dekat.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂