Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30. Kenapa Dia ke Sini?
Pria itu tak lain adalah orang yang tega meninggalkan trauma kepada Dea dengan sengaja. Elden Zarreti.
Dunianya seolah berhenti bergerak.
Kaki Dea terasa terpaku di tanah. Tangannya yang menggenggam tali tas perlahan mengencang, sementara napasnya mendadak menjadi lebih pendek.
'Tidak.'
'Jangan dia.'
'Mengapa orang itu ada di sini sepagi ini?'
Elden tersenyum kecil di saat pandangan mereka bertemu.
Satu tangannya mengusap tengkuk, lalu berpindah ke bagian belakang kepala. Raut wajahnya terlihat canggung, jauh dari kesan dingin dan penuh kendali yang selama ini ia lihat.
Elden melangkah mendekat langkah demi langkah
Namun, Dea refleks mundur langkah demi langkah juga.
Elden berhenti sesaat, tetapi kemudian kembali bergerak lebih cepat, seolah ingin mendekatinya sebelum perempuan itu pergi.
Dea kembali mundur.
Jarak di antara mereka menyempit, lalu melebar lagi mengikuti langkah keduanya. Namun, bagi Dea, setiap langkah Elden terasa seperti ancaman yang menyeretnya kembali pada kenangan yang selama ini berusaha ia kubur.
Bayangan malam itu muncul tanpa diminta.
Suara bentakan. Rasa sakit. Ketakutan ketika ia memohon agar pria itu berhenti, tetapi permohonannya diabaikan. Napas Dea semakin tidak teratur.
“Jangan...” bisiknya nyaris tanpa suara.
Elden mendengarnya hingga membuat langkahnya langsung terhenti.
Senyum yang sejak tadi berusaha ia pertahankan perlahan menghilang. Ia sadar, Dea kembali terlihat ketakutan.
Tentunya karena dia lah alasan yang menyebabkan perempuan yang ada di hadapannya ketakutan.
Elden menurunkan tangannya. Ia ingin mengatakan banyak hal terutama kasus kematian Linjaryani yang telah ia ketahui, tetapi semua kalimat yang semula ia rancang di dalam kepala, mendadak hilang begitu saja.
Ia pernah datang untuk menyakiti perempuan itu. Pernah mengabaikan air matanya.
Dan sekarang, ia berdiri di hadapannya dengan harapan bisa berbicara, seolah-olah waktu dapat menghapus apa yang telah dilakukannya.
Padahal, luka yang ia tinggalkan tak pernah pergi.
“Aku...” Elden berhenti sejenak. Suaranya terdengar lebih pelan daripada yang ia inginkan. “Aku tidak akan menyakitimu.”
Dea menggeleng cepat. Ia tidak mampu mempercayai kata-kata itu. “Tolong jangan mendekat.”
Permintaan itu membuat Elden membeku.
Ada sesuatu dalam suara Dea yang menghantamnya lebih keras daripada kemarahan. Perempuan itu bahkan tidak pernah menuntut pertanggungjawaban darinya. Ia malah memilih untuk menjauh.
Elden menelan ludah. Jemarinya mengepal sesaat sebelum perlahan mengendur.
'Baik.'
'Jika itulah yang Dea inginkan, aku tidak akan memaksanya.'
Elden mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
“Aku tidak akan mendekat,” katanya lirih.
Dea masih menatapnya dengan tubuh tegang. Ia belum merasa aman, tetapi setidaknya pria itu tidak lagi terlalu dekat dengannya.
Elden menarik napas panjang.
“Aku tahu kamu tidak ingin melihatku.” Ia menunduk sebentar, berusaha mencari kata-kata yang tidak akan membuat keadaan semakin buruk. “Aku datang karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Tapi kalau kamu tidak bersedia mendengarnya sekarang, aku akan segera pergi.”
Dea tidak menjawab. Matanya mulai terasa panas, tetapi ia menahan air mata itu sekuat tenaga.
'Mengapa dia datang lagi?'
'Apa yang sebenarnya diinginkannya?'
Dea sudah berusaha melanjutkan hidup. Ia sudah berusaha berdiri kembali setelah semua yang terjadi. Ia tidak ingin masa lalunya kembali menyeretnya ke tempat yang sama.
“A-apa yang kamu lakukan, Tuan?” bisik Dea lemah.
Elden terdiam. Panggilan itu membuat jarak di antara mereka menjadi begitu jauh.
Dulu, ia pernah menjadi suami perempuan tersebut. Ia pernah memaksakan kehendaknya dan menganggap dirinya berhak menentukan hidup Dea.
Namun, sekarang Dea bahkan tidak sanggup menyebut namanya tanpa rasa takut.
Elden menundukkan kepala. “Aku hanya ingin bicara, Dea.”
“Untuk apa?”
Pertanyaan itu keluar dengan suara bergetar.
Elden mengangkat wajahnya, tetapi tak segera menjawab.
Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa dirinya ingin meminta maaf, sementara permintaan maaf itu tidak akan mengembalikan apa yang telah dirampasnya dari perempuan tersebut?
Bagaimana ia bisa meminta Dea mendengarkannya, ketika dahulu ia sendiri tidak pernah bersedia mendengarkan permohonan Dea?
Elden begitu memahami bahwa penyesalan tidak memberinya hak untuk mendekati perempuan itu sesuka hati.
“Aku ingin meminta maaf,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku tahu, aku tidak berhak memintamu memaafkanku.”
Dea terdiam. Bukan karena kata-kata itu berhasil meluluhkan hatinya.
Melainkan karena ia tidak pernah membayangkan pria yang dahulu begitu kejam kepadanya akan berdiri di hadapannya dan mengucapkan kalimat tersebut.
Namun, rasa takut itu tentu tak langsung luntur hanya karena permintaan maaf. Luka itu masih ada dan menganga.
Dan Dea belum siap menghadapi pria yang telah membuat hidupnya berubah begitu jauh. Ia menunduk, menggenggam tali tasnya semakin erat.
“Saya harus bekerja, Tuan.”
Elden mengangguk pelan. “Baik.”
Ia bergeser, memberi jalan agar Dea bisa melewatinya tanpa harus mendekat.
Dea berjalan dengan langkah kaku. Ia tidak menoleh, tidak pula menunggu Elden mengatakan sesuatu lagi.
Elden hanya berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung perempuan itu yang semakin menjauh.
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella