Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepupu Katanya 20.
Di dalam ruangan ber-AC dengan aroma kayu jati yang pekat itu, pasokan udara terasa kian menipis. Langkah kaki Novia tersendat tepat dua meter di belakang punggung Reyhan.
Cowok itu sama sekali tidak menoleh. Punggung tegapnya yang dibalut kemeja OSIS putih bersih tampak kaku, seperti patung lilin yang sengaja dipajang untuk menahan badai.
Namun, Novia bisa melihat bagaimana kepalan tangan kiri Reyhan di sisi celana mengencang hingga urat-urat halusnya menonjol.
Pak Baskoro, sang Kepala Sekolah, menggeser kacamata tebalnya ke pangkal hidung.
Tatapannya yang setajam elang mendarat lurus pada wajah Novia yang pucat pasi.
Di atas meja kerja yang rapi, sebuah ponsel pintar tergeletak dengan layar yang masih menyala—menampilkan sebuah foto blur berlatar lampu merah jalan raya. Foto siluet dua orang di dalam sedan hitam.
"Duduk, Novia," suara berat Pak Baskoro memecah keheningan yang mencekik. Nada suaranya tidak membentak, namun justru intonasi yang tenang itulah yang membuat bulu kuduk Novia meremang.
Novia melangkah dengan lutut yang terasa lemas, lalu duduk di kursi kosong tepat di sebelah Reyhan.
"Saya rasa, kalian berdua tahu persis kenapa kalian dipanggil ke sini sepagi ini," Pak Baskoro mengetuk layar ponsel di atas meja dengan ujung jari telunjuknya. Suara ketukan itu terdengar seperti vonis mati di telinga Novia. "Laporan dari salah satu pengurus OSIS kalian, Dimas, masuk ke meja saya tadi malam. Disertai bukti foto ini. Ditambah lagi, rumor liar sudah telanjur menyebar di koridor sekolah sejak satu jam yang lalu."
Novia meremas rok abu-abunya di bawah meja. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. 'Tamat,' batinnya frustrasi.
Kepalanya mendadak pening memikirkan bagaimana reaksi ibunya, atau bagaimana hancurnya reputasi mereka jika status pernikahan rahasia ini terkuak di depan Kepala Sekolah.
"Reyhan," Pak Baskoro mengalihkan pandangannya pada sang Ketua OSIS. "Sebagai siswa teladan dan pimpinan tertinggi organisasi siswa, kamu tahu betul aturan sekolah ini mengenai hubungan romantis yang berlebihan, apalagi sampai memicu gosip tidak sedap yang mencoreng nama baik Pelita Bangsa. Apa penjelasan kamu soal foto ini? Mengapa siswi yang kemarin sempat bermasalah di kantin bisa berada di dalam mobil pribadi kamu setelah jam pulang sekolah?"
Ruangan itu kembali hening. Detak jarum jam dinding berbunyi begitu dominan, seolah sedang menghitung mundur kehancuran mereka.
Novia melirik Reyhan dari sudut matanya. Sisi wajah cowok itu tampak mengeras. Rahangnya berkedut samar.
Novia bisa merasakan ketegangan yang luar biasa menjalar dari tubuh cowok di sebelahnya.
"Saya yang mengajaknya, Pak," suara Reyhan akhirnya keluar. Datar, tenang, dan tanpa riak kepanikan sedikit pun.
Jawaban itu sukses membuat jantung Novia mencelos. Dia menatap Reyhan dengan mata membelalak tak percaya. 'Apa yang lo lakuin, Rey? Jangan gila!' teriak Novia dalam hati, histeris.
Pak Baskoro menaikkan sebelah alisnya, bersedekap. "Oh? Jadi rumor yang beredar itu benar? Kalian memiliki hubungan khusus?"
"Bukan hubungan seperti yang dipikirkan oleh Dimas atau anak-anak lain, Pak," potong Reyhan cepat. Dia memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke manik mata Kepala Sekolah dengan binar mata yang amat meyakinkan. Kebohongan yang akan dia ucapkan harus terdengar seperti kebenaran mutlak. "Kemarin siang, terjadi kesalahpahaman di kantin antara Novia dan Laura. Sebagai Ketua OSIS, saya harus mengambil tindakan tegas untuk meredam keributan agar tidak melebar. Namun, tindakan saya rupanya membuat Novia tertekan hingga kondisinya drop saat pulang sekolah."
Reyhan menjeda kalimatnya, melirik Novia sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah akting yang luar biasa rapi. "Saya melihat dia hampir pingsan di dekat gerbang. Karena faktor kemanusiaan, dan karena saya merasa bertanggung jawab atas tekanan psikologis yang dia terima akibat hukuman saya, saya memutuskan untuk mengantarnya pulang. Tidak ada motif lain."
Pak Baskoro terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Matanya beralih ke arah Novia. "Begitu, Novia? Kamu sakit kemarin sore?"
Novia menelan ludahnya yang terasa kesat. Tenggorokannya mendadak kering. Dia tahu dia harus menyamakan ritme dengan Reyhan jika ingin selamat. "I-iya, Pak. Kepala saya pening sekali kemarin. Saya terpaksa menerima tawaran Kak Reyhan karena angkot tidak kunjung lewat."
"Lalu bagaimana dengan foto ini?" Pak Baskoro membalik ponselnya, menghadapkan layar ke arah mereka. Foto itu memperlihatkan wajah Reyhan yang sangat dekat dengan wajah Novia—momen ketika Reyhan sebenarnya sedang memasangkan sabuk pengaman, namun dari sudut pandang Dimas di luar kaca, itu terlihat seperti interaksi yang teramat intim. "Dimas bilang, dia melihat kalian berpegangan tangan dan jarak wajah kalian terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang tidak punya hubungan apa-apa. Kamu mau menyangkal ini juga, Reyhan?"
Skakmat.
Pertanyaan Pak Baskoro kali ini bagai hantaman palu besar yang meruntuhkan argumen awal Reyhan.
Novia merasa dadanya sesak luar biasa, seperti ada batu besar yang menghimpit pernapasannya. Air mata ketakutan kembali mendesak keluar di sudut matanya.
Sudahlah, mereka tidak bisa mengelak lagi. Kebohongan mereka terlalu rapuh di hadapan bukti visual.
Novia memejamkan mata, bersiap menerima skenario terburuk: dipanggilnya orang tua mereka, surat peringatan, atau bahkan ancaman dikeluarkan dari sekolah.
Tangannya yang gemetar di atas paha tiba-tiba merasakan sebuah kehangatan yang melingkupinya.
Di bawah kolong meja yang luput dari pandangan Pak Baskoro, tangan kiri Reyhan bergerak menggenggam erat jemari Novia.
Cengkeraman cowok itu begitu kuat, menyalurkan ketenangan sekaligus perintah tersirat: 'Tetap diam, biar gue yang urus.'
Sentuhan itu membuat Novia tersentak. Dia membuka mata dan menoleh pada Reyhan.
Reyhan mengembuskan napas panjang. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Novia, lalu perlahan menegakkan punggungnya.
Ada aura intimidasi yang mendadak menguar dari tubuh cowok bertubuh jangkung itu.
Matanya menatap Pak Baskoro tanpa ada keraguan sedikit pun, sebuah tatapan dingin yang biasa dia gunakan saat mengendalikan situasi paling kacau di forum OSIS.
Reyhan tahu, jika dia terus menggunakan alasan 'kemanusiaan', Pak Baskoro tidak akan pernah percaya, terutama dengan adanya foto jarak dekat itu.
Rumor ini harus dipotong langsung menggunakan kapak yang paling tajam, sebuah kebenaran baru yang sengaja diciptakan untuk mengubur rahasia yang jauh lebih besar.
Reyhan perlahan menggeser kursinya ke belakang. Dia bangkit berdiri dari duduknya, menciptakan bayangan tinggi yang mendominasi ruangan.
Dua kancing teratas kemejanya yang hari ini tertutup rapi mempertegas kesan formal dan seriusnya sebagai seorang pemimpin.
Tangan kanannya yang terbalut perban putih bersih diletakkan di atas meja, menjadi tumpuan tubuhnya saat dia sedikit membungkuk menatap sang Kepala Sekolah.
"Kami tidak berpacaran, Pak," ucap Reyhan. Suaranya bergema di setiap sudut ruangan, terdengar mutlak, berat, dan sarat akan penekanan yang tidak menerima bantahan.
Pak Baskoro melipat kedua tangannya di dada, menunggu kelanjutan kalimat siswanya. Sementara Novia menahan napasnya di tempat duduk, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan.
Reyhan memejamkan mata sekejap, lalu membukanya dengan kilatan mata yang begitu dingin namun meyakinkan. "Tapi kami itu sebenarnya saudara. Novia itu sepupu saya."
......................
...****************...
Tbc,