NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:104.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 2

Tiba-tiba, derap langkah bernada tinggi terdengar mendekati dapur. Niken, sang calon pengantin muncul dengan piyama sutra mewahnya sambil menggenggam ponsel terbaru. Ia mengabaikan Zheana yang sedang mencuci tumpukan gelas dan piring.

"Duh, Mama! Kok dapur masih berantakan banget sih?" sungut Niken seraya mengibas-ngibaskan tangannya di udara.

"Mbak Lilis sama Tante Maya di depan komplain tuh, katanya haus tapi teh hangatnya belum di antar,"

"Iya, nanti di antar sama Ayah... Ini mama juga sedang buatkan cemilan untuk saudara kita, soalnya Zheana baru saja pulang. Jadi tidak ada yang membantu Mama di dapur,"

"Loh Zheana kok kamu malah pulang malam? Kamu kan tahu di rumah sedang ada banyak saudara. Apa kamu tidak kasihan sama Mama dan Ayah?" Tanya Niken.

"Iya mbak, maaf Zhea tadi ada banyak pekerjaan. Sehingga Zheana harus lembur. Tapi Mbak Niken tenang aja ini juga cucian sebentar lagi beres kok... Setelahnya Zhea bantu Mama..."

"Udahlah kamu jangan banyak ngomong! Anak kesayangan Papamu baru pulang, pakai acara minta mandi sama sholat segala tadi," cerceh Irma, kembali melipat tangannya di dada.

"Padahal tahu Mbaknya mau nikah, malah sok sibuk di kantor! Kamu tuh sudah besar Zheana! Kamu harusnya tahu apa yang menjadi prioritas! Jangan kekanak-kanakkan. Lagian ini pernikahan kakakmu yang selama ini dia tunggu-tunggu dan ini akan menjadi acara pernikahan yang sangat besar untuk keluarga kita! Jangan bilang kamu iri kepada kakakmu ini!"

"Maaf Ma, tapi aku ada deadline di perusahaan yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja. Mulai besok, Zhea akan usahakan untuk pulang sore..."

"Zhea, kamu tuh ngerti enggak sih ini momen penting buat aku? Keluarga Mas Khadafy itu orang kaya! Jangan bikin malu keluarga kita gara-gara dapur kotor atau kamu terlambat bantu-bantu!"

"Mbak, aku tadi ada deadline yang harus diselesaikan..."

"Halah! Alasan terus!" potong Irma cepat.

"Awas ya, besok malam keluarga besar Khadafy mau datang ke sini buat hantaran awal dan silaturahmi. Kamu jangan berani-berani pulang malam lagi!"

Irma menepuk bahu Niken lambat, lalu berkacak pinggang menatap Zheana tajam. "Dengarkan! Besok kamu harus bangun jam empat subuh. Sebelum berangkat kerja, kamu siapkan bahan makanan di meja. Dan ingat, besok sore kamu wajib sudah sampai di rumah jam lima teng! Kamu yang harus pegang dapur dan masak buat keluarga Khadafy!"

Zheana menghentikan gerakan tangannya. Matanya membelalak tak percaya menatap ibunya.

"Jam lima sore, Ma? Pekerjaan kantor Zhea besok lagi padat-padatnya. Perjalanan pulang saja butuh waktu satu jam kalau macet..."

"Mama tidak mau tahu!" bentak Irma, memotong ucapan Zheana tanpa ragu.

"Kamu ijin! Mau kamu bolos, mau kamu minta pulang cepat, itu urusanmu! Kalau sampai kamu terlambat dan masakan buat calon besan Mama belum siap, kamu Mama usir sekalian! Paham?"

"Tapi Ma, kalau Zhea sering ijin, Zhea bisa dipotong gaji atau bahkan di PHK..." cicit Zheana, suaranya parau menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.

"Ya bagus kalau di PHK! Berarti kamu bisa fokus bantu-bantu nikahan Mbakmu di rumah!" Potong Irma cepat.

"Lagian gaji kamu juga berapa sih? Cuma cukup buat beli sabun cuci piring ini kan?"

"Ma! Jangan bicara begitu sama Zhafea!" tegur Bagus yang baru kembali dari ruang tamu membawa tumpukan gelas kosong tambahan. Wajahnya memerah menahan amarah yang tertahan.

"Papa membela dia lagi?!" seru Irma menyambar.

"Bagus, dengar ya! Makanan buat keluarga Khadafy itu harus istimewa. Tidak boleh beli katering murahan, harus masakan rumah biar kelihatan kita niat! Dan Zheana yang paling pinter masak masakan rendang dan sup buntut! Jadi dia yang harus masak!"

"Zheana itu manusia, Ma! Bukan robot!" Bagus meletakkan gelas-gelas itu dengan agak keras hingga menimbulkan bunyi dentang nyaring.

"Dia sudah kerja seharian untuk bantu biaya tambahan pesta Niken, sekarang malah disuruh masak buat belasan orang dalam keadaan capek?"

"Papa kok malah pilih kasih sih?!" ucap Niken berderai air mata buatan.

"Ini kan acara nikahan Niken! Sekali seumur hidup! Masa Zhea bantu dikit aja Papa udah ribut?"

"Sudah, Pa... Cukup..." sela Zheana lirih. Ia memejamkan mata erat-air mata hangat meluncur deras melewati pipinya yang dingin.

"Zhea... Zhea bakal usahakan pulang cepat besok. Zhea yang bakal masak."

Irma tersenyum puas, melirik suaminya dengan tatapan menang. "Nah, dengar itu! Anakmu sendiri yang sanggup. Tidak usah kamu sok kasihan."

Irma kemudian menudingkan telunjuknya tepat ke wajah Zheana.

"Ingat ya, Zhea! Besok jam empat subuh kamu sudah harus di dapur potong-potong bumbu dan daging! Jam lima sore kamu harus sudah stand by di depan kompor lagi! Jangan bikin Mama permalukan kamu di depan calon mertua Mbakmu!"

"Iya, Ma... Zhea paham," bisik Zheana pasrah, kembali menunduk dan melanjutkan usapannya pada piring-piring berminyak di bawah gemericik air yang seolah meratapi nasibnya.

Pagi harinya, Zheana melangkah menyusuri pelataran parkir kantor dengan tubuh lunglai. Wajahnya pucat pasi, dan lingkaran hitam tebal menghiasi bawah matanya. Sesuai ancaman ibunya, Zhea sudah harus berkutat di dapur sejak jam empat subuh untuk mengupas bumbu dan memotong belasan kilogram daging. Tidur yang hanya dua jam membuat kesadarannya melayang.

CIIIITTTT!

Suara derit ban mobil yang mengeram mendadak memecah keheningan parkiran. Langkah kaki Zhea terhenti seketika. Sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti hanya beberapa sentimeter dari lututnya.

Pintu mobil terbuka kasar. Seorang pria berjas rapi keluar dengan langkah tergesa, wajahnya menyiratkan kecemasan yang tertahan.

"Kamu tidak punya mata?!" tegur pria itu ketus. Namun, begitu pandangannya jatuh pada sosok di hadapannya, alis tebalnya bertaut.

"Zheana?"

Zheana memegangi dadanya yang berdegup kencang. Ia mendongak dan mendapati Khadafy, petinggi di perusahaan tempat dia bekerja, sekaligus calon suami dari Mbaknya, Niken sedang menatapnya tajam.

"Ma...maaf, Pak Khadafy... Saya tidak fokus tadi," bisik Zhea, berusaha membungkuk sopan meski tubuhnya limbung.

Khadafy memperhatikan penampilan bawahannya itu. Kemeja kerja Zhea sedikit kusut, matanya sembap, dan tangannya gemetar halus. Sikap dingin Khadafy yang biasanya kaku bertabrakan dengan rasa iba yang mendadak menyeruak.

"Kamu sakit?" tanya Khadafy singkat, menetralkan nada suaranya agar tetap profesional dan tak berjarak terlalu dekat.

"Tidak, Pak. Saya hanya... sedikit kurang tidur," jawab Zhea pelan.

"Kurang tidur tidak bisa jadi alasan untuk menyerahkan nyawa di parkiran," sahut Khadafy dingin, walau jemarinya refleks memegang siku Zhea sebentar saat perempuan itu tampak hendak terjatuh, sebelum langsung melepaskannya kembali.

"Muka kamu pucat sekali. Sudah sarapan?"

Zheana menggeleng pelan. Mana sempat ia berpikir untuk mengisi perutnya sendiri di rumah tadi pagi? Khadafy menghela napas pendek, lalu melirik jam tangannya.

"Ikut saya ke ruangan. Ada berkas yang harus diselesaikan, tapi sebelum itu kamu minta teh hangat dan roti di pantry."

"Tapi Pak, pekerjaan saya di kubikel..."

"Ini perintah atasan, Zheana," potong Khadafy tegas tanpa memberi ruang bantahan.

"Saya tidak mau laporan bulanan saya berantakan gara-gara staf saya pingsan di tengah jalan."

Zheana menunduk pasrah. "Baik, Pak. Terima kasih..."

Saat Zhea berjalan mendahuluinya menuju lift, Khadafy menatap punggung perempuan itu dari belakang. Hatinya bertanya-tanya. Padahal semalam, saat ia menelepon Niken, calon istrinya itu bersuka ria menceritakan betapa santainya suasana rumah karena ada banyak keluarga dari ibunya yang membantu untuk menyambut pesta. Lantas, kenapa adik iparnya ini justru tampak seperti orang yang habis disiksa pekerjaan?

1
sunaryati jarum
Awalnya emak deg- degan ternyata firasat buruk dipikirkan Zheana, untuk Niken. Benar Zheana kebencian dan dendam nya padamu sekarang Niken mendapatkan karma tanpa perlu kamu dan Kadaffi mengotori tangan.Nak Kadaffi cuma mengawasi dan berjaga- jaga,tapi ada orang lain yang mungkin dendam pada Niken
sunaryati jarum
Benar kan dugaan emak jika Niken hanya dimanfaatkan Adam demi kepentingan sendiri.Mungkinkah Adam pernah dikecewakan Niken, hingga membalasnya dengan sadis.Sebenarnya sebagai sesama wanita emak kasihan Niken,dibalas begitu.Namun karena tabiatnya yg selalu merendahkan Zheana,emak ikut gregeten.Setelah ini semoga Irma ibunya sadar ,Niken dibawa berobat ke Pesykiater
ryuka
kesian kamu niken tapi emang orang jahat itu banyak sekali niken maka nya jangan bodoh
Oma Gavin
sungguh mengerikan pembalasan yg diterima niken mungkin adam sakit hati sama niken pernah ditolak atau dipermalukan
nely_48
silahkan niken sm adam merencanakan apapun,,, khadafy udh tau semua nya loh
nely_48
sok pak bagus msh nurut az sm s irma
nely_48
pantesan jd gila s niken, alih-alih jadi model d Paris malah hamil d gilir semua laki² ,,, bukan sukses mlah gila yg d dapat, boncos nasib mu niken
nining cahyaningrum
ceritanya enak alurnya jelas
david 123
adakah didunia nyata ibu kadung jahat seperti dg anak kandungx? Semoga tdk ya ....Amin ...miris...bila...ini kisah nyata...ya Thor
Fitria Syafei
syukurin senjata kena sendiri..makan ntuh TEMAN 😏 KK cantik mantaf 😍 kereen 🥰
Sri Angga
buah dr kejahatan mu terhadap zheana,,skg km di bls langsung oleh,,partner mu sndri .
ryuka
naahh kan malah udah hancur dluan kamu niken
Ambu Rinddiany Thea
halaaah sok pura pura niken ke ges benang mah beda cerita lain minta tolong tapi tuluuuy tuluy 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 kau tidak akan bisa menghancurkan Zheana dan bayinya,Niken.Kamu malah hancur sendiri.Sudah gila hamil kembali.
nely_48: kasian km niken,, jauh² k Paris jd jablay yg ujung-ujungnya hamil,, lah plg k indo malah d jual demi rencana yg blm tentu berhasil,,
emang badan niken lbh cocok jd prlacur jual diri az ath cari uang yg banyak buat gaya hidup glamor
total 1 replies
Oma Gavin
bikin mati mengenaskan saja niken digilir 3 orang terus mati itu hukum setimpal buat psikopat gila seperti niken
sunaryati jarum
Pembicaraan kamu sudah didengar oleh orang orang Angga da Rian Tim keamanan Mumtaz, berkhayal lah akan berhasil Niken,agar delusimu makin parah
nely_48
sok lah adam n niken kalian gali lab Liang kubur untuk diri kalian sendiri
nely_48
org gila s niken lepas,, teh Novi kau dmn ❓ tuh ODGJ niken butuh penenangan
Dokkan Battle
ABI ABI UMI UMI UMI LAUTTTTTT
Ambu Rinddiany Thea
pa bagus jgn lemah lah .anda kan sebagai kepala keluarga jgn sampai d injak2 harga dirimu pa , s irma sm s niken mah udh sma2 terkontaminasi otaknya jd udh susah d kasih paham , mening langsung d bina aja lah pa bagus d biasakan maksudnya 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!