Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 2
Tiba-tiba, derap langkah bernada tinggi terdengar mendekati dapur. Niken, sang calon pengantin muncul dengan piyama sutra mewahnya sambil menggenggam ponsel terbaru. Ia mengabaikan Zheana yang sedang mencuci tumpukan gelas dan piring.
"Duh, Mama! Kok dapur masih berantakan banget sih?" sungut Niken seraya mengibas-ngibaskan tangannya di udara.
"Mbak Lilis sama Tante Maya di depan komplain tuh, katanya haus tapi teh hangatnya belum di antar,"
"Iya, nanti di antar sama Ayah... Ini mama juga sedang buatkan cemilan untuk saudara kita, soalnya Zheana baru saja pulang. Jadi tidak ada yang membantu Mama di dapur,"
"Loh Zheana kok kamu malah pulang malam? Kamu kan tahu di rumah sedang ada banyak saudara. Apa kamu tidak kasihan sama Mama dan Ayah?" Tanya Niken.
"Iya mbak, maaf Zhea tadi ada banyak pekerjaan. Sehingga Zheana harus lembur. Tapi Mbak Niken tenang aja ini juga cucian sebentar lagi beres kok... Setelahnya Zhea bantu Mama..."
"Udahlah kamu jangan banyak ngomong! Anak kesayangan Papamu baru pulang, pakai acara minta mandi sama sholat segala tadi," cerceh Irma, kembali melipat tangannya di dada.
"Padahal tahu Mbaknya mau nikah, malah sok sibuk di kantor! Kamu tuh sudah besar Zheana! Kamu harusnya tahu apa yang menjadi prioritas! Jangan kekanak-kanakkan. Lagian ini pernikahan kakakmu yang selama ini dia tunggu-tunggu dan ini akan menjadi acara pernikahan yang sangat besar untuk keluarga kita! Jangan bilang kamu iri kepada kakakmu ini!"
"Maaf Ma, tapi aku ada deadline di perusahaan yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja. Mulai besok, Zhea akan usahakan untuk pulang sore..."
"Zhea, kamu tuh ngerti enggak sih ini momen penting buat aku? Keluarga Mas Khadafy itu orang kaya! Jangan bikin malu keluarga kita gara-gara dapur kotor atau kamu terlambat bantu-bantu!"
"Mbak, aku tadi ada deadline yang harus diselesaikan..."
"Halah! Alasan terus!" potong Irma cepat.
"Awas ya, besok malam keluarga besar Khadafy mau datang ke sini buat hantaran awal dan silaturahmi. Kamu jangan berani-berani pulang malam lagi!"
Irma menepuk bahu Niken lambat, lalu berkacak pinggang menatap Zheana tajam. "Dengarkan! Besok kamu harus bangun jam empat subuh. Sebelum berangkat kerja, kamu siapkan bahan makanan di meja. Dan ingat, besok sore kamu wajib sudah sampai di rumah jam lima teng! Kamu yang harus pegang dapur dan masak buat keluarga Khadafy!"
Zheana menghentikan gerakan tangannya. Matanya membelalak tak percaya menatap ibunya.
"Jam lima sore, Ma? Pekerjaan kantor Zhea besok lagi padat-padatnya. Perjalanan pulang saja butuh waktu satu jam kalau macet..."
"Mama tidak mau tahu!" bentak Irma, memotong ucapan Zheana tanpa ragu.
"Kamu ijin! Mau kamu bolos, mau kamu minta pulang cepat, itu urusanmu! Kalau sampai kamu terlambat dan masakan buat calon besan Mama belum siap, kamu Mama usir sekalian! Paham?"
"Tapi Ma, kalau Zhea sering ijin, Zhea bisa dipotong gaji atau bahkan di PHK..." cicit Zheana, suaranya parau menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Ya bagus kalau di PHK! Berarti kamu bisa fokus bantu-bantu nikahan Mbakmu di rumah!" Potong Irma cepat.
"Lagian gaji kamu juga berapa sih? Cuma cukup buat beli sabun cuci piring ini kan?"
"Ma! Jangan bicara begitu sama Zhafea!" tegur Bagus yang baru kembali dari ruang tamu membawa tumpukan gelas kosong tambahan. Wajahnya memerah menahan amarah yang tertahan.
"Papa membela dia lagi?!" seru Irma menyambar.
"Bagus, dengar ya! Makanan buat keluarga Khadafy itu harus istimewa. Tidak boleh beli katering murahan, harus masakan rumah biar kelihatan kita niat! Dan Zheana yang paling pinter masak masakan rendang dan sup buntut! Jadi dia yang harus masak!"
"Zheana itu manusia, Ma! Bukan robot!" Bagus meletakkan gelas-gelas itu dengan agak keras hingga menimbulkan bunyi dentang nyaring.
"Dia sudah kerja seharian untuk bantu biaya tambahan pesta Niken, sekarang malah disuruh masak buat belasan orang dalam keadaan capek?"
"Papa kok malah pilih kasih sih?!" ucap Niken berderai air mata buatan.
"Ini kan acara nikahan Niken! Sekali seumur hidup! Masa Zhea bantu dikit aja Papa udah ribut?"
"Sudah, Pa... Cukup..." sela Zheana lirih. Ia memejamkan mata erat-air mata hangat meluncur deras melewati pipinya yang dingin.
"Zhea... Zhea bakal usahakan pulang cepat besok. Zhea yang bakal masak."
Irma tersenyum puas, melirik suaminya dengan tatapan menang. "Nah, dengar itu! Anakmu sendiri yang sanggup. Tidak usah kamu sok kasihan."
Irma kemudian menudingkan telunjuknya tepat ke wajah Zheana.
"Ingat ya, Zhea! Besok jam empat subuh kamu sudah harus di dapur potong-potong bumbu dan daging! Jam lima sore kamu harus sudah stand by di depan kompor lagi! Jangan bikin Mama permalukan kamu di depan calon mertua Mbakmu!"
"Iya, Ma... Zhea paham," bisik Zheana pasrah, kembali menunduk dan melanjutkan usapannya pada piring-piring berminyak di bawah gemericik air yang seolah meratapi nasibnya.
Pagi harinya, Zheana melangkah menyusuri pelataran parkir kantor dengan tubuh lunglai. Wajahnya pucat pasi, dan lingkaran hitam tebal menghiasi bawah matanya. Sesuai ancaman ibunya, Zhea sudah harus berkutat di dapur sejak jam empat subuh untuk mengupas bumbu dan memotong belasan kilogram daging. Tidur yang hanya dua jam membuat kesadarannya melayang.
CIIIITTTT!
Suara derit ban mobil yang mengeram mendadak memecah keheningan parkiran. Langkah kaki Zhea terhenti seketika. Sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti hanya beberapa sentimeter dari lututnya.
Pintu mobil terbuka kasar. Seorang pria berjas rapi keluar dengan langkah tergesa, wajahnya menyiratkan kecemasan yang tertahan.
"Kamu tidak punya mata?!" tegur pria itu ketus. Namun, begitu pandangannya jatuh pada sosok di hadapannya, alis tebalnya bertaut.
"Zheana?"
Zheana memegangi dadanya yang berdegup kencang. Ia mendongak dan mendapati Khadafy, petinggi di perusahaan tempat dia bekerja, sekaligus calon suami dari Mbaknya, Niken sedang menatapnya tajam.
"Ma...maaf, Pak Khadafy... Saya tidak fokus tadi," bisik Zhea, berusaha membungkuk sopan meski tubuhnya limbung.
Khadafy memperhatikan penampilan bawahannya itu. Kemeja kerja Zhea sedikit kusut, matanya sembap, dan tangannya gemetar halus. Sikap dingin Khadafy yang biasanya kaku bertabrakan dengan rasa iba yang mendadak menyeruak.
"Kamu sakit?" tanya Khadafy singkat, menetralkan nada suaranya agar tetap profesional dan tak berjarak terlalu dekat.
"Tidak, Pak. Saya hanya... sedikit kurang tidur," jawab Zhea pelan.
"Kurang tidur tidak bisa jadi alasan untuk menyerahkan nyawa di parkiran," sahut Khadafy dingin, walau jemarinya refleks memegang siku Zhea sebentar saat perempuan itu tampak hendak terjatuh, sebelum langsung melepaskannya kembali.
"Muka kamu pucat sekali. Sudah sarapan?"
Zheana menggeleng pelan. Mana sempat ia berpikir untuk mengisi perutnya sendiri di rumah tadi pagi? Khadafy menghela napas pendek, lalu melirik jam tangannya.
"Ikut saya ke ruangan. Ada berkas yang harus diselesaikan, tapi sebelum itu kamu minta teh hangat dan roti di pantry."
"Tapi Pak, pekerjaan saya di kubikel..."
"Ini perintah atasan, Zheana," potong Khadafy tegas tanpa memberi ruang bantahan.
"Saya tidak mau laporan bulanan saya berantakan gara-gara staf saya pingsan di tengah jalan."
Zheana menunduk pasrah. "Baik, Pak. Terima kasih..."
Saat Zhea berjalan mendahuluinya menuju lift, Khadafy menatap punggung perempuan itu dari belakang. Hatinya bertanya-tanya. Padahal semalam, saat ia menelepon Niken, calon istrinya itu bersuka ria menceritakan betapa santainya suasana rumah karena ada banyak keluarga dari ibunya yang membantu untuk menyambut pesta. Lantas, kenapa adik iparnya ini justru tampak seperti orang yang habis disiksa pekerjaan?