Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 14
“Gara-gara kamu bulan maduku berantakan, Arjanti!” Saila berdiri angkuh seraya berkacak pinggang. Telunjuk tangan kanannya menuding tepat pada wajah wanita yang terkejut.
Arjanti terhenyak, bukan takut lebih ke bingung. Baru tadi pagi menjelang siang dia mengobrol dengan Herlan, dan pria itu masih di Bali. Kenapa tiba-tiba sudah pulang?
“Mama tadi dibawa ke rumah sakit, dia jatuh dari tempat tidur! Mengapa ponselmu mati, dan mengabaikan panggilan dariku, Janti?!” bentak pria berwajah kusut, rambut berantakan terlalu sering diremas.
Kabar tentang ibunya, mengacaukan acara bulan madu masih tersisa 3 hari lagi.
Sungguh, Janti sama sekali tidak pernah mengharapkan apalagi mendoakan yang buruk-buruk teruntuk ibu mertuanya. Dia pun ikut bersimpati.
“Jawab! Jangan diam saja seperti patung!” Saila melampiaskan emosinya.
Ia memasang sikap tenang, meski hatinya masih menyimpan rasa khawatir setelah mendengar musibah menimpa ibu mertuanya. “Ponselku kehabisan baterai, dan gak bawa power bank. Perihal kenapa gak menjawab pesan maupun panggilan, tadi masih di dalam bioskop —”
Kesabaran Saila habis sudah. “Keterlaluan kamu! Bisa-bisanya nonton bioskop, jalan-jalan, sementara Mama ditelantarkan!”
Belum juga Janti menanggapi, dia membisu dikarenakan seseorang menyela.
“Masuk, Janti!” suara Herlan turun satu oktaf. Wajahnya merah padam, dan rahang mengeras.
“Masuk!” Saila membentak.
Arjanti berjalan pelan dibelakang pasangan pengantin baru itu. Masih belum habis pikir bagaimana bisa ibu mertuanya jatuh. Lantas dimana Doko, Tanira dan Astuti pada waktu kejadian itu?
“Menantu kurang ajar kamu!” Darti setengah meraung.
Tatapan Janti tertuju pada wanita yang duduk di sofa empuk. Kening ibu mertuanya benjol, tangan kiri di gendong kain putih disampirkan pada pundak.
“Karenamu aku jadi celaka! Untung saja si Astuti sama jeng Tanira buru-buru menolong, kalau gak, bisa tinggal nama aku!” teriaknya meluapkan emosi, kemudian merintih kesakitan efek otot wajah tertarik membuat bengkak kembali nyeri.
Pandangan Janti beralih ke wanita yang kaosnya ketat sehingga mencetak jelas perut berlemak meski tak bergelambir.
Astuti membalas menatap menantang. ‘Mana ancaman yang tadi pagi kamu koar-koar kan Janti?’
Tanira juga memasang wajah angkuh. Dia duduk di sofa tunggal.
“Semalam dirimu sengaja gak mau ngurus istriku, malam pun dia bangun sampai empat kali, membuatku kesulitan tidur, kamu tetap enggan masuk ke kamar kami. Kalau gak bisa ngasih anak, setidaknya jadilah menantu berbakti biar ada sedikit nilaimu di mata kami, Janti!” Doko menggeram, lalu mendengkus.
Arjanti bak seorang terdakwa yang sedang diadili. Berdiri sendirian, sementara lainnya duduk di sofa ruang tamu.
“Mas butuh penjelasan, bukan keterdiaman, Janti!” rasa sabar Herlan terkikis habis.
Tali paperbag dalam genggaman dieratkan. Diperhatikan satu persatu para manusia yang melimpahkan kesalahan kepada dirinya.
“Apa yang harus dijelaskan? Ibu jatuh disaat aku gak ada dirumah, lantas kenapa diriku yang disalahkan?” tanyanya bersuara tetap netral.
“Merawat Mama itu tugasmu sebagai menantu!” sergah wanita memakai dress ketat selutut.
Ia pandangi lekat wajah semerah buah tomat mengkal itu. Janti terkekeh lalu tersenyum miring. “Menantu Ibu bukan cuma aku, kamu juga statusnya sama. Jadi, dirimu pun punya andil merawat dia.”
Saila terhenyak, namun terlalu cepat mengatur mimik wajah sinis. “Gimana aku bisa menjaganya kalau jarak kami lagi berjauhan?”
“Sama. Aku juga lagi jalan-jalan, menikmati hidup yang nyaris gak pernah sekalipun kurasakan selama menjadi menantu rumah ini,” sanggahnya berani.
“Halla, mandul saja sok gaya banget kamu!” hina wanita yang baru saja mengeluh sakit.
Janti memutar sedikit badan sehingga posisi berdiri menghadap mertua. “Ibu itu sudah diberi teguran oleh Tuhan lewat kedua kaki gak bisa digerakkan, harusnya sadar, ini malah semakin jahat mulutnya menghinaku.”
“Kenyataannya kamu memang mandul!” cemooh nya menggebu-gebu seraya melototi sang menantu pertama.
“Terus kalau seandainya aku memang mandul, apa pantas ibu caci maki? Inget, Bu! Menantu yang selalu dirimu rendahkan ini.” Janti menekan dadanya dengan jari telunjuk.
“Setiap hari setelah Ibu lumpuh, akulah yang merawatmu tanpa dibayar sepeserpun. Dalam kurun waktu lama itu, apa pernah ada kejadian jatuh, terpeleset? Gak kan? Itu tandanya aku becus mengurusmu. Lah sekarang?” Badannya berputar bersamaan dengan tatapan menyapu Tanira, Doko dan Astuti.
“Baru ku tinggal beberapa jam saja, Ibu mengalami musibah, bisa jadi kalau nanti aku gak sanggup lagi menahan setiap hinaan, terus pergi dari sini, apa jadinya kamu, Bu? Apa gak takut bakalan dikenang lewat foto sampul buku yasin?” suaranya masih terdengar sedang, tak turun apalagi meninggi.
“Kamu —” deru napas Darti memeburu, telunjuknya gemetaran menunjuk wanita yang memiliki keberanian bukan hanya menjawab, tapi juga melawan demi membela diri.
“Herlan! Kamu lihat istri pertamamu itu! Dia menyumpahi Mama!” jeritnya pilu.
Belum juga Herlan bertindak, dia termangu oleh suara istrinya.
“Kamu gak tuli kan, Mas? Ibu duluan yang menghinaku!” Janti yang lemah lembut, mengalah, kini telah tiada. Dia muak membisu berakhir harga dirinya diinjak-injak.
“Mama itu sudah tua, Janti —”
“Kalau dia sudah tua memangnya kenapa? Hal wajar kah menghina orang lain, iya? Coba kamu dicaci maki sama yang lebih tua umurnya, apa bakalan terima?” selanya kesal.
Herlan terhenyak, dari jarak kurang dua langkah. Dia dapat melihat jelas sepasang mata tak lagi menatap sopan, menghormati, dan sesuatu lebih dalam daripada itu — membuatnya terbelalak.
‘Gak mungkin! Dia sangat mencintaiku,’ hatinya mulai meragu dan merasa sedikit takut. Bola mata indah Arjanti kehilangan binar mendamba.
“Mulai malam ini, dirimu tidur bareng Ibu. Biar kalau dia butuh apa-apa, bisa langsung kamu urus!” Doko memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuan menantunya.
“Silahkan Bapak cari perawat profesional. Aku bukan babu, dan biasakan kalau minta bantuan disertai kata ‘tolong’!” malas berdebat, dia melenggang pergi dengan langkah tegak, dada membusung.
“Janti, Mas belum selesai bicara!” Tangannya gagal mencengkram lengan istrinya.
Arjanti menghindar, dia mundur sampai terbebas dari jangkauan Herlan. “Kalau masih mau menang sendiri. Enggan menjadi pendengar netral, dan pada akhirnya tetap aku yang kamu salahkan. Bicara sama tembok sana!”
“Dirumah ini bukan aku satu-satunya manusia. Apa gunanya kamu sebagai anak? Jangan melulu menuntutku untuk berbakti, sementara kamu enggan mengurus wanita yang melahirkanmu ke dunia ini!” ujarnya lantang. Sedikitpun tak tampak getaran pada sorot mata tenang.
Janti bergeser sedikit demi bisa melihat Doko yang duduk di belakang Herlan.
.
.
Bersambung.