Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Perjalanan Menuju Kaki Langit
Kabut tipis sisa fajar masih setia menyelimuti hamparan lembah di sepanjang jalur perbukitan lereng Gunung Argopuro saat iring-iringan bus operasional Rumah Sakit
Internasional Nugraha Perkasa bergerak merayap lambat.
Jalanan aspal tua yang mereka lalui kian menyempit. Di beberapa titik, aspal tersebut tergerus longsor ringan, menyisakan jalur tanah basah dan berlubang yang membuat lentera bersandar pada bantalan kursi kain yang agak berbau apek, sementara sepasang matanya menatap hamparan jurang hijau sedalam ratusan meter di sisi kiri jalan.
Di pangkuannya, sebuah tas ransel kain kanvas usang didekapnya erat-erat, seolah tas itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa dari kegelisahan batinnya yang mendadak muncul sejak obrolan dengan ibunya tadi malam.
"Aduh, Tera! Gila ya, jalanan nya ekstrim sekali. Ini kalau sopirnya meleng sedikit saja karena mengantuk, kita tidak jadi mengobati warga desa, melainkan langsung pindah divisi menjadi pasien UGD darurat di alam lain," celetuk Dokter Amel yang duduk di sebelahnya, sambil memegang erat pegangan kursi di depannya dengan wajah yang tampak agak memucat.
Tera memalingkan wajahnya dari jendela, lalu tersenyum tipis mencoba menenangkan temannya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Mel. Sopir bus rumah sakit ini semuanya sudah terlatih dan memiliki jam terbang tinggi melewati medan perbukitan. Lagipula, niat kita ke desa terpencil ini kan baik, mau melakukan baksos pengobatan gratis untuk warga yang kesulitan akses kesehatan. Tuhan pasti menjaga jalan kita."
"Iya sih, tapi tetap saja jantungku rasanya mau copot setiap kali ban belakang bus ini selip di tanah basah," gerutu Amel sambil menghela napas panjang, lalu melirik ke arah kantong plastik di saku jaket Tera.
"Ngomong-ngomong, itu termos kulit mewah yang kamu bawa dari kemarin, isinya apa sih? Aromanya waktu kamu buka sedikit tadi manis sekali, seperti madu hutan premium."
Wajah Tera seketika merona merah samar mengingat sosok pemilik asli termos berlapis kulit arang tersebut. "Ah ini? Cuma susu almond hangat dicampur madu biasa kok, Mel. Dibawakan oleh_, seorang pasien keras kepala tempo hari sebagai bentuk ucapan terima kasih karena sudah saya rawat di UGD bawah."
"Pasien keras kepala? Siapa? Jangan-jangan cowok kaya yang waktu itu menabrakmu di lift eksekutif?" tanya Amel dengan mata menyipit penuh selidik konyol.
"Bukan! Sudah, jangan bergosip pagi-pagi, Mel! Lebih baik kamu hafalkan kembali dosis obat hipertensi dan diabetes untuk lansia, biar nanti di posko pelayanan mejamu tidak keteteran menghadapi antrean warga," kilah Tera cepat, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela kaca untuk menyembunyikan senyuman tipisnya yang canggung.
Tanpa diketahui oleh Lentera maupun seluruh rombongan tim medis di dalam bus tersebut, sekitar dua ratus meter di belakang barisan bus mereka, sebuah mobil SUV mewah Land Cruiser berwarna hitam legam dengan kaca film antipeluru tingkat tinggi bergerak mengikuti secara konsisten.
Di balik kemudi depan, duduk dua orang anggota tim keamanan internal elite keluarga Nugraha dengan setelan pakaian taktis hitam lengkap dengan alat komunikasi nirkabel yang menempel di telinga. Sementara di kursi penumpang bagian belakang yang luas, duduk Sean Eagle Nugraha.
Pria berusia tiga puluh lima tahun itu duduk dengan posisi tegap sempurna, mengenakan jaket kain rajut tebal berwarna abu-abu gelap dengan kerah tinggi yang menutupi sebagian lehernya.
Sepasang manik mata elangnya menatap tajam ke arah badan bus nomor dua di depannya—bus tempat Lentera berada.
Di atas pangkuan paha kokohnya, sebuah tablet digital menampilkan peta satelit real-time jalur perbukitan yang mereka lalui, lengkap dengan sinyal titik merah yang menandakan posisi pelacak aktif yang sengaja dia sematkan di tas ransel milik Tera tanpa gadis itu ketahui.
"Tuan Sean," kepala tim keamanan internal yang duduk di kursi depan membuka suara melalui interkom nirkabel, suaranya terdengar sangat rendah dan penuh keseriusan.
"Sistem radar pemindai jarak jauh kami mendeteksi adanya kejanggalan pada sinyal frekuensi komunikasi di area radius tiga kilometer ke depan. Jalur sinyal seluler umum mendadak mati total atau diblokir secara sengaja menggunakan teknologi signal jammer berskala militer."
Sean tidak mengalihkan pandangan matanya dari bus Tera. Rahangnya yang tegas tampak mengencang, memancarkan aura dingin yang sangat mengintimidasi hingga membuat suhu udara di dalam kabin mobil terasa drop.
"Klan Hitam" gumam Sean sangat lirih dengan nada suara yang sedalam samudra. "Mereka benar-benar memanfaatkan momen bakti sosial ini sebagai medan eksekusi. Mereka mengira aku akan berada di titik terlemahku saat berada di luar benteng rumah sakit."
"Apakah kita perlu memerintahkan bus rombongan tim medis untuk memutar balik arah sekarang juga, Tuan?" tanya sang kepala keamanan dengan tangan yang sudah bersiap di atas tuas senjata taktisnya.
"Tidak perlu," jawab Sean dingin, sebuah kilatan kegelapan yang mematikan terpancar dari sepasang matanya yang gelap.
"Jika kita memutar balik sekarang, mereka akan menyadari rencana mereka telah bocor dan akan mencari celah lain yang lebih berbahaya di lingkungan kota yang padat. Biarkan mereka bergerak masuk ke dalam perangkap yang mereka buat sendiri. Hari ini, di bawah langit perbukitan yang sepi ini, aku yang akan menghapus eksistensi Klan Hitam dari peta peradaban dunia bawah."
Sean mengepalkan telapak tangan kanannya perlahan, merasakan sisa-sisa aliran energi murni dari sentuhan Lentera tempo hari mengalir dengan sangat sempurna dan stabil di sepanjang pembuluh darahnya.
Kekuatan supranaturalnya yang selama bertahun-tahun telah cacat dan merusak tubuhnya, kini telah menjelma menjadi sebuah kekuatan predator tertinggi yang utuh dan siap mematangkan mangsanya dalam sekali jentikan jari.
Badai besar pembunuhan berskala besar kini sedang bersiap menerjang, dan Sean akan memastikan dirinya menjadi tameng besi paling kokoh yang melindungi Lenteranya dari seujung kuku pun marabahaya.
Jalur pendakian kian menanjak tajam, membelah hutan pinus yang semakin rapat dan lebat. Udara dingin perbukitan mulai merembes masuk melalui celah-celah ventilasi bus, membuat para peserta baksos mulai merapatkan jaket mereka masing-masing.
Tepat pada pukul delapan lewat lima belas menit pagi, rombongan bus tim medis tiba di sebuah area lembah berbentuk cekungan besar yang diapit oleh dua tebing batu terjal yang tinggi—sebuah kawasan bernama Lembah Sunyi, jalur satu-satunya yang harus dilalui untuk mencapai desa tujuan mereka.
Ciiiiiitttt!
Bus pertama di barisan depan mendadak melakukan pengereman ekstrem yang sangat mendadak, memicu bunyi decitan ban yang memilukan di atas permukaan tanah basah.
Bus nomor dua yang ditumpangi Tera ikut mengerem mendadak, membuat seluruh penumpang di dalamnya terperanjat ke depan akibat efek kelembaman gaya.
"Aduh! Ada apa sih di depan? Kenapa mengerem mendadak seperti ini?" keluh Amel sambil memegangi keningnya yang hampir saja terbentur sandaran kursi depan.
Tera segera berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuhnya ke arah depan untuk melihat situasi melalui kaca depan bus.
Jangan lupa LIKE, KOMEN dan HADIAH nya.
sean anaknya siapa ini?