"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 | GAUN HITAM DAN MALAM PERTUNANGAN
Malam puncak acara pertunangan itu akhirnya tiba.
Kawasan Poseidon Camp dan ballroom utama kediaman Vanderbilt disulap menjadi lautan cahaya yang memukau. Ribuan tangkai mawar putih dipadukan dengan dekorasi kristal berkilauan menyambut para tamu undangan dari kalangan elite, sosialita media, hingga para petinggi bisnis global.
Di dalam kamar rias privat, Aleeza Wira berdiri di depan cermin besar berbingkai emas. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk. Balutan gaun malam berwarna hitam elegan dengan potongan asimetris memeluk sempurna lekuk tubuhnya, kontras dengan kulit putihnya yang bersinar. Gaun itu bukan sekadar pakaian biasa itu adalah rancangan khusus yang dikirim langsung oleh Austin, seolah ingin menegaskan identitas Aleeza sebagai Mawar Berduri yang tidak akan pernah bisa dijinakkan oleh siapa pun kecuali dirinya.
" Nona Aleeza, Tuan Vanderbilt menunggu Anda di lantai bawah," ucap seorang pelayan paruh baya dengan takzim, membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan.
Aleeza menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debar jantungnya yang menggila. Bayangan tentang Julian, Karina, dan segala kepahitan masa lalu mendadak berkelebat di kepalanya. Namun, sebelum rasa takut itu sempat menguasainya, pintu kamar terbuka lebar.
Austin melangkah masuk. Pria itu tampak begitu memukau dalam balutan tuksedo hitam rapi yang dirancang khusus oleh desainer Italia, dengan kancing lengan berlapis permata. Manik birunya menatap Aleeza lekat-lekat, nyaris tanpa berkedip. Untuk sesaat, napas sang billionaire seolah tercekat di tenggorokan.
Austin mendekat perlahan, mengabaikan jarak yang tersisa di antara mereka. Jemari hangatnya terulur, menyentuh rahang Aleeza dengan kelembutan yang kontras dengan sifat aslinya yang mendominasi.
"Kau terlihat sempurna, Mi Amor," bisik Austin serak, suaranya mengandung magnet yang menghipnotis.
Aleeza mengerjap, menelan ludahnya susah payah. " Kau sendiri tidak terlihat buruk, El Oso," balasnya mencoba mempertahankan nada sinis, meski pipinya sudah merona merah.
Austin tersenyum miring, seringai khas yang selalu berhasil membuat pertahanan Aleeza runtuh. " Ingat aturan main kita malam ini di hadapan para tamu dan pers, Aleeza. Kau milikku secara mutlak. Tidak ada senyum palsu untuk pria lain, tidak ada keraguan, dan yang terpenting tidak ada nama Julian di kepala indahmu itu."
Mendengar nama mantannya disebut, rahang Aleeza mengeras. "Kau tidak berhak melarang apa yang kupikirkan, Austin!"
"Aku berhak atas setiap inci dari dirimu, mulai dari detik ini sampai selamanya," tegas Austin tanpa bantahan. Ia meraih jemari Aleeza, menyematkan sebuah cincin berlian berukuran besar dengan permata safir biru di jari manis gadis itu cincin warisan leluhur Vanderbilt yang memancarkan kemegahan sekaligus ikatan mutlak.
Beberapa menit kemudian, alunan musik klasik mengalun lembut dari lantai bawah.
Ketika pintu ganda ballroom terbuka lebar, seluruh pasang mata tamu undangan seketika tertuju ke arah tangga utama. Di sana, berdiri sang penguasa Vanderbilt bersama wanita yang kini resmi diikatnya dalam sandiwara yang berubah menjadi takdir.
Olivia tersenyum lebar dari barisan depan, sementara Norman berdiri siaga di sudut ruangan dengan anggukan penuh hormat. Di tengah kerumunan elite dunia itu, Aleeza merapatkan jemarinya di lengan Austin, merasakan kehangatan tubuh pria yang kini menjadi benteng sekaligus sangkar emas terindahnya.
Di bawah kilatan blitz kamera wartawan yang membabi buta, Austin membisikkan satu kalimat terakhir tepat di telinga Aleeza:
" Selamat datang di duniamu yang baru, Mawar Berduri. Sekarang mari kita beri mereka pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan."
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!