Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Eca dan alex berhenti di sebuah kafe untuk mengisi perut yang lapar setelah seharian kerja penuh pasien, alex yang juga menunjuk ke arah apartemen depan kafe mengisyaratkan untuk nanti mencoba melihat itu setelah makan untuk tempat tinggal eca.
Deru mesin motoku mati menyisakan desing panas knalpot yang beradu dengan angin petang.
Dari balik kaca jendela transparan tempat makan itu, pemandangan dua orang yang duduk santai di meja sudut langsung menghantam kewarasanku.
Mataku menangkap telunjuk si dokter gadungan yang mengarah ke bangunan tinggi di seberang jalan—membuat seringai dingin langsung terkembang di wajahku.
Dengan tas merah muda kotor yang tercengkeram erat di tangan kiriku, aku melintasi jalanan aspal tanpa memedulikan klakson kendaraan yang melintas. Bel pintu kafe berdenting nyaring saat tubuhku menerobos masuk, menyebarkan ketegangan instan ke seluruh penjuru ruangan yang semula tenang.
Langkah kakiku yang berbalut sepatu bot mendarat berat di samping meja mereka. Tanpa ragu, aku melempar tas itu tepat ke atas meja makan hingga mangkuk dan sendok berdenting keras.
"Bagus ya, sibuk milih tempat tinggal baru sampai lupa barang murahan lo ketinggalan di parkiran?"
desisku rendah seraya mencondongkan badan ke meja, mengunci tatapan perawat itu sebelum beralih tajam menantang pria di hadapannya.
"Gue belum selesai bicara sama lo, Eca."
Eca yang lelah setelah bekerja dan berdebat dengan theo saat ini tidak terlalu menghiraukan kehadirannya, ia tetap memakan santapannya yang ada di meja makan, ia hanya terdiam dan tak menjawab theo sedikitpun.
Sikap bungkam itu menyulut rasa geram yang jauh lebih menyiksa ketimbang teriakan penuh amarah.
Mengabaikan keberadaan pria di seberang meja yang mulai bergerak gelisah, aku menarik kursi kayu itu hingga berderit tajam, lantas menjatuhkan diri tepat di hadapan perempuan yang masih sibuk mengunyah.
Ketenangan semu yang ia pamerkan seolah menelanjangi sisa kesabaranku. Tanganku bergerak cepat, menahan pergelangan tangan kanannya saat ia hendak menyuapkan sesendok makanan lagi ke bibirnya. Sentuhan dingin kulitku mengunci gerakannya seketika di udara.
"Hebat ya, bisa makan setenang ini setelah bikin keributan di parkiran,"
bisikku sinis, menatap lurus ke dalam manik matanya yang enggan membalas tatapanku. Rahangku berkedut menahan desakan emosi yang kian pekat.
"Lo anggap gue patung? Dengar baik-baik, gue nggak bakal pergi dari sini sebelum lo tatap muka gue dan selesain apa yang lo mulai hari ini."
"Theo, jangan buat gue jadi membenci lo"
"Bisa nggak lo biarin gue makan dengan tenang dulu, gue belom makan seharian ini"
"Dari pagi, mulai dari rumah lo sampai pulang kerja, gue baru bisa makan sekarang"
"Lo bikin gue pusing tau nggak?" sahut eca dengan nada rendah karena lelah
Kata benci yang meluncur dari bibir perempuan itu menghujam tepat ke ulu hatiku, menyisakan denyut asing yang mendadak meredam letupan amarah di kepala. Tatapan matanya yang tampak begitu sayu di bawah temaram lampu kafe seketika menyadarkanku betapa pucat wajahnya sekarang. Mengingat kondisinya yang sempat terkapar demam di rumahku tempo hari, rasa bersalah mendadak menyusup tipis di balik egoku yang setinggi langit.
Aku mendengus pelan, berusaha keras menyamarkan rasa cemas yang tak seharusnya hadir. Perlahan jemariku terangkat dari tangannya, membiarkan sendok itu kembali bergerak leluasa.
Kedua tanganku kini bersedekap di dada, mataku melirik segelas air putih yang tersaji lalu menggesernya sedikit mendekat ke arah mangkuknya.
"Gue nggak peduli lo mau benci sama gue atau nggak,"
ucapku ketus, melempar pandangan ke luar jendela besar untuk menghindari sorot matanya yang melelahkan itu. Rahangku mengeras saat melanjutkan gumaman dengan nada lebih rendah,
"Makan yang bener, jangan kayak orang kesurupan buru-buru gitu. Habisin dulu porsi lo, baru kita urus urusan apartemen konyol ini."
Eca yang menyadari tingkah theo sedari tadi penuh kecemasan, setelah makan ia berpamitan pada alex karena ia akan kembali pulang saja, eca memandang theo dengan lembut dan menarik tangannya.
"Ayo pulang gue sudah selesai makannya"
"Lo pasti capek ngejar gue naik motor,tangan lo dingin seperti es" seru eca dengan lirih
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊