Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOMPET TERTINGGAL
Enzo duduk di sudut ruangan kafe berkonsep minimalis modern yang terletak di kawasan komersial tak jauh dari area kampus. Di atas meja kayu tempatnya bersandar, berdiri segelas es teh tawar seharga enam ribu rupiah—minuman paling murah di papan menu yang ia pesan hanya demi mendapatkan akses koneksi Wi-Fi gratis selama dua jam.
Layar ponsel tuanya yang retak menampilkan beberapa halaman situs lowongan kerja lokal. Jemari Enzo menari di atas layar, menyalin nomor telepon agen penyalur tenaga kerja harian serta mencatat alamat gudang distributor yang membutuhkan tenaga kuli angkut esok pagi. Usai menyelesaikan konfrontasi jujur dengan Bu Salmah dan Tante Rika tadi pagi, benak Enzo terasa jauh lebih tenang. Misi tujuh hari tanpa janji manis dari Sistem Penakluk Dewi masih terus berjalan di latar belakang pikirannya, memaksa Enzo untuk selalu menatap realita hidup apa adanya tanpa topeng kepalsuan.
"Permisi, Kak. Wi-Fi di sudut ini masih lancar, kan?" tanya seorang pelayan kafe seraya menyapu sisa sedotan di meja sebelah.
"Lancar banget, Mas. Terima kasih ya," sahut Enzo seraya menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk sopan.
Enzo kembali menyesap es teh dinginnya, menikmati keheningan sejenak di tengah alunan musik akustik yang diputar pelan dari pengeras suara kafe. Pelanggan yang datang sore itu mayoritas adalah mahasiswa yang sibuk bertukar ide di depan laptop, atau pasangan muda yang menikmati obrolan santai.
Hingga sebuah dentang lonceng pintu kafe berbunyi keras, disusul suara ketukan tumit sepatu hak tinggi yang beradu nyaring dengan lantai marmer.
Seorang gadis muda melangkah masuk dengan gaya anggun yang menyita perhatian beberapa pengunjung. Gadis itu mengenakan gaun terusan berwarna krem dari bahan sutra halus, dipadu dengan jaket denim pendek bermerek internasional yang tampak sangat mahal. Rambut cokelat gelapnya yang bergelombang dibiarkan terurai indah di bahu, membingkai wajah cantiknya yang dipoles riasan sempurna.
Namun, terlepas dari penampilannya yang sangat memikat, raut wajah gadis itu dipenuhi oleh rasa kejengkolan dan kemarahan yang mendalam.
Gadis itu—Clarissa—melangkah dengan ketukan kaki kasar menuju meja sofa empuk yang berjarak dua meter dari tempat Enzo duduk. Ia menghempaskan tas tangan kecilnya ke atas meja, lalu mendaratkan tubuhnya di atas sofa dengan gerakan kasar.
"Mbak! Hazelnut latte satu, less sugar, minta cepat ya!" seru Clarissa dengan nada suara yang amat ketus pada pelayan yang melintas.
"Baik, Kak. Mohon ditunggu sebentar," jawab pelayan itu seraya mengangguk canggung dan buru-buru berbalik ke arah konter.
Clarissa menyilangkan kakinya yang jenjang, merogoh ponsel pintar keluaran terbaru yang casing-nya berkilau berlian imitasi, lalu menempelkannya ke telinga dengan napas berburu. Enzo yang duduk membelakangi dinding hanya bisa mendengarkan celoteh gadis itu, sebab nada suaranya yang tinggi sama sekali tidak disembunyikan.
"Papi tuh gimana sih?!" bentak Clarissa ke ponselnya dengan suara melengking yang tertahan. "Masa jam segini sopir malah disuruh antar Tante Siska ke salon? Aku kan ada janji sama teman-teman di tempat bowling jam empat!"
Hening sejenak. Tampaknya orang di seberang telepon sedang memberikan penjelasan.
"Nggak mau tahu!" potong Clarissa dengan tawa sumbang yang penuh kekesalan. "Papi selalu aja gitu! Lebih bela Tante Siska dibanding anak sendiri! Nggak usah pura-pura peduli deh, Papi transfer uang saku juga cuma biar aku nggak ganggu acara kalian, kan?!"
Brak!
Clarissa mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, lalu melemparkan ponsel mewahnya ke atas sofa dengan kasar. Dagu gadis dua puluh tahun itu terangkat tinggi, matanya berkaca-kaca menahan amarah dan kekecewaan yang mendalam, walau bibirnya dipaksa cemberut keras demi mempertahankan gengsinya.
Seorang pelayan datang membawakan cangkir kopi pesanan Clarissa dengan nampan kecil. "Pesanan hazelnut latte-nya, Kak—"
"Nggak usah! Saya udah nggak mood!" potong Clarissa ketus seraya melempar selembar uang seratus ribuan ke atas meja tanpa menunggu uang kembalian.
Gadis itu berdiri mendadak, menyambar tas tangan kecil dan ponsel mewahnya, lalu melangkah lebar meninggalkan kafe dengan ketukan sepatu hak tinggi yang menghentak keras. Pintu kaca kafe berdentang nyaring saat Clarissa mendorongnya keluar menuju area parkir.
Pelayan kafe yang ditinggalkan hanya bisa menarik napas panjang, mengambil uang kertas di atas meja, lalu membawa kembali cangkir kopi yang bahkan belum sempat tersentuh itu.
Enzo mengawasi kepergian Clarissa dari sudut matanya seraya menghembuskan napas pelan. Ia menggelengkan kepala melihat tingkah gadis kaya yang mudah meledak-ledak itu. Namun, saat pandangan Enzo tak sengaja menyapu area sofa empuk tempat Clarissa duduk tadi, matanya menangkap sebuah benda asing yang tertinggal di celah antara busa dudukan dan sandaran sofa.
Benda itu adalah sebuah dompet lipat berbahan kulit asli berwarna merah marun dengan logo logam keemasan yang mengilap di sudutnya. Dompet itu tampak sangat tebal, tebal bukan hanya oleh tumpukan kartu kredit tetapi juga gulungan uang kertas yang menyembul samar dari celah resletingnya.
"Dompetnya tertinggal..." gumam Enzo pelan seraya berdiri dari kursi kayunya.
Pelayan kafe tadi sudah terlanjur berjalan jauh menuju dapur belakang, sementara pengunjung kafe lainnya sibuk menatap layar laptop masing-masing tanpa menyadari keberadaan dompet mahal tersebut.
Enzo melangkah mendekati meja sofa, membungkuk pelan, lalu mengambil dompet merah marun itu. Begitu jemarinya menyentuh permukaan kulit dompet yang dingin dan halus, ponsel tua di saku celana jinsnya mendadak bergetar panjang dua kali secara berurutan.
Enzo merogoh ponselnya dengan tangan kiri, menggeser layar kaca retak yang mendadak menyala terang di tengah remang kafe.
[Deteksi Karakter Baru Terhubung!]
[Target 3: Clarissa (20 Tahun)]
[Latar Belakang Singkat: Putri tunggal seorang pengusaha properti kaya. Mengalami pengabaian emosional kronis dari kedua orang tuanya yang sibuk dan bercerai. Mengompensasi rasa hampa dengan perilaku konsumtif, gengsi tinggi, dan sikap arogan di hadapan publik.]
[Status Dompet: Berisi uang tunai sebesar Rp 8.500.000,- serta 4 buah kartu kredit aktif.]
[Instruksi Sistem: Kembalikan benda tersebut secara langsung tanpa mengharapkan imbalan atau balasan materi.]
Enzo memandangi deretan teks bercahaya itu dengan kening berkerut tipis. "Delapan juta setengah..." bisik Enzo pelan.
Uang tunai di dalam dompet merah marun itu jumlahnya cukup untuk melunasi seluruh tunggakan rumah kontrakannya selama bertahun-tahun, menyembuhkan penyakit ibunya di kampung, sekaligus memberinya modal usaha kecil-kecilan. Bagi seorang pekerja lepas yang tadi pagi harus berdebat soal sewa kontrakan tiga ratus ribu rupiah, godaan di genggaman tangannya saat ini terasa begitu nyata dan berat.
Namun, tidak ada satu detik pun keraguan yang terbersit di dalam mata Enzo.
Pemuda itu mengencangkan cengkeramannya pada dompet mewah itu, mematikan layar ponsel tuanya, lalu berbalik melangkah cepat keluar melewati pintu kaca kafe. Rasa tanggung jawab dan integritas jujur yang telah menempa dirinya selama beberapa hari terakhir tidak akan pernah ia tukar dengan tumpukan uang haram milik orang lain.
Udara sore yang hangat menyapa kulit wajah Enzo saat ia menapak di pelataran parkir kafe. Dari kejauhan di tepi jalan raya, ia melihat sosok Clarissa sedang berdiri menghentak-hentakkan kakinya di samping mobil sedan sport berwarna putih yang terparkir menepi. Gadis itu tampak panik merogoh tas tangan kecilnya berulang kali, menyadari bahwa dompet utamanya telah hilang dari simpanannya.
Enzo menyajikan langkah kakinya yang mantap, berjalan lurus mendekati gadis kaya yang sedang kebingungan itu, siap menghadapi apa pun reaksi arogan yang bakal meluncur dari bibir manis Clarissa.