Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Matahari pagi kembali menampakkan sinarnya, memancarkan bias keemasan yang menembus celah-celah dedaunan di pekarangan rumah sederhana keluarga Bayu. Udara pagi yang sejuk berpadu dengan aroma harum teh manis hangat dan roti bakar yang baru saja disiapkan oleh Lila di meja makan.
Aurelia melangkah turun dari tangga dengan seragam putih abu-abu yang disetrika rapi, dasinya terpasang sempurna, dan rambut ikalnya dikuncir kuda setengah dengan rapi. Semangatnya pagi ini tampak pulih sepenuhnya, seolah kejadian kurang menyenangkan kemarin sudah ia buang jauh-jauh dari ingatan.
"Pagi, Pa, Ma," sapa Aurelia ceria, lalu mencium punggung tangan Bayu dan Lila bergantian sebelum mendudukkan dirinya di kursi.
"Pagi juga, Sayang. Wah, tumben udah siap sepagi ini? Nggak kesiangan lagi?" ledek Lila lembut sambil meletakkan piring berisi roti bakar selai sangkaya di hadapan putrinya.
"Mana bisa kesiangan, Ma. Hari ini kan jadwal Aurelia piket kelas lagi, jadi harus datang lebih cepat biar kelasnya bersih sebelum guru masuk," jawab Aurelia riang sambil menggigit rotinya.
Bayu yang sedang melipat koran pagi tersenyum hangat melihat keceriaan putrinya. "Bagus kalau begitu. Ingat, jangan ngebut-ngebut lagi naik sepedanya, ya. Hati-hati di jalan."
"Siap, Pa!" balas Aurelia dengan gestur hormat bercanda yang membuat kedua orang tuanya tertawa kecil.
Setelah menghabiskan sarapannya dan meminum habis segelas susu, Aurelia berpamitan. Ia mengambil sepedanya dari teras samping, lalu mengayuh pedalnya keluar halaman dengan hati-hati. Suasana kompleks perumahan pagi itu terasa damai. Anak-anak kecil berlari-lari kecil menuju sekolah dasar, sementara para ibu rumah tangga tampak menyapu halaman rumah masing-masing.
Sesampainya di persimpangan jalan tempat ia hampir mengalami kecelakaan kemarin, Aurelia secara otomatis menurunkan kecepatan sepedanya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri dengan waspada, memastikan tidak ada sepeda motor ugal-ugalan yang melintas. Setelah dirasa aman, ia kembali mengayuh sepedanya dengan lancar menuju SMA Tunas Bangsa.
Suasana SMA Tunas Bangsa pukul setengah tujuh pagi tampak sibuk namun terkendali. Para siswa berdatangan melalui gerbang utama, berjalan bergerombol menuju kelas masing-masing. Aurelia memarkirkan sepedanya di rak khusus, merapikan roknya sebentar, lalu berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju kelas XI-IPS 2.
Begitu ia mendorong pintu kelas yang belum terlalu ramai, kedua sahabat setianya—Aluna dan Aruna—langsung menyambutnya dengan wajah penuh rasa penasaran yang amat sangat.
"Aurelia Calista!" seru Aluna histeris sambil menarik tangan Aurelia begitu gadis itu duduk di bangkunya. "Kamu tahu nggak?! Ada berita paling panas seantero sekolah pagi ini!"
Aurelia mengerjap bingung, meletakkan tas ranselnya di atas meja. "Berita apa lagi, Lun? Pagi-pagi udah heboh banget."
"Ini soal si anak baru itu... Grayson!" timpal Aruna tidak kalah antusias, mendekatkan kursinya ke meja Aurelia. "Tahu nggak, tadi pagi sewaktu anak-anak OSIS ngumpul di ruang sekretariat, ada kabar kalau anak-anak berandal kelas atas itu—si Rian, Satya, Bima, dan si Grayson sendiri—ternyata anak-anak dari keluarga donatur terbesar yayasan kita! Tapi bukan itu berita utamanya..."
"Terus apa?" tanya Aurelia mulai tertarik, meskipun ada sedikit rasa tidak nyaman saat mendengar nama Grayson disebut.
"Kata anak-anak yang ngeliat di parkiran tadi, si Grayson tuh bawa mobil sport mewah edisi terbatas. Tapi yang bikin heboh, dia sempat nyariin seseorang sebelum masuk kelas..." Aluna menggantungkan kalimatnya sejenak, menatap Aurelia dengan tatapan penuh arti. "Dia nanyain kamu, Li!"
Deg!
Jantung Aurelia mendadak berdetak dua kali lebih cepat. Bulu kuduk di tengkuknya meremang seketika. "N-nanyain aku? Buat apa?!" tanyanya dengan suara agak terbata.
"Nah, itu dia masalahnya!" sambung Aruna dengan nada berbisik. "Katanya dia titip salam buat 'Gadis Sepeda kesayangannya'. Sumpah, anak-anak sekoridor langsung heboh bahas itu tadi. Kamu beneran nggak ada hubungan apa-apa kan sama dia sebelum dia pindah ke sini, Li?"
Aurelia menggeleng cepat dengan ekspresi ngeri. "Amit-amit! Jangan sembarangan ya! Aku aja baru kenal dia kemarin pagi pas dia nyerempet sepedaku sampai aku jatuh ke aspal. Sumpah, cowok itu benar-benar nggak beres!"
Bel tanda masuk kelas berdering nyaring sebelum Aluna dan Aruna sempat merespons ucapan Aurelia. Bersamaan dengan bunyi bel tersebut, langkah kaki tegap terdengar mendekati ambang pintu kelas.
Seluruh isi kelas mendadak hening seketika.
Grayson Balindra melangkah masuk ke dalam kelas dengan seragam putih abu-abu yang sedikit dikeluarkan, menampilkan kesan urakan namun tetap memukau secara visual. Wajahnya tampak dingin seperti biasa, rahangnya tegas, dan yang paling mencolok adalah sepasang bola mata amber terang yang langsung menyapu seluruh penjuru ruangan sebelum akhirnya terkunci tepat pada satu titik: meja di barisan tengah dekat jendela.
Aurelia yang sedang memegang pulpen langsung menegang. Ia reflek menunduk, pura-pura merapikan buku tulis di atas mejanya, berusaha menghindari tatapan tajam yang sedang berjalan lurus ke arahnya.
Kriet...
Kursi di sebelah Aurelia ditarik perlahan. Grayson mendudukkan dirinya dengan santai, menaruh tas ransel hitamnya di lantai, lalu menoleh ke arah Aurelia yang masih sibuk pura-pura sibuk.
Aroma parfum mint bercampur kayu manis langsung menguar di indra penciuman Aurelia, menandakan betapa dekatnya jarak di antara mereka saat ini.
"Pagi, Gadis Sepeda," bisik Grayson tepat di samping telinga Aurelia, suaranya rendah, berat, dan terdengar begitu membuai namun sarat akan ancaman tersembunyi. "Tidur kamu nyenyak semalam?"
Aurelia menoleh dengan wajah memerah menahan kesal. Ia menatap tajam bola mata amber itu, mencoba menegakkan keberaniannya di hadapan sang pemuda.
"Jangan panggil aku 'Gadis Sepeda' terus, Grayson!" desis Aurelia tertahan, berusaha menjaga suaranya agar tidak didengar oleh guru piket yang sedang berjalan di koridor. "Dan berhenti mengganggu aku! Mau kamu sebenarnya apa sih?!"
Grayson tersenyum miring—sebuah seringai tipis yang membuat jantung Aurelia berdegup kencang karena rasa tidak aman. Pemuda itu mendekatkan wajahnya sedikit lagi, membuat Aurelia reflek bersandar ke dinding jendela.
"Mau aku?" bisik Grayson perlahan, menatap lurus ke dalam mata cokelat Aurelia dengan tatapan penuh kepemilikan yang mutlak. "Aku cuma mau memastikan kalau dunia kamu... sekarang sepenuhnya adalah milik aku."