Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 — Sumpah di Bawah Ancaman
Yao berjalan menyusuri altar yang dihiasi bunga-bunga putih, digandeng Marco yang dengan bangga menggantikan peran ayah yang tidak pernah sempat menyaksikan hari ini — sebuah kehormatan yang diterima Marco dengan mata berkaca-kaca dan hati penuh haru.
Gerald menunggunya di ujung altar, matanya tidak bisa lepas dari sosok Yao yang berjalan mendekat, air mata bahagia mulai menggenang di sudut matanya sendiri — sebuah pemandangan langka dari seorang Don yang dikenal karena kedinginan emosionalnya.
"Kau terlihat luar biasa," bisiknya saat Yao akhirnya berdiri di hadapannya, tangan mereka saling menggenggam erat.
"Kau juga tidak terlihat buruk, Signor Moretti," jawab Yao, tersenyum melalui air mata bahagianya sendiri.
Pendeta yang memimpin upacara — seorang teman lama keluarga Moretti yang telah dipercaya menjaga rahasia dunia mereka selama puluhan tahun — mulai membacakan kata-kata sakral pernikahan, suaranya mengalun tenang di tengah kebun anggur yang dipenuhi keheningan penuh haru dari para tamu yang menyaksikan.
"Gerald Moretti, apakah kau bersedia menerima Yao Conti sebagai istrimu, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?"
"Aku bersedia," jawab Gerald tegas, suaranya penuh keyakinan yang tidak tergoyahkan.
"Yao Conti, apakah kau bersedia menerima Gerald Moretti sebagai suamimu, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?"
"Aku bersedia," jawab Yao, air mata mengalir deras namun senyumnya begitu tulus dan cerah.
Tepat saat pendeta hendak mengucapkan kata-kata terakhir yang akan menyatukan mereka secara resmi sebagai suami istri, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah gerbang masuk kebun, diikuti teriakan panik dan suara tembakan yang memecah keheningan sakral upacara itu.
"SERANGAN!" teriak salah satu penjaga keamanan, berlari panik menuju altar. "Mereka menyerang dari segala arah!"
Kekacauan meledak seketika. Para tamu berlarian mencari perlindungan, kapten-kapten keluarga Moretti segera mengeluarkan senjata tersembunyi mereka, sementara Gerald dengan refleks cepat menarik Yao ke belakang tubuhnya, melindunginya dari arah tembakan yang mulai terdengar semakin dekat.
"Katarina," geram Gerald, mengenali taktik serangan yang khas keluarga Russo. "Dia benar-benar melakukannya."
Ia menarik Yao mundur di balik salah satu meja perjamuan besar yang terbalik, menciptakan perlindungan sementara dari hujan peluru yang mulai memenuhi udara. Para tamu yang panik berlarian ke segala arah, beberapa terjatuh terinjak-injak dalam kekacauan, sementara kapten-kapten Moretti berusaha membentuk barisan pertahanan di sekitar keluarga inti.
"Kita harus mengevakuasi tamu-tamu terlebih dahulu," kata Gerald cepat, matanya menyapu area sekitar mencari jalur teraman. "Marco! Koordinasikan evakuasi ke sisi timur mansion!"
"Dimengerti!" balas Marco dari kejauhan, sudah bergerak mengarahkan tamu-tamu yang ketakutan menuju pintu darurat yang telah mereka persiapkan sebagai antisipasi jauh-jauh hari.
Kekacauan pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Yao dan Gerald berubah seketika menjadi medan pertempuran berdarah. Pasukan bersenjata keluarga Russo, dipimpin langsung oleh Dimitri Volkov, menyerbu dari berbagai penjuru kebun anggur, memanfaatkan kekacauan tamu yang panik untuk menyusup lebih dalam.
Gerald, masih mengenakan setelan pernikahannya yang kini mulai kotor terkena tanah dan debu pertempuran, bertarung dengan ganas untuk melindungi Yao dan para tamu yang tidak bersenjata. "Bawa Yao ke ruang aman!" perintahnya pada dua kapten terdekat, meski Yao menolak keras untuk dipisahkan darinya di tengah bahaya seperti ini.
"Aku tidak akan meninggalkanmu!" teriaknya, mengambil pistol tersembunyi dari balik lipatan gaun pengantinnya — sebuah persiapan yang telah ia lakukan diam-diam mengingat pengalaman pahitnya dengan bahaya yang selalu mengintai dunia mereka.
Sofia, meski usianya tidak lagi muda, menunjukkan keberanian luar biasa dengan membantu mengevakuasi tamu-tamu yang lebih rentan ke tempat perlindungan di dalam mansion utama, menggunakan pengetahuan lamanya tentang tata letak properti keluarga mafia untuk menemukan jalur evakuasi teraman.
Marco memimpin pertahanan di garis depan, mengoordinasikan kapten-kapten Moretti dengan keahlian taktis yang telah ia asah bertahun-tahun, berhasil memukul mundur beberapa gelombang serangan awal meski korban mulai berjatuhan di kedua belah pihak.
Di tengah kekacauan itu, Katarina Volkov muncul dari balik barisan pepohonan anggur, matanya terkunci penuh kebencian pada Yao yang berdiri gagah di samping Gerald, pistol di tangannya terarah tegas meski gaun pengantinnya kini kotor dan robek di beberapa bagian.
"Kau merampas segalanya dariku," desis Katarina, mendekat dengan langkah penuh dendam. "Enzo, rencana kami, kehormatan keluarga Russo — semuanya hancur karena kalian berdua."
"Enzo mengkhianati semua orang yang pernah mempercayainya," jawab Yao tegas, pistolnya tidak goyah meski jantungnya berdegup kencang. "Dia pantas mendapatkan akhir yang ia terima."
"Dan sekarang," lanjut Katarina, senyum kejam terukir di wajahnya yang penuh amarah, "kalian berdua akan mendapatkan akhir yang pantas untuk kesombongan kalian merayakan kemenangan di atas penderitaan keluargaku."
Ia mengangkat pistolnya, mengarahkannya langsung ke Yao dengan tangan yang gemetar karena kebencian yang membara.
"Katarina, hentikan ini," kata Gerald tegas, mencoba menempatkan dirinya di antara pistol itu dan Yao. "Perang ini tidak akan mengembalikan apa pun yang telah kau hilangkan. Ini hanya akan menambah lebih banyak darah pada tangan yang sudah cukup kotor."
"Kau tidak berhak bicara padaku tentang darah kotor," desis Katarina, matanya berkilat penuh air mata kemarahan yang tidak pernah ia izinkan jatuh di depan siapa pun. "Keluargamu yang memulai semua ini bertahun-tahun lalu. Sekarang saatnya keluargaku mengakhirinya."
Di sekeliling mereka, pertempuran terus berkecamuk, suara tembakan dan teriakan memenuhi udara yang seharusnya dipenuhi musik dan tawa bahagia. Beberapa kapten Moretti mulai mendekat berusaha mengepung Katarina, tapi wanita itu terlalu terfokus pada dendamnya untuk menyadari bahaya yang mendekat.