NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Dua Medan Pertempuran

Di permukaan lembah, pertarungan pecah dengan kekuatan yang membuat reruntuhan kuno di sekitarnya bergetar hebat.

Su Mei menyalurkan seluruh kekuatan jiwanya ke dalam gelang pusaka, memanggil Boneka Akar Kembar dalam ukuran yang jauh lebih besar dari sebelumnya, akar-akar raksasa menjalar dari tanah lembah yang subur oleh ratusan tahun tanpa jamahan manusia, menyerang konstruksi tulang-kayu milik Tetua Kang dengan kekuatan brutal.

"Kau sudah tua, Su Mei," Tetua Kang berkata sambil mengarahkan makhluknya menangkis serangan itu dengan sayap tulangnya yang tajam seperti bilah pedang. "Kekuatanmu tak lagi seperti dulu."

"Cukup untuk menahanmu," Su Mei membalas, giginya terkatup rapat menahan beban mengendalikan boneka sebesar itu.

Yun Xia bergerak lincah di sela-sela pertarungan raksasa itu, pedangnya menyerang langsung ke arah Tetua Kang sendiri, mencoba memanfaatkan celah yang tercipta saat perhatiannya terbagi antara mengendalikan makhluknya dan bertarung langsung.

"Kau cukup berani, Nona," Tetua Kang berkata, dahan hitamnya berkelebat menangkis pedang Yun Xia dengan kekuatan yang jauh melampaui seorang tetua sekte biasa—kekuatan yang jelas bukan sepenuhnya miliknya sendiri. "Tapi keberanian saja tak pernah cukup melawan kebijaksanaan tiga ratus tahun."

Old Bo, di tepi pertarungan, bekerja secepat mungkin memperbaiki kerusakan kecil pada Boneka Akar Kembar setiap kali serangan Tetua Kang berhasil merusak sebagian strukturnya, tangannya bergerak dengan presisi yang telah terasah bertahun-tahun sebagai pengrajin, meski jantungnya berdebar kencang menyaksikan kekuatan yang jauh di luar bayangannya.

Jauh di bawah tanah, Ji Ming dan Tetua Feng tiba di ruang arsip dengan napas terengah, pintu batu berat di belakang mereka ditutup dan dikunci dengan formasi sederhana yang mungkin hanya akan menahan beberapa menit kalau Tetua Kang benar-benar berusaha menerobos.

"Kita tidak punya waktu untuk menunggu ritual sempurna dengan tiga orang," Tetua Feng berkata cepat, meletakkan kotak besi berisi wadah Mo Yan kembali ke altar tengah ruangan. "Tapi mungkin—mungkin ada cara lain."

"Cara apa?"

"Ritual penyucian penuh butuh tiga pengukir jiwa berpengalaman untuk menyeimbangkan tiga aspek kekuatan—penahan, pemurnian, dan pelepasan. Tapi ada versi darurat, lebih berisiko, yang hanya butuh dua orang dengan ikatan kepercayaan yang kuat, mengorbankan sebagian kekuatan jiwa masing-masing sebagai gantinya." Tetua Feng menatap Ji Ming lurus-lurus, keraguan jelas terlihat di matanya. "Tapi ini berisiko tinggi bagi yang lebih muda, lebih lemah secara kekuatan jiwa. Kegagalan bisa berarti kehilangan sebagian besar kekuatan jiwamu selamanya, mungkin lebih buruk."

Ji Ming menatap kotak besi itu, lalu ke arah pintu batu yang mulai bergetar samar—entah karena pertarungan di atas atau sesuatu yang mencoba menerobos masuk.

"Kalau kita tidak melakukannya sekarang, dan Tetua Kang berhasil sampai sini, semua pengorbanan mereka di atas akan sia-sia," Ji Ming berkata, suaranya lebih mantap dari yang ia kira mampu ia keluarkan dalam situasi seperti ini. "Aku siap mengambil risikonya."

Tetua Feng menatapnya lama, mencari keraguan yang mungkin tersembunyi di balik kata-kata tegas itu, tapi hanya menemukan tekad yang sama seperti yang pernah ia lihat pada Guru Chen bertahun-tahun lalu.

"Baiklah," katanya akhirnya, mulai mengambil posisi di sisi altar yang berlawanan dengan Ji Ming. "Ikuti gerakanku persis. Salurkan kekuatan jiwamu perlahan, jangan dipaksa—ingat apa yang diajarkan manualmu. Kita akan membuka segel sedikit demi sedikit, cukup untuk memurnikan esensi gelapnya tanpa melepaskan seluruh kekuatannya sekaligus."

Kedua tangan mereka terangkat di atas kotak besi itu, kekuatan jiwa mulai mengalir dari masing-masing—Tetua Feng dengan aliran yang tenang dan terkendali hasil pengalaman puluhan tahun, Ji Ming dengan aliran yang lebih kasar namun tulus, penuh tekad yang belum sepenuhnya terasah namun tak kalah kuat.

Kotak besi itu mulai bergetar, cahaya keunguan pucat mulai merembes dari sela-selanya—cahaya yang sama seperti yang pernah Ji Ming lihat saat gerbang Makam Terlarang pertama kali terbuka, tapi kali ini jauh lebih gelap, lebih dingin, membawa gema samar suara yang mendesis penuh kebencian dari dalam wadah.

Bocah kecil dengan meridian kosong, suara itu berbisik di kepalanya, suara yang bukan berasal dari telinga melainkan langsung menembus kesadarannya. Kau pikir kau bisa memurnikan apa yang telah kubangun dengan darah dan pengorbanan ratusan orang?

"Jangan dengarkan dia," Tetua Feng memperingatkan cepat, wajahnya mulai berkeringat menahan beban ritual yang semakin berat. "Ia akan mencoba membingungkanmu, mencari celah dalam tekadmu. Fokus pada apa yang kau perjuangkan, bukan pada apa yang ia katakan."

Ji Ming menutup mata sejenak, mengingat wajah Guru Chen yang hanya sempat ia lihat dalam kabut sesaat, mengingat pengorbanan Su Mei, Yun Xia, dan Old Bo yang sedang bertarung mati-matian di atas sana, mengingat delapan belas tahun hidupnya yang selama ini dianggap tak berguna—dan untuk pertama kalinya, merasakan semua itu bukan sebagai beban, melainkan sebagai sumber kekuatan yang mengalir lebih deras dari sebelumnya ke dalam ritual yang sedang mereka jalankan.

Cahaya keunguan di kotak besi itu mulai berubah, perlahan bercampur dengan kilau kehijauan lembut yang familiar—warna yang sama seperti cahaya di mata Xiao Mu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!