Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Gerbang Rahasia
Kabut tebal menyelimuti segalanya, seolah dunia di luar sana sudah lenyap. Hanya ada mereka berdua, dan gerbang tua yang berdiri tegak di hadapan — berlumut, retak di beberapa bagian, namun tetap kokoh mempertahankan rahasianya selama puluhan tahun.
Li An melepaskan tangannya sejenak, mengusap permukaan batu yang dingin. Ia mencari sesuatu di balik rimbunnya tanaman merambat. Jemarinya menyentuh ukiran yang hampir hilang tertutup waktu — seekor naga yang memegang cincin bulan.
"Ini dia..." bisiknya.
Ling Yue mendekat. "Apa artinya?"
"Simbol ayahku," jawab Li An pelan, suaranya bergetar sedikit. "Hanya keluargaku yang tahu cara membukanya." Ia merogoh saku dada, mengeluarkan benda kecil yang tergantung di lehernya — sebuah liontin perak berbentuk bulan sabit. Ia menekannya tepat ke lubang kecil di tengah ukiran itu.
Suara dengungan rendah terdengar, diikuti bunyi batu yang bergeser perlahan. Gerbang tua itu terbuka perlahan, menampakkan lorong gelap yang menerus ke dalam bukit. Udara sejuk dan lembap menghembus keluar, membawa bau tanah tua dan sesuatu yang samar-samar — aroma dupa yang biasa dibakar di kuil kerabat istana.
"Siapa yang menjaga tempat ini?" tanya Ling Yue, suaranya hampir tak terdengar.
Li An menatap ke dalam kegelapan. "Dulu pengikut setia ayahku. Tapi sudah bertahun-tahun aku tak mendengar kabar mereka. Kita tidak tahu siapa yang ada di dalam sana sekarang." Ia menggenggam tangan Ling Yue kembali, erat sekali. "Tetap di belakangku. Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan tanganku."
Mereka melangkah masuk. Cahaya dari luar perlahan memudar, digantikan cahaya samar dari lentera-lentera batu yang menyala secara ajaib seiring langkah kaki mereka. Lorong itu panjang, dindingnya dihiasi lukisan-lukisan kisah leluhur kekaisaran — di antaranya sosok ayah Li An yang berdiri di samping kaisar, wajahnya penuh kehormatan.
"Li An..." Ling Yue menunjuk salah satu lukisan yang lebih jauh. Di sana, sosok ayah Li An digambarkan sendirian, memegang sebuah peti kayu berukir emas, berjalan menjauhi istana. "Apa itu?"
Li An terdiam lama, menatap lukisan itu seolah baru pertama kali melihatnya. "Ayahku pernah menyimpan sesuatu yang sangat berharga — bukan harta, melainkan kebenaran. Katanya, jika suatu hari kekuasaan jatuh ke tangan yang salah, benda ini bisa menyelamatkan negara... atau menghancurkannya."
Belum sempat Ling Yue bertanya lebih lanjut, suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Seseorang berdiri di sana, tertutup bayangan.
"Siapa yang berani mengganggu tempat terlarang ini?" suaranya berat dan berwibawa.
Li An melangkah maju. "Aku Li An, putra Li Weiyuan. Aku datang mengambil apa yang menjadi hakku, dan menyelamatkan orang yang ditawan di sini."
Sosok itu melangkah keluar, cahaya jatuh ke wajahnya — seorang pria paruh baya berwajah tegas, dengan bekas luka panjang di pipi kiri. Matanya membelalak tak percaya.
"Tuan Muda... Li An?"
"Paman Feng?" Li An maju selangkah, terkejut. "Kau masih di sini?"
Paman Feng — pengawal kepercayaan ayahnya — mendekat, matanya berkaca-kaca. "Aku berjanji pada Tuan Li Weiyuan akan menjaga tempat ini sampai kau kembali. Aku tahu kau pasti datang." Namun senyumnya memudar seketika. "Tapi kau terlambat. Mereka sudah duluan datang."
"Maksudmu?" jantung Li An berdegup kencang.
"Orang-orang yang melayani Pangeran Yuwen. Mereka menemukan tempat ini tiga hari lalu. Mereka mengambil benda yang dijaga di sini... dan mereka membawa gadis itu juga."
Wajah Ling Yue pucat. "Rouran..."
"Dia tidak terluka," cepat-cepat Paman Feng menambahkan. "Mereka membutuhkannya hidup-hidup. Ternyata darah keturunannya adalah kunci untuk membuka isi benda yang dicuri itu."
Li An mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. "Ke mana mereka membawanya?"
"Ke Istana Musim Dingin," jawab Paman Feng dengan berat hati. "Di sana Pangeran Yuwen bersiap melancarkan rencananya — menggulingkan kaisar dan mengambil takhta, dengan kekuatan yang dikunci di dalam benda itu."
Ling Yue mencengkeram lengan baju Li An. "Kalau kita pergi ke sana, itu seperti masuk ke sarang harimau."
"Ya," Li An menatapnya teguh, "Tapi aku tidak bisa membiarkan dia sendirian di sana. Dan aku tidak bisa membiarkan kekaisaran jatuh ke tangan yang salah." Ia berbalik pada Paman Feng. "Paman, bisakah kau membantu kami?"
Paman Feng mengangguk mantap. "Selama napas ini masih ada. Aku akan menyiapkan orang-orang yang setia. Tapi kalian harus bergerak cepat — upacara penobatan direncanakan besok malam."
Malam semakin larut saat mereka tiba di tepi hutan yang mengelilingi Istana Musim Dingin. Bangunan itu tampak sunyi namun penuh ancaman, diterangi ribuan lentera merah yang menggantung di setiap sudutnya — warna yang melambangkan kekuasaan yang direbut paksa.
"Lihat di sana," bisik Ling Yue menunjuk ke arah menara tertinggi. Di jendela yang bercahaya, terlihat samar sosok Rouran berdiri diam, diapit dua penjaga.
"Dia ada di sana," Li An mengerutkan kening. "Tapi kenapa dia tidak bergerak?"
Ling Yue menatap lekat-lekat, lalu hatinya mencelos. "Li An... lihat tangannya. Dia terikat. Dan matanya... seolah tidak sadar."
Wajah Li An mengeras. "Mereka membiusnya, atau menggunakan mantra penenang. Dia tidak bisa melarikan diri sendiri." Ia menoleh padanya. "Dengarkan aku. Aku akan menyusup masuk dari sisi barat tempat penjaga lebih sedikit. Kau tunggu di sini bersama Paman Feng."
Ling Yue menatapnya tak percaya. "Kau mau menyuruhku menunggu sendirian? Setelah sejauh ini kita bersama?"
"Ini berbahaya," suaranya melembut namun tegas. "Kalau tertangkap, aku tidak akan bisa melindungimu."
Ling Yue menggenggam kedua tangannya, menatap lurus ke manik mata pria itu. "Dengar, Li An. Aku tahu bahayanya. Tapi aku juga tahu — kalau aku tidak ikut, kau akan berhadapi mereka sendirian, dan itu jauh lebih berbahaya. Rouran saudariku. Aku tidak akan membiarkan kau menanggung ini sendirian."
Air mata menggenang di matanya, namun suaranya tak goyah sedikit pun. "Kita berjanji akan berjalan bersama, ingat? Jangan paksa aku melanggar janji itu."
Li An menatapnya lama, hatinya teriris sekaligus terhangat oleh keteguhan gadis itu. Akhirnya ia mengangguk pelan, mengusap sudut matanya yang lembap.
"Baik. Tapi kau harus tetap di dekatku. Sekali saja terpisah..."
"Tidak akan," potong Ling Yue lembut namun tegas. "Tak akan terpisah lagi."
Mereka bergerak menyusup ke dalam bayang-bayang istana. Angin malam berhembus dingin, membawa aroma bunga plum yang kini terasa getir dan mengancam. Di suatu tempat di dalam sana, Pangeran Yuwen sudah menunggu — dan ia tahu mereka datang.
Di ruang singgasana sementara yang remang, seorang pria berpakaian jubah ungu berdiri membelakangi pintu, menatap peta kekaisaran yang terbentur di dinding.
"Mereka sudah masuk," ucapnya pelan, tersenyum tipis ke arah bayangan di lantai. "Biarkan mereka datang. Sarangnya sudah siap, dan burung-burung itu terbang masuk sendiri."