Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 Dungeon
Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menemukan cahaya di ujung lorong sempit itu. Setelah mencongkel celah kecil menggunakan tangan kosong, Steven berhasil memperlebar celah batu hingga muat dilalui tubuh manusia. Sandra menjadi orang pertama yang memanjat keluar, disusul Steven, dan terakhir aku.
Saat aku mendongak, kami sudah tidak lagi berada di ruang sempit tadi. Kami telah sampai di dungeon utama yang membentang tepat menuju Puncak Zantur.
Dengan sekali jentikan jari, aku memadamkan bola api di telapak tangan. Tempat ini sudah cukup terang, tersinari oleh pendar api dari obor-obor tua yang terpasang di sepanjang dinding berlumut.
"... Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar?" Usul Sandra.
Aku mengangguk setuju. "Baiklah, kita juga tidak tahu sudah berapa lama kita menyusuri lorong sebelumnya."
Meskipun keputusan ini bakal memperlambat misi, Leograd tidak memberikan batasan waktu untuk misi ini, jadi tidak ada salahnya merenggangkan otot sejenak. Sandra membagikan roti yang sempat dibawanya tadi. Saat giliranku tiba, aku menerimanya tetapi memilih untuk menyimpannya lebih dulu.
Sambil menunggu mereka berdua siap melanjutkan perjalanan, rasa penasaran mendorongku untuk merogoh secarik kertas dari pemabuk itu. Awalnya kupikir itu hanya bualan bodoh seorang pecandu alkohol. Namun, tatapanku tertahan saat membaca paragraf terakhir.
"Permintaan terakhir..." gumamku pelan. "Mendiang istriku..."
"Lyan, ayo berangkat!" teriak Sandra dari kejauhan sambil menggembol kembali perlengkapannya.
"Sialan, pria tua itu malah memberiku misi tambahan," bisikku sambil menyimpan kembali kertas itu ke balik jubah. "Tapi aku cukup penasaran dengan apa yang dicarinya."
Aku bergegas berlari ke depan mengambil alih posisi memimpin. "Aku merasakan gelombang mana yang cukup kuat di depan. Ikuti langkahku!"
"Kenapa kau lama sekali, Lyan?" tanya Steven menyelaraskan langkahnya.
"Tidak apa-apa," jawabku singkat.
Aku memilih merahasiakan pesan di kertas itu. Jika sampai Sandra tahu ada misi tambahan, antusiasmenya yang berlebihan bisa-bisa malah mengacaukan fokus perjalanan kami.
"Aku berasumsi penyebab utama gelombang goblin menyerang Desa Qianlo adalah keberadaan sarang mereka di puncak," ucapku mengalihkan topik. "Tapi umumnya, makhluk ini tidak akan turun gunung tanpa alasan kuat. Ada yang aneh."
"Kalau begitu gampang! Kita tinggal hancurkan penyebab—"
"Diam! Aku tidak bicara padamu!"
"Aduh... Aduh..." ringis Sandra sambil mengelus jidatnya yang baru saja kena jitakan keras dariku. Entah sejak kapan, menjitak gadis ini rasanya mulai jadi kebiasaan baruku.
"Jadi, menurutmu apa yang memaksa mereka turun dari sarang?" tanya Steven.
"Itu yang sedang kucari tahu. Kemungkinan ada ancaman monster Class A, atau bahkan yang lebih tinggi dari itu," jawabku.
Tak lama kemudian, langkah kami terhenti oleh pemandangan mengerikan di hadapan kami.
"Lihat itu!" tunjuk Sandra.
Puluhan kerangka manusia berserakan dengan sisa baju zirah berlambang Naga Merah khas pasukan militer Kekaisaran. Aku mendekat lalu melepas salah satu cincin pendeteksi mana yang masih melingkar di jari tengkorak tersebut. Saat mencoba melacak rekam memori sihir sebelum pemiliknya tewas, aku hanya mendapati kilasan singkat ketika rombongan mereka baru memasuki dungeon.
"Ada yang tidak beres dengan tempat ini," gumamku pelan.
"Lyan, aku mendengar sesuatu mendekat," bisik Steven.
"Posisikan diri kalian, aku juga merasakan pergerakan energi itu!" Timpalku.
Mundur perlahan dari tumpukan kerangka, aku langsung mengacungkan tongkat sihirku.
"Mundur pelan-pelan!" perintahku setengah berbisik.
Instingku terbukti tepat. Tekanan mana ini memang tidak sekuat Wyvern apalagi Estevan, tetapi jumlah mereka lebih dari satu.
Perlahan tapi pasti, bayangan tebal bermunculan dari persimpangan lorong dungeon. Gerombolan makhluk berkulit hijau melangkah keluar dengan penampilan yang jauh berbeda dari kawanan kroco sebelumnya. Bukan membawa pedang karatan, mereka mengenakan jubah berhiaskan ornamen tulang dan menggenggam tongkat kayu setinggi tubuh mereka sendiri.
"Goblin Shaman!" teriak Steven.
"Argh!"
Puluhan Water Ball mendadak melesat kencang memburu posisi kami.
"Earth Bullet!"
Aku segera menembakkan peluru tanah untuk memotong gempuran sihir para goblin penyihir itu, lalu melambaikan tangan memberi aba-aba pada Steven dan Sandra.
"Kalian berdua, berlindung di belakangku!"
"Oh Dewi Charlotte, lindungilah hamba-Mu yang penuh kasih ini dari segala bencana—Shield Globe!"
Tepat sebelum sisa tembakan air menghantam, perisai transparan kembali terbentang. Namun pelindung itu tak bertahan lama. Salah satu Goblin Shaman melantunkan mantra aneh yang mendadak mengubah gumpalan air menjadi jarum-jarum tajam, seketika menghancurkan sihirku hingga berkeping-keping.
"Percuma terus bertahan! Kita harus merangsek maju!"
"Tunggu dulu—"
Belum sempat kucegah, Sandra sudah melesat menerjang ke depan. Dasar gadis bodoh! Dia benar-benar berniat menghadapi kawanan penyihir itu seorang diri.
"Kamu juga, Steven?!"
"Dia adikku, aku tidak bisa membiarkannya mati!"
"Tunggu—"
Sandra langsung menerjang kerumunan Shaman sambil mengayunkan pedangnya, sedangkan Steven merapat ke punggung adiknya untuk menahan serbuan dari arah belakang.
"Dasar orang bodoh! Aku tidak punya pilihan lain—Oh Dewi Artemis, berikanlah aku kekuatan untuk merobek semesta—Ice Spear Storm!"
Ujung tongkat sihirku langsung terbungkus gumpalan es yang meruncing tajam menjadi tombak. Tanpa membuang waktu, aku melompat maju bergabung di tengah kepungan mereka.
Screeech!
"... Kau kurang waspada, Lyan!" teriak Steven seraya menebas seekor goblin yang nyaris menusuk lambungku dari samping.
"Terima kasih!" balasku cepat. "Tapi kau sendiri lupa memperhatikan belakangmu!"
"Ha?"
Screeech!
"AAAAAA!"
"Mereka tidak ada habisnya!" teriak Sandra di tengah kepungan.
"Kita harus mengincar pemimpin mereka!" balasku sembari menahan tebasan dua goblin sekaligus.
"Aku tahu tempat pemimpin mereka bersembunyi!" seru Steven. "Kalian berdua tahan gempuran mereka dan beri aku celah! Lyan, buatkan aku jalan untuk mencapai mulut gua di atas!"
"... Kalau rencana ini gagal, kita habis," pungkasku sambil menghindar cepat dari sabetan senjata musuh. "Sisa mana-ku sudah menipis. Kuharap intuisimu tepat!"
Usai menusuk telak mata seekor goblin di hadapanku, aku mengepalkan kedua tangan dan menghentakkan sihir.
"Ice Stairs!"
Seketika deretan anak tangga es mencuat ke udara. Menggunakan sihir angin tambahan, aku melontarkan tubuh Steven ke atas. Ia dengan lincah menaiki tangga es menuju celah gua, sampai akhirnya kawanan goblin di bawah menyadari posisinya dan mengubah tongkat mereka menjadi busur untuk menghujaninya dengan anak panah.
"Sandra, alihkan yang di bawah sebentar!"
Aku menyusul melompat ke tangga es, mengayunkan senjata untuk menepis puluhan anak panah yang melesat mengincar Steven.
Saat itulah aku dapat melihat Goblin Boss, monster tingkat B yang mengendalikan ratusan goblin menggunakan tanduk bercahaya di kepalanya.
"Rasakan ini!!!"
Steven melompat terjun dari ketinggian dan menancapkan belatinya tepat di sasarannya. Beberapa detik kemudian...
"AAAAAA!"
Monster seukuran bangunan dua lantai itu meraung kesakitan. Tubuh raksasanya ambruk menghantam tanah, memicu getaran hebat hingga runtuhan batu dari langit-langit gua mengubur jasadnya.
Melihat pemimpin mereka tewas, para Goblin Shaman langsung kocar-kacir melarikan diri dan membuang senjata mereka. Sandra berniat mengejar kawanan yang tersisa, tapi kali ini aku bergegas menahan bahunya.
"Lepaskan aku!" bentak Sandra sambil meronta.
"Kita tidak punya waktu untuk memburu kroco-kroco itu!" balasku tegas.
"Benar!" timpal Steven seraya menyeka darah hijau yang membasahi wajahnya. "Dalam satu sarang besar, terkadang ada lebih dari satu Goblin Boss. Kalau sampai kita berhadapan dengan yang kedua dalam kondisi seperti ini, kita tidak punya peluang menang."
"Setidaknya mereka sudah membeberkan dari mana asal mereka," ucapku tersenyum tipis. "Meskipun mereka tergolong makhluk berakal selain manusia, kecerdasan mereka tetap punya batas."
Sambil menyeret Sandra yang masih menggerutu, kami melanjutkan langkah menelusuri lorong.
"Kita mau ke mana sekarang?" tanya Steven saat kami tiba di persimpangan. "Jalannya terbelah dua."
"Sudah kukatakan tadi," jawabku mantap. "Kita ambil jalur tempat kawanan goblin tadi bermunculan."
Mengambil obor dari dinding, aku bergerak memimpin di depan. Semakin jauh kami melangkah, pendar cahaya perlahan meredup hingga menyisakan kegelapan. Jalur terjal ini menyakinkanku bahwa rute inilah yang mengarah langsung ke Puncak Zantur.
"ARGH!"
Serbuan mendadak dari beberapa goblin kroco makin memperkuat intuisiku. Begitu kami menumpas mereka dan tiba di mulut gua, pancaran cahaya alami mulai menyinari kembali jalanan. Aku mendadak menghentikan langkah, tepat sebelum kakiku menginjak ranting kering di ambang pintu keluar. Steven hendak bertanya, tetapi aku memberi isyarat agar ia menahan napas saat menyadari ada bayangan besar mendekat untuk mengecek area sekitar.
"Goblin Boss..." bisikku sangat pelan.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Jumlah mereka terlalu banyak! Kenapa Goblin sampai bermigrasi dalam jumlah besar?
"Kita tunggu sampai situasi aman," bisikku menambahkan.
Begitu kawanan raksasa itu berlalu, kami menyelinap keluar tanpa menimbulkan suara dan mencari rute alternatif untuk mendaki. Sejak awal, target kami bukanlah membasmi seluruh populasi goblin di gunung ini, melainkan melacak akar penyebab migrasi mereka. Menguras tenaga untuk menghabisi mereka hanya akan sia-sia; cairan tubuh goblin mengandung senyawa feromoni yang justru bakal memancing koloni baru untuk berdatangan.
Keberuntungan masih berpihak pada kami. Saat menemukan sebuah pintu kayu tak terkunci, aku menyelinap masuk. Di dalam, ada beberapa goblin yang sedang tertidur lelap. Tanpa membuang waktu, kami menghabisi mereka.
Usai menyalakan obor untuk menyinari ruangan yang remang itu, tampak sebuah tangga kayu yang membentang ke atas. Kami langsung memanjatnya, mengikuti arah tangga itu membawa kami.
Bersambung...