NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9 — Aku Ikut

Email dari galeri masuk pukul sembilan pagi.

Nara membacanya dua kali sebelum memahami kalimat pertama.

Kami memahami keputusan Ibu untuk membatalkan keikutsertaan karena kondisi kesehatan.

Ia sedang berdiri di studio, masih mengenakan celemek, satu tangan berlumur warna biru.

Di bawahnya tercantum ucapan semoga lekas pulih dan pemberitahuan bahwa slot dinding akan dialihkan kepada seniman cadangan sore itu.

Nara menelepon nomor koordinator yang mengirim email.

“Saya nggak membatalkan.”

Di seberang sana perempuan itu terdiam.

“Maaf, Bu. Kemarin suami Ibu menelepon. Katanya Ibu masih perlu istirahat dan belum bisa menyiapkan karya.”

Nara memandang dua kanvas yang sudah selesai, bersandar di dekat pintu. Keduanya karya baru, dipilih kurator dari foto yang ia kirim sebulan lalu.

“Lukisannya sudah siap.”

“Untuk katalog, kami sudah mulai mengganti—”

“Saya bisa kirim data final sekarang. Foto resolusi besarnya sudah saya kirim hari Senin. Tolong jangan berikan tempatnya dulu.”

Koordinator meminta waktu mengecek tim.

Nara menunggu sambil membersihkan tangan dengan kain. Ia menggosok terlalu keras sampai buku jarinya memerah.

Dimas muncul membawa cangkir kopi.

“Ngapain pagi-pagi telepon?”

Nara menutup mikrofon.

“Kamu menelepon galeri buat membatalkan pameranku?”

Dimas melirik laptop, lalu mengangguk seolah Nara menanyakan jadwal makan.

“Tidurmu berantakan begitu, masih mau memaksakan diri. Aku bilang kamu perlu istirahat.”

“Mereka mau kasih tempatku ke orang lain sore ini.” Nara menekan ponsel ke dadanya agar suaranya tidak terdengar lewat sambungan. “Aku sudah siapkan dua lukisan itu. Kamu lihat sendiri tiap hari.”

“Pameran masih banyak, Nara. Kalau kamu tumbang, siapa yang mengurus? Orang galeri?”

Ia minum kopinya. Nara ingin merebut cangkir itu, memaksanya berhenti bersikap seolah kesempatan yang hampir hilang itu perkara sepele. Tetapi koordinator masih menunggunya, dan ia membutuhkan tempatnya kembali.

Nara membuka mikrofon karena suara koordinator kembali terdengar. Ia menghadap dinding, menekan nada suaranya supaya stabil.

“Saya bisa kirim dua karya sore ini. Iya, saya tetap ikut. Untuk perubahan berikutnya, mohon konfirmasi langsung ke nomor saya, bukan lewat keluarga.”

Dimas meletakkan cangkir di meja.

Nara menunggu sampai panggilan selesai sebelum berbalik.

“Bisa, kan?” kata Dimas. “Nggak perlu segitunya. Tinggal bilang kamu ternyata masih kuat.”

Ia meraih cangkir kembali.

Nara berdiri di tengah studio, ponsel masih menempel di telinga meskipun sambungan sudah putus.

Ia ingin berteriak. Suaminya sudah berjalan keluar, seolah urusan itu hanya kesalahpahaman kecil yang berhasil diselesaikan istrinya dengan sedikit drama.

* * *

Dua jam kemudian, slotnya dikonfirmasi kembali.

Nara membayar kurir dari rekening hasil penjualan empat lukisan ke kantor Adrian. Ia memeriksa nomor pembayaran sebelum menekan kirim. Setidaknya untuk biaya ini, ia tidak perlu meminta uang kepada Dimas.

Galeri mengirim susunan acara, waktu kedatangan seniman, dan daftar tamu pembeli yang mengizinkan namanya dibagikan untuk persiapan pertemuan.

Adrian Mahendra.

Nara membaca nama itu tanpa bergerak.

Ia sudah lebih dari seminggu tidak membuka percakapan mereka. Nama di dalam dokumen resmi tidak seharusnya membuat seluruh siangnya berubah.

Ia menggulir daftar ke bawah, lalu kembali ke atas.

Adrian akan datang.

Bukan untuknya. Ia pelanggan galeri, pemilik kantor yang baru membeli empat karya. Wajar kalau diundang.

Tetapi Nara mulai memikirkan baju apa yang akan dipakai sebelum selesai menasihati dirinya sendiri.

Ia menutup laptop dengan kesal.

* * *

Maya berada di galeri ketika koordinator mengabarkan Nara jadi ikut.

“Aku senang. Dia memang sudah lama menyiapkan yang ini,” katanya.

Sebagai penanggung jawab acara pembukaan, Maya sedang memeriksa penempatan kursi dan alur tamu. Karya dipilih tim kurator, bukan dirinya; kali ini ia bahkan baru tahu soal pembatalan setelah Nara mengurusnya kembali.

“Suaminya akan datang?” tanya koordinator.

“Belum tahu.”

Maya melihat daftar undangan di tangan staf. Nama Adrian ada di sana. Ia sudah mengirim jadwal kepada suaminya beberapa hari sebelumnya, sewaktu undangan pembeli disiapkan.

Selama acara, Maya akan sibuk. Ia tidak bisa terus melihat siapa yang berdiri di depan lukisan Nara atau siapa yang menawarinya minum.

Ia mengambil ponsel.

Nomor Dimas sudah lama tersimpan untuk keadaan darurat. Maya menatapnya, lalu berjalan ke halaman belakang galeri agar suara pengeboran tidak mengganggu.

“Halo, Dim. Ini Maya.”

“Iya?”

“Mau memastikan soal Jumat. Nara jadi ikut pameran, kan?”

“Katanya begitu.”

“Kamu datang juga?”

“Belum tahu. Kenapa?”

Maya mengusap sisi ponsel dengan ibu jari.

“Adrian juga diundang. Sebagai pembeli. Jadi mungkin enak kalau kita lengkap.”

Di ujung sana, suara Dimas berubah lebih pelan.

“Adrian datang?”

“Iya. Aku selama acara bakal sibuk. Nara juga perlu ditemani.”

Maya mendengar sendiri alasan itu dan merasa perutnya mengencang.

Ia tahu Nara tidak suka ditemani dengan cara Dimas menemani. Ia baru saja melihat betapa mudah laki-laki itu membatalkan sesuatu tanpa bertanya.

“Jam berapa?”

Maya menyebut waktu.

Dimas mengucapkan terima kasih.

Sesudah panggilan berakhir, Maya berdiri beberapa saat di halaman belakang. Ia membuka percakapan Nara, ingin menulis sesuatu tentang pameran.

Ia baru saja menelepon Dimas tanpa sepengetahuan Nara. Rasanya munafik kalau sekarang ia mengirim pesan ramah tentang pameran.

Ia mengunci layar, lalu kembali masuk untuk memeriksa kursi.

* * *

Malamnya, Dimas bertanya baju mana yang akan dipakai Nara pada hari Jumat.

Nara memandangnya dari depan lemari.

“Kenapa?”

“Biar aku nggak salah kostum.”

“Kamu ikut?”

“Iya. Aku kosongkan jadwal.”

Dimas tersenyum, seolah sedang memberikan sesuatu yang sudah lama diinginkan istrinya.

“Harusnya senang. Suami sendiri mau mendukung.”

Nara menutup pintu lemari perlahan.

Tadi ia senang memilih gaun, membayangkan akan bertemu Adrian. Sekarang, memikirkan Dimas yang akan mengawasinya sepanjang acara saja sudah membuatnya kehilangan semangat. Ia bahkan tidak ingin mencoba gaun itu lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!