NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 — Rangga Menghadapi Ibunya

Keesokan paginya, Rangga mengunjungi rumah keluarganya di kawasan elite Menteng, tempat ibunya tinggal sendirian sejak kepergian ayahnya bertahun-tahun lalu. Rumah besar bergaya kolonial itu terasa dingin dan sunyi seperti biasa, jauh dari kehangatan yang seharusnya dimiliki sebuah rumah keluarga.

Bu Ratna sedang duduk di ruang baca pribadinya ketika Rangga masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ekspresi wajahnya jauh lebih tegang dari biasanya.

"Rangga? Tumben pagi-pagi udah ke sini," Bu Ratna menyapa, meletakkan buku yang sedang ia baca, meski matanya menunjukkan sedikit kewaspadaan melihat ekspresi anaknya.

"Ma, kita perlu bicara serius," Rangga berkata tegas, duduk di kursi seberang ibunya tanpa basa-basi. "Soal Alex. Soal berita kemarin."

Bu Ratna terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan seberapa jauh ia harus mengakui keterlibatannya. "Kamu udah tahu?"

"Kirana ketemu Alex kemarin, dan dia mengaku semuanya," Rangga menjawab, suaranya penuh kekecewaan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.

"Ma yang atur semua ini? Ma yang sengaja nyebar informasi palsu buat ngehancurin reputasi Kirana?"

Bu Ratna menghela napas panjang, tidak lagi berusaha menyangkal. "Saya cuma berusaha melindungi kepentingan keluarga dan perusahaan, Rangga."

"Dengan cara memfitnah orang yang saya cintai?"

Rangga berkata tajam, berdiri dari kursinya, tidak sanggup lagi menyembunyikan amarahnya. "Ma, itu bukan melindungi, itu namanya kejahatan! Ma tahu nggak, seberapa hancur perasaan Kirana waktu baca berita itu? Seberapa besar dampaknya buat reputasinya di kantor?"

"Rangga, dengerin Mama dulu," Bu Ratna berkata, suaranya melembut meski tetap tegas.

"Mama nggak bermaksud sejauh itu. Mama cuma minta tolong sama Alex buat kasih informasi ke media soal kedekatan kalian, buat kasih 'peringatan' halus. Mama nggak pernah minta dia bikin narasi seburuk itu."

"Tapi Ma tetap yang jadi dalangnya," Rangga membalas tegas, tidak mau menerima alasan itu sebagai pembenaran. "Ma tetap yang memulai semua ini, terlepas dari seberapa jauh Alex melebihkan rencananya."

Hening menyelimuti ruangan itu sejenak, ketegangan begitu terasa di antara ibu dan anak yang selama ini selalu memiliki hubungan yang rumit—penuh cinta namun juga penuh perbedaan pandangan yang sulit dijembatani.

"Rangga, kamu tahu kenapa Mama begitu keras soal ini?" Bu Ratna akhirnya berkata, suaranya bergetar menahan emosi yang selama ini tersembunyi rapi di balik topeng ketegasannya.

"Kamu inget almarhum ayahmu?"

Rangga terdiam, tidak menyangka topik itu akan muncul di tengah konfrontasi mereka. "Apa hubungannya sama ayah?"

"Dulu, sebelum menikah sama Mama, ayahmu pernah hampir bangkrut karena terlalu percaya sama rekan bisnis yang ternyata berasal dari keluarga yang juga sedang berjuang menghadapi kebangkrutan," Bu Ratna menjelaskan, matanya menerawang mengingat masa lalu yang menyakitkan. "Rekan bisnis itu memanfaatkan kepercayaan ayahmu, menguras hampir seluruh aset perusahaan sebelum akhirnya kabur begitu saja, meninggalkan ayahmu harus membangun ulang semuanya dari nol."

Rangga mendengarkan dengan seksama, mulai memahami akar dari kekhawatiran ibunya yang selama ini terasa begitu berlebihan di matanya.

"Sejak itu, Mama trauma, Rangga," lanjut Bu Ratna, suaranya semakin bergetar. "Mama takut sejarah itu terulang lagi, takut ada orang yang memanfaatkan kebaikan keluarga kita, terutama dari orang-orang yang sedang berada di posisi sulit secara finansial. Mama tahu itu nggak adil buat menilai Kirana berdasarkan ketakutan masa lalu Mama, tapi Mama nggak bisa sepenuhnya menghilangkan rasa waspada itu."

Rangga terdiam, mencoba mencerna semua penjelasan itu, hatinya dipenuhi campuran antara pengertian dan kekecewaan yang masih tersisa.

"Ma, saya paham ketakutan Mama. Tapi Kirana bukan orang yang kayak gitu. Dia bahkan udah kehilangan segalanya, dan dia berjuang bangkit dengan kekuatannya sendiri, tanpa memanfaatkan siapa pun."

"Mama mulai sadar itu, Rangga," Bu Ratna mengakui, matanya berkaca-kaca. "Tapi ketakutan itu udah terlalu lama mengakar, dan Mama panik waktu tahu hubungan kalian makin serius. Mama menyesal udah bertindak sejauh ini, Mama nggak bermaksud menyakiti gadis itu sedalam ini."

"Ma harus minta maaf langsung ke Kirana,"

Rangga berkata tegas, meski nadanya sudah jauh lebih lembut mendengar penjelasan ibunya. "Dan Ma harus bantu klarifikasi ke publik soal berita fitnah itu, buat pulihkan reputasi Kirana."

Bu Ratna terdiam sejenak, mempertimbangkan permintaan anaknya itu dengan sungguh-sungguh, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Rangga. Mama akan lakukan itu. Mama akan minta maaf langsung ke Kirana, dan Mama akan bantu klarifikasi semuanya."

Rangga menghela napas lega, meski masih ada jarak yang perlu dijembatani di antara mereka.

"Makasih, Ma."

"Tapi Rangga," Bu Ratna menambahkan, menatap anaknya dengan serius, "Mama masih butuh waktu buat benar-benar bisa menerima hubungan kalian sepenuhnya. Bukan karena Mama nggak percaya sama Kirana, tapi karena Mama butuh waktu buat sembuh dari trauma masa lalu Mama sendiri."

Rangga mengangguk, memahami permintaan itu. "Saya ngerti, Ma. Saya akan kasih Mama waktu. Tapi tolong, jangan lagi ambil tindakan sepihak kayak kemarin. Kalau ada yang Ma khawatirkan, bicarakan langsung sama saya."

"Mama janji," Bu Ratna berkata, untuk pertama kalinya sejak konfrontasi itu dimulai, ada senyum tipis yang penuh penyesalan namun juga ketulusan muncul di wajahnya.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!