NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Keputusan Berat

Tiga hari setelah insiden penyusupan, Zhou Chen dan Zhou Ming kembali berkumpul di kediaman Zhou Ming, kali ini dengan seluruh bukti yang telah mereka kumpulkan tersusun rapi di atas meja—dokumen lama Zhou Li, catatan analisis laporan dagang, kesaksian Paman Guo, dan konfirmasi langsung tentang Bubuk Sari Bulan dari hasil penyusupan malam itu.

"Kita punya cukup bukti untuk membuat kasus yang kuat," kata Zhou Ming, menatap tumpukan dokumen di hadapannya. "Tapi pertanyaannya sekarang, bagaimana kita menggunakannya?"

Zhou Chen menghela napas panjang, menyadari bahwa inilah momen paling krusial dari seluruh penyelidikan yang telah mereka lakukan. "Ada beberapa pilihan yang bisa kita ambil. Pertama, kita bisa langsung membawa semua ini ke hadapan Ayahanda, meminta beliau bertindak secara resmi."

"Risikonya," potong Zhou Ming, "adalah Permaisuri memiliki pengaruh yang sangat besar di istana. Kalau Ayahanda ragu untuk bertindak tegas terhadap istrinya sendiri—dan kita berdua tahu, hubungan mereka cukup rumit selama bertahun-tahun—bukti kita bisa saja 'hilang' atau dianggap tidak cukup kuat, sementara kita berdua justru menjadi target balas dendam."

Zhou Chen mengangguk, menyadari kebenaran dalam kekhawatiran itu. Raja Zhou Tian, meski dikenal adil, juga harus menyeimbangkan berbagai kepentingan politik di istana—termasuk hubungan rumit dengan Permaisuri yang telah menjadi bagian penting dari stabilitas kerajaan selama bertahun-tahun.

"Pilihan kedua," lanjut Zhou Chen, "adalah kita bergerak lebih hati-hati. Menyerahkan bukti ini kepada pihak yang lebih netral terlebih dahulu—mungkin salah satu menteri senior yang dikenal tidak memihak, seperti Menteri Song yang pernah membantu kita dengan informasi tentang Gagak Hitam."

Zhou Ming mempertimbangkan usul itu dengan seksama, jarinya mengetuk pelan meja di hadapannya—kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia sedang memikirkan strategi rumit. "Menteri Song memang dikenal netral dan dihormati. Tapi kita juga harus mempertimbangkan risikonya—jika ternyata dia memiliki hubungan tersembunyi dengan pihak Permaisuri yang tidak kita ketahui, kita bisa langsung kehilangan seluruh keunggulan yang telah kita bangun."

"Apakah kau punya cara untuk memastikan loyalitasnya?" tanya Zhou Chen.

"Aku bisa mencoba menyelidikinya lebih jauh," jawab Zhou Ming, "tapi itu akan membutuhkan waktu tambahan yang mungkin tidak kita miliki. Semakin lama kita menunda, semakin besar risiko bahwa pihak Zhang akan menyadari kecurigaan kita dan menghancurkan bukti-bukti lain yang mungkin masih tersisa."

Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak, keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing tentang langkah terbaik yang harus diambil.

"Ada satu pilihan lain," kata Zhou Chen akhirnya, suaranya lebih tenang namun penuh pertimbangan. "Kita bisa mencoba pendekatan yang lebih langsung namun terukur—memberi peringatan tersembunyi kepada Zhang dan pihak yang mendukungnya, tanpa mengungkap identitas kita sepenuhnya. Membuat mereka sadar bahwa operasi mereka telah terendus, memaksa mereka menghentikan aktivitas ini karena takut terbongkar, tanpa harus melalui konfrontasi politik terbuka yang berisiko."

Zhou Ming menatapnya dengan alis terangkat, tertarik dengan pendekatan yang tidak terduga ini. "Menarik. Tapi itu juga berisiko—kalau mereka menyadari siapa di balik peringatan itu, mereka bisa saja memilih untuk menyerang lebih dulu daripada menghentikan operasi mereka."

"Aku tahu," jawab Zhou Chen. "Tapi setidaknya, ini memberi kita waktu untuk membangun bukti yang lebih kuat lagi, sambil menghentikan kerugian lebih lanjut yang mungkin ditimbulkan oleh penyelundupan Bubuk Sari Bulan ini."

Setelah diskusi panjang yang berlangsung hingga larut malam, keduanya akhirnya menyepakati sebuah rencana gabungan—kombinasi dari ketiga pilihan yang telah mereka bahas. Mereka akan mendekati Menteri Song secara hati-hati, sambil tetap menyiapkan bukti tambahan sebagai jaminan jika pendekatan pertama gagal. Sementara itu, mereka juga akan mengirimkan peringatan tersembunyi kepada Zhang melalui jalur yang tidak bisa dilacak langsung kepada mereka, memaksa operasi penyelundupan itu untuk sementara terhenti.

"Ini rencana yang rumit," kata Zhou Ming, menatap catatan strategi yang baru saja mereka susun bersama. "Tapi mengingat kompleksitas situasi ini, mungkin memang tidak ada jalan yang benar-benar sederhana."

Zhou Chen mengangguk setuju, meski dalam hati ia merasakan beban berat dari tanggung jawab yang kini ia pikul. Bukan hanya nyawa dan keselamatan kelompok kecilnya yang dipertaruhkan, tetapi juga stabilitas Kerajaan Zhou itu sendiri—kerajaan kecil yang sudah cukup rapuh menghadapi ancaman dari luar, tanpa perlu ditambah dengan kekacauan internal akibat skandal yang bisa mengguncang kepercayaan rakyat terhadap keluarga kerajaan.

Keesokan harinya, Zhou Chen memutuskan untuk mengunjungi Zhou Feng, sekutunya yang lain, untuk memberikan pembaruan tentang perkembangan situasi—meski tetap dengan kehati-hatian yang sama seperti sebelumnya dalam membagikan informasi sensitif.

"Kakak tampak lelah," komentar Zhou Feng begitu melihat wajah Zhou Chen yang menunjukkan tanda-tanda kurang tidur akibat berhari-hari memikirkan strategi rumit ini.

"Ada banyak yang harus dipikirkan belakangan ini," jawab Zhou Chen, tersenyum tipis meski rasa lelah jelas terlihat di matanya. "Bagaimana perkembangan sistem irigasi di wilayahmu?"

"Berjalan sangat baik, Kakak," jawab Zhou Feng dengan semangat yang jauh berbeda dari kesan lesu yang dulu selalu melekat padanya. "Pekerja memperkirakan penyelesaian dalam waktu tiga minggu lagi. Rakyat di wilayahku mulai membicarakan perubahan ini dengan penuh harapan—untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mereka merasa ada perhatian nyata terhadap kesejahteraan mereka."

Mendengar kabar baik ini, Zhou Chen merasakan sedikit kelegaan di tengah beban berat yang ia pikul belakangan ini. Setidaknya, satu bagian dari rencananya berjalan sesuai harapan, memberikan bukti nyata bahwa pendekatannya—membantu orang-orang yang diabaikan, memperbaiki sistem yang rusak, membangun kepercayaan melalui tindakan nyata—benar-benar bisa membawa perubahan positif.

"Aku senang mendengarnya," katanya tulus. "Kalau semua berjalan lancar, wilayah utara bisa menjadi contoh bagi wilayah lain tentang bagaimana perbaikan yang tepat bisa mengubah keadaan yang tampaknya sudah tidak ada harapan."

Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Malam harinya, sebuah kabar mengejutkan sampai kepada Zhou Chen melalui Ah Fu yang bergegas menghadap dengan wajah pucat.

"Yang Mulia," katanya, suaranya bergetar, "hamba baru saja mendengar kabar dari salah satu pelayan istana. Pejabat Zhang... ditemukan tewas di kediamannya sendiri pagi ini. Kabarnya, dia bunuh diri."

Zhou Chen membeku, perasaan dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Bunuh diri? Atau...

"Apakah ada penjelasan resmi tentang penyebabnya?" tanyanya, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski pikirannya berkecamuk hebat.

"Belum ada penjelasan resmi, Yang Mulia. Tapi para pelayan istana sudah mulai membicarakannya—katanya, dia meninggalkan surat wasiat yang menyebutkan rasa bersalah atas suatu kesalahan besar, meski tidak dijelaskan secara spesifik apa kesalahan itu."

Zhou Chen menatap Ah Fu lama, pikirannya berputar cepat memproses implikasi dari kabar mengejutkan ini. Jika benar Zhang "bunuh diri" tepat setelah mereka mulai menyelidiki keterlibatannya dalam penyelundupan Bubuk Sari Bulan, ini bukan sekadar kebetulan belaka.

Seseorang tahu bahwa kami sudah mendekati kebenaran, pikirnya, jantungnya berdegup kencang dengan campuran ketakutan dan kemarahan. Dan mereka menyingkirkan Zhang sebelum dia bisa membocorkan apa pun—atau sebelum kami bisa menggunakan dia sebagai bukti hidup.

Ia segera mengirim pesan mendesak kepada Zhou Ming, menyadari bahwa situasi ini baru saja berubah dari rumit menjadi jauh lebih berbahaya dari yang pernah mereka duga sebelumnya.

Zhou Ming datang ke kediaman Zhou Chen tak lama setelah menerima pesan itu, wajahnya juga menunjukkan ketegangan yang sama.

"Aku sudah memeriksa laporan resmi dari pihak keamanan istana," katanya begitu duduk, suaranya lebih pelan dari biasanya seolah khawatir dinding pun bisa mendengar. "Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya—semuanya dibuat terlihat sangat meyakinkan sebagai bunuh diri murni. Racun yang digunakan, kalau memang benar racun, jenisnya sangat sulit dilacak."

"Ini terlalu rapi," gumam Zhou Chen, menatap ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam di luar. "Terlalu cepat, terlalu sempurna. Seolah seseorang sudah menunggu momen yang tepat untuk menyingkirkannya begitu ancaman mulai mendekat."

Zhou Ming mengangguk setuju. "Ini konfirmasi lebih lanjut bahwa dugaan kita benar—ada pihak yang sangat berkuasa dan sangat berhati-hati di balik semua ini. Seseorang yang mampu memerintahkan pembunuhan tersamar secepat ini pasti memiliki akses dan sumber daya yang luar biasa."

"Apakah ini berarti mereka sudah tahu kita yang menyelidiki?" tanya Zhou Chen, kekhawatiran mulai jelas terdengar dalam suaranya.

Zhou Ming terdiam sejenak, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan hati-hati sebelum menjawab. "Belum tentu secara spesifik mengetahui identitas kita. Tapi mereka pasti menyadari bahwa penyelidikan sedang berlangsung, entah dari mana sumbernya—mungkin salah satu penjaga yang melihat kita malam itu melaporkan kecurigaan mereka, atau mungkin ada kebocoran lain yang belum kita sadari."

Kata-kata itu membuat Zhou Chen semakin waspada. Jika benar ada kebocoran yang belum teridentifikasi, ini berarti bahaya bisa datang dari arah yang sama sekali tidak terduga—bahkan mungkin dari dalam kelompoknya sendiri, meski ia enggan mempercayai kemungkinan itu setelah melihat sejauh mana loyalitas yang telah ditunjukkan Ah Fu, Xiao Hei, Yue Er, Zhao Kai, dan Paman Guo selama ini.

"Kita perlu lebih berhati-hati mulai sekarang," kata Zhou Chen akhirnya. "Kematian Zhang membuktikan bahwa pihak di balik ini bersedia melakukan apa saja untuk melindungi rahasia mereka—termasuk mengorbankan orang mereka sendiri."

Zhou Ming mengangguk, wajahnya menunjukkan keseriusan yang jarang terlihat sebelumnya. "Dan itu juga berarti, waktu kita semakin terbatas. Kalau mereka mulai membersihkan jejak dengan cara seperti ini, bukan tidak mungkin bukti-bukti lain yang tersisa juga akan segera dihilangkan."

Malam itu, ditemani keheningan yang berat di antara mereka berdua, Zhou Chen menyadari bahwa perjalanan yang telah ia mulai sejak menemukan Mata Dewa di ruang rahasia beberapa bulan lalu, kini telah membawanya ke dalam permainan yang jauh lebih mematikan daripada yang pernah ia bayangkan—sebuah permainan di mana nyawa manusia bisa dikorbankan dengan mudah demi menjaga rahasia kekuasaan.

Bersambung ke Bab 17 — Kematian yang Mencurigakan

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!