Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERUSAKAN KENCAN (VERSI KEVIN)
Restoran Italia 'Bella Napoli' adalah tempat yang sempurna untuk adegan makan malam romantis. Lampu gantung kristal yang berkilau redup, alunan musik accordion yang syahdu, dan aroma bawang putih serta oregano yang menguar dari dapur terbuka. Tapi yang paling penting, Vania telah memilih meja nomor tujuh.
Meja nomor tujuh ini terletak tepat di bawah satu-satunya lampu sorot spotlight yang menyorot lurus ke bawah, menciptakan efek pencahayaan sinematik yang sempurna. Jika Raka dan Larasati duduk di sini, wajah mereka akan terlihat bercahaya, romantis, dan sangat aesthetic layaknya poster sinetron prime time. Vania bahkan sudah mengatur posisi garam dan merica agar tidak menghalangi frame kamera imajinernya.
"Silakan dinikmati, Mas Raka, Kak Larasati," ucap Vania sambil duduk di kursi seberang mereka, menyeruput air mineralnya. "Suasananya sangat mendukung untuk deep talk."
Raka tersenyum kaku, masih belum sepenuhnya percaya bahwa Vania yang dulu pernah mencoba menabrakkannya ke mobil sportnya, sekarang duduk di sini dengan santai sambil mengawasi mereka makan Spaghetti Bolognese. Larasati, di sisi lain, terlihat sangat menikmati suasana. Dia tersenyum manis, memutar-mutar garpunya.
Tepat saat Raka akan memulai percakapan yang sudah dia siapkan di dalam kepala, lonceng di pintu restoran berbunyi.
Ting-ting.
Suhu di dalam ruangan seolah anjlok sepuluh derajat. Angin indoor yang misterius kembali berhembus, mengibarkan taplak meja dan membuat lilin di meja nomor tujuh berkedip-kedip panik.
Vania tidak perlu menoleh. Dia tahu persis siapa itu. Bau cologne mahal yang bercampur dengan aroma bulu basah (karena keringat) sudah tercium dari jarak sepuluh meter.
Kevin melangkah masuk. Dia masih mengenakan mantel musim dingin berbulu tebal itu. Keringat sudah menggenang di pelipisnya, membuat rambutnya yang disisir rapi ke belakang sedikit lepek, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh determinasi. Dia berjalan lurus ke arah meja nomor tujuh, menarik kursi kosong di meja sebelah—tepat di sebelah meja Raka dan Larasati—dan duduk dengan gerakan yang dramatis.
Seorang pelayan yang gemetar ketakutan segera mendekat. "T-Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau pesan yang sama persis dengan meja sebelah," ucap Kevin, suaranya berat dan menggelegar, sambil menunjuk piring Spaghetti Bolognese Raka dengan dagunya. "Dan satu gelas es teh manis. Tapi es batunya dipisah. Saya tidak suka es batu yang mencair dan merusak konsentrasi rasa."
Vania memejamkan matanya, menghela napas panjang yang seolah menarik seluruh oksigen di restoran itu. Dia menatap "kamera" imajinernya yang melayang di atas pot tanaman hias.
Ini dia. Tropes 'Mantan Kekasih yang Mengganggu Kencan'. Tapi versi paling tidak masuk akal. Dia duduk di sebelah kami, memesan makanan yang sama, dan memakai mantel bulu di restoran bersuhu 24 derajat Celsius. Ini bukan lagi dark romance, ini psychological thriller tentang pria yang tidak paham cara kerja AC.
Pelayan itu pergi dengan langkah gontai. Kevin duduk tegak, menatap lurus ke depan, mengabaikan Raka dan Larasati yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Makan malam yang menyenangkan, Raka," ucap Kevin tiba-tiba, suaranya datar namun penuh dengan nada sarkasme yang kental. "Aku berharap Spaghetti Bolognese-mu enak. Aku dengar restoran ini menggunakan tomat kalengan murah."
Raka meletakkan garpunya, rahangnya mengeras. "Kevin, apa maumu? Kau datang ke sini hanya untuk menghancurkan malam kami?"
"Aku datang untuk makan malam," balas Kevin santai, mengambil serbet dan meletakkannya di pangkuannya dengan gerakan yang sangat anggun. "Kebetulan saja aku lapar. Dan kebetulan saja, meja ini adalah satu-satunya yang tersedia."
Vania menatap meja-meja lain di restoran yang semuanya kosong melompong. Dia menatap Kevin dengan tatapan mati rasa.
"Kau berbohong dengan sangat buruk, Tuan Kevin," ucap Vania datar.
Kevin menoleh, menatap Vania. "Aku tidak berbohong. Aku lapar."
Saat makanan Kevin datang, dia mulai makan. Tapi dia tidak makan dengan tenang. Dia makan dengan agresif. Setiap kali Raka menyuap Larasati, Kevin akan memukul garpunya ke piring dengan suara ting yang nyaring. Setiap kali Larasati tertawa pelan, Kevin akan berdehem keras.
Vania akhirnya meletakkan garpunya. Dia tidak panik. Dia tidak cemburu. Dia bahkan tidak marah. Dia hanya sangat, sangat lelah.
"Tuan Kevin," ucap Vania, suaranya rendah namun memotong suara ting dari garpu Kevin.
Kevin berhenti mengunyah. Dia menatap Vania, alisnya terangkat, menantang. "Ada apa, Vania? Kau cemburu melihatku makan?"
Vania menghela napas. Dia menatap Kevin seperti seorang pelatih anjing yang sedang melihat golden retriever kesayangannya menggonggongi kucing tetangga.
"Geser dudukmu ke kiri sekitar lima sentimeter," perintah Vania datar.
Kevin berkedip, bingung. "Apa?"
"Kau menghalangi spotlight," lanjut Vania, menunjuk ke arah lampu di atas kepala mereka. "Cahaya itu seharusnya jatuh tepat di bahu Larasati dan pipi Raka untuk menciptakan efek halo yang romantis. Tapi karena kau duduk di situ dengan mantel bulu raksasamu, bayanganmu jatuh ke wajah mereka. Mereka sekarang terlihat seperti sedang makan di dalam gua, bukan di restoran Italia."
Hening.
Raka dan Larasati menatap Vania, lalu menatap Kevin, lalu kembali menatap Vania. Otak Raka jelas sedang mencoba memproses mengapa Vania lebih peduli pada pencahayaan daripada pada kehadiran mantan antagonis yang mengancam nyawanya.
Kevin menatap Vania. Matanya menyipit. "Kau... kau marah karena aku menghalangi cahaya?"
"Aku bukan marah. Aku kecewa," balas Vania, nadanya datar dan mendidik. "Kau tahu berapa lama aku mencari meja dengan pencahayaan seperti ini? Dan kau datang, duduk di sini, dan merusak lighting sinematik yang sudah aku atur. Kau merusak mood mereka, Kevin."
Vania mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Kevin dengan tatapan tajam namun anehnya tidak mengintimidasi. Justru, tatapan itu terasa seperti tatapan seorang majikan pada peliharaan yang sedang nakal.
"Duduk manis," ucap Vania pelan, suaranya tegas. "Jangan gonggong. Jangan pukul garpumu. Makan spaghetti-mu dalam diam, atau aku akan suruh pelayan membungkusnya dan kau bisa makan di mobil. Mengerti?"
Kevin membeku.
Garpu di tangannya berhenti di udara. Matanya yang tadi penuh dengan tantangan dan arogansi, kini terbelalak sedikit. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang pernah berani berbicara kepadanya seperti itu. Tidak ada karyawan, tidak ada pesaing bisnis, bahkan tidak ada dari anggota keluarga besarnya yang berani. Semua orang takut padanya. Semua orang menuruti kemauannya.
Tapi Vania? Vania memperlakukannya seperti anak anjing yang sedang tantrum di ruang tamu.
Dan yang paling mengerikan, yang paling membuat sistem saraf Kevin mengalami error total, adalah fakta bahwa detak jantungnya justru meningkat. Dadanya berdegup kencang. Ada sensasi aneh, hangat, dan sangat memabukkan yang merambat di sepanjang tulang belakangnya. Dia... dia suka diperintah seperti itu oleh Vania.
Wajah Kevin memerah di bawah kerah mantel bulunya. Dia menatap Vania, lalu menatap piringnya, lalu kembali menatap Vania. Perlahan, dengan gerakan yang kaku, dia menggeser kursinya ke kiri sekitar lima sentimeter. Bayangannya pun bergeser, membiarkan cahaya spotlight kembali jatuh dengan sempurna di bahu Larasati.
"Terima kasih," ucap Vania puas, mengambil kembali garpunya. "Sekarang, makan. Dan jangan berisik."
Kevin menatap piringnya. Dia tidak bisa makan. Otaknya terlalu penuh dengan gambar Vania yang baru saja mendominasinya dengan tatapan dan kata-kata. Dia menelan ludah, tangannya mengepal di atas meja.
Tiba-tiba, Kevin berdiri. Kursinya berdecit keras di atas lantai marmer.
Raka langsung waspada, siap berdiri untuk melindungi Larasati. Tapi Kevin tidak menatap Raka. Dia menatap Vania. Tatapannya gelap, intens, dan penuh dengan api yang tidak bisa lagi dia sembunyikan.
"Kita bicara di mobil," ucap Kevin, suaranya rendah, serak, dan bergema dengan otoritas yang mutlak. "Sekarang."
BERSAMBUNG...