I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Dua bayangan perak melesat menembus badai kabut dengan kecepatan yang meruntuhkan barisan pepohonan kuno di belakang mereka. Saial dan Rizel berlari tanpa memedulikan lagi harga diri atau kasta *Master* yang melekat pada zirah perak mereka. Napas mereka memburu hebat. Keringat dingin mengucur deras di balik pelindung kepala, bukan karena kelelahan fisik setelah menembus batas sonik, melainkan karena horor eksistensial yang baru saja mereka saksikan.
Bayangan kepala Komandan Zeon yang menggelinding di tanah Hutan Kabut terus berputar di dalam ingatan mereka seperti kutukan hidup.
"Cepat! Sedikit lagi pos komunikasi!" teriak Saial dengan suara yang parau akibat ketakutan.
Mereka berdua melompat, mendarat dengan hantaman keras yang meretakkan lantai batu di depan sebuah Pos Komunikasi Sihir militer yang tersembunyi di balik dinding bukit batu. Tanpa menunggu penjaga gerbang membuka pintu, Rizel menghantam pintu kayu besi pos tersebut hingga jebak berkeping-keping.
"Alarm Merah! Aktifkan proyektor kristal ke Ibu Kota sekarang juga!" jerit Rizel kepada petugas sensor yang terlonjak kaget dari kursi mereka.
Petugas komunikasi yang melihat dua ksatria tingkat *Master* dalam kondisi sekacau itu langsung gemetar. Jari-jarinya dengan panik menekan jajaran batu magis di atas meja, mengalirkan Qi dalam jumlah besar untuk memicu proyeksi batin langsung menuju Istana Pusat *Aethel-Primum*.
*WUNGGG—*
Dalam hitungan detik, kabut energi di tengah ruangan memadat, membentuk siluet raksasa dari para Tetua Agung Mahkamah Darah.
"Ksatria perbatasan, apa yang membuat kalian berani melakukan kontak darurat tanpa protokol resmi?" suara salah satu Tetua menggema berat dan penuh otoritas.
Saial langsung menjatuhkan dirinya, bersujud dengan tubuh yang gemetar hebat di atas lantai. "L-Lapor, Tetua Agung! Gerbang Perbatasan Luar... hancur total! Komandan Zeon... telah tewas dipenggal!"
Suasana di seberang proyeksi mendadak hening secara mencekam. "Siapa yang melakukannya? Apakah pasukan pemberontak dari Pandemonium Realm telah menembus batas?"
"Bukan, Tetua Agung! Bukan iblis!" Rizel ikut bersujud di samping Saial, menyela dengan air mata ketakutan yang menetes ke lantai. "Musuhnya... musuhnya hanyalah seorang remaja kurus dari *The Outer Pit*! Dia tidak memiliki mana! Dia tidak memiliki Qi! Dia adalah lubang kosong berlevel nol yang berjalan! Tapi... tapi dia tahu ke mana kami akan bergerak bahkan sebelum kami melangkah! Dia mempreteli seluruh jurus kami seolah-olah kekuatan kasta *Master* kami tak lebih dari mainan anak kecil!"
Saial mendongak, matanya memancarkan kegilaan psikologis yang mendalam. "Kalimat terakhirnya... dia menatap Komandan Zeon dan bertanya... *'Kenapa kau masih menghitung?'* Mohon kirim pasukan *Master Agung*! Kirim para Leluhur Pendekar! Makhluk itu bukan manusia, dia adalah anomali yang berjalan untuk meruntuhkan seluruh angka kita!"
Mendengar laporan yang meluar dari logika kasta kekuatan tersebut, proyeksi wajah para Tetua Agung tampak mengeras. Kepanikan yang sunyi mulai merayap di pusat peradaban Kekaisaran Ortodoks.
Sementara riak kepanikan mulai membakar ibu kota akibat laporan Saial dan Rizel, sang "titik kosong" yang mereka takuti sedang berjalan dengan sangat tenang melintasi jalan setapak berbatu.
Ren telah membuang pakaian goni kuli jagalnya yang berlumuran darah. Kini, tubuh kurusnya terbungkus oleh jubah perak panjang milik Komandan Zeon yang dia pungut pasca-pemenggalan. Jubah itu terlalu longgar di tubuhnya yang ringkih, namun fungsinya terpenuhi dengan sempurna: menyembunyikan identitasnya dari pandangan kasual.
Di depannya, berdiri gerbang megah **Kota Oakhaven**, sebuah kota pinggiran Kekaisaran yang menjadi pusat perdagangan batu magis dan markas bagi para ksatria kasta menengah.
Tembok kota ini terbuat dari batuan obsidian setinggi dua puluh meter, dialiri oleh pola formasi sihir pelindung yang bersinar kebiruan di bawah langit merah. Di depan gerbang, puluhan ksatria penjaga dengan tombak energi sedang memeriksa setiap kereta dagang yang masuk. Di dunia *Apex Universe* ini, keamanan sebuah kota dihitung secara matematis berdasarkan kepadatan energi pelindungnya.
Ren melangkah masuk ke dalam antrean dengan ritme kaki yang konstan. Di bawah level **Survivor**, pandangan Ren tidak lagi melihat keindahan arsitektur kota, melainkan menguliti seluruh mekanisme kota tersebut menjadi diagram transparan di dalam otaknya:
* *Formasi Sihir Pelindung Tembok: Berpusat pada Menara Energi di tengah kota. Frekuensi getaran: 400 hertz. Jeda sirkulasi pasokan energi: 0,1 milidetik setiap pergantian jam.*
* *Penjaga Gerbang: Berjumlah 12 orang dengan kasta praktisi menengah. Sudut pandang buta patroli mereka: 45 derajat ke arah kiri atas setiap kali lentera magis berputar.*
"Hei, kau yang berjubah perak! Tunjukkan tanda pengenal militermu!" bentak salah satu ksatria penjaga saat Ren tiba di depan garis pemeriksaan.
Ren tidak menonjolkan aura Qi, karena dia memang tidak punya. Namun, dengan ketenangan yang dingin, dia mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan binar abu-abu keperakan di matanya yang didapat dari percikan sang Anomali Absolut. Tatapan mata yang seolah tahu segala hal tentang ksatria di depannya.
Menggunakan data mekanis yang dibaca otaknya, Ren melangkah maju tepat di milidetik ketika lentera magis berputar ke sudut buta 45 derajat. Tangannya bergerak kasual, menjatuhkan sebuah koin emas murni berukir wajah yang dia temukan dari saku jubah Zeon tepat ke dalam lipatan sarung tangan sang penjaga tanpa suara.
"Komandan Zeon meminta laporan internal dari Menara Energi secara rahasia. Jangan menghambat jalannya perintah," ucap Ren dengan nada datar, namun memiliki penekanan yang mutlak.
Ksatria penjaga itu terpaku. Struktur gerakannya mendadak kaku karena otaknya mendeteksi jubah perak asli milik komandan perbatasan, ditambah dengan koin emas murni yang masuk ke tangannya tanpa memicu alarm sensor sihir gerbang. Logika kasta menengahnya langsung mendikte bahwa ini adalah urusan rahasia tingkat tinggi dari atasan.
"B-Baik! Silakan masuk, Tuan!" Ksatria itu buru-buru menarik tombaknya dan memberikan jalan dengan hormat.
Ren melangkah melewati gerbang obsidian *Oakhaven* tanpa memicu satu pun alarm detektor energi kota. Sumpit dan taring besi raksasanya tersembunyi dengan aman di balik jubah peraknya yang longgar.
Dia berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai oleh hiruk-pikuk para praktisi kekuatan yang sedang menyombongkan tingkat kultivasi mereka di kedai-kedai mewah. Ren menatap Menara Energi yang menjulang tinggi di pusat kota dengan tatapan malas. Kota pinggiran ini merasa aman karena mereka dilindungi oleh formasi sihir pelindung yang kokoh. Mereka mengira matematika pertahanan mereka sempurna.
Ren tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang menandakan dimulainya sabotase pertama dari sang Nol. *“Kalian merasa aman karena menara itu memiliki pasokan energi yang besar,”* batin Ren berjalan menjauh menuju bayangan gang sempit. *“Mari kita lihat seberapa cepat kota ini runtuh saat aku menghentikan sirkulasinya pada milidetik berikutnya.