NovelToon NovelToon
PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tim Terpilih

Sorak-sorai di aula utama belum sepenuhnya mereda ketika Tetua Wang mengangkat tangannya, meminta perhatian sekali lagi.

"Ada satu hal lagi," katanya, suaranya kembali serius. "Setiap sekte hanya diizinkan mengirimkan lima orang perwakilan untuk Kompetisi Sekte Wilayah Selatan. Dalam seminggu ke depan, kami—aku, Tetua Feng, dan Tetua Mei—akan mengadakan seleksi internal untuk menentukan siapa saja yang akan mewakili Sekte Awan Langit."

Chu Feng merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, tangannya secara refleks mengeratkan pegangan pada Tombak Awan Kelabu yang masih tersampir di punggungnya, sensasi hangat dari senjata itu seolah ikut merespons tekadnya yang baru saja menyala.

Di sampingnya, Liu Bo menyikut pelan, senyum kompetitif namun tulus terpampang di wajahnya. "Kudengar kau baru saja mendapatkan senjata warisan sekte. Sepertinya peluangmu cukup besar untuk masuk lima besar."

"Kita lihat saja," Chu Feng menjawab, meski di dalam hatinya, tekad untuk menjadi salah satu dari lima perwakilan itu sudah membara sejak Tetua Wang pertama kali mengumumkan kompetisi ini.

Malam itu, kembali ke kamarnya, Chu Feng duduk bersila di lantai dengan Tombak Awan Kelabu terletak di pangkuannya, Hei bergelung nyaman di sudut ranjang seperti biasa, matanya yang kekuningan sesekali membuka mengawasi tuannya yang tampak dipenuhi pikiran.

Seminggu, pikirnya, menghela napas panjang. Waktu yang singkat untuk membuktikan diri layak menjadi salah satu dari lima perwakilan.

"Kau khawatir," suara di dalam dirinya berkata, bukan pertanyaan.

Tidak sepenuhnya khawatir, Chu Feng membalas dalam hati, jujur pada dirinya sendiri. Lebih tepatnya... aku ingin memastikan aku benar-benar layak, bukan hanya karena kebetulan mendapatkan tombak ini atau bimbingan langsung dari Tetua Wang.

"Sebuah kekhawatiran yang wajar," setuju suara itu. "Tapi ingatlah, Pangeran Ketujuh—kau sudah membuktikan dirimu berkali-kali, di Festival Penentuan, di hadapan Han Lei, bahkan saat pertama kali menaklukkan penolakan tombak ini. Keraguan semacam ini normal, tapi jangan biarkan ia menguasaimu."

Chu Feng mengangguk dalam hati, mengambil napas dalam untuk menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Ia meletakkan tombak itu di sampingnya dengan hati-hati, lalu mulai bersiap untuk sesi meditasi malam yang sudah menjadi rutinitasnya—mencoba mengalirkan qi dengan tenang, membiarkan pikirannya fokus pada satu tujuan sederhana: menjadi lebih baik, satu hari pada satu waktu.

Seminggu berikutnya berlalu dengan intensitas yang belum pernah Chu Feng rasakan sejak tiba di sekte. Setiap pagi, ia berlatih bersama Tetua Wang, menyempurnakan teknik-teknik tombak tingkat lanjut dengan Tombak Awan Kelabu yang kini mulai merespons dengan jauh lebih baik dibandingkan minggu-minggu awal ia menerimanya. Setiap siang, ia bergabung dengan sesi latihan kelompok bersama murid-murid lain yang juga berambisi menjadi salah satu dari lima perwakilan, menciptakan atmosfer kompetitif namun tetap suportif di antara mereka. Dan setiap malam, ia melanjutkan meditasi pribadinya, mendorong batas kultivasinya sedikit demi sedikit.

Liu Bo, yang kini menjadi semacam teman latihan tidak resmi bagi Chu Feng, sering kali menjadi lawan tanding untuknya di sesi latihan sore—pertarungan-pertarungan singkat yang meski tidak pernah benar-benar serius, cukup untuk saling mengasah kemampuan masing-masing.

"Kau semakin sulit dikalahkan," komentar Liu Bo suatu sore, terengah setelah pertandingan latihan mereka yang kelima hari itu, pedangnya tergeletak di tanah setelah berhasil ditepis Tombak Awan Kelabu dengan gerakan yang jauh lebih halus dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.

"Kau juga semakin tajam," balas Chu Feng jujur, mengulurkan tangan membantu Liu Bo berdiri. "Kalau begini terus, mungkin kita berdua akan masuk lima besar."

"Semoga saja," Liu Bo tersenyum lebar, menerima uluran tangan itu. "Meski jujur saja, aku masih agak iri padamu. Tombak warisan sekte, bimbingan langsung dari Tetua Wang... rasanya seperti kau ditakdirkan untuk ini."

Chu Feng terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata itu. "Aku tidak yakin soal takdir," katanya akhirnya. "Tapi aku tahu satu hal—apa pun yang kumiliki sekarang, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Terlalu banyak orang yang sudah berkorban untuk membuat ini semua mungkin."

Liu Bo mengangguk, tidak sepenuhnya memahami kedalaman makna di balik kata-kata itu, namun cukup menghormati ketulusan yang jelas terpancar dari sahabat barunya.

Pada hari ketujuh, seleksi internal akhirnya dilaksanakan di lapangan utama sekte, disaksikan oleh seluruh murid dan ketiga tetua yang bertindak sebagai juri.

Format seleksi menggabungkan tiga elemen—ujian kekuatan dasar, pertarungan bergilir sistem eliminasi, dan penilaian kerja sama tim dalam skenario simulasi sederhana, mengingat kompetisi sesungguhnya nanti juga akan melibatkan beberapa pertandingan tim, bukan hanya individu.

Chu Feng melewati ujian kekuatan dasar dengan hasil yang mengesankan—qi-nya kini sudah mencapai tingkat Kondensasi Qi lapis kelima, hasil dari latihan intensif seminggu terakhir yang dikombinasikan dengan bimbingan personal Tetua Wang.

Di sesi pertarungan bergilir, ia berhasil melewati tiga lawan berturut-turut, masing-masing pertarungan menunjukkan penguasaan Tombak Awan Kelabu yang semakin matang—gerakan-gerakan yang dulu terasa kaku dan asing, kini mengalir alami seperti perpanjangan dari tubuhnya sendiri.

Pertandingan terakhirnya adalah melawan Liu Bo sendiri, sebuah pertarungan yang disambut sorak-sorai meriah dari seluruh murid yang menyaksikan—dua murid yang awalnya berseteru kini bertarung dengan rasa hormat mendalam satu sama lain, masing-masing mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.

Pertarungan itu berakhir dengan kemenangan tipis bagi Chu Feng, ujung Tombak Awan Kelabu berhenti tepat di leher Liu Bo yang sudah kehabisan tenaga untuk melanjutkan pertahanannya—namun keduanya saling tersenyum di akhir pertandingan, rasa hormat yang tulus jauh lebih berarti dibandingkan sekadar menang atau kalah.

Ketika hasil akhir seleksi diumumkan sore itu, Tetua Wang berdiri di depan seluruh murid, membacakan lima nama yang akan mewakili Sekte Awan Langit di Kompetisi Sekte Wilayah Selatan.

"Zhao Lin."

Sorak-sorai membahana untuk murid senior yang selama ini dikenal disiplin dan konsisten.

"Liu Bo."

Liu Bo mengepalkan tinjunya ke udara dengan gembira, meski baru saja kalah di pertandingan terakhir seleksi.

Tiga nama lain disebutkan, masing-masing murid yang telah menunjukkan performa solid sepanjang minggu seleksi. Dan akhirnya, nama terakhir yang sudah diduga banyak orang, namun tetap disambut sorak-sorai meriah ketika benar-benar diumumkan.

"Dan yang terakhir, Chu Feng."

Chu Feng melangkah maju bersama empat rekan timnya yang lain, menerima tepuk tangan dan sorak-sorai dari seluruh sekte yang kini menaruh harapan besar pada mereka berlima—harapan untuk membuktikan bahwa Sekte Awan Langit, meski kecil dan sempat terpuruk, masih memiliki kekuatan yang layak diperhitungkan.

"Kalian berlima," kata Tetua Wang, menatap masing-masing dari mereka dengan bangga, "akan mewakili kehormatan sekte ini dalam dua bulan ke depan. Latihan intensif akan dimulai besok, difokuskan khusus untuk kalian berlima, mempersiapkan tidak hanya kekuatan individu, tapi juga kerja sama tim yang solid."

Chu Feng menatap keempat rekan timnya—Zhao Lin yang tersenyum tenang penuh percaya diri, Liu Bo yang masih bersemangat meski baru saja kalah, dan tiga murid lain yang wajahnya dipenuhi tekad yang sama kuatnya.

Ini baru permulaan, pikirnya, menggenggam Tombak Awan Kelabu dengan tekad yang semakin mantap. Dua bulan untuk mempersiapkan diri, membuktikan pada dunia luar bahwa sekte kecil ini pun layak diperhitungkan—dan mungkin, dalam prosesnya, aku juga akan semakin dekat menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang masih menggantung tentang warisan ibuku, dan ancaman yang masih mengintai dari kegelapan.

1
Nanik S
Chu Feng ..harusnya cepat tinggalkan sekte dan mulai mengembara👌
Irhab Hauzan: terimakasih 👍🙏
total 1 replies
Nanik S
Hei...jadilah kuat agar bisa melindungi Tuanmu
Irhab Hauzan: siap laksanakan 👍
total 1 replies
Nanik S
Lanjut terus💪💪💪
Irhab Hauzan: gas👍👍
total 1 replies
Nanik S
Menjadi Murid sekte
Nanik S
Chu Feng ada teman dalam perjalanan
Nanik S
Akhirnya Chu Feng pergi menuju Sekte Langit
Irhab Hauzan: lanjut kak🙏
total 1 replies
Nanik S
Siapa nanti yang akan berkhianat pada Chu Feng apakah itu Su Yue
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya 🙏👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng harus berlindung disekte dan terus berlatih agar menjadi Kuat
Irhab Hauzan: terimakasi🙏😄
total 1 replies
Nanik S
Keturunan siapakah sebenarnya Ibu Chu Feng
Nanik S
Lanjutkan💪💪💪
Irhab Hauzan: terimakasih 🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Yan... kenapa tidak malu melawan adiknya yang paling Lemah
Irhab Hauzan: suka mbuly soalnya😄👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng.... mulai menunjukan kemampuannya dan pasti akan berbahaya bagi Kakak²nya😇😇😇
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng memang harus berhati hati karena kelicikan wanita
Irhab Hauzan: 😄😄😄 wanita memang tipudaya
total 1 replies
Nanik S
Semoga pangeran Ketuju tidak terlalu tertarik dengan asmara agar cerita ini tidak membosankan
Irhab Hauzan: terimakasih atas masukanya🙏
total 1 replies
Nanik S
Ada yang mengawasi ... dan kenapa sang Dewa tidak menyadarunya
Irhab Hauzan
terimakasih masukanya🙏
Nanik S
Lanjutkan Tor... jangan sampai ada perjodohan atau pernikahan muda pasti Ceritanya sudah TDK akan menarik
Nanik S
Lanjutkan Tor💪💪💪
Nanik S
Dewa... yang dianggap Intensitas tertinggi
Nanik S
Semoga cerita ini sampai selesai
Irhab Hauzan: terimakasih supportnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!