NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Ular di Ruang Kerja

Gedung delapan lantai milik Nusantara Industri Utama—perusahaan manufaktur kelas menengah ke atas yang dibangun oleh ayah Alya—berdiri megah di pusat kawasan bisnis. Meskipun di kehidupan masa depannya Megah Corp adalah raksasa korporasi yang membawahi banyak divisi, Nusantara Industri Utama adalah fondasi utama kekayaan keluarga Alya. Perusahaan inilah yang di masa depan digrogoti habis-habisan oleh Rendy dan Siska hingga ayah Alya tersingkir dan terkena serangan jantung.

Alya melangkah melintasi lobi utama dengan langkah mantap. Celana kain hitam berpotongan high-waist dan blazer kemeja navy terpasang rapi di tubuhnya yang berbobot 72 kg. Meskipun fisiknya masih berisi, aura yang dipancarkannya begitu kuat hingga para staf di lobi menunduk penuh hormat, terheran-heran melihat gestur percaya diri dari putri pemilik perusahaan tersebut.

Begitu pintu lift di lantai lima terbuka, sosok Siska sudah berdiri menunggunya dengan map tebal di dada. Siska bekerja sebagai manajer HRD di perusahaan keluarga Alya—sebuah posisi strategis yang dimanfaatkannya untuk menyelundupkan orang-orang kepercayaan Rendy di kehidupan sebelumnya.

"Alya! Akhirnya kamu sampai juga," Siska menyambutnya dengan senyuman manis nan hangat, langsung merangkul lengan Alya seperti biasa. "Aku sudah menyiapkan semua berkas kandidat untuk posisi Manajer Operasional yang baru. Seperti yang kita bahas kemarin, kita butuh orang luar yang segar untuk memimpin divisi itu."

Alya menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang kerja barunya, menarik tangannya dari rangkulan Siska dengan halus namun tegas. "Siapa kandidat utamanya, Siska?"

Siska mengedipkan mata, tersenyum penuh arti seolah baru saja memenangkan hadiah utama. "Kamu pasti bakal senang banget, Al. Aku berhasil membujuk Rendy untuk melamar! Kamu tahu kan, pengalaman Rendy di bidang konsultasi manajemen itu bagus banget? Lagipula, daripada kita merekrut orang asing yang belum tentu jujur, mending orang yang sudah jelas dekat dan bisa kita percaya, kan?"

Dapat. Alya menahan senyum sinisnya. Ular ini bertindak persis sesuai dengan skenario masa lalu. Di kehidupan pertama, Alya yang dimabuk asmara langsung menyetujui rekomendasi Siska tanpa proses seleksi yang ketat. Akibatnya, Rendy menggunakan jabatan Manajer Operasional itu untuk memalsukan nota pengadaan bahan baku, menggelembungkan anggaran, dan mentransfer dana perusahaan ke rekening cangkang milik Siska.

"Rendy?" Alya menaikkan sebelah alisnya, pura-pura ragu. "Bukankah Rendy sedang mengurus bisnis konsultasinya sendiri?"

"Aduh, Al... Rendy itu rela melepas klien-kliennya demi membantu kamu dan Om!" bujuk Siska dengan nada menggebu-gebu, mencoba menyentuh sisi emosional Alya. "Dia kasihan melihat kamu kerepotan mengurus perusahaan Papa kamu sendirian. Lagipula, kalau Rendy ada di sini, kalian bisa makin dekat, kan?"

Alya menatap mata Siska secara mendalam. Di balik binar mata sahabatnya itu, Alya bisa membaca niat busuk yang terpancar jelas: mereka ingin menempatkan Rendy di dalam jantung perusahaan untuk menguasai arus kas secara langsung.

Jika ia menolak Rendy sekarang, Rendy dan Siska hanya akan mencari jalan belakang lain yang mungkin lebih sulit ia awasi. Namun jika Rendy masuk ke dalam cengkeramannya di Nusantara Industri Utama, Alya bisa memasang perangkap, membiarkan pria itu melakukan kejahatan finansial yang terpola, dan menguncinya dengan bukti dokumen hukum yang tak terbantahkan.

"Baiklah," ucap Alya pendek.

Siska melotot kegirangan. "Beneran, Al? Kamu terima Rendy?"

"Terima berkas lamarannya dan jadwalkan wawancara formal sore ini," potong Alya dingin. "Aku sendiri yang akan memimpin wawancaranya. Jika kualifikasinya sesuai, aku akan melantiknya sebagai Manajer Operasional dengan masa percobaan tiga bulan."

"Alya, kamu hebat banget! Rendy pasti bakal seneng banget dengarnya!" Siska menepuk-nepuk bahu Alya penuh semangat, tanpa menyadari bahwa ia baru saja menyodorkan Leher Rendy ke dalam jerat hukum yang sedang dirajut Alya.

"Oh ya, Siska," Alya berbalik sebelum melangkah masuk ke ruangannya. "Jadwal rapat utama jam sepuluh pagi ini sudah disiapkan, kan? Jangan sampai ada dokumen yang terlewat."

"Sudah, Al! Rapat evaluasi dengan mitra utama kita dari PT Aditya Nusantara Abadi, kan? Semua kuesioner dan laporan produksi sudah ada di meja rapat," jawab Siska sigap.

"Bagus," gumam Alya seraya menutup pintu ruang kerjanya.

Pukul 10.00 WIB. Ruang rapat utama Nusantara Industri Utama yang berdinding kaca tebal memancarkan atmosfer profesional yang dingin. Di ujung meja oval kayu jati, Alya duduk tegak bersama para direktur seniornya.

Pintu rapat terbuka, dan seketika aroma minyak kayu cendana serta langkah kaki yang mantap memenuhi ruangan. Pria berpostur jangkung, tegap, dengan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit kelas atas melangkah masuk. Wajahnya tegas, dengan rahang kokoh dan tatapan mata tajam namun memancarkan kehangatan yang tenang.

Kai Aditya. Anak tunggal dari sahabat ayah Alya, sekaligus Wakil Direktur Utama PT Aditya Nusantara Abadi—perusahaan manufaktur raksasa yang telah menjalin kerja sama pasokan bahan baku dengan Nusantara Industri Utama selama tiga tahun terakhir.

Di kehidupan pertamanya, Alya selalu menghindari kontak mata dengan Kai saat rapat ini berlangsung. Dulu, rasa minder atas tubuhnya yang 72 kg membuat Alya merasa kerdil di samping Kai yang begitu sempurna dan dihormati banyak orang. Ketidakpercayaan diri itu pula yang dimanfaatkan Siska untuk menghancurkan rencana perjodohan keluarga mereka.

Namun kali ini, Alya tidak menundukkan kepalanya. Ia berdiri, menyambut kedatangan Kai dengan tatapan lurus dan dagu terangkat.

"Selamat pagi, Pak Kai," sapa Alya dengan suara yang tenang dan berwibawa, mengulurkan tangannya di atas meja.

Kai sempat tertegun sejenak. Langkahnya terhenti saat matanya beradu dengan mata Alya. Tidak ada lagi raut cemas, ragu, atau pandangan gelisah yang biasa ia lihat dari wanita itu. Yang ada di hadapannya adalah seorang pemimpin yang matang dan percaya diri.

Senyum tipis dan tulus terukir di bibir Kai. Ia menyambut uluran tangan Alya, mencengkeramnya dengan hangat dan pas. "Selamat pagi, Bu Alya. Senang bisa bertemu kembali dalam rapat evaluasi tahunan ini."

Siska, yang duduk di barisan belakang Alya sebagai notulen, menyipitkan matanya bingung melihat interaksi tersebut. Biasanya Alya akan gugup dan menyerahkan seluruh pembicaraan rapat kepada direktur operasional lama.

"Silakan duduk, Pak Kai. Mari kita langsung membahas poin efisiensi rantai pasok untuk kuartal ketiga," ujar Alya tanpa bertele-tele.

Rapat berlangsung selama dua jam dengan dinamika yang luar biasa. Alya memimpin jalannya presentasi dengan sangat lancar. Menggunakan pengetahuan teknis dan data pergerakan industri yang diingatnya dari masa depan, Alya membedah celah kerugian pengiriman bahan baku dan menawarkan metode penyesuaian baru yang jauh lebih menguntungkan kedua belah pihak.

Para direktur senior yang hadir saling bertukar pandang penuh rasa kagum. Mereka tidak menyangka putri sang pemilik perusahaan yang biasanya pasif kini bisa menguasai detail angka dan grafik sedemikian tajam.

Kai memperhatikan setiap gerakan dan penjelasan Alya dengan pendar kekaguman yang tak tertutup di matanya. Setiap kali Alya menjawab pertanyaan teknis dari timnya dengan lugas, Kai mengangguk-angguk kecil, makin terpesona oleh kecerdasan wanita yang telah lama mencuri perhatiannya itu.

"Penyesuaian klausa pasal empat tentang jaminan mutu bahan baku yang Bu Alya usulkan sangat luar biasa," puji Kai saat rapat resmi ditutup. "Ini bukan hanya menghemat biaya operasional kami, tapi juga mengamankan stok pabrik Anda hingga akhir tahun."

"Terima kasih, Pak Kai. Saya hanya memastikan kerja sama tiga tahun ini tetap memberikan nilai maksimal bagi kedua perusahaan," balas Alya seraya merapikan dokumen-dokumennya.

Tim rapat perlahan meninggalkan ruangan, termasuk Siska yang melirik Alya dengan raut wajah tidak tenang dari balik pintu sebelum akhirnya melangkah keluar.

Kini hanya tersisa Alya dan Kai di dalam ruang rapat yang luas itu.

Kai mengancingkan kembali jasnya, lalu melangkah mendekati meja Alya. Aura resminya perlahan mencair, digantikan oleh keramahan seorang teman lama. "Alya... boleh saya jujur?"

Alya menengadah, menatap pria yang dulu ia sia-siakan itu. "Jujur soal apa, Kai?"

"Kamu berubah," kata Kai dengan suara berat yang lembut. "Maksudku, dalam arti yang sangat positif. Kamu kelihatan jauh lebih tegas, berani, dan... ada pendar berbeda di mata kamu hari ini. Seolah kamu tahu persis apa yang kamu inginkan."

Alya tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang tulus dari kata-kata Kai—sangat berbeda dari pujian bernada manipulatif yang biasa diucapkan Rendy.

"Seseorang harus bertumbuh, kan?" ujar Alya pelan. "Aku sadar selama ini aku terlalu banyak bersembunyi di balik ketakutanku sendiri. Sudah saatnya aku mengambil alih apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabku."

"Dan aku sangat mengagumi perubahan itu," sahut Kai tanpa ragu. Ia menatap Alya lurus-lurus, tanpa sedikit pun memedulikan bentuk tubuh atau berat badan wanita di hadapannya. Bagi Kai, keberadaan Alya saat ini adalah kombinasi sempurna antara kecerdasan dan pesona yang elegan. "Papa melempar ide minggu lalu... beliau bilang mau mengundang Om dan kamu makan malam di rumah kami Sabtu ini. Kira-kira, kamu ada waktu?"

Alya teringat pada ingatan masa lalunya. Di kehidupan pertama, Alya menolak mentah-mentah undangan makan malam keluarga ini karena hasutan Siska yang menyebut bahwa keluarga Kai hanya ingin mengejek bentuk tubuhnya. Akibatnya, hubungan ayahnya dan ayah Kai sempat merenggang, memberi celah bagi Rendy untuk masuk.

"Aku akan sangat senang untuk datang, Kai," jawab Alya tegas. "Tolong sampaikan pada Om bahwa aku dan Papa pasti datang."

Mata Kai berbinar gembira, senyum lebarnya terkembang menampakkan deretan gigi yang rapi. "Sungguh? Baguslah kalau begitu! Papa pasti senang sekali mendengarnya."

Kai kemudian melirik jam tangannya sebelum kembali menatap Alya. "Kalau begitu, aku pamit dulu untuk kembali ke kantor pusat. Sampai ketemu Sabtu malam, Alya."

"Sampai ketemu, Kai."

Alya memperhatikan punggung Kai yang melangkah keluar dari ruang rapat. Ada rasa lega yang menyusup ke dalam benaknya. Langkah pertamanya untuk memperbaiki hubungan dengan sekutu terkuat keluarganya telah berhasil.

Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat, Siska mendadak masuk kembali dengan wajah cemberut dan napas agak memburu.

"Al!" seru Siska seraya mendekati meja. "Kamu beneran mau terima undangan makan malam keluarga Kai? Kamu lupa ya sama yang pernah aku ceritain? Ibunya Kai itu pemilih banget! Nanti kamu cuma dijadiin bahan pembanding di depan sepupu-sepupunya yang langsing-langsing itu! Kenapa kamu nggak nolak aja sih?"

Alya berdiri dari kursinya, merapikan blazernya dengan sangat tenang. Ia berjalan mendekati Siska, menatap sahabat mukanya dua itu dari jarak dekat.

"Kenapa aku harus takut, Siska?" bisik Alya dingin. "Aku adalah calon penerus utama Nusantara Industri Utama. Nilai diriku tidak ditentukan oleh ukuran lingkar pinggangku atau penilaian dangkal orang lain. Lagipula... Kai tidak pernah memandagku dengan cara seperti itu."

Siska tertegun, lidahnya mendadak kelu melihat tatapan intimidatif dari Alya.

"Oh ya, siapakan berkas wawancara Rendy di ruanganku jam dua siang nanti," tambah Alya seraya melangkah melewati Siska begitu saja. "Pastikan dia datang tepat waktu. Aku ingin melihat seberapa hebat calon 'Manajer Operasional' pilihanmu itu."

Siska berdiri kaku di tengah ruang rapat yang dingin, memandangi langkah Alya dari belakang dengan rasa cemas yang mulai menggerogoti dadanya. Rencana yang dulu terasa begitu mudah untuk mengendalikan Alya, kini perlahan terasa bagaikan berjalan di atas papan paku yang dipasang oleh Alya sendiri.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!