Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Kakek, Langit Frustasi 06.
Aroma parfum Zara campuran manis buah beri dan vanila masih tertinggal samar di jaket denim Langit.
Sepanjang jalan pulang di atas motornya, senyum Langit tidak luntur.
Kencan sore ini sangat sempurna. Hanya hal-hal sederhana, menertawakan es krim Zara yang meleleh terlalu cepat dan duduk di tribun lapangan kota sambil membicarakan pertandingan basket minggu depan.
Bersama Zara, hidup Langit terasa ringan. Tanpa tuntutan, tanpa beban.
Namun, begitu roda motornya melewati gerbang tinggi rumahnya, atmosfer hangat itu mendadak menguap.
Langit mengerutkan kening begitu melihat sebuah sedan hitam klasik yang sangat ia kenal terparkir di garasi.
Jantungnya melewatkan satu detak. Kakek Gatot. Kakeknya yang dominan dan kaku itu sangat jarang meninggalkan kediamannya di Bogor, kecuali ada urusan yang benar-benar darurat. atau jika ada yang mengusik ketenangannya.
Langit melangkah masuk lewat pintu depan yang berat. Begitu menginjakkan kaki di ruang keluarga, keheningan yang mencekam langsung menyambutnya.
Di sofa kulit besar, Kakek Gatot duduk tegak dengan tongkat berkepala peraknya yang bersandar di lutut.
Wajah tuanya yang keras tampak seperti batu karang. Di sebelah kanannya, Indra—ayah Langit—berdiri dengan tangan bersedekap, memasang wajah defensif sekaligus puas.
Langit langsung paham duduk perkaranya. Ini pasti buntut dari penolakannya minggu lalu saat sang ayah mencoba memperkenalkannya secara formal dengan anak rekan bisnisnya. Ayahnya gagal, lalu mengadu.
"Baru pulang, Langit?" Suara Kakek Gatot berat, bergetar oleh usia namun tetap penuh otoritas yang mengintimidasi.
Langit menghentikan langkah, meletakkan kunci motor di meja konsol dengan pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Iya, Kek. Habis kerja kelompok." Langit berbohong kecil, tidak ingin menyeret nama Zara ke dalam ruangan yang sudah terasa seperti medan perang ini.
Indra mendengus sinis. "Kerja kelompok atau pacaran sama anak perempuan yang tidak jelas asal-usulnya itu? Jangan bohongi Kakekmu, Langit."
Langit mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya. Rahangnya mengeras, namun ia memilih menatap langsung ke mata Kakek Gatot, mengabaikan provokasi ayahnya. "Ada apa Kakek kesini?"
Kakek Gatot tidak suka berbasa-basi. Beliau mengetukkan tongkatnya ke lantai marmer satu kali. Suaranya menggema. "Ayahmu bilang kamu menolak niat baik keluarga. Kamu menolak diperkenalkan dengan cucu dari almarhum sahabat kakek."
"Karena Langit sudah punya pacar, Kek. Dan Langit masih SMA. Perjodohan atau apa pun namanya itu sama sekali enggak masuk akal buat Langit sekarang," jawab Langit, mencoba menyuntikkan logika ke dalam diskusi ini.
Kakek Gatot menghela napas panjang, bukan napas lelah, melainkan napas kecewa yang menghakimi. "Pacarmu itu tidak bisa membayar utang budi masa lalu, Langit. Dulu, saat perusahaan keluarga kita hampir hancur, kakeknya Ulfa yang menyelamatkan kita. Kami membuat janji. Janji darah di antara dua keluarga. Kamu akan menikah dengan Ulfa dalam waktu dekat, jangan banyak protes lagi."
"Ini abad 21, Kek! Janji masa lalu Kakek enggak ada hubungannya sama hidup Langit!" Suara Langit naik satu oktav, frustrasi yang ditahannya mulai jebol. "Ulfa itu sok galak, Langit enggak cinta sama Ulfa. Yang Langit cinta itu Zara!"
"Langit! Jaga bicaramu di depan Kakek!" bentak Indra, mencoba mengambil muka.
Kakek Gatot mengangkat satu tangannya, seketika membuat Indra bungkam. Pandangan mata tua itu mengunci Langit dengan dingin. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, dan justru itulah yang membuat Langit merinding. Kakeknya adalah pria yang bergerak lewat kalkulasi bisnis, bukan emosi.
"Kamu boleh saja menolak, Langit. Kakek tidak akan menyeretmu ke pelaminan bulan depan," ucap Kakek Gatot tenang. "Tapi kamu harus tahu konsekuensinya."
Langit menahan napas, bersiap untuk badai.
"Jika kamu memilih anak perempuan itu dan keras kepala membatalkan janji keluarga kita dengan keluarga Ulfa, maka mulai besok, namamu akan Kakek coret dari daftar ahli waris. Semua fasilitas, tabungan atas namamu, dan rumah yang kamu tempati ini akan ditarik."
Langit mendengus, mencoba terlihat berani. "Ambil saja, Kek. Langit bisa hidup sendiri."
Kakek Gatot tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat perut Langit melilit. "Kakek belum selesai. Kakek tahu kamu sangat bangga menjadi kapten tim basket SMA-mu. Kakek juga tahu, donatur utama dan pemilik fasilitas olahraga baru di sekolahmu adalah yayasan milik keluarga kita. Satu telepon dari Kakek malam ini, dan namamu akan dikeluarkan dari tim basket. Selamanya. Kamu tidak akan bisa ikut turnamen nasional bulan depan, yang katanya sedang diincar oleh para pencari bakat universitas itu."
Kata-kata itu menghantam Langit tepat di titik terlemahnya.
Dunia Langit runtuh seketika. Dicoret dari ahli waris mungkin terdengar seperti drama yang bisa ia hadapi dengan ego remajanya. Tapi basket? Basket adalah hidupnya. Itu adalah satu-satunya ruang di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, lepas dari bayang-bayang nama besar keluarganya. Menjelang turnamen nasional yang sudah ia persiapkan dengan latihan berdarah-darah selama tiga tahun ini, ancaman Kakek Gatot adalah hukuman mati bagi impiannya.
"Kek... ini enggak adil," bisik Langit. Suaranya bergetar. Ego dan keberaniannya yang berapi-api tadi mendadak runtuh, digantikan oleh rasa putus asa yang teramat sangat. "Kenapa basket harus dibawa-bawa? Ini impian Langit!"
"Hidup ini tentang pilihan dan pengorbanan, Langit," ujar Kakek Gatot datar sambil bangkit dari sofanya, dibantu oleh tongkatnya. "Kakek beri kamu waktu sampai akhir minggu untuk mutusin hubungan dengan pacarmu dan menyetujui pertemuan dengan Ulfa. Kalau tidak, surat pengeluaranmu dari tim basket akan ditandatangani hari Senin."
Tanpa menunggu jawaban, Kakek Gatot melangkah pergi melewati Langit, diikuti oleh Indra yang sempat memberikan tatapan "sudah kubilang" kepada putranya.
Pintu depan tertutup dengan dentuman berat.
Langit berdiri terpaku di tengah ruang keluarga yang luas namun mendadak terasa mencekik. Kakinya lemas. Ia merosot, duduk di lantai marmer yang dingin, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut.
Frustrasi mencengkeram dadanya hingga ia sulit bernapas. Kepalanya berdenyut pening.
Di satu sisi ada Zara—gadis yang teramat ia sayangi, yang baru beberapa jam lalu tertawa bersamanya.
Di sisi lain ada basket—masa depannya, harga dirinya, dan satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup.
Bagaimana mungkin ia harus mengorbankan salah satunya demi sebuah janji usang yang bahkan tidak pernah ia buat? Langit memejamkan mata erat-erat, meremas rambutnya sendiri di tengah keheningan rumah yang terasa seperti penjara.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳