Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — WANITA YANG MENGGANTIKAN ISTRINYA
Shanghai, pukul 08.30 pagi.
Sinar matahari menembus jendela besar penthouse keluarga Wu. Ruangan yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan sarapan buatan Celine Wang kini terasa asing. Tidak ada suara langkah kaki perempuan itu, tidak ada sapaan lembut, dan tidak ada secangkir kopi yang diletakkan di meja kerja Alexander Wu sebelum ia berangkat ke kantor.
Alexander duduk di meja makan sambil membaca laporan keuangan perusahaan. Di hadapannya, secangkir kopi hitam telah mendingin.
“Di mana Nyonya Wu?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.
Pelayan yang berdiri di dekat meja langsung menunduk.
“Tuan, Nyonya Celine sudah pergi tadi malam.”
Alexander berhenti membalik halaman.
“Aku tahu.”
“Apakah Tuan ingin kami menyiapkan sarapan seperti biasanya?”
“Tidak perlu.”
Pelayan itu mengangguk dan segera pergi.
Alexander kembali menatap dokumen di tangannya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang berubah. Celine telah menandatangani surat perceraian, dan sebentar lagi urusan hukum mereka akan selesai.
Namun, ketika ia melihat kursi kosong di seberangnya, ia teringat sesuatu.
Selama tiga tahun, Celine selalu duduk di sana setiap pagi. Terkadang ia membicarakan berita, terkadang menceritakan hal-hal kecil yang terjadi di rumah, dan terkadang hanya menemaninya dalam diam.
Alexander biasanya tidak terlalu memperhatikan perkataan istrinya.
Sekarang, ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengabaikannya.
Ponselnya berdering.
Nama Evelyn Zhao muncul di layar.
Alexander segera mengangkatnya.
“Selamat pagi, Alexander!” Suara ceria Evelyn terdengar. “Apakah kau sudah sarapan?”
“Belum.”
“Kalau begitu, jangan makan dulu. Aku ingin mengajakmu sarapan di hotel. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan setelah kembali ke Shanghai.”
Alexander melirik jam tangannya.
“Aku ada rapat pukul sepuluh.”
“Kalau begitu, kita bertemu pukul sembilan. Aku tidak akan mengganggumu terlalu lama.”
Setelah berpikir sejenak, Alexander menjawab, “Baiklah.”
Ia mengakhiri panggilan, mengambil jasnya, lalu meninggalkan penthouse.
Tanpa disadarinya, pagi itu merupakan awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Pukul 09.05, Hotel Grand Imperial.
Evelyn Zhao duduk di dekat jendela restoran hotel. Ia mengenakan gaun putih elegan dengan perhiasan sederhana yang memperlihatkan selera mahalnya. Rambutnya tertata rapi, sementara senyumnya tampak begitu sempurna.
Ketika Alexander memasuki restoran, Evelyn langsung berdiri.
“Alexander!”
Ia berjalan menghampiri pria itu dan memeluknya.
Alexander sempat terdiam sebelum membalas pelukan tersebut.
“Aku merindukanmu,” bisik Evelyn.
“Aku juga senang kau kembali.”
Evelyn mengangkat wajahnya. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Dulu aku berpikir kita tidak akan pernah bertemu lagi.”
Alexander menarik kursi untuknya.
“Banyak hal telah berubah.”
Evelyn duduk, kemudian menatapnya penuh perhatian.
“Termasuk pernikahanmu?”
Alexander mengangguk singkat.
“Sudah selesai.”
Senyum Evelyn hampir tidak terlihat, tetapi ada kilatan kepuasan di matanya.
“Maafkan aku. Aku tidak ingin menjadi penyebab masalah rumah tanggamu.”
“Keputusan itu adalah keputusanku sendiri.”
Evelyn menunduk, berpura-pura merasa bersalah.
“Aku hanya berharap dia tidak terlalu terluka.”
Alexander mengerutkan kening.
“Celine akan baik-baik saja. Dia sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri.”
Evelyn mengangguk pelan.
Namun, di dalam hatinya, ia tertawa.
Selama bertahun-tahun, ia mengetahui satu kelemahan Alexander: pria itu selalu ingin percaya bahwa dirinya membuat keputusan yang benar. Ia hanya perlu menyodorkan alasan yang terdengar masuk akal, dan Alexander akan menemukan pembenaran untuk tindakannya sendiri.
“Ngomong-ngomong,” ujar Evelyn sambil mengubah topik, “aku mendengar Wu Group sedang menghadapi beberapa masalah investasi. Apakah semuanya baik-baik saja?”
Alexander menghela napas.
“Ada beberapa proyek yang perlu ditinjau ulang.”
“Kalau kau membutuhkan bantuan, katakan saja. Ayahku mengenal beberapa investor di Eropa.”
Alexander menatapnya.
“Kau tidak perlu mencampuri urusan perusahaan.”
Evelyn tersenyum lembut.
“Aku hanya ingin membantumu.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi Alexander menyukainya. Setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan bisnis dan tuntutan keluarganya, ia merasa Evelyn adalah seseorang yang memahami dirinya.
Ia tidak menyadari bahwa perempuan itu sedang mencari jalan masuk menuju kerajaan bisnis Wu.
Pada waktu yang sama, di sebuah apartemen kecil di pusat Shanghai, Celine Wang berdiri di depan cermin.
Ia mengenakan blus putih dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat sederhana, sementara sebuah tas berisi dokumen berada di atas meja.
Malam sebelumnya, ia hampir tidak tidur. Percakapan dengan Daniel Zhou terus terngiang di pikirannya.
Kematian ayah Anda bukanlah kejadian yang sesederhana yang selama ini Anda percayai.
Celine mengambil kalung peninggalan ibunya dan menyimpannya di dalam tas.
Hari ini, ia akan mengetahui sesuatu yang mungkin mengubah seluruh hidupnya.
Sebelum keluar, ia membuka ponselnya dan melihat sebuah foto lama bersama Alexander. Foto itu diambil pada hari pertama mereka pindah ke penthouse.
Dalam foto tersebut, Celine tersenyum lebar, sementara Alexander berdiri di sampingnya dengan ekspresi tenang.
Dahulu, ia mengira pria itu hanya kesulitan menunjukkan perasaan.
Kini, ia mengerti bahwa dirinya terlalu lama mencari cinta di tempat yang salah.
Celine menghapus foto itu dari layar ponselnya.
Bukan karena ia ingin berpura-pura bahwa masa lalu tidak pernah ada, melainkan karena ia tidak ingin masa lalu menentukan masa depannya.
Ia mengambil tas, lalu meninggalkan apartemen.
Pukul 10.15, kediaman keluarga Wu.
Setelah sarapan, Evelyn mengikuti Alexander menuju rumah utama keluarga Wu. Ia tahu bahwa jika ingin menjadi bagian dari kehidupan Alexander, ia harus mendapatkan persetujuan Victor Wu, ayah pria tersebut.
Victor sedang duduk di ruang tamu ketika mereka tiba.
“Paman Victor,” sapa Evelyn dengan sopan.
Victor mengangkat wajah. Setelah mengenali perempuan itu, ia tersenyum tipis.
“Evelyn Zhao. Sudah lama sekali.”
Evelyn membungkuk kecil.
“Saya senang bisa kembali, Paman.”
Victor mempersilakannya duduk.
“Aku mendengar kau akan tinggal di Shanghai untuk waktu yang lama.”
“Benar. Saya ingin membangun kembali karier saya di sini.”
“Bagus. Orang yang ingin berkembang harus tahu di mana kesempatan terbaik berada.”
Alexander duduk di sofa seberang.
“Ayah, Evelyn mungkin akan membantu kita menghubungi beberapa investor luar negeri.”
Victor melirik putranya, lalu menatap Evelyn.
“Kalau begitu, kita akan membicarakannya nanti.”
Percakapan mereka berlangsung santai. Evelyn pandai memilih kata-kata, menghormati Victor, dan menunjukkan ketertarikan pada perkembangan Wu Group tanpa terlihat terlalu ambisius.
Sebelum makan siang, Victor bahkan meminta pelayan menyiapkan kamar tamu untuk Evelyn.
Namun, ketika perempuan itu berpamitan sebentar untuk menerima telepon, Victor memanggil Alexander.
“Kau yakin keputusanmu menceraikan Celine sudah tepat?”
Alexander menatap ayahnya dengan heran.
“Kenapa Ayah menanyakan itu?”
“Karena perempuan yang tinggal bersamamu selama tiga tahun bukanlah orang yang bisa disingkirkan begitu saja.”
Alexander mengeraskan rahangnya.
“Ayah selalu menganggap Celine lebih baik daripada yang sebenarnya.”
Victor tidak menjawab. Ia hanya menatap putranya dengan ekspresi sulit dibaca.
“Semoga kau tidak menyesali keputusanmu.”
Alexander berdiri.
“Aku tidak akan menyesal.”
Ia meninggalkan ruangan tanpa mengetahui bahwa di lantai atas, Evelyn sedang menyelesaikan sebuah panggilan telepon.
“Ya,” bisik Evelyn. “Celine sudah pergi. Sekarang kita bisa melanjutkan rencana berikutnya.”
Ia mendengarkan jawaban dari seberang, kemudian tersenyum.
“Jangan khawatir. Alexander mempercayaiku.”
Setelah panggilan berakhir, Evelyn menatap dirinya di cermin.
Selama ini, Celine memiliki sesuatu yang selalu diinginkannya: posisi sebagai istri Alexander Wu.
Sekarang, tempat itu kosong.
Dan Evelyn berniat mengisinya.
Namun, ia belum mengetahui satu hal.
Celine Wang mungkin telah meninggalkan rumah keluarga Wu, tetapi perempuan itu belum menyerah pada kehidupannya sendiri.
Justru ketika Evelyn merasa telah menang, Celine mulai mengambil langkah pertamanya untuk menemukan kebenaran.
Sementara Alexander sibuk menyambut wanita dari masa lalunya, sebuah rahasia lama perlahan muncul ke permukaan.
Rahasia yang kelak akan membuat mereka semua mempertanyakan keputusan yang diambil pada malam perceraian itu.