NovelToon NovelToon
Apoteker Matre Dan Dewa Perang Papan Tripleks

Apoteker Matre Dan Dewa Perang Papan Tripleks

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.

Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!

Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8: Curhat malam di bawah asap perapian

Malam kedua di gua terasa jauh lebih hangat dibadingkan malam sebelumnya. Tumpukan kayu bakar hasil kerja paksa Long Tianxu sore tadi menyala dengan berkobar-kobar, mengusir hawa dingin hutan terlarang yang menusuk tulang. Di atas bara api, sebuah pot tanah liat kecil berisi sup umbi dan potongan daging burung liar mengepulkan aroma yang cukup menggugah selera.

Ruozi duduk bersila sambil mengaduk sup menggunakan sebilah bambu, sementara si Bocil sudah tertidur pulas di pojokan gua dengan berbantalkan buntalan jubah sutra hitam milik Tianxu yang untungnya sudah kering setelah dicuci siang tadi. Tianxu sendiri duduk agak jauh dari perapian, menyandarkan tubuh kekarnya ke dinding batu dengan mata yang menatap lurus ke arah kobaran api, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Nih, makan dulu. Jangan dipelototin terus apapnya, enggak bakal berubah jadi emas kok," ujar Ruozi memecah keheningan sambil menyodorkan semangkuk sup hangat ke hadapan Tianxu.

Tianxu menerima mangkuk itu, merasakan kehangatan yang menjalar ke telapak tangannya. Ia mencicipi kuahnya sedikit, lalu menatap Ruozi dengan pandangan yang tidak lagi sebeku biasanya. "Racikan obatmu... sangat aneh. Tapi dada rasanya tidak lagi sesak seperti kemarin," ucap Tianxu pelan, memberikan pujian implisit yang sangat langka keluar dari mulut seorang panglima perang yang kaku.

Ruozi langsung tersenyum bangga, menepuk dadanya sendiri dengan jempol. "Ya jelas dong! Biarpun di sini aku kelihatan kayak gadis desa compang-camping, aslinya aku ini dokter profesional. Di tempat asalku dulu, aku harus sekolah bertahun-tahun dan menghadapi ratusan pasien rewel baru bisa dapat lisensi," ceritanya setengah bernostalgia tentang kehidupan modernnya sebelum bertransmigrasi ke dunia webtoon ini.

Tianxu mengernyitkan alisnya, menangkap satu frasa yang menarik perhatiannya. "Tempat asalmu? Kau bukan berasal dari wilayah barat kerajaan ini?" tanya Tianxu penasaran. Selama tiga hari ini, ia menyadari bahwa dialek, kosakata, dan cara berpikir Ruozi sama sekali tidak mencerminkan rakyat jelata Kerajaan Long. Gadis ini terlalu berani, terlalu blak-blakan, dan tidak memiliki rasa takut terhadap kasta sosial.

"Bisa dibilang begitu. Tempat asalku jauh banget, Mas. Jauh sampai-sampai kamu enggak bakal bisa ke sana naik kuda tercepatmu sekalipun," jawab Ruozi sambil terkekeh getir, menatap langit-langit gua. "Di sana enggak ada kaisar, enggak ada perang perebutan takhta pakai pedang. Orang-orangnya sibuk kerja cari duit dari pagi sampai malam buat bayar cicilan rumah dan kuota internet. Makanya, begitu terdampar di hutan ini, prinsip utamaku cuma satu: bertahan hidup dan kumpulin duit sebanyak-banyaknya!"

Tianxu terdiam mendengarkan curhatan aneh tersebut. Meskipun sebagian kosakatanya terdengar seperti bahasa planet lain, ia bisa menangkap inti dari ucapan Ruozi. Ada secercah rasa kesepian di mata gadis itu yang selama ini tertutup oleh topeng matrenya. "Kehidupan yang aneh," gumam Tianxu dengan suara beratnya yang melembut. "Namun di dunia ini, mengumpulkan uang sebanyak itu di tengah hutan terlarang hanya akan memancing bahaya. Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan setelah mendapatkan emas dari Lei Jin?"

Ruozi menopang dagunya dengan kedua tangan, matanya berbinar menatap api unggun saat membayangkan masa depannya. "Rencananya sih simpel. Aku mau beli rumah kecil yang nyaman di dekat kota, buka klinik pengobatan mandiri, terus hidup santai tanpa perlu dikejar-kejar hewan buas lagi. Intinya, aku cuma mau hidup bebas tanpa perlu tunduk sama aturan aristokrat yang ribet," jawab Ruozi jujur.

Tianxu menatap wajah Ruozi yang terpantul cahaya api hangat. Untuk pertama kalinya, sang Jenderal Besar tersenyum tipis tanpa ada rasa sinis atau dingin di dalamnya. "Hidup bebas tanpa aturan... impian yang sangat mewah untuk ukuran dunia yang penuh pertumpahan darah ini," bisik Tianxu, seolah meratapi nasibnya sendiri yang selalu terikat oleh rantai politik kerajaan dan kewajiban militer sejak lahir. Malam itu, di dalam gua yang lembap, benteng es di antara sang jenderal yang kaku dan dokter modern yang mata duitan perlahan mulai terkikis oleh obrolan santai yang tulus.

Ruozi yang menyadari perubahan nada bicara Tianxu langsung menoleh, menatap wajah tampan pria itu dari samping. "Lho, Mas Jenderal yang katanya ditakuti sedunia kok malah kelihatan melow gini sih? Kenapa? Bosan ya hidup di istana dikelilingi pelayan yang cuma bisa membungkuk dan bilang 'Hamba siap melaksanakan perintah, Yang Mulia'?" goda Ruozi, mencoba mencairkan kembali suasana agar tidak terlalu puitis.

Tianxu mendengus pelan, memalingkan wajahnya sedikit untuk menyembunyikan senyuman yang terlanjur terbit. "Kau tidak tahu apa-apa tentang istana, Gadis Kecil. Di sana, sebilah pisau tersembunyi di balik setiap senyuman manis, dan secangkir teh bisa saja mengakhiri nyawamu dalam sekejap," ucap Tianxu dengan nada yang kembali datar, namun ada guratan keletihan yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Ya tahu sih, makanya aku ogah hidup di lingkaran kalian," sahut Ruozi santai sembari menusuk-nusuk sisa umbi bakar dengan ranting. "Makanya, Mas, mendingan kamu bersyukur diculik maksudku, disandera secara humanis di guaku ini. Di sini risikonya paling cuma pegal-pegal karena numbuk obat atau tangan kapalan gara-gara nyuci baju. Enggak ada yang bakal menaruh racun di supmu, kecuali kalau kamu telat bayar utang emas besok pagi!"

Mendengar ancaman materi yang diselipkan dengan begitu alami, Tianxu hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Kelelahan mentalnya menghadapi Ruozi entah bagaimana justru terasa lebih menyegarkan daripada menghadapi intrik politik di ruang sidang kekaisaran. Pria itu meneguk sisa sup di mangkuknya hingga habis, lalu meletakkannya di atas tanah.

"Jika Lei Jin membawa emasnya besok, aku akan kembali ke ibu kota," kata Tianxu perlahan, matanya kembali menatap lurus ke arah Ruozi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apakah kau benar-benar hanya akan menetap di hutan ini sampai bulan depan? Hutan terlarang ini tidak aman bagi gadis sepertimu, terutama setelah musuh-musuhku tahu aku selamat di sekitar sini."

Ruozi menaikkan sebelah alisnya, tersenyum licik. "Ciyee... Jenderal Besar lagi khawatir ya sama keselamatan dokter pribadinya? Tenang aja, Mas Tianxu. Aku ini ibarat kecoak, fleksibel dan susah mati. Lagian, begitu emas dari kamu cair besok, aku bakal langsung memborong persediaan makanan dan alat medis yang banyak di desa perbatasan. Jadi kamu enggak usah kepikiran ya!"

"Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku hanya tidak ingin giok nagaku hilang karena kau teledor dan dimakan harimau," elak Tianxu cepat dengan wajah sekaku papan triplek, memulihkan gengsi aristokratnya dalam sekejap.

Ruozi langsung terbahak melihat respons tsundere tingkat dewa dari sang pangeran webtoon. Ia bangkit berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang kainnya yang kotor, lalu berjalan menuju tempat tidurnya di dekat si Bocil. "Ya ya ya, terserah Mas Jenderal aja deh. Pokoknya sekarang waktunya tidur. Besok pagi-pagi sekali kita harus menyambut Mas Lei Jin dan karung emasnya yang berharga itu. Selamat malam, sandera kesayanganku!" seru Ruozi sambil merebahkan diri, menutup Bab 8 dengan malam yang tenang sebelum badai kedatangan pasukan esok hari.

1
sibaweh abduh
bagus sekali
Maria Lina
tambah dikit aj up nya hadeh😭😭🤔
heldahell: lagi sibuk kak,jadi 2 bab aja up nya🥹,tungguin besok lagi yaa
total 1 replies
Maria Lina
kenapa 2 lgi thor biasa 5 bab 🤣🤣🤣
Aisyah Suyuti
good
Maria Lina
wkwk kasian bocor
Maria Lina
mkasih thor ud up bnyk😘😘🙏🙏
lin sya
lucu klo baca ceritanya komedinya dpt thor
The Dream26: hai kak, Novel 'RUMAH' telah hadir, cerita spektakuler dan seru dari Author The Dream26, mampir ya
total 1 replies
Maria Lina
wkwk dsr lo rouzi haha..makasih thor ud up nya😘😘😘🙏🙏🙏
Maria Lina
mantap raouzi wkwk
Maria Lina
maaksih bnyk thor ud up nya🙏🙏😘😘
Maria Lina
mkasih thor ud up bnyk🙏🙏😘😘
Maria Lina
lanjut lgi thor wkwk..sebagian cerita mu ud ku baca thor wkwk
heldahell: terimakasih kak,sudah setia baca karya²ku, terharu banget🥹🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!