NovelToon NovelToon
Seni Balas Dendam Sang Nyonya Mahendra

Seni Balas Dendam Sang Nyonya Mahendra

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Naibelys Perez

Lima tahun Anindya Wiranegara menyembunyikan jati dirinya demi menjadi istri biasa. Lima tahun pula dia dihina suaminya, direndahkan mertuanya, dan dipandang rendah oleh semua orang.

Sampai malam pesta itu. Di anak tangga marmer sebuah hotel mewah, perempuan yang sudah lama menunggu gilirannya mendorongnya jatuh, dan sang suami hanya berkata, "Jangan merusak malamku."

Perempuan yang bangun dari rumah sakit itu bukan lagi istri penurut. Dia pewaris imperium perhotelan, perbankan, dan dunia bawah yang selama ini dia tinggalkan. Syaratnya hanya tiga: pegang kendali bisnis keluarga, kembali berlatih senjata, dan menikah dengan Arga Mahendra, taipan paling sombong dan paling ditakuti di negeri ini.

Pernikahan kontrak dimulai dengan klausul-klausul tertulis di atas meja kaca. Anindya menambahkan klausul merah miliknya sendiri. Arga menantang, Anindya membalas lebih tajam. Siapa pun yang berani menyebut pernikahan ini "sekadar bisnis" belum pernah melihat mereka berdua di ruang rapat, di meja catur, atau di ranjang.

Sementara itu, keluarga Pratama tak tahu bahwa kehancuran mereka sudah ditandatangani.

Ini bukan sekadar balas dendam. Ini seni, dan Nyonya Mahendra sudah menggoreskan tinta pertamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naibelys Perez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KESUNYIAN SEBELUM BADAI

Hari-hari setelah perayaan di kediaman Mahendra berlalu dalam suasana aneh, pekat, dan penuh listrik statis yang seolah mengancam meledakkan fondasi rumah.

Arga Mahendra bergerak di ruang-ruang kerja konglomerat dengan langkah mantap dan wibawa tak terbantahkan seperti biasa, tapi untuk pertama kalinya seumur hidup, sengatan gelisah tak kasatmata bersarang di dasar benaknya. Kata-kata Anindya di ujung ranjang, bergema dengan kekuatan dekret tak terelakkan, tak mau hilang dari pikirannya. "Kuharap kamu benar-benar sanggup menahan pukulan dengan cara sedingin dan sesenyap yang kulakukan."

Sang taipan tahu betul apa yang sanggup dilakukan istrinya. Dia mengenal kecerdikannya, ketenangannya menghadapi krisis, dan amarah tertahan yang berdenyut di balik sorot penuh perhitungan itu. Namun harga diri pria alfa menghalanginya mundur atau menunjukkan kelemahan. Dia telah melewati batas dengan menundukkannya di depan umum lewat perangkat elektronik saat ulang tahun ayahnya, dan kini dia mengerti harga kemenangan sementara itu adalah pembalasan tanpa ampun. Pertanyaan besar yang menyiksanya dalam kesunyian ruang kerja pribadinya bukan apakah Anindya akan menagihnya, tapi kapan dan bagaimana dia memutuskan menyerang.

Di sisi lain menara korporat, di ruang kerja utama lantai eksekutif, Anindya menjaga keheningan total yang membingungkan semua orang di sekitarnya. Tak ada keluhan pagi, tak ada komentar sarkastis saat sarapan, tak ada tatapan menuduh di lorong-lorong kantor. Dia bersikap dengan anggun tanpa cela, mengurus penutupan rekening bank yang diserap dari Properti Pratama dan mengawasi anak-anak perusahaan konglomerat dengan efisiensi sampai ke milimeter.

Ketenangannya yang tampak itu, bagaimanapun, adalah ketenangan seorang ahli strategi militer yang mengamati gerak pasukan musuh sebelum memerintahkan serangan terakhir.

Pada malam-malam di keintiman suite utama, jarak di antara mereka menjadi jurang api yang tertahan. Mereka tidur di ranjang king size yang sama, tapi terpisah garis tak kasatmata berisi ketidakpercayaan dan hasrat timbal balik. Arga sesekali mencoba mendekat, menyentuh kulitnya dengan niat menyulut kembali percik konfrontasi fisik, tapi Anindya menjauh dengan gerakan halus dan sedingin es, hanya mengingatkannya dengan senyum setengah:

"Simpan tenagamu, Mahendra. Kamu akan membutuhkannya sebentar lagi."

Seminggu setelah makan malam di kediaman peristirahatan itu, papan permainan mulai bergerak tak terbalikkan.

Sore itu mendung ketika Bima Wiranegara masuk tanpa pemberitahuan ke ruang kerja adiknya. Wajahnya, yang biasanya tenang dan penuh hitungan, menampakkan ekspresi takjub dan percik geli tertahan. Dia melempar map emas ke meja mahoni Anindya dengan bunyi keras.

"Kurasa giliranmu menagih utang datang lebih cepat dari dugaan, Dik," Bima memulai dengan senyum menyindir sambil bersedekap. "Aku baru menerima laporan dari penasihat keuangan internasional bank. Rupanya ada yang diam-diam menggerakkan bidak di pasar sekunder saham Grup Mahendra."

Anindya menaruh pulpen yang dia pegang di sampingnya, mengangkat pandangan perlahan, dan mengambil map itu. Dia membukanya dengan tenang, membalik halaman-halaman penuh grafik keuangan, transaksi di surga pajak, dan kontrak jual beli surat berharga korporasi.

"Tak kusangka," jawab Anindya dengan suara lembut sambil mengangkat sebelah alis, membaca nama-nama perusahaan cangkang yang dipakai dalam operasi itu. "Ada yang diam-diam membeli paket besar saham biasa dengan hak suara, tepat saat perhatian dewan tertuju pada pengambilalihan perusahaan properti itu."

"Tepat," Bima membenarkan dengan siulan rendah penuh kagum. "Seseorang dengan rekening bank nyaris tanpa batas, akses istimewa ke catatan internal kita, dan motif pribadi yang sangat kuat. Dan yang paling menarik, Anindya... paket saham yang cukup untuk memblokir keputusan CEO dan menuntut restrukturisasi dewan itu terdaftar atas nama dana investasi swasta... yang dikendalikan seratus persen olehmu."

Anindya menutup map dengan gerakan pelan. Senyum lambat, dingin, dan sangat memukau menerangi wajahnya. Berminggu-minggu, sementara Arga mengira telah menguasainya dengan permainan kendali jarak jauh, Anindya memakai sumber daya keluarganya sendiri dan kelemahan struktural konglomerat untuk diam-diam membeli saham minoritas paling berbahaya di seluruh korporasi itu. Kini dia memegang kekuatan hukum untuk menggoyahkan takhta Arga Mahendra sendiri.

"Imperium Mahendra memang megah, Kak," gumam Anindya dengan nada dingin dan magnetis sambil berdiri dan merapikan kerah setelannya. "Tapi bahkan raksasa terbesar pun runtuh saat sang ratu memutuskan menggerakkan bidak pertamanya di saat yang tepat."

Bima memandangnya dengan rasa hormat penuh, merasakan dingin peringatan itu.

"Apa rencanamu? Kamu akan membekukan asetnya di tengah rapat direksi?"

"Tidak," jawab Anindya dengan sorot sekeras baja sambil mengambil tas kulitnya dari meja. "Eksekusi di depan umum terlalu membosankan. Aku akan membiarkan sang pria alfa agung menemukan sendiri bahwa dia sudah menandatangani vonis kebangkrutan emosional dan korporatnya sendiri. Bersiaplah, Kak, karena pertunjukannya baru akan mulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!