Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 MALAM PERTAMA YANG TERTUNDA
SELAMAT MEMBACA !!!
Waktu terus melangkah, tanpa terasa satu tahun sudah berlalu sejak pernikahan Zhafira dan Bryan dilangsungkan. Kini hubungan mereka berdua semakin hangat, saling memahami dan penuh kasih sayang.
"Sayang, Mas pergi dulu ya. Jangan menunggu, Mas pulang, takutnya kamu mengantuk. Aku janji akan segera pulang kalau acaranya sudah selesai!" pesan Bryan kepada istrinya.
"Ya, Mas. Semoga acaranya lancar dan pulang dengan selamat. Suruh Kak Bagas bawa mobilnya pelan-pelan saja, jangan ngebut," jawab Fira sambil mengantar suaminya sampai depan pintu.
Fira menatap punggung suami dengan tersenyum bahagia, suaminya itu ternyata sangat menyayanginya.
Bryan dan Bagas akan menghadiri pesta ulang tahun perusahaan milik rekan bisnisnya. Mama dan Papanya juga akan hadir dan akan langsung berangkat dari Jakarta.
Sampainya di parkiran hotel tempat acara diadakan, ternyata sudah banyak tamu yang datang.
Mereka berjalan masuk ke dalam hotel yang letaknya di lantai sepuluh tepatnya di Ballroom Hotel. Bagas mengisi daftar hadir kemudian mereka ke dalam.
"Selamat ulang tahun perusahaannya, Tuan. Semoga makin sukses!" seru Bryan memberikan ucapan selamat kepada yang punya acara.
"Terima kasih, Tuan Bryan, Tuan Bagas. Tuan Danendra juga sudah datang. Silahkan dinikmati pestanya," jawab orang itu dengan ramah.
Bryan saat diluar terlihat seperti kulkas dua belas pintu, Bagas nggak kalah dingin. Mereka berjalan ke arah kedua orang tuanya Bryan.
"Assalamualaikum, Pa, Ma!" sapa Bryan sambil mencium tangannya Tuan Danendra dan Nyonya Dinda. Di belakangnya Bagas juga ikut mencium tangan mereka.
Tuan Danendra mengernyitkan dahinya bingung kenapa tiba-tiba anaknya itu berubah sopan sekali dengan kedua orang tua. Tapi sedetik kemudian, ia tersenyum menyadari kemungkinan itu yang mengajari istrinya.
"Bry...kenalkan ini Sintia anaknya Jeng Rita, dia kuliah di luar negeri, lho!" seru Nyonya Dinda.
Sementara Bryan hanya meliriknya sekilas saja, ia kembali bercerita dengan Papanya. Ia sudah tau maksud dan tujuan Mamanya mengenalkan wanita itu sedangkan ia sudah beristri dan nggak tertarik dengan wanita lain.
Bagas juga ikut mengobrol dengan Bryan dan Papanya. Sintia kesal melihat ia dicuekin begitu, ia izin ke kamar mandi dengan Nyonya Dinda.
"Bry...kamu itu kenapa sih, dikenalin sama gadis baik-baik, pintar dan keturunannya jelas bibit bebet dan bobotnya malah nggak tertarik. Sedangkan sama gadis yatim piatu, miskin lagi kamu sudah menikahinya. Mau di taruh dimana wajah keluarga kita!" seru Nyonya Dinda keceplosan.
Deg jantung Bryan berdebar. Ia langsung menoleh ke arah Mamanya. Kaget darimana Mamanya tau.
"Darimana, Mama tau ini? Jangan-jangan kalian berdua memata-mataiku, jawab?" tanyanya pelan sambil tatapannya tajam menatap ke arah Mamanya dan bergantian ke arah Papanya.
Dalam hatinya Nyonya Dinda menggerutui kebodohannya sendiri, yang nggak bisa mengerem ucapannya sehingga bisa keceplosan.
Bryan menoleh ke arah Papanya, Tuan Danendra menggelengkan kepalanya nggak tau, itu murni perbuatan istrinya.
Para pelayan berkeliling menyapa setiap tamu yang hadir sambil menawarkan minuman yang dingin dan hangat. Saat menghampiri Bryan dan keluarganya, ia menunduk sopan menyodorkan nampan, namun tak ada satupun yang menyentuhnya, kecuali Bryan.
Bryan yang sedang marah dan kesal, tangannya meraih gelas itu tanpa tau apa isi di dalam gelasnya. Begitu gelas itu ada di tangannya. Dalam sekali teguk, cairan di dalamnya langsung ia telan habis.
"Gas, aku mau ke kamar mandi dulu ya," ucap Bryan yang sudah mulai merasakan badannya panas sekali.
Sintia tersenyum tipis, menyembunyikan niatnya dengan rapi. Tanpa menimbulkan kecurigaan siapa pun, ia berpamitan sejenak hendak menemui teman-temannya.
Di sisi lain, Bagas mengernyit melihat sekilas wajahnya Sintia berbinar, ia juga melihat senyum tipisnya itu. Bagas curiga ada sesuatu dengan Bryan. Ia berpamitan dengan Tuan Danendra untuk menyusul Bryan guna memastikan kecurigaannya tadi.
Sampainya di dekat kamar mandi, ia dipukul seseorang dari belakang dan ingin memapah tubuh Bryan tapi ketauan oleh Bagas.
"Hei jangan kurang ajar kamu, ya. Apa maksudmu memukul sahabatku, Hah?!" teriak Bagas.
"Jangan ikut campur, ini bukan urusan anda," jawabnya membuat Bagas marah, ia langsung menerjang tubuh itu dengan keras, hingga tubuh Bryan ikut terjatuh.
"Siapa yang menyuruhmu, Hah?" tanya Bagas menatapnya dengan tajam, ia berlari meninggalkan Bryan yang tergeletak di lantai.
"Bry! Bryan! Hei Bry, bangun!" seru Bagas panik sambil menepuk-nepuk pipinya Bryan, namun nggak ada tanggapan sama sekali.
Saat Bagas menggoyangkan bahu, Bryan bergumam dan tubuhnya Bryan dengan pelan, suara lirih terdengar merintih dari mulutnya Bryan. "Panas...panas..rasanya panas sekali, Gas..." keluhnya nggak berdaya, keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Bagas yang tanggap, lalu memapah Bryan keluar dari acara itu, ia akan membawanya ke rumah.
Sementara dirumah perasaannya Fira, gelisah nggak tenang, ia kepikiran Bryan terus. "Kamu nggak apa-apa kan, Mas. Perasaanku nggak enak sekali!" lirih Fira nggak bisa tidur dan mondar mandir di depan itu, sesekali ia membuka pintu apartemennya.
Saat lagi duduk di sofa, bunyi bel di tekan dari luar, ia buru-buru berlari membuka pintunya.
"Astagfirullah, ya Allah. Kamu kenapa, Mas? Kak Bagas kenapa dengan Mas Bryan?" tanya Fira gantian ke Bagas.
"Bawa masuk dulu ke kamar kalian, Fir. Kayaknya ada orang yang mau salah dengan Bryan dengan memberikan obat perangsang dalam minumannya," ujar Bagas tegas kepada Fira.
Fira dengan sigap memapah tubuhnya Bryan bersama Bagas, mereka membaringkan di atas kasurnya. Setelah memastikan Fira sudah beres mengurus Bryan. Bagas berpamitan kembali apartemennya sendiri.
"Panas...Yang. Tolong...tolong bantu aku, Yang!" lirih Bryan matanya sayu menatap wajah cantiknya Fira.
Bryan menggenggam tangannya Fira erat. Napasnya memburu, "Tolong, Yang...aku nggak sanggup lagi menahannya. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut, Yang!" lirihnya lagi.
Sementara Fira yang menatap wajah suaminya yang frustasi, akhirnya ia menganggukan kepalanya untuk memberikan izin kepada suaminya. "Lakukan lah, Mas. Aku ridho memberikan hak kamu, Mas," ucap Fira dengan lirih.
Bryan yang sudah mendapatkan lampu hijau dari istrinya, segera melepas bajunya. Malam ini menjadi saksi bisu dua insan yang menikmati malam pertamanya yang tertunda.
Matahari mulai menyelinap masuk lewat celah jendela, menyentuh lembut wajah mereka yang terbaring berpelukan tanpa busana dibawah selimut. Bryan terbangun lebih dulu, menatap lekat wajah Fira yang terpejam damai. Hatinya dipenuhi rasa syukur sekaligus sayang yang tak terkira, ternyata istrinya bisa menjaga kehormatannya dan ini pengalaman pertamanya.
Mereka melakukan malam pertamanya sampai jam tiga subuh, mandi lalu sholat subuh. Bryan melanjutkan kegiatannya lagi, Fira yang kelelahan langsung tidur lagi. Bryan juga ikut tertidur lagi.
"Sayang, bangun yuk. Sudah jam sebelas siang, lho. Ayo mandi dulu, aku mau pesan makanan untuk kita," bisinya lembut di telinga istrinya.
Fira mengeliat pelan, matanya terbuka perlahan masih terasa berat namun ia tersenyum saat melihat sosok suaminya di sebelahnya.
"Jam berapa, Mas?" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Bryan tersenyum, lalu mencium kening istrinya dengan lembut, "Sudah jam sebelas, sana mandi dulu!" perintah Bryan.
Baru saja Fira mencoba untuk turun dari ranjang, seketika ia meringis menawan menahan sakit, perih yang terasa banget, Tangannya kuat mencengkram kuat seprei, ia mulai berdiri lagi tapi malah mau jatuh kakinya mendadak lemas sekali.
Bryan yang melihat istrinya kesusahan berjalan, ia langsung menggendong dibawanya ke kamar mandi. Dia diletakan di atas closet, Bryan mengisi bak kamar mandi dengan air hangat dan dikasih wangi aromaterapi untuk merilekskan tubuh istrinya, lalu ia menggendong, menurunkan di dalam bak, menyuruh istrinya untuk berendam sebentar.