Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Kotak Merah
Semilir angi dari luar membawa aroma bunga melati yang tumbuh di taman, segar membawa kesan romantis.
Mata Anisa terpejam sesaat. Degub jantungnya masih tak beraturan.
“Gus…” Suaranya lirihnya seketika memenuhi ruangan.
Gus Hafiz tersenyum. Ia tak melepaskan pelukan itu, tangannya semakin erat melingkar di pinggangnya. Tak kasar, hanya penuh rindu yang tertahan. Perlahan wajah Gus Hafiz bersandar di bahu Anisa.
Ia menghembuskan napas panjang, seolah selama ini paru-parunya baru benar-benar terisi.
“Kamu tahu…” suaranya berat. “Mas capek pura-pura nggak kangen kamu.”
Kalimat itu hampir seperti bisikan yang pecah.
Sebulan bukan waktu yang sebentar bagi dua orang yang sudah saling memiliki tapi harus menahan diri.
Anisa perlahan membalas pelukan itu. Tangannya melingkar di punggung suaminya.
Ia bisa merasakan detak jantung Gus Hafiz yang cepat.
“Nisa juga kangen, Gus” bisiknya jujur.
Pelukan itu mengerat.
Seolah dunia di luar kamar tak lagi penting.
Tak ada status yang harus dirahasiakan. Tak ada omongan orang. Tak ada perintah untuk berpisah lagi. Hanya mereka berdua di kamar itu.
Gus Hafiz sedikit melonggarkan pelukannya, menatap wajah Anisa yang memerah.
“Kamu ndak keberatan kan..? Mas cuma pengen peluk kamu.”
Kalimatnya sederhana. Namun caranya menatap membuat lutut Anisa terasa lemas.
Anisa tersenyum malu.
“Udah peluk baru izin?” sindir Anies.
Gus Hafiz terkekeh pelan. Melihat pipi Anisa yang semakin memerah.
“Kamu kira gampang nahan kangen sebulan?”
Anisa tertawa kecil. Suara yang selama ini hanya ia dengar lewat layar ponsel.
Malam itu, tak ada yang berlebihan.
Hanya dua insan yang melepas rindu.
Dengan pelukan yang lama. Dengan doa yang lirih. Dengan cinta yang tumbuh diam-diam, namun semakin dalam.
Pelukan itu perlahan merenggang.
Anisa seperti baru teringat sesuatu.
“Oh iya…” gumamnya pelan.
Ia bangkit dari pangkuan Gus Hafiz, lalu membuka tas kecil yang sejak tadi ia letakkan di atas meja.
Tangannya meraba-raba bagian dalam tas, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus rapi dengan kertas cokelat.
“Ini titipan dari Ibu Nyai Fatimah.”
Gus Hafiz mengerutkan kening.
“Titipan?”
“Iya. Tadi sebelum berangkat, beliau bilang ini buat Gus Hafiz. Katanya… Gus pasti paham.”
“Paham apa?” gumamnya pelan.
Kotak itu tidak besar. Pas di genggaman tangan, dan sangat ringan.
Rasa penasaran tiba-tiba tumbuh cepat.
“Apa ini?” tanyanya, menimang kotak tersebut. Saat diguncang, terdengar suara dari dalam kotak, seperti benda.
“Ndak tahu,” jawab Anisa jujur. “Aku juga nggak dibolehin buka. Katanya khusus buat Gus.”
Semakin misterius. Gus Hafiz menarik napas panjang. Entah kenapa, firasatnya tiba-tiba tidak enak.Ia menarik Anisa kembali mendekat.
“Duduk sini,” ujarnya lembut.
Anisa menurut. Ia kembali duduk menyamping di atas pangkuan Gus Hafiz, punggungnya bersandar manja pada dada lelaki itu.
Kotak kecil itu kini berada di tangan mereka berdua.
Perlahan… sangat perlahan… Gus Hafiz membuka bungkus kertasnya.
Suara kertas berdesir pelan di kamar yang sunyi. Anisa ikut menatap, penuh rasa ingin tahu.
Bungkus itu terlepas. Kini tinggal kotak berwarna merah. Dan saat isi kotak itu terlihat jelas, tubuh Gus Hafiz mendadak kaku.
Matanya menyipit. Wajahnya yang tadi hangat mendadak tegang.
Anisa yang duduk di pangkuannya langsung menoleh, melihat perubahan ekspresi itu.
“Kenapa, Gus?”
Tak ada jawaban.
“Apa isinya, Gus?”
Pertanyaan polos itu justru membuat tenggorokan Gus Hafiz terasa kering.
Ia ingin menelan ludah, tapi terasa berat.
Ternyata…
Anisa bahkan tak tahu kegunaan benda itu.
Benda yang dititipkan Ibu Nyai Fatimah itu,
jelas bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah pada gadis sepolos istrinya.
Keringat dingin mulai muncul di keningnya. Sebesar biji jagung.
Ia cepat-cepat menyekanya dengan punggung tangan. Berulang kali ia mengusap tengkuknya.Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Gus?” ulang Anisa pelan, mulai cemas. “Isinya apa?”
Gus Hafiz menutup kotak itu buru-buru.
Seolah takut Anisa melihat lebih jelas.
“Ndak… ndak apa-apa,” jawabnya, mencoba terdengar tenang.
Padahal dalam kepalanya, berbagai kemungkinan berputar liar.
Kenapa Ibu Nyai Fatimah mengirim ini?
Apa maksudnya?
Apa beliau tahu sesuatu?
Atau ini sebuah isyarat?
Tangannya masih sedikit gemetar.
Sementara Anisa kini benar-benar menatapnya dengan bingung.
“Serius, itu apa sih, Gus?”
Gus Hafiz menatap istrinya lama.
Wajah polos.Tatapan jujur.
Gus Hafiz menarik napas dalam-dalam.
Rasa rindu yang tadi hangat, berubah menjadi kegelisahan yang pelan-pelan merambat di dadanya.
Kotak kecil itu langsung Gus Hafiz masukkan kedalam tas kecil miliknya. Masih dalam keadaan gelisah, ponselnya tiba-tiba berdering.
Nama yang tertera di layar membuat napasnya tercekat.
Umi Laila.
Ia menatap Anisa sekilas, lalu menggeser tombol hijau. “Assalamu’alaikum, Umi.”
“Wa’alaikumussalam. Sudah sampai mana, Fiz?”
“Alhamdulillah sudah di Brebes, Mi. Hafiz dan Anisa istirahat dulu. Ngantuk, bahaya kalau diteruskan. InsyaAllah ba’da Subuh lanjut.”
Hening sejenak di seberang. Lalu suara Umi Laila terdengar lebih rendah. Lebih tegas.
“Kalau menginap, pesan kamar dua.”
Jantung Gus Hafiz seperti berhenti sepersekian detik.
“Mi…?”
“Jangan sekamar. Bagaimana nanti kalau ada orang yang mengenalimu dan Anisa? Bisa hancur. Bukan hanya namamu, tapi nama pondok pesantren, nama Anisa juga.”
Setiap kata diucapkan dengan jelas. Tanpa emosi. Tapi penuh tekanan. Gus Hafiz memejamkan mata sesaat.
“Iya, Mi… Hafiz paham.”
“Kamu jangan lupa sama darah keturunanmu, Fiz. Jaga sikap. Jaga batas. Umi tidak mau ada celah fitnah.”
“Inggih, Mi.”
Telepon ditutup. Sunyi kembali memenuhi kamar. Gus Hafiz menghela napas panjang. Berat.
Perintah itu jelas.Titah itu tegas.
Dan sebagai seorang anak kiai, ia seharusnya langsung menurut.
Namun kali ini, akal sehatnya kalah oleh rindu yang sudah terlalu lama ia tahan.
Ia menatap Anisa yang masih duduk di pangkuannya, polos, tak tahu apa-apa.
“Gus… Umi ngomong apa?” tanya Anisa pelan. Gus Hafiz terdiam sepersekian detik.
Lalu ia memilih satu hal yang jarang ia lakukan.
Berbohong.
“Bilang kalau lanjutin perjalanan hati-hati. Mas disuruh jaga kamu baik-baik.”
Anisa mengangguk, wajahnya tenang. Lalu remaja tujuh belas tahun itu menyurukkan wajahnya ke dada Gus Hafiz.
“Alhamdulillah.” sahutnya.
Belum sempat suasana kembali hangat,
ponsel Anisa gantian berdering.
Kini giliran nama yang membuat Gus Hafiz menegang.
Ibu Nyai Fatimah. Anisa cepat mengangkat.
“Assalamu’alaikum, Bu Nyai…”
Suara di seberang terdengar lembut, namun sarat makna.
“Sudah sampai mana, Nduk?”
Tanyanya terdengar peduli.
“Sudah di Brebes, Bu. Istirahat dulu.”
“Iya… baik. Jaga diri baik-baik.”
Beberapa detik percakapan biasa. Lalu nada Ibu Nyai Fatimah berubah sedikit lebih dalam.
“Nduk… kamu bukan hanya seorang santri, kamu juga menyandang gelar istri. Kewajibanmu itu melayani suami.”
Anisa terdiam.
“Kalau suami minta sesuatu atas dirimu, jangan ditolak. Dosa besar kalau istri menolak ajakan suami tanpa alasan syar’i.”
Kalimat itu diucapkan perlahan. Tegas. Seperti nasihat yang sengaja ditanamkan. Namun sikap Nyai Fatimah selalu terbanding terbalik dengan Umi Laila.
Anisa menelan ludah.
“Iya, Bu…”
“Sekarang Ibu Nyai mau bicara sama Hafiz.”
Anisa menyerahkan ponsel dengan tangan yang sedikit gemetar.
Sementara itu, pikirannya berputar.
Maksudnya apa…?
Ia tahu kewajiban seorang istri.
Ia pernah belajar di kitab.
Tapi kenapa malam ini pesan itu terasa… berbeda?
Kenapa kotak misterius tadi, dan wejangan ibunya sendiri, semuanya seperti saling terhubung?
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Ia menatap Gus Hafiz yang kini menerima ponsel itu dengan wajah yang tak lagi setenang tadi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
bukan hanya rindu yang memenuhi kamar kecil di Brebes.
Tapi juga pertanyaan-pertanyaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di hati seorang Anisa yang masih terlalu muda, untuk memahami sepenuhnya.