NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:53.9k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Pelukan Manja

Langit Jakarta semakin gelap. Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah.

Selepas salat Isya, Anisa duduk di balkon kamarnya. Anisa masih bersandar di bahu suaminya. Pertanyaannya belum selesai di sana.

"Gus… apa yang panjenengan lihat dari aku? Tentang keluargaku…"

Jakarta malam itu menjadi saksi ketika wajah Gus Hafiz berubah lebih serius. Tangannya berhenti sejenak dari mengusap rambut Anisa, lalu ia menatap istrinya dengan teduh.

“Karena kamu cantik," ujarnya.

"Hanya karena itu...?" Tanya Anisa menatap serius. Gus Hafiz menggeleng.

“Rasulullah, bersabda bahwa wanita dinikahi karena empat perkara, hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Tapi beliau menegaskan, pilihlah karena agamanya.”

Ia tersenyum lembut.

“Nasab itu penting. Keturunan yang baik biasanya tumbuh dari keluarga yang menjaga iman dan adab. Itu jadi pertimbangan, bukan untuk membanggakan darah atau merendahkan orang lain. Karena dalam Islam, yang paling mulia bukan yang paling tinggi garis keturunannya, tapi yang paling bertakwa.”

Gus Hafiz mengangkat dagu Anisa pelan agar menatapnya.

“Mas melihat keluargamu bukan dari seberapa terpandang namanya. Mas melihat bagaimana orang tuamu mendidikmu. Cara kamu menjaga salatmu. Cara kamu hormat pada orang tua. Cara kamu menunduk saat berbicara dengan yang bukan mahram. Itu semua cermin dari rumah yang baik.”

Anisa terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Islam menjaga nasab supaya jelas, supaya keturunan terhormat dan tidak tercampur. Tapi kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh siapa ayahnya, melainkan oleh siapa dirinya di hadapan Allah.”

Gus Hafiz mengusap pipi istrinya yang mulai basah.

“Kalau Mas hanya mencari nasab besar, Mas bisa saja memilih dari keluarga yang lebih terpandang, keluar Kiai misalnya. Tapi Mas mencari istri yang bisa menjadi ibu bagi anak-anak Mas kelak. Yang menjaga kehormatan dirinya. Yang takut pada Allah. Dan Mas melihat itu ada pada kamu.”

Anisa menggigit bibirnya, berusaha menahan haru.

“Jadi bukan karena terpaksa?” tanyanya lirih.

Gus Hafiz tertawa pelan, lalu mencubit lagi hidungnya.

“Terpaksa kok mau? Mas menikahimu karena yakin. Karena kamu pilihan Mas setelah istikharah. Dan Mas percaya, keluarga yang dibangun atas iman jauh lebih kuat daripada sekadar kebanggaan nasab.”

Ia menempelkan keningnya pada kening Anisa.

“Dalam Islam, nasab dijaga. Tapi yang ditinggikan adalah takwa. Dan Mas memilih kamu karena Mas ingin berjalan bersama orang yang sama-sama ingin dekat pada Allah.”

Anisa memeluk suaminya lebih erat.

Angin malam terasa lebih dingin.

Dan kali ini, pertanyaan Anisa menggantung di udara.

“Gus... Andai aku terlahir dari seorang LC… yang kerja di tempat hiburan malam… apa Gus masih memilih aku?”

Wajah Gus Hafiz menegang. Sorot matanya tak lagi bercanda. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Dalam Islam,” ucapnya pelan namun tegas, “seorang laki-laki diperintahkan memilih wanita yang salehah. Yang terlahir dari keluarga yang baik agamanya.”

Anisa memejamkan mata.

Gus Hafiz melanjutkan, tanpa menyadari ucapannya sedang meremukkan hati istrinya.

“Kalau Mas tahu sejak awal bahwa seorang perempuan berasal dari lingkungan yang rusak, dari keluarga yang tidak menjaga kehormatan… tentu Mas akan mempertimbangkannya dengan sangat serius.”

Hening.

“Karena Mas bukan hanya memilih istri, Nisa. Mas memilih ibu untuk anak-anak Mas. Lingkungan tempat ia tumbuh akan berpengaruh. Islam menjaga nasab itu bukan untuk merendahkan, tapi untuk menjaga generasi.”

Setetes air mata jatuh di pipi Anisa.

“Mas ingin istri yang jelas agamanya, jelas akhlaknya, jelas keluarganya menjaga kehormatan. Itu pilihan Mas sebagai laki-laki.”

Air mata Anisa kini tak terbendung.

Gus Hafiz terkejut. “Lho… kok malah nangis?”

Anisa buru-buru menyeka pipinya. Ia memaksakan senyum.

“Terharu saja, Gus… panjenengan serius sekali.”

Namun hatinya bergetar hebat.

Karena kenyataannya… ia memang bukan anak dari wanita salehah seperti yang dibayangkan Gus Hafiz. Ibunya adalah seorang LC. Perempuan yang bekerja di dunia malam. Perempuan yang selama ini disembunyikan namanya dari banyak orang.

Dan barusan… dari mulut suaminya sendiri… ia mendengar kalimat yang terasa seperti vonis.

Mas akan mempertimbangkan.

Kalimat itu seperti jarum yang pelan-pelan menembus dadanya.

Gus Hafiz menatapnya bingung. Ia meraih tangan istrinya.

“Nisa… Mas hanya bicara secara prinsip. Tapi kenapa kamu sampai menangis begitu?”

Anisa menggeleng cepat.

“Ndak apa-apa, Gus. Cuma… takut saja kalau suatu hari Mas kecewa.”

Gus Hafiz mengerutkan keningnya.

“Kamu ini ngomong apa?. Mas menikahimu karena kamu sekarang. Karena akhlakmu, karena imanmu. Masa lalu orang tua tidak otomatis menjadi dosa anaknya.”

Namun kalimat itu terlambat menghangatkan.

Karena yang lebih dulu masuk ke hati Anisa adalah kalimat tentang pertimbangan… tentang lingkungan rusak… tentang ibu bagi anak-anaknya kelak.

Dan malam itu, di bawah langit Jakarta yang gelap, ada satu rahasia yang semakin ia kubur dalam-dalam.

Sementara Gus Hafiz masih tak mengerti… bahwa air mata itu bukan sekadar haru. Melainkan air mata luka yang paling dalam.

"Hey... kok malah ngelamun..."

Anisa tersenyum, kepalanya masih bersandar manja di bahu Gus Hafiz.

"Nggak kok, siapa yang ngelamun, Nisa cuma sedang bayangin jika satu saat Nisa hidup tanpa Gus, seperti apa ya hidup Nisa."

Gus Hafiz sepontan menutup mulut Anisa dengan satu jarinya.

"Kalok ngomong jangan sembarangan, ndak baik. Nggak ada seandainya-seandainya. Mas ndak mau dengar." Gus Hafiz memasang wajah super serius.

Anisa tersenyum, sambil mengelus rahang tegas suaminya.

"Gus makin ganteng kalok ngambek." Gus Hafiz terkekeh.

"Pinter ngerayu sekarang." Ucap Gus Hafiz sambil mencium rambut Anisa. Anisa tertawa. Seketika rasa sedihnya menguap entah kemana.

Ia tak peduli nantinya bagaimana, yang ia inginkan saat ini, ia ingin bahagia selama masih ada waktu bersama laki-laki yang ia cintai di hadapannya itu.

Jika memang mereka harus berpisah, itu urusan nanti, saat ini Anisa ingin menikmati perannya menjadi istri seorang Gus Hafiz yang mempu mencuri hatinya.

Anisa menoleh, menatap Gus Hafiz menguap berkali-kali. Dan Anisa sadar hal itu.

"Gus Ngantuk...?"

"Iya... sedikit."

Anisa langsung bangun dari duduknya dan menarik tangan Gus Hafiz.

"Ayok, tidur..."

Gus Hafiz menyipit.

"Kamu yakin ajak Mas tidur?"

Anisa menatap Gus Hafiz dengan wajah bingung.

"Emang kenapa? kan Mas ngantuk..."

Sahut Anisa dengan polosnya. Mungkin dia lupa pria yang sedang ia ajak tidur itu pria dewasa yang butuh pelepasan.

Malam merambat perlahan, membungkus segala lelah dengan sunyinya yang pekat. Gus Hafiz merebahkan diri di ranjang, tetapi kali ini tidak ada jarak canggung di antara mereka.

Tangannya tanpa ragu menarik pinggul Anisa, membawanya lebih dekat, lalu melingkarkan lengannya sebagai bantal ternyaman, perlindungan tanpa kata untuk istri tercintanya.

"Tidur..." bisiknya lembut, mata tajam menatap wajah Anisa yang masih terjaga.

"Aku… nggak bisa tidur, Gus," jawab Anisa lirih, napasnya bergetar.

"Hmm, kenapa?" tanyanya, suaranya serak seakan menahan sesuatu.

Anisa menunduk sebentar, lalu mengangkat kepalanya dari lengan Gus Hafiz, tatapannya menancap dalam ke mata Gus Hafiz.

"Kita dekat, tapi aku tetap kangen panjenengan…" Bisik itu keluar begitu jujur, begitu berani, lalu bibirnya secepat kilat menyentuh bibir Gus Hafiz dalam kecupan yang singkat namun berhasil membangunkan sesuatu pada diri Gus Hafiz.

Tubuh Gus Hafiz kaku seketika. Napas yang tadinya tenang berubah jadi tak beraturan, jantungnya berdetak seribu irama.

"Heh... udah berani, ya?" suaranya parau, setengah menggodanya, setengah memberi peringatan.

Anisa spontan menarik selimut, menyembunyikan wajahnya di balik lembutnya, sambil terkikik manja. Namun, tanpa diduga, Gus Hafiz menarik selimut itu dengan cekatan, dalam sekejap, ia mengurung Anisa dalam pelukannya yang hangat.

Ciuman Anisa dibalas Gus Hafiz dengan lebih liar. Panas merambat hingga ke setiap pori kulitnya. Saat wajah Gus Hafiz menyentuh dada Anisa, ia dengan cepat menahan dada Gus Hafiz, "Sudah cukup Gus, ayo kita tidur," ujarnya dengan suara bergetar.

Gus Hafiz langsung berhenti, matanya menatap Anisa pura-pura kecewa, yang justru membuat hati Anisa tak tega. Dengan lembut, Anisa menangkup wajah Gus Hafiz dan mengecup bibir suaminya penuh cinta, "Tunggu aku tamat ya, Gus."

“Tapi lama, boleh nggak sekarang aja?” Gus Hafiz menyunggingkan senyum nakal sambil memelas, lalu seketika Anisa mencubit perutnya.

"Panjenengan mau, aku digosipin hamil di luar nikah...? anaknya Gus Hafiz pula." Goda Anisa, sambil tertawa renyah.

Gus Hafiz menatap Anisa lama, lalu menggigit bibir bawah Anisa dengan gemas.

Dan seketika, Gus Hafiz menjatuhkan tubuhnya berat di atas Anisa.

Mata Anisa membulat, tubuhnya membeku saat sesuatu yang keras tanpa sengaja menekan tepat ke inti tubuhnya.

“Gus, berat…” bisik Anisa cepat-cepat, dengan napas yang tersendat, campur aduk antara gelak tawa dan degup jantung yang mulai menggila.

1
Hagia Sophia
biarkan nisa pergi Thor, biarkan dia sukses Thor, biarkan smw org tau cerita yg sebenarnya tentang ibunya, agar mereka merasakan penyesalan yg teramat besar.. tiap baca bab nisa Q selalu nangis, sakittt bgttt😭😭😭😭
🤍 rishayu 🤍
Lanjut thor….air mataku terlanjur jatuh ini….😭😭😭
Marini Suhendar
Sakit jd Nisa..d abaikan keluarga tambah lagi dr ibu mertua..lbh baik pergi aj nisa
Yang terakhir Terakhir
karya nya bagus
Yang terakhir Terakhir
karya nya bagus
Yang terakhir Terakhir
karna ibu itu istimewa makanya mama Sarah iri dan cemburu hati Krn dia TDK bsa sprti ibu mu
Isa Istikomah
lanjut kak
Marini Suhendar
karena ibu mu sangat berperilaku istimewa yg tdk d miliki mma sarah miliki
Eem Suhaemi
karena Nisa mirip banget ibunya bkn...??
Sartini 02
lanjut kak 🤭😄😍
Sartini 02
lanjut kak jangan bikin penasaran 🤭🙏
tri ayu
lama2 jengkel sama nyai laila
Elen Gunarti
keburu tuir Bru bisa bersatu😄😄
Marini Suhendar
Bukan Mau Melawan Seorang Ibu .Tp Itu Kewajiban dan Tanggung jwab Seorang Suami kpd Istrinya
Fitra Sari
lanjut lagi kk
Elen Gunarti
prok2
🤍 rishayu 🤍
Lanjut thor….💪🏻💪🏻
Dewi saroh Qurotuaini
umi lalila itu terlalu egois , aw aja bacanya sampai gregetan , padahal nisa itu dah baik nurut pintar juga , ayo kakk lanjut ceritanya bagus sekali , semangatttt
Lilis Yuanita
umimu itu crewet gus🤣🤣
Marini Suhendar
Umi..Nisa G minta D lahirkan Oleh Seorang LC tapi Itu Kehendak Allah..Klo Nisa G Baik kelakuannya baru Umi Tolak..Toh Nisa Anak Baik..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!