Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kinan sebenarnya tidak mau sampai membuat keributan seperti ini di depan nenek Ningsih. Tapi, bukankah dia harus mengatakan alasannya dengan jelas kenapa dia menggugat cerai Bima.
"Nenek, maaf. Aku rasa lebih baik aku kembali!"
Semua orang di tempat itu tampak sangat terkejut. Kinan tidak mau menambah api. Kalau dia ditanya-tanya lagi, dia tidak mungkin juga menyembunyikan semua yang dia tahu. Nenek Ningsih bisa lebih marah lagi nantinya.
Nenek Ningsih pada akhirnya harus menghela nafas panjang. Tadinya dia sungguh ingin mengundang Kinan makan malam. Tapi, situasinya saat ini sudah tidak mungkin. Dia benar-benar ingin langsung bertanya pada cucunya itu. Langsung mendengar dari Bima, kenapa cucunya berbuat bodohh seperti itu. Kalau tujuan Bima menikah dengan Kinan adalah untuk membebaskan Agnes. Nenek Ningsih tidak mungkin setuju. Dia bahkan merasa, ikut andil dalam kebohongan Bima, karena dulu sangat mendukung pernikahan Bima dan Kinan.
Tapi, dulu itu juga nenek Ningsih mendesak Kinan untuk setuju. Karena dia khawatir pada Kinan. Ayah dan ibunya tiada di saat yang berdekatan. Nenek Ningsih khawatir Kinan akan depresi, kehilangan orang-orang yang dia sayangi. Melihat Bima perhatian dan selalu ada untuk Kinan. Nenek Ningsih berpikir cucunya memang tulus, tapi ternyata semua itu sandiwara. Nenek Ningsih merasa sangat malu pada Kinan.
Dengan mata berkaca-kaca, nenek Ningsih meraih tangan Kinan.
"Nenek sungguh tidak tahu, Kinan. Kalau nenek tahu, Bima punya niat busuk seperti itu. Nenek tidak akan pernah membiarkan dia menikahi kamu. Maaf ya nak!"
Kinan bisa melihat dan mendengarnya. Suara nenek Ningsih yang terdengar parau, terdengar begitu sedih, kecewa dan menahan emosi dalam satu waktu. Dan wajah senjanya yang tampak pucat. Ada raut merasa bersalah disana. Nenek Ningsih memang baik, Kinan juga tidak mau sampai nenek Ningsih berpikir macam-macam.
"Nenek, tidak perlu minta maaf. Tidak ada orang lain yang salah dalam hal ini. Maaf karena sudah membuat nenek emosional. Aku akan kembali dulu..."
"Kamu tinggal di rumah Bella?" sela nenek Ningsih menyela.
Kinan mengangguk.
"Iya nek!"
Nenek Ningsih masih tampak enggan melepaskan tangan Kinan. Tapi, Kinan menarik tangannya perlahan.
"Aku pergi dulu nek, selamat malam. Paman, bibi...selamat malam!"
Kinan keluar dari ruangan itu. Damar juga hanya bisa mengangguk perlahan. Sementara Viona. Wanita itu terlihat masih sangat shock.
Begitu Kinan keluar, Damar pun duduk di samping Ibunya.
"Bagaimana bisa Bima melakukan semua itu? tiga tahun?"
Damar sungguh merasa heran, rasa heran yang bercampur dengan tidak percaya. Anak bungsunya itu biasanya paling realistis. Cara pikirnya jauh ke depan. Dalam menjalankan bisnis, cara berpikirnya bahkan dua kali lebih cepat dan efisien daripada Galih. Itulah kenapa dia menjadi pimpinan Dirgantara grup. Tapi, kenapa anaknya sampai melakukan sesuatu yang begitu tidak bermoral begitu? Damar sampai tak bisa berkata-kata.
Sedangkan Viona, yang memang tidak punya hubungan baik dengan Bima. Benar-benar dibuat tercengang.
"Aku kira pewaris Dirgantara grup itu, manusia tanpa cela. Ternyata dia kotor sekali!" ucapnya sangat lantang.
Dan kali ini, tidak ada yang menegur ucapan Viona. Tidak ada yang membantah apa yang dikatakan ibu sambung Bima itu. Karena memang apa yang sudah dilakukan Bima, bahkan itu melanggar hukum.
Nenek Ningsih menangis lagi.
"Lihat bagaimana anak malang itu menangis! aku rasanya tak sanggup menatapnya. Aku malu sekali" lirih nenek Ningsih.
Galih pun masuk ke ruangan itu. Dia sudah berusaha menghubungi Bima. Tapi tidak bisa. Nomornya tidak aktif. Dan ketika dia menghubungi Leo. Leo bilang bosnya ada urusan di luar kota. Galih pun menyampaikan hal itu pada nenek Ningsih.
"Leo bilang, Bima di luar kota, nek!"
Wajah nenek Ningsih semakin terlihat tidak senang.
"Suruh dia pulang! Galih kalau perlu susul!" kata nenek Ningsih dengan suara makin naik.
Damar yang khawatir akan kesehatan ibunya. Segera mendekati ibunya untuk menenangkan nenek Ningsih.
"Ibu, sabar. Jangan sampai kesehatan ibu terganggu!"
"Anakmu itu kurang ajar, Damar. Dia itu punya hati tidak? dia masih manusia tidak?" tanya nenek Ningsih.
Viona langsung melebarkan matanya.
'Wah, berita besar ini. Kalau sampai ke para pemegang saham. Bukankah anakku yang akan naik pangkat, Bima bisa di copot dari jabatannya kan? aku tidak menyangka, Bima bisa jadi penjahat juga. Kalau Yunita melihat bagaimana anaknya dari atas sana, bisa-bisa dia bangkit dari kuburnya dan menemui anaknya, meminta pertanggung jawaban! katanya dari kecil di ajarkan kejujuran, tapi tiga tahun bahkan membohongi semua orang. Melindungi pembunuhh lagi, hih... benar-benar jahat!' batin Viona.
Bahkan Viona yang bukan orang baik saja bilang kalau Bima itu jahat.
Damar menghela nafas berat. Dia juga kesal, dia juga marah. Apa yang dilakukan Bima jelas salah. Sejak dulu karena wanita bernama Agnes itu, Bima kerap kali melawan keluarga Dirgantara.
"Aku akan bicara padanya, Bu!" kata Damar.
Nenek Ningsih kembali menyeka air matanya.
"Kalau Kinan mau cerai, biar saja. Jangan ada yang bantu Bima. Dia punya istri yang baik dan pengertian, tapi malah mengkhianatinya habis-habisan seperti itu. Biar saja dia menyesal sampai tua nanti!" nenek Ningsih seperti mengatakan sumpah serapahnya.
"Ibu, jangan bicara begitu!" ucap Damar pelan.
Belum tahu saja mereka, kalau Kinan saat ini sedang hamil. Kalau tahu, mungkin nenek Ningsih juga tidak akan membiarkan Kinan bercerai dengan Bima.
Galih kembali datang ke ruangan itu dengan raut wajah yang tidak senang.
"Nenek, tidak bisa di ganggu. Kalau besok sudah selesai urusan pekerjaan. Leo bilang, Bima baru akan datang kemari!"
"Hahhh!" nenek Ningsih terlihat sangat kesal.
"Tenang lah ibu, besok dia akan datang. Kita akan tanya dengan jelas. Kenapa dia melakukan semua ini..."
"Apa masih perlu di tanya lagi, mas? dia kan bucin sama wanita pembunuhh itu. Tidak ingat peristiwa saat dia remaja. Bima itu tidak tertolong lagi. Tapi kalau sampai wanita pembunuhh itu masuk keluarga kita. Itu juga tidak baik, masa iya seorang pembunuhh jadi nyonya muda keluarga Dirgantara...?"
"Siapa yang akan membiarkannya masuk keluarga Dirgantara?" sela nenek Ningsih, "selama aku hidup, wanita itu tidak akan pernah bisa menginjakkan kakinya di kediaman utama keluarga Dirgantara ini. Apalagi sampai jadi nyonya muda Dirgantara!"
Nenek Ningsih sangat serius. Wajahnya kembali merah padam.
"Ibu, sudahlah. Aku juga tidak akan biarkan hal itu terjadi. Sekarang ibu istirahat dulu. Begitu Bima kembali, aku langsung bawa dia kemari!"
Nenek Ningsih hanya bisa mengangguk, tapi dalam hatinya. Dia benar-benar kesal. Tapi apapun yang terjadi, dia memang tidak akan biarkan Agnes masuk keluarga Dirgantara.
***
Bersambung...