OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Pukul tujuh pagi, Nadira sudah duduk di depan laptop dengan tiga cangkir kopi kosong di atas meja.
Ia tidak bangga dengan pencapaian itu. Bahkan, kalau Keisha melihatnya, perempuan itu mungkin akan menyita laptopnya dan memaksanya tidur selama dua belas jam.
Namun, Nadira tidak bisa berhenti memikirkan pesan yang diterimanya semalam.
Jangan bertanya kepada Raka. Dia bukan orang yang akan memberimu jawaban yang kamu cari.
Kalimat itu terasa seperti jebakan.
Jika ia menghubungi Raka, pengirim pesan mungkin sedang menunggu reaksinya. Jika ia tidak menghubunginya, ia harus menerima kemungkinan bahwa ada informasi penting yang sengaja disembunyikan darinya.
Yang paling mengganggu adalah satu hal sederhana: bagaimana orang asing itu mengetahui bahwa Raka baru saja kehilangan kepercayaannya?
Nadira membuka kembali tangkapan layar pesan tersebut. Nomornya tidak terdaftar di aplikasi identifikasi penelepon. Ia mencoba mencari nomor itu melalui beberapa layanan pencarian, tetapi tidak mendapatkan hasil yang berguna.
Akhirnya, ia membuka halaman berita lama mengenai program bantuan medis keluarga Adhitama.
Nama yayasan yang tercantum di sana adalah Yayasan Adhitama Peduli. Programnya mencakup bantuan operasi bagi pasien yang tidak mampu membayar biaya pengobatan.
Nadira membaca ulang keterangan dalam artikel tersebut.
Program itu terdengar masuk akal. Keluarga kaya mendanai kegiatan sosial bukan sesuatu yang aneh. Bisa saja ibunya menerima bantuan melalui yayasan tersebut tanpa ada kaitannya dengan persoalan lain.
Namun, jika memang begitu, mengapa ibunya tampak ketakutan ketika melihat surat itu?
Nadira mengambil ponselnya dan membuka kontak rumah sakit tempat ibunya pernah dirawat.
Ia tidak akan meminta data pasien yang bersifat rahasia. Ia hanya ingin tahu apakah rumah sakit masih memiliki informasi umum mengenai program bantuan yang berlaku pada tahun tersebut.
Setelah menuliskan daftar pertanyaan, ia mengirimkan surel resmi.
Satu langkah kecil.
Setidaknya, kali ini ia memiliki sesuatu yang bisa dikerjakan tanpa harus menebak-nebak.
Di markas ASTRAL, Raka sedang menghadapi masalah yang jauh lebih sederhana, tetapi tidak kalah menyebalkan.
“Kamu tidak bisa terus bermain seperti ini,” kata Arman sambil meletakkan hasil evaluasi pertandingan di meja.
Raka menatap grafik performa tim.
“Aku tahu.”
“Bagus. Kalau begitu, jelaskan kenapa kamu membuat keputusan yang sama tiga kali dalam satu sesi latihan.”
“Karena aku tahu.”
Arman menyilangkan tangan.
“Raka, kalau jawabanmu cuma itu, kita bisa menghemat waktu dengan langsung menuliskan pengunduran dirimu sebagai kapten.”
Bima yang duduk di sebelah Raka langsung menoleh.
“Kalau begitu, saya siap menjadi kapten. Saya punya kemampuan memimpin yang luar biasa.”
“Kamu baru saja datang terlambat dua puluh menit,” balas Arman.
“Itu bagian dari strategi membangun ketegangan.”
“Keluar.”
Bima mengangkat kedua tangan sambil tertawa, tetapi ia tetap duduk di kursinya.
Raka mengusap wajah.
Arman tidak salah. Dalam beberapa hari terakhir, konsentrasinya memang menurun. Ia masih mampu menjalankan tugas, tetapi tidak lagi memiliki ketajaman seperti biasanya.
“Maaf,” katanya akhirnya. “Aku akan memperbaikinya.”
Arman menatapnya beberapa saat.
“Masalah keluarga?”
“Sebagian.”
“Dan sisanya?”
Raka tidak menjawab.
Arman menghela napas. “Aku tidak membutuhkan cerita lengkap tentang kehidupan pribadimu. Tapi kalau ada sesuatu yang memengaruhi pekerjaanmu, kamu perlu menemukan cara untuk mengatasinya.”
Raka mengangguk.
Ia sudah cukup sering mendengar nasihat seperti itu belakangan ini. Anehnya, ia baru benar-benar memahaminya setelah seseorang yang penting baginya memilih menjauh.
“Mulai sekarang, aku akan membagi waktu dengan lebih baik,” katanya.
“Bagus. Dan satu hal lagi.” Arman menunjuk jadwal di tablet. “Kamu mendapat undangan untuk menghadiri acara amal Yayasan Adhitama Peduli akhir pekan ini.”
Raka langsung mengangkat kepala.
“Acara apa?”
“Penggalangan dana untuk program bantuan medis. Mereka ingin kamu hadir sebagai perwakilan keluarga sekaligus atlet profesional yang dikenal publik.”
“Aku tidak pernah menyetujui itu.”
“Aku tahu. Ayahmu yang mengonfirmasi kehadiranmu.”
Raka memejamkan mata sesaat.
Tentu saja.
“Bisa dibatalkan?”
“Secara teknis, bisa. Secara politik keluarga, mungkin tidak sesederhana itu.”
“Arman, aku bukan politisi.”
“Bagus. Berarti kamu masih punya peluang untuk belajar diplomasi.”
Bima mencondongkan tubuh dari kursi sebelah.
“Kalau ada makanan gratis, gue bisa mewakili keluarga lo.”
“Tidak ada yang meminta pendapatmu,” kata Raka dan Arman bersamaan.
Bima mengangguk puas. “Kekompakan tim. Indah sekali.”
Raka hampir tersenyum.
Namun, senyumnya menghilang ketika ia melihat nama yayasan pada undangan digital yang dikirimkan Arman.
Yayasan Adhitama Peduli.
Nama itu tidak asing. Ia tahu keluarganya telah mendanai program tersebut selama bertahun-tahun. Namun, ia tidak pernah terlibat langsung dalam pengelolaan bantuan medisnya.
Selama ini, urusan yayasan ditangani oleh dewan pengurus dan beberapa eksekutif keluarga.
Raka menatap undangan itu lebih lama daripada yang diperlukan.
Entah mengapa, ia merasa akhir pekan ini tidak akan berjalan sesederhana menghadiri acara, berjabat tangan, lalu pulang.
Sore harinya, Nadira menerima balasan dari rumah sakit.
Pihak administrasi tidak dapat memberikan informasi mengenai pasien atau transaksi tertentu tanpa prosedur verifikasi yang sesuai. Namun, mereka mengonfirmasi bahwa pada tahun ketika ibunya menjalani operasi, rumah sakit memang bekerja sama dengan beberapa lembaga sosial, termasuk Yayasan Adhitama Peduli.
Nadira membaca surel itu dua kali.
Jadi, kemungkinan tersebut memang ada.
Ia tidak langsung merasa lega. Justru sebaliknya, semakin banyak potongan informasi yang ditemukan, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul.
Nadira menghubungi ibunya.
Panggilan itu dijawab setelah dering ketiga.
“Bu, aku sudah mencari informasi mengenai program bantuan medis yang berlaku waktu itu.”
Di seberang telepon, Ratih terdiam.
“Dan?”
“Rumah sakit mengonfirmasi bahwa yayasan keluarga Adhitama termasuk salah satu lembaga yang bekerja sama dengan mereka.”
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
“Bu?”
“Ibu mendengar.”
“Aku tidak mengatakan bahwa keluarga Raka pasti terlibat. Aku hanya ingin tahu apakah bantuan yang Ibu terima berasal dari yayasan itu.”
Ratih mengembuskan napas panjang.
“Nadira, Ibu ingin kamu berhenti mencari tahu untuk sementara.”
“Kenapa?”
“Karena ada hal-hal yang tidak sesederhana kelihatannya.”
Nadira memejamkan mata.
“Aku sudah mendengar kalimat itu kemarin. Aku membutuhkan sesuatu yang lebih jelas.”
“Ibu belum siap membicarakannya.”
“Apakah ini karena Ibu takut kepada seseorang?”
“Bukan begitu.”
“Lalu karena apa?”
Ratih tidak menjawab.
Nadira menahan emosinya. Ia tidak ingin membuat ibunya merasa terpojok, tetapi ia juga tidak bisa terus menerima jawaban yang sama.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku tidak akan memaksa Ibu bercerita hari ini.”
Ratih terdengar sedikit lega.
“Tapi aku tidak akan berhenti mencari informasi yang bisa kuperoleh secara sah. Aku perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi.”
“Nadira—”
“Aku menyayangi Ibu. Itu tidak berubah. Tapi aku tidak bisa melindungi Ibu dari sesuatu yang bahkan tidak kuketahui.”
Ia mengakhiri percakapan setelah berpamitan.
Selama beberapa saat, Nadira hanya duduk memandangi ponselnya.
Ia tahu ibunya menyimpan sesuatu. Namun, ia belum tahu apakah rahasia itu lahir dari rasa takut, rasa bersalah, atau keinginan untuk melindungi dirinya.
Apa pun alasannya, Nadira mulai memahami bahwa mencari kebenaran kali ini tidak akan semudah menulis sebuah artikel.
Dua hari kemudian, undangan acara amal Yayasan Adhitama Peduli muncul di kotak masuk Media Arena.
Dimas memanggil Nadira ke ruangannya.
“Saya ingin kamu meliput acara ini.”
Nadira membaca detail undangan pada layar tablet.
“Acara penggalangan dana bantuan medis?”
“Betul. Yayasan ini sedang memperluas program bantuan operasinya. Ada beberapa eksekutif Adhitama Global yang akan hadir, termasuk Raka Adhitama.”
Nama itu membuat Nadira berhenti membaca.
Dimas memperhatikannya.
“Kamu keberatan?”
“Tidak. Aku hanya ingin memastikan tidak ada konflik kepentingan.”
“Bagus. Karena itulah saya memilihmu. Kamu sudah menulis artikel mengenai posisi Raka di perusahaan. Sekarang, kamu bisa meliput program sosialnya secara terpisah.”
Nadira mengangguk pelan.
Ia tidak akan menggunakan informasi pribadi yang belum terverifikasi sebagai dasar laporan. Namun, acara tersebut memberinya kesempatan untuk memahami bagaimana yayasan itu bekerja.
“Baik. Aku akan meliputnya.”
“Hubungi panitia untuk mendapatkan akses ke laporan tahunan dan informasi program bantuan. Jangan meminta data pasien. Kita fokus pada kebijakan dan transparansi pendanaannya.”
“Dimengerti.”
Ketika kembali ke mejanya, Nadira segera membuka situs resmi yayasan tersebut.
Ia menemukan laporan kegiatan, daftar pengurus, serta ringkasan pendanaan beberapa tahun terakhir. Sebagian besar informasi tampak wajar, tetapi laporan mengenai tahun operasi ibunya lebih sulit ditemukan.
Dokumen itu tidak tersedia dalam arsip daring.
Nadira mencatat nomor kontak bagian komunikasi yayasan untuk mengajukan permintaan informasi.
Ia tidak tahu apakah mereka akan memberikan jawaban.
Namun, setidaknya kali ini ia punya alasan profesional untuk bertanya.
Pada malam yang sama, Raka berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memegang dua kemeja.
Bima duduk di tepi ranjang dengan ekspresi penuh hiburan.
“Gue tidak menyangka hari ini akan tiba.”
“Kalau lo mau mulai, gue akan mengusirmu.”
“Kapten kita sedang memilih pakaian untuk acara keluarga. Ini sejarah.”
“Ini acara amal.”
“Dengan keluarga kaya, wartawan, dan kemungkinan kamera di mana-mana. Sangat romantis.”
Raka menoleh tajam.
“Tidak ada yang romantis.”
“Gue bahkan belum menyebut nama siapa pun.”
“Karena lo sengaja.”
Bima tertawa, lalu mengangkat kedua tangan.
“Oke, oke. Serius sebentar. Lo mau datang ke acara itu?”
“Sepertinya tidak punya banyak pilihan.”
“Kalau begitu, datanglah dengan benar. Jangan memasang wajah seperti orang yang dipaksa menghadiri pemakaman.”
Raka meletakkan kedua kemeja di atas tempat tidur.
“Kadang-kadang gue merasa hidup gue ditentukan oleh orang lain.”
Bima tidak langsung menjawab.
“Kalau begitu, mulai tentukan hal-hal kecil yang masih bisa lo pilih.”
Raka menatapnya.
“Misalnya?”
“Pilih kemeja sendiri. Pilih makanan sendiri. Dan kalau ada orang yang ingin lo ajak bicara, jangan biarkan gengsi menentukan jawabannya.”
Raka tahu Bima sedang membicarakan Nadira.
Ia mengalihkan pandangan.
“Aku tidak akan menghubunginya hanya karena aku ingin merasa lebih baik.”
“Bagus.”
“Kalau dia tidak mau bicara, aku akan menghormatinya.”
“Lebih bagus.”
“Dan sekarang, bisa tidak kamu keluar dari kamarku?”
Bima berdiri sambil mengambil sekotak camilan dari meja.
“Bisa. Tapi camilan ini gue bawa sebagai biaya konsultasi.”
“Bima!”
Pintu tertutup diiringi tawa Bima.
Raka menggeleng, lalu kembali menatap pakaian di atas tempat tidur.
Akhir pekan ini, ia akan menghadiri acara keluarga yang tidak ingin didatanginya.
Namun, mungkin ada hal lain yang perlu ia hadapi selain tuntutan ayahnya.
Sesuatu yang belum ia ketahui.
Malam sebelum acara amal, Nadira menerima surel dari bagian komunikasi Yayasan Adhitama Peduli.
Permintaan wawancaranya disetujui. Ia bisa bertemu dengan perwakilan yayasan sebelum acara dimulai dan mengajukan pertanyaan mengenai mekanisme bantuan medis.
Nadira segera membalas untuk mengonfirmasi jadwal.
Setelah itu, ia membuka kembali foto ibunya yang disimpan di dalam laci meja.
Ia belum menunjukkan pesan anonim terbaru kepada Ratih. Ia ingin memastikan tidak ada ancaman langsung sebelum membuat ibunya semakin cemas.
Namun, ia tidak bisa mengabaikan tulisan di belakang foto tersebut.
Tidak semua pertolongan diberikan tanpa harga.
Mungkin itu hanya cara seseorang menakut-nakutinya. Mungkin pula ada sesuatu yang benar-benar terjadi lima tahun lalu.
Besok, ia akan berada di tempat yang mungkin menyimpan sebagian jawabannya.
Ponselnya menyala. Sebuah notifikasi berita muncul mengenai kehadiran Raka Adhitama di acara amal yang sama.
Nadira menatap nama itu sesaat.
Ia masih kecewa kepadanya. Kepercayaan yang retak tidak bisa diperbaiki hanya dengan satu permintaan maaf atau satu wawancara yang berjalan baik.
Namun, ia mulai menyadari bahwa persoalan keluarga Raka mungkin jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Itu bukan alasan untuk kembali memercayainya begitu saja.
Tetapi juga bukan alasan untuk menutup mata terhadap fakta.
Nadira mematikan layar ponselnya, kemudian memasukkan foto ibunya ke dalam map bersama catatan pertanyaan untuk wawancara besok.
Kali ini, ia akan datang bukan untuk mencari pembenaran atas kecurigaannya.
Ia akan datang untuk mencari bukti.
Dan apa pun yang ditemukan nanti, ia harus siap menghadapi kenyataan bahwa kebenaran terkadang tidak datang untuk menenangkan seseorang.
Kadang-kadang, kebenaran datang justru untuk mengubah seluruh cara seseorang memandang masa lalunya.